1.Ekosistem Padang rumput

Padang rumput merupakan area yang dipenuhi oleh rumput dan tanaman tak berkayu. Bioma padang rumput membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, dan Australia. Ciri-ciri padang rumput:

  • Curah hujan antara 25 – 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun.
  • Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
  • Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.

Ekosistem padang rumput memiliki komponen penyusun yang relatif tinggi karena tingginya komponen biotik yang mendiami wilayah tersebut serta komponen abiotik yang mendukung.Banyaknya komponen penyusun yang terdapat dalam ekosistem tersebut memungkinkan tingkat kestabilitas relatif tinggi.Komponen biotik berupa produsen mampu untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan komponen konsumen serta siklus ekosistemnya dalam menanggapi setiap gangguan dari faktor lainnya sehingga setiap ekosistem memilki kekuatan dinamis yang akan berubah menjadi varaibel lentur untuk mengikuti perubahan ruang lingkup ekosistem dalam batas stabilitas tertentu.Produktivitas yang dimiliki oleh ekosistem padang rumput begitu produktif dan variatif karena kemampuannya menjaga kestabilan antar komponen seperti komponen produsen dan konsumen.Keeksistensi komponen produsen sebagai autotrof yang variatif dan kaya mampu menyediakan sumber makanan yang cukup untuk para komponen konsumen.

2.Ekosistem Perkebunan Sawit

Ekosistem perkebunan sawit adalah ekosistem setingkat dibawah ekosistem padang rumput sebagai puncak ekosistem dan setingkat di atas ekosistem pekarangan dalam hal perbandingan komponen penyusun,stabilitas ekosistem,dan produktivitas ekosistem.Merujuk dari tiga faktor perbandingan tersebut ekosistem perkebunan sawit belum mampu menyaingi ekosistem padang rumput.Alasannya adalah antara lain:

1.Dilihat dari aspek komponen penyusun masih kalah dengan ekosistem padang rumput.Kenapa?karena berubahnya ekosistem tersebut dari ekosistem hutan belantara ataupun padang rumput yang menjadi ekosistem perkebunan sawit secara tak langsung ikut mengubah komponen penyusun dari komponen lama menjadi komponen baru.Kompleksitas ekosistem perkebunan sawit pun menurun karena yang menjadi komponen utama ekosistemnya adalah tanaman sawit bukan beberapa tanaman yang bervariatif seperti ekosistem padang rumput.

2.Keanekaragaman hayati terutama komponen penyusun yang memegang peran penting berubah menjadi komponen penyusun yang bergantung kepada faktor luar seperti perlakuan manusia.Di ekosistem perkebunan sawit ini kestrukturan ekosistemnya berubah yaitu berupa ekosistem buatan manusia.Ekosistem buatan tentunya masih kalah dengan ekosistem alamiah yang mempunyai kevariatifan dalam berbagai aspek karena ekosisitem buatan adalah hasil tangan manusia jadi semuanya tergantung pada perlakuan manusia.

3.Stabilitas dan keseimbangan ekosistem perkebunan sawit sangat rendah karena tingkat kompleksitas kompenen ekosistem rendah yang berada dalam ekosistem perkebunan sawit tersebut sehingga kekuatan dinamis dan variabel kelenturan mengikuti perubahan ekosistem tersebut tidak fleksibel

4.Produktivitas yang dihasilkan oleh ekosistem tersebut bersifat homogen karena produktivitasnya hanyalah berupa produksi sawit.Kevariatifan produktivitas itu sekali kagi ditekankan karena adaya pola perubahan yang di ubah oleh manusia untuk kepentingan industri ekonomi bukan secara ekologi.

3.Ekosistem Pekarangan

Ekosistem pekarangan adalah salah satu contoh ekosistem yang diciptakan juga oleh manusia yang bertujuan untuk mempercantik halaman rumah ataupun lainnya.ekositem pekarangan merupakan bagian terkecil dari ekosistem padang rumput dan perkebumama sawit baik secara luas area,komponen penyusun,stabilitas,maupun produktivitas.Stabilitas ekositem pekarangana akan berada pada level tertentu.Stabilitas akan mampu tercipta apabila perubahan yang di adakan oleh manusia masih bisa diterima oleh sifat kelenturan ekosistem pekarangan tersebut.Dan sebaliknya ekosistem tersebut tidak akan mampu bertahan apabila sifat kelenturannya itu tidak bisa lagi menahan laju perubahan tersebut baik itu faktor intervensi manusia maupun faktor alam seperti cuaca,perubahan ph tanah,kelembaban dan lainnya.Komponen penyusun yang membentuk ekosistem tersebut menentukan titik keseimbangan ekosistem pekarangan.Sedikitnya kompleksitas komponen maka akan semakin sulit untuk mencapai keseimbangan dan sebaliknya.Kompleksitas komponen tersebut bisa berasal dari alam yang memang sudah ada sebelum adanya tambahan komponen lainnya dari manusia.Jadi kompleksitas komponen ekosistem pekarangan tergantung kepada kompleksitas komponen sebelum di ubah manusia baik itu berupa penambahan atau pengurangan komponen ekosistem tersebut.

Untuk aspek produktivitas kita kembali lagi kepada peran manusia terhadap ekosistem tersebut.produktivitas akan bervariatif jika banyaknya komponen yang dibuat oleh manusia terhadap aspek ekosistem tersebut.Sebagai contoh jika suatu pekarangan oleh pemiliknya ditanam berbagai jenis tanaman seperti pohon manggga,rambutan,lengkeng,jeruk,jambu air dan lainnya.Keanekaragaman tanaman seperti ini tentunya akan menimbulkan produktivitas yang bervariatif dalam ekosistem tersebut dibandingkan dengan ekositem perkebunan sawit yang produktivitasnya hanyalah sawit yang bersifat monoton.