CINTA “PENDING”

Angin berhembus kencang menusuk tulang-tulang penyusun tubuh kurus yang tetap berdiri tegak menentang deru angin malam. Termenung,apa yang dipikirkan?Tak tahu!Aku hanya berusaha merestart pikiran ku. Jauh dan jauh hingga tak terjangkau untukku gapai. Ditemani bintang-bintang sebagai lampion langit malam yang begitu indah. Satu bintang ku fokuskan sebagai tempat pengaduan untuk mendengarkan cerita masa laluku. Dan dia bersedia. Oh alangkah romantisnya kita berdua malam ini bintang ufuk barat. Aku ingin berkeluh kesah dan meluapkan air mata denganmu malam ini.

Dalam kesendirian itu,pikiran ku jauh terbang mengingat suatu keindahan yang menjadi keping cerita hidup ini. Cerita dimana ku bersua dengan seorang kekasih yang amat ku sayangi sepenuh hati. Kami satukan cinta kami sebagai tanda kasih sayang diantara kami berdua. Tiga bulan pun berlalu dengan suka duka tercipta. Namun, cintaku hanyalah seumur jagung di lapang.Cinta ku usai Bintaaang!!!. Remuk hati sudah pasti,patah hati tak mampu bertepi. Aku harus apa dan bagaimana dalam hati aku berkata. Singkat waktu tubuh ini terasa mati,darah-darah yang dulu begitu deras mengalir kini seakan-akan terhenti seiring pupusnya cinta ini.

Kini 3 bulan sudah kita terpisah jiwa dan cinta. Raga kita masih bertemu. Senyummu masih kulihat tapi tanpa kau sadari. Senyuman indah yang sempat membuat bibir ini merekah. Namun cinta kita berdua hanya tinggal kepingan sampah kenangan. Aku pergi dan mulai menata jalan cintaku dan hidupku tanpa kau temani. Dan kau,hanya bisa kulihat dalam bayangan dan dunia maya sekali-kali jika aku merasa rindu berat tak terpendam padamu. Bagaimana dengan cinta diantara kita? Entahlah,hanya hati kita masing-masing yang punya jawaban sendiri. Dalam hati terdalam ku tuliskan syair-syair jawaban yang kutuliskan dengan goresan pena harapan cinta. Aku masih mencintaimu sama saat pertama kali kita bertemu sayang. Itulah jawabanku tanpa bisa aku manipulasi diri ini. Namun, apakah jawaban cintaku bersambut sama dihatimu. Entahlah,hari ini terasa ciut dan tak berani untuk merindukan bulan.

Jarak dan waktu tentu semakin memperjarakkan kita. Kau sibukkan dirimu mengikuti arah dan tujuan hidupmu. Aku pun begitu,ku pilih cerita hidupku tanpa dirimu. Dan mungkin cinta yang sempat kau berikan kepada diriku telah terkikis seiring waktu berjalan. Atau kau telah temukan cinta lain sehingga cinta kita duku kau kubur paksa. Sadis!!!. Ku remas-remas jari yang telah jengah terdiam lama karena lamunan panjangku. Kini,kita hanyalah cerita yang pernah menyusun buku cinta. Bintang,kau tahu kenapa aku tersenyum di antara luka ini?Apakah aku gila? Tidak bintang,aku lagi merasakan kangen mendalam dengannya. Ku sampaikan surat rindu kepada gemuruh angin yang mengantarkan malam semakin larut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas