JURNAL AKUNTANSI

Informasi Hasil Penelitian Internasional dan Nasional Terbaru

Iman pada diri seorang muslim, adalah laksana naik turunnya gelombang ombak di lautan. Suatu saat  ombak itu menggunung tinggi sehingga perahu besarpun lumat terkoyak karenannya. Namun diwaktu lain ombak itu hanya bergerak landai hingga batu kerikilpun tak mampu digerakkannya. Ketika iman dalam keadaan pasang, disaat itulah sebenarnya seseorang dalam kondisi terbaiknya. Betapa tidak, dengan keimanan yang tangguh sebagai sebuah manifestasi dari penetapan syahadah dalam dada, seseorang akan menjadi seorang pemberani dan tiada lagi yang ditakuti selain Allah SWT.

Sebuah pengalaman empiris, yaitu tatkala Islam pertama kali melebarkan wilayah ke daratan Eropa, dipimpin oleh seorang panglima perang gagah berani yang kemudian kita kenal namanya Thariq bin Ziyad. Jumlah pasukan Islam waktu itu kalah jauh dengan pasukan kaum kafir yang jumlahnya mencapai ribuan, perlengkapan senjata Islam-pun hanya seadanya. Hanya bersandar kepada keteguhan iman di dada dan kerinduan yang teramat sangat pada mati syahid, akhirnya pasukan Islam mampu meraih kemenangan gemilang atas pasukan kafir. Di sana, masih berdiri kokoh saksi bisu, yaitu bukit Jabal Thariq atau orang barat menyebutnya Gibraltar, yang telah menyaksikan keperkasaan pasukan Islam menaklukan kaum kafir.

Contoh di atas adalah sebuah contoh kecil betapa besar makna sebuah keimanan yang terpatri dalam jiwa. Tentu, kita sebagai seorang muslim selalu menyimpan harapan supaya iman di dada selalu bergelora dan stabil dalam setiap kondisi dan situasi, sehingga mampu menuntun setiap langkah untuk setia di jalan-Nya serta bisa menerangi setiap jengkal relung-relung jiwa untuk terhindar dari noda-noda dosa.

Tetapi harapan tetaplah harapan, harapan tak jauh beda dengan impian, yang terkadang harus berbenturan dengan realita nyata pahitnya kehidupan. Dalam kenyataanya, iman dalam diri kita seringkali naik-turun (al Imanu yazidu wa yanqush), tinggi-rendah, serta berubah-ubah, bahkan dalam hitungan detik. Hal ini terjadi tentu tidak lepas dari kaitan erat antara iman dan hati (qolbu), mengingat qolbu bermakna yang selalu berbolak balik.

Tida heran jika kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya iman itu diciptakan (diuji) di dalam diri kalian sebagaimana diciptakannya pakaian. Maka, hendaklah kalian meminta kepada Allah agar memperbaharui iman di dalam hati kalian.” (HR. Hakim dan Al Tabrani). Sudah menjadi fitrah bahwa iman manusia ada kalanya menguat dan melemah dan ada kalanya begitu bersemangat namun pada suatu saat mengalami kelesuan. Hal ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT., serta menunjukan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang tidak bisa berdiri sendiri atau lemah. Namun demikian, hal ini jangan dijadikan alasan (apologi) sehingga menyebabkan kita hanya berpangku tangan dan tidak mau berusaha untuk menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Hadist tersebut dapat juga ditafsirkan sebagai kritik bahwa kita sebagai hamba Allah SWT harus berhati-hati sehingga dapat menjaga kestabilan iman kita.

