TAK RINDU RUMAH

TAK RINDU RUMAH

 

Lama sudah Ari duduk termenung di bawah pohon beringin yang begitu gagah. Dinginnya malam seperti tak digubris meski tulang-tulang terasa tertusuk oleh ganasnya angin malam. Sayup muka tampak kusut menandakan ada pergolakan persoalan dikepalanya. Entah apa yang dipersoalkan?Hanya dialah yang tahu.

Bibirnya terkunci rapat dari tadi. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir tebal tapi mempesona. Ah,menambah kesunyian malam saja. Hanya terdengar jangkrik-jangkrik usil yang berani memecah sunyi malam. Sang rembulan pun tak sudi berbincang-bincang dengan bintang. Mahakarya alam tersebut dengan acuhnya melenggangkan dirinya ke peraduan. Bintang-bintang pun berbaris rapi masuk kandang seiring menjelang pagi

Jarum jam menunjukkan pukul 02.35 WIB. Larut malam tak menggoda Ari untuk pulang. Merebahkan badan diatas kasur yang empuk dan mulai merangkai mimpi-mimpi indah. Ari terus terbenam sepanjang malam itu.

Tiba-tiba,bibir Ari yang tadi kaku. Tak melontarkan satu katapun. Dengan sedikit terbata dan bola mata yang berkaca Dia mengadu pada Sang Pencipta

“Tuhan,Kenapa Kau buat rumahku seperti neraka?”Begitu panas dan aku pun enggan mendekati Tuhan” suara Ari terdengar lirih dengan kepala menengadah keatas.

Erotis sekali perbincangan Ari dengan Sang Penguasa Alam semesta. Gerangan apa yang dialami Ari?Kenapa “Surga Ari” sendiri diumpamakan dengan api?Tak kejamkah dirinya?Tak lama setelah itu,Ari kembali tertunduk lesu sembari meregangkan kedua kalinya lurus kedepan yang dari tadi telah penat merasakan tajamnya serbuan serdadu angin malam yang kejam. Terlihat bulu-bulu kaki Ari berdiri. Ada yang lurus,setengah lurus,bengkok kanan/kiri sampai melingkar pun ada.

Curahan Ari yang hanya diperdengarkan dirinya,Tuhan,dan binatang-binatang malam yang duduk berbaris menyaksikan serial drama di balik rerumputan hijau yang dipenuhi embun. Mereka mengendap diam-diam karena takut diketahui Ari tak bayar tiket untuk menyaksikan serial cerita kegalauan seorang manusia.

Pertaruhan cerita kembali lagi dipertontonkan. Komplotan tikus merapikan barisan dan memperbaiki duduk. Sedikit demi sedikit mulut Ari kembali merekah. Seolah ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. Dan benar saja. Dengan sedikit tertunduk dan kucuran air mata yang masih berlinang di mata Dia mulai membuka dialog dengan jagat raya

“Tuhan,rumah adalah surga bagi para makhluk-Mu. Tempat berteduh dari sengatan sang mentari dan dinginnya guyuran hujan. Tempat untuk bercanda ria,bercengkrama sesama keluarga,kepingan-kepingan untuk membuat kenangan indah. Tempat kami berbagi kasih sayang. Tempat kami dikasihi orang tua,saudara dan sanak family. Tempat kami tumbuh dan besar serta tua. Ini Surga-Mu Tuhan” dengan nada yang penuh emosional Ari memecah kesunyian malam.

Daun-daun pohon beringin pun satu persatu jatuh ke tanah karena dibelai lembut hembusan angin malam. Seakan-akan daun dan angin mengerti apa yang dirasakan oleh Ari dan menjadi saksi bisu untuk malam ini. Bola mata Ari yang tadinya berkaca-kaca perlahan hilang. Air mata itu berkali-kali di usap dengan baju Ari berwarna putih yang agak lusuh bertuliskan “Hidup tak dikenang mati tak ditangisi” dibagian belakang. Sebuah untuaian kalimat yang penuh dengan filosofi tersendiri.

