Afiqipedia

Just another Blog UMY site

Dewasa ini di era reformasi jurnalisme Indonesia telah mengalami peningkatan baik kuantitas maupun substansialnya. Secara kuantitas yakni saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 wartawan, 1.000 media cetak, 150 stasiun televisi dan 2.500 stasiun radio. Secara substansi yakni memiliki kebebasan jurnalisme. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan menerapkan etika jurnalisme yang sejati setelah pada masa orde baru kebebasan tersebut sulit didapatkan. Namun seiring berjalannya waktu dunia jurnalisme Indonesia masih saja terdapat berbagai hal yang menjadi persoalan, antara lain;

 

  • media massa sebagai alat politik pemilik modal

“Media lebih penting mewacanakan apa yang menjadi keinginan pemilik media (modal), daripada menjadi ruang publik yang netral. Politik ruang publik tersebut berlangsung didukung oleh kekuatan modal dan kekuatan politik sehingga tidak ada yang berani melontarkan kritikan” Seperti kita ketahui, berbagai tayangan TV One ataupun Metro TV misalnya, mengandung unsur-unsur politik yang mewarnai isu-isu media yang diangkatnya. Alhasil, media tidak lagi bebas nilai atau telah terkooptasi oleh adanya kepentingan tertentu dari pemilik media. Dari segi media cetak, fakta lain yaitu “ISAI mencatat 328 berita media cetak menggambarkan positif peserta Pemilu, 216 negatif, dan yang bersifat netral 181 berita,” kata Ahmad Faisol, Koordinator Program Riset, Advokasi dan Pemantauan Media ISAI dalam Press Meeting Isu-isu Keterbukaan Informasi Publik di Hotel Nikko Jakarta, Selasa, 24 Maret 2009”. Media cetak yang dianalisis ISAI antara lain, Kompas, Indo Pos, Tempo, Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Suara Karya, Rakyat Merdeka, Majalah Tempo dan Gatra. Selain media cetak, media elektronik juga dianalisis, antara lain berita TVRI, TRANS TV, SCTV, ANTV, GLOBAL TV.

 

  • Jurnalisme Infotainment, dilema antara etika dan fakta

Infotainment tumbuh dan mulai menguasai tayangan televisi Indonesia menggantikan arena gosip yang pernah marak. Sepintas memang tidak berbeda gosip dan infotainment. Bedanya, infotainment merupakan gosip yang dibuat melalui penelusuran atau investigasi. Dikaitkan dengan jurnalisme, tampaknya infotainmen merupakan spesifikasi baru. Lahir di Indonesia setelah dipromosikannya investigatif reporting yakni jurnalisme yang menganut paham pendalaman. Berita investigasi merupakan berita lengkap dari sebuah peristiwa sebagai hasil penelusuran wartawan. Biasanya berkaitan dengan korupsi. Karena itu tanpa pengetahuan jurnalistik yang memadai, investigation reporting bisa menghasilkan berita prasangka, berita yang mungkin saja melanggar asas praduga tak bersalah. Seperti kita ketahui berita seperti itu dilarang oleh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Kode Etik Wartawan (KEWI). contoh dari jurnalisme infotainment ini adalah program Insert, Silet, dll.

 

  • Dilema antara pemenuhan hidup dan profesionalitas wartawan

Menurut laporan yang diterbitkan International Journal of Press/Politics tentang misi jurnalisme Indonesia, upah yang rendah menyebabkan wartawan mencari pendapatan lain, termasuk menerima suap. Laporan tersebut menemukan bahwa tingkat profesionalisme yang rendah, etika jurnalisme yang miskin dan korupsi merupakan tantangan terbesar bagi profesionalisme mereka.

Pelbagai persoalan jurnalisme diatas hanyalah apa yang dapat penulis sadari. Namun bagaimanapun juga tidak sedikit media massa yang tetap menjujung kode etik demi terwujudnya fungsi jurnalisme sebagai pilar keempat dalam suatu negara.

Categories: karyaku dan teman

PROFIL AKU

m.rafiquddin_ahsan


Popular Posts

Hello world!

Welcome to Blog UMY. This is your first post. Edit ...

When I'm hungry, I w

Hari ini aku sedang menjalankan puasa senin kamis, (maklum anak ...

palestine

Milisi Abbas Tangkap 8 Pendukung Hamas [ 01/12/2010 - 09:05 ...

Hello!!!!!

hallo saudaraku!!! SELAMAT DATANG

Fabel: Si Kancil Yan

Suatu hari. Si Kancil merasa sangat lapar, ia berkelana mencari ...