Supaya tubuh kita kuat, haruslah diberi makan. Kalau sakit dan ingin sembuh, maka berilah obat yang tepat. Begitu pula ketika rokhani sakit, haruslah diberi obat yang tepat dan mujarab. Pertanyaan awal yang harus dijawab adalah siapakah yang telah menciptaakan jiwa dan raga kita? Tentu Rabb Azza Wajalla. Maka ketika jiwa atau iman kita sakit, obat terbaik tentu yang berasal dari penciptanya, yaitu Allah SWT. Obat tersebut harus segera diperoleh karena betapa meruginya orang-orang yang terjangkit penyakit kelesuan iman. Orang yang tadinya banyak bersedekah, berpuasa, shalat-shalat sunnah, berangkat ke Masjid di awal waktu, dan lidahnya hanya mengucapkan yang benar menjadi malas melakukan ibadah itu tatkaala mangalami kelesuan iman.

Jangan biarkan keadaan itu terus berlarut. Harus cepat dicari obat penawarnya. Sebab jika keadaan ini semakin berlanjut, maka syaitan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk semakin menggelincirkan manusia kepada kehinaan yang lebih besar. Tatapi, dalam hal ini perlu juga diingat bahwa lesu atau dalam kata lain bosan (futur), adalah keadaan psikologis yang manusiawi, bahkan tak jarang juga menimpa para ahli ibadah. Dalam sebuah hadis telah dinyatakan, “Setiap perbuatan ada puncaknya, dan setiap puncak akan futur (lesu). Maka, barang siapa futurnya menuju sunnah sungguh sangat beruntung, dan barang siapa futurnya tidak menuju sunnah sungguh akan hancur.” (HR. Tirmidzi).

Diantara penyakit-penyakit qolb yang paling berat menimpa manusia adalah lesu atau lemah iman dan merasa lemah untuk melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah SWT. Salah satu fase yang harus dilakukan dalam rangka proses menuju iman yang istiqomah adalah mengetahui penyebab munculnya penyakit lesu iman. Diantara penyebab munculnya penyakit lesu iman antara lain :

  1. Tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk merubah diri menuju pribadi yang tangguh.
  2. Berteman dengan orang-orang yang dapat memperdaya kita kedalam kemaksiatan.
  3. Sibuk dengan urusan dunia dan keindahannya.
  4. Berharap dalam kehidupan, melupakan mati, kubur, mahsyar, hisab, surga, dan neraka.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah resep yang diberikan oleh Islam berkaitan dengan lesu atau lemahnya iman ini? Allah telah berjanji berhubungan dengan obat dari penyakit ini. Sabda Rasulullah “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan juga obatnya.” (HR. Ibnu Majah). Hadist ini menunjukan bahwa Allah telah berjanji akan menurunkan obat begi setiap penyakit yang Allah turunkan kepada makhluknya.

Ada beberapa obat bagi iman yang lesu supaya dapat kembali bersemangat dalam menapaki kehidupan ini dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Obat-obat tersebut antara lain :

  1. Merasakan keagungan Allah dan kekuasaannya.
  2. Merenungi ayat-ayat qauliah (tertulis) dan kauniah (tidak tertulis).
  3. Memperbanyak  mengucapkan dzikir kepada Allah.
  4. Bergaul dengan hamba-hamba Allah yang saleh.
  5. Menjauhi   dosa-dosa  kecil.
  6. Memperbanyak mengingat kematian.
  7. Mengingat hari perhitungan, pahala, siksa, surga dan neraka.

Inilah beberapa obat untuk mengobati  penyakit yang begitu sering menjangkiti kita.

Obat penawar lain yang bisa jadi seringkali lepas dari lintasan pikiran kita yaitu bahwa futur (rasa bosan) sering disebabkan oleh terlalu tegangnya  kondisi kejiwaan kita,  seiring dengan menumpuknya  berbagai harapan dan keinginan, sehingga  hati menjadi   beku dan dingin bagaikan es, bibir terasa berat untuk menyunggingkan senyum, badan menjadi terasa lemah, serta otak terasa sulit untuk berpikir. Penawar yang diteladankan oleh Nabi kita adalah sebagaimana dalam sabdanya berikut ini.