Jauh didalam lubuk hati Ari pergumulan permasalahan dirinya. Tentang cerita yang ingin dia ungkapkan. Hatinya mulai mengisahkan keluh kesah selama ini. Keluh kesah yang menjadi “tumor” yang menggerogoti hati dan pikirannya sehingga menyumbat peredaran hidupnya. Tampak ia sakit psikis bukan fisik. Cerita pun dibuka

Sudah lama Ari meyimpan segala tetek bengek permasalahan dikeluarganya. Perselisihan dan pertengkaran yang kerap terjadi membuat “nasionalisme” dia terhadap keluarga turun. Kedua orang tuanya yang tak pernah rukun seperti kucing dan anjing membuat prihatin Ari terhadap kondisi keluarga kecilnya. Pertengkaran yang ditampakkan didepan Ari seolah membuat hatinya terenyuh. “Tuhan,kenapa semua seperti ini”. Permasalahan ekonomi menjadi momok yang menstimulasi pertengkaran hebat. Tak jarang Ibunya meneteskan air mata dengan sia-sia. Tak sedikit amarah Ayahnya menggelora seisi rumah. Semuanya berubah. Ayahnya menjadi lebih temperamental,marah dengan tiada kejelasan,senyuman manis yang jarang terbuai. Begitu juga dengan sang ibu,lebih banyak diam,tertutup dan menjadi manusia pemurung.

Tak jarang Ari menjadi wasit dadakan untuk meleraikan pertengkaran kedua orangtuanya. Bahkan emosional Ari dapat meningkat secara tiba-tiba. “Sudaaah. Aku muak dengan semua ini. Setiap hari kami disuguhkan dengan adu mulut kalian. Tiap waktu kami menjadi pelampiasan amarah kalian. Tak tahu malukah kalian didepan aku dan adikku” cetus Ari dengan lantang. Kami butuh kerukunan Bu,kami perlu keluarga yang penuh dengan kehangatan kasih sayang kalian Ayah. Mengertikah kalian?Kami tersiksa Ayah Ibu”dengan urat leher yang tegang.

Akibatnya Ari yang statusnya mahasiswa yang kuliah diluar daerah sering kali merasakan perih hatinya melihat apa yang terjadi. Bahkan,iri pun bukan hal yang haram jika melihat kehangatan keluarga temannya. Ari kangen akan semua hal itu. Tiap kali memasuki masa liburan kuliah teman-teman Ari mnyibukkan diri untuk pulang kerumah sekedar ingin melepas rindu yang tak terbendung lagi. Beli oleh-oleh sebagai buah tangan untuk sanak familiy di kampung menjadi tradisi yang tak terpisahkan setiap kali balik kampung oleh temannya. Namun Ari adalah Ari lengkap dengan permasalahan klasiknya. Bukannya dia tak rindu dengan rumah. Bukannya Ari tidak rindu dengan pelukan hangat Ayah dan ibu serta cipika-cipiki kedua adiknya. Bersua dengan teman-teman lama dikampung tak luput dari angan-angan Ari ketika akan balik kampung. Permasalahan didalam keluarga menguatkan Ari untuk membuang jauh itu semua. Niat untuk pulang pun tak sebesar rindu yang tertanam. Ogah rasanya Ari pulang jika yang dilihat dan dirasakan ketika dirumah hanyalah ketidakharmonisan keluarga. Bumbu-bumbu amarah dan perselisihan semakin menyedapkan aroma pertengkaran. Nyali Ari pun menciut jika harus merestart pikirannya untuk mengingatkan semua hal tersebut. Untuk apa pulang jika telinga kanan kiri hanya dipanasi dengan timah panas classic problem. Lebih baik dia menahan diri untuk tidak pulang meski harus menahan luapan rindu ingin bersua keluarga. Hidup sendiri ditanah rantau dengan segala cobaan. “Lebih baik aku disini daripada pulang tapi merasa terpaksa dan tak bahagia. Aku tak rindu rumah Ayah. Aku tak bahagia ketika ku berada di surgaku Ibu”keluh Ari sembari menutup cerita.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas