“Elemen Dasar Pembentuk Lanskap”

 

Pengertian Lanskap

Menurut Zonneveld (1979) lansekap adalah ruang yang terdapat di permukaan bumi yang terdiri dari sistem yang kompleks, terbentuk dari aktifitas batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia serta melalui fisiognominya membentuk suatu kesatuan yang dapat dikenali (diidentifikasi). Sedangkan Menurut Forman & Godron lansekap adalah suatu lahan heterogen dengan luasan tertentu yang terdiri dari sekelompok/kumpulan (cluster) ekosistem yang saling berinteraksi; kumpulan tersebut dapat ditemukan secara berulang dalam suatu wilayah dengan bentuk yang sama Didalam bahasa inggris tua dan ke-sinoniman batasan kata “landscape” mempunyai arti Wilayah/Region. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa lansekap adalah kesatuan wilayah di permukaan bumi yang terdiri dari kesatuan ekosistem yang saling berinteraksi (batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia).

Elemen Dasar Pembentuk Lanskap

  1. A.    Sumber Daya Alam

Dalam Burton, 1995, secara geografik terdapat tida unsure pembentuk lanskap atau bentang alam yaitu:

  1. Tofografi

Dalam pariwisata unsure ini menentukan ada tidaknya kenampakan alam yang dapat dijadikan sumber atraksi. Misalnya goa, tanah yang terjal untuk terbang layang, puncak bukit untuk pendakian, dan lain-lain. Hal penting lainnya adalah air seperti sungai, danau dan laut lingkungan dalam yang dapat membentuk dan mempertajam landform.

 

  1. Vegetasi

Vegetasi merupakan material lanskap yang hidup dan terus berkembang. Pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi ukuran besar tanaman, bentuk tanaman, tekstur,dan warna selama masa pertumbuhannya. Dengan demikian, kualitas dan kuantitas ruang terbuka akan terus berkembang dan berubah sesuai dengan pertumbuhan tanaman jadi dalam perancangan lansekap, tanaman sangat erat hubungannya dengan waktu dan perubahan karakteristik tanaman.

Tanaman mempunyai peran untuk menghilangkan ketegangan-ketegangan mental (stress) yang banyak diderita oleh penduduk kota. Tanaman dapat menciptakan lingkungan yang nyaman, segar harum, menyenangkan, dan sebagainya. Penggolongan tanaman yang ditanam dalam penghijauan di dalam kota dapat dikelompokkan berdasarkan sifat hidupnya yaitu, pohon, perdu, semak dan penutup tanah (rerumputan). Selain itu, dapat juga digolongkan berdasarkan habitatnya atau umumnya ditanam, sebagai tanaman pelindung jalan, tanaman dibantaran kali, tanaman penutup tanah, dan sebagainya.

Pohon atau perdu dapat berdiri sendiri sebagai elemen skluptural pada lansekap atau dapat digunakan sebagai enclosure, sebagai tirai penghalang pemandangan yang kurang baik, menciptakan privasi, menahan suara atau angin, memberi latar belakang suatu obyek atau memberi naungan yang teduh di musim panas. Rumput tidak hanya digunakan sebagai elemen permukaan, tetapi dapat juga digunakan sebagai penahan erosi serta memberi berbagai variasi warna dan tekstur. Dalam perencanaan tapak, tanaman dapat dikategorikan berdasarkan : jenis (besar kecilnya pohon, perdu / semak, rumput), fungsi ( fungsi ekologis pohon, fungsi fisik pohon, fungsi estetis pohon), bentuk dan struktur (tinggi dan lebar pohon), ketahanan (keadaan tanah, iklim, topografi, penyakit), warna batang, bunga serta buahnya ( berguna atau tidak).

Penyusunan tanaman didasarkan pada hubungan di antara tanaman tesebut, dalam hal ukuran, bentuk, tekstur, dan warnanya. Tanaman dapat disusun menjadi taman atau tempat bernaung, memberi tirai pemandangan, menahan angin atau memberi bayangan. Jenis tanaman penting digunakan sebagai elemen rancangan. Tanaman dapat membentuk ruang, memberi privasi, atau sebagai titik tangkap perhatian. Tanaman dapat memberi keteduhan, sebagai penahan angin, ataupun sebagai penutup tanag, menyaring atau memberi batas pemandangan, dan mempunyai pola bayangan yang menarik sepanjang siang hari.