Demi zat yang diriku dalam kekuasaannya! Sesungguhnya andai kita disiplin terhadap apa yang pernah kamu dengar ketika bersama aku dan juga tekun dalam dzikir, niscaya malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan di  jalan-jalanmu. Tetapi, Hai Handhalah, sa’atan-sa’atan! (berguraulah sekedarnya saja!). Nabi mengulangi ucapan itu sampai tiga kali.” (HR. Muslim).

Hadist tersebut memberikan jalan keluar bagi kita ketika mengalami kejenuhan, hati ini menjadi lesu dengan berbagai aktivitas dunia ataupun aktivitas yang berorientasi pada akherat, maka Rasulullah memerintahkan sa’atan-sa’atan! (sekedarnya saja!) untuk bergurau, bercanda dengan teman kita. Tentunya gurauan yang tidak mengandung ejekan atau hal-hal maksiat lainnya. Dengan senda gurau ini hati kita akan menjadi fresh kembali.

Dilihat begitu pentingnya hal ini, maka sebagian ulama’ yang berpendapat bahwa bercanda yang baik hukumnya mubah (boleh). Para sahabat Rasulullah yang saleh dan baik itu biasa bergurau, ketawa, bermain-main, dan berkata yang ganjil-ganjil. Mereka mengetahui akan kebutuhan jiwanya dan ingin memenuhi panggilan fitrah serta hendak memberikan hak hati untuk beristirahat dan bergembira agar dapat melangsungkan perjalanan dalam menyusuri dinamika kehidupan yang masih  panjang.

Hal senada juga disabdakan oleh Rasulullah : “Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu. Sebab bila hati terus dipaksakan dengan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta.” (Sunan Abi Dawud).

Layaknya orang yang matanya buta, ia tak bisa meliahat apa yang ada di sekelilingnya. Kalau ingin berjalan, ia harus meraba dan dengan pelan-pelan. Besar kemungkinan ia akan terjatuh. Sementara itu, Azajjag berkata , “Senyuman merupakan ketawanya kebanyakan para Nabi. Perlu diperhatikan juga bahwa gurauan jangan sampai melanggar etika dalam tertawa. Seperti dicontohkan Rasulullah Saw, yang dalam tertawanya hanya terlihat gigi serinya.

Pada suatu hari, Saudah binti Zum’ah Ummul Mukminin berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, aku shalat dibelakang Rasulullah, lalu mengikuti ruku’ dan aku paksa memegangi hidungku, karena aku takut darah akan mengalir dan menetes-netes.” Mendengar ucapan istri beliau, Rasulullah SAW tersenyum dan tertawa. Rupanya menurut istri beliau, Rasulullah terlalu lama dalam ruku’ dan sujud.

Contoh yang disajikan tersebut memberikan petunjuk  tentang diperbolehkannya tertawa untuk menjadi   pelipur hati  yang lara dan jiwa yang sedang gundah-gulana. Akhirnya urusan panjang lebar di atas bermuara pada satu tujuan, yaitu agar iman dalam dada tetap istiqomah,  yang lesu menjadi tegar dan yang sudah mantap agar lebih terpatri, sehingga iman tetap kokoh dalam hati. Wallahua’lam bisshoab.

Baca juga:

Categories: RELIGI

PROFIL AKU

Akbar Ariansyah


Popular Posts

Antara Garis Kemiski

Secara umum kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. ...

Simposium Nasional A

Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-10 yang dilaksanakan di Universitas Hasanudin Makasar ...

"The Accounting Revi

Journal of Accountancy, New York, Bulan Agustus 2010, dari Proquest. Untuk bisa download ...

"Quarterly Journal o

Silahkan download artikel ilmiah dari "Quarterly Journal of Finance and ...

Manfaat Blog Mahasis

Dalam beberapa pekan terakhir ini, beberapa mahasiswa disibukan dengan adanya lomba blog ...