Warna dari suatu tanaman dapat menimbulkan efek visual tergantung pada refleksi cahaya yang jatuh pada tanaman tersebut. Efek psikologis yang ditimbulkan dari warna seperti telah diuraikan sebelumnya, yaitu warna cerah memberikan rasa senang, gembira serta hangat. Sedangkan warna lembut memberikan kesan tenang dan sejuk. Dan bila beberapa jenis tanaman dengan berbagai warna dipadukan dan dikomposisikan akan menimbulkan nilai estetis.

  1. Tanah

Unsur ketiga ini adalah hasil kreatifitas manusia dalam merubah atau memodifikasi natural vegetation, menjadi tanah pertanian, usaha kehutanan, bangunan-bangunan, jalan, dan lain sebagainya. Interaksi manusia dengan berbagai bentuk alam menciftakan bentang budaya (cultural lanskap)

  1. Iklim

Kombinasi iklim pada suatu daerah akan menentukan sebuah perancangan lanskap. Disamping itu juga bentang alam juga menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi perencanaan lanskap. Di indonesia unsure vegetasi sangat bervariasi akibat dari curah hujan yang tinggi. Variasi ini menjadi faktor dominan pembentuk wilayah tersebut sebagai pertimbangan analisis perancangan lanskap.

  1. B.     Sumber Daya Budaya

Thisler (dalam Nurisjah dan Pramukanto, 2001) mendefinisikan lansekap budaya sebagai suatu kawasan geografis yang menampilkan ekspresi lanskap alami oleh suatu pola kebudayaan tertentu. Adapun beberapa elemen sumberdaya budaya yang erat kaitannya dengan elemen dasar pembentuk lansekap meliputi:

  1. Sejarah

Didalam bukunya, Sutherland Lyall menyebutkan bahwa terdapat pemikiran tentang lingkungan lanskap yang melebihi dari hanya sekedar visual, namun sebuah lingkungan lanskap juga memiliki sebuah resonansi budaya dan sejarah yang tidak bisa diacuhkan. Sedangkan menurut James Corner, lanskap tidak hanya merupakan femomena fisik, tetapi juga merupakan sebuah skema kultural, sebuah filter konseptual dimana hubungan kita dengan alam bebas dapat dimengerti. Setiap wilayah perancangan lanskap tentu memiliki ’cerita‘nya masing-masing; dan ’cerita’ tersebut tentu akan semakin bercerita jika faktor non-fisik tersebut dipadukan dengan faktor fisik daerah tersebut dan pada akhirnya diintervensi oleh sebuah karya perancangan lanskap. Perpaduan inilah yang menjadikan sebuah karya rancangan lanskap pada suatu wilayah akan terasa sangat khas.

Penerapan pendekatan sejarah dan budaya lokal dapat diintepretasikan dengan konteks yang bermacam-macam. Bentuk, warna, elemen hardscape maupun softscape, vegetasi- yang merupakan faktor fisik (visual) dari sebuah perancangan lanskap ternyata mampu ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan sebuah ‘cerita’ dibaliknya. Kualitas inipun dapat memiliki dasar perancangan yang kuat, sehingga pengguna hasil rancangan lanskap tersebut mungkin akan dapat secara mudah memahami bukan saja maksud dari si perancang namun juga kisah yang terkandung dari rancangan lanskap tersebut. Dengan keadaan yang demikian, secara otomatis suasana yang unik dan khas pun akan tercipta, dan pengguna akan merasakan perbedaan yang nyata dari rancangan lanskap tersebut walaupun pengguna itu mungkin sudah pernah merasakan hasil dari rancangan si perancang yang sama di tempat lain.

  1. Estetika

Menurut Nassar (1988), kualitas estetik suatu lanskap dapat memberikan suatu kepuasan tersendiri kepada individu dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku manusia. Estetika sering dikaitkan dengan keindahan, sedangkan indah adalah sesuatu yang dirasakan mempunyai hubungan harmonis dari semua bagian yang ditinjau dari suatu objek, ruang, dan kegiatan (Simonds, 1983). Lanskap dengan kualitas visual yang baik dipengaruhi oleh komposisi antara elemen keras dan elemen lunak yang harmonis sebagai elemen utama pembentuk lanskapnya (Suryandari, 2000).

Nilai estetik suatu tempat atau lanskap merupakan dimensi penting dalam pengamatan ekologi, dan kekuatan nilai estetik telah menjadi aspek utama dalam tindakan konservasi. Perumusan kebijakan tentang estetik juga membawa pada pemahaman yang baik atas masalah lingkungan. Sebagai contoh pemandangan pegunungan yang masih alami dengan hutan gundul yang tidak hanya nilai estetiknya berbeda, tetapi kondisi ekologi keduanya juga berbeda. Nilai estetika dapat menjadi salah satu alat ukur lingkungan, karena indera manusia mampu menangkap dan membedakan kondisi lingkungan di sekitarnya melalui indera penglihatan, pendengaran, atau penciuman (Foster, 1982).

  1. Tata guna lahan

Perencanaan lanskap pada suatu objek lahan ditentukan pada orientasi dan tujuan penggunaan lahan. Tujuan penggunaan lahan menjadi pedoman dalam menentukan sebuah analisis perencanaa lansekap. adalah seni dan pengetahuan bagaimana mengatur dan memanfaatkan bagian-bagian dari suatu tapak. Sebagai contoh,tata guna lahan untuk pembangunan kawasan perumahan tentunya memiliki rancangan pembangunan yang pemetaan wilayahnya berdasarkan letak geografis,sektor ekonomi dan lingkungan. Contoh lainnya adalah tata guna lahan di wilayah Bogor yang dominan pada perkebunan teh telah memberikan kontur alam buatan yang cukup menakjubkan. Oleh karena itu, perencanaan lanskap di kawasan tersebut dapat memetakan kawasan tersebut sebagai kawasan agrowisata sehingga analisis perencanaan lanskap dapat memberikan nilai ekonomi dan peningkatan pariwisata.

  1. Rintangan Fisiografi

Fisiografi yaitu deskripsi kenampakan atau gejala alami dan hubungan timbal baliknya (Monkhouse, 1972). Bentang alam yang variatif harus mampu dideskripsikan ketika merencanakan pemetaan lanskap suatu wilayah. Karakteristik yang spesifik memerlukan analisis landform yang tajam dan komprehensif. Sebagai contoh,daerah Wonosobo yang berada di dataran tinggi mengakibatkan tata guna lahan untuk pertanian memiliki perbedaan. Budidaya pertanian yang berundak-undak di daerah perbukitan menjadi rintangan fisiografi bagi para petani. Tetapi rintangan tersebut sekaligus menjadi produk “keindahan” ketika kenampakan tersebut dapat dilihat secar visual.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Elemen Pembentuk Lanskap. http://agrotekumpar.blogspot.com/2011/12/elemen-pembentuk-lanskap.html. Di akses tanggal 22 September 2013.

Dhabi. Kekhasan Sejarah dan Budaya Lokal Sebagai Sebuah Pendekatan Dalam Perancangan-Lanskap.http://dbabipress.wordpress.com/2010/01/12/kekhasan-sejarah-dan-budaya-lokal-sebagai-sebuah-pendekatan-dalam-perancangan-lanskap/. Di akses tanggal 22 September 2013.

Muzdalifah. Tugas Perencanaan Tapak Perempatan. http://iphemuzdalifah.blogspot.com/2010/06/tugas-perencanaan-tapak-i-perempatan.html. Di akses tanggal 22 September 2013.

Tommy,E. Elemen Pembentuk Lanskap. http://erwintommy.blogspot.com/2011/09/elemen-pembentuk-lanskap.html. Di akses tanggal 22 September 2013.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas