agroteknologi 2014

Just another Blog UMY site

Pengembangan Sistem Pertanian Menuju Usahatani Berkelanjutan

Posted by 20140210034 Comments Off on Pengembangan Sistem Pertanian Menuju Usahatani Berkelanjutan

2515476243_71d06d7de5

Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada sektor pertanian. Konsep pembangunan berkelanjutan mulai dirumuskan pada akhir tahun 1980’an sebagai respon terhadap strategi pembangunan sebelumnya yang terfokus pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi yang terbukti telah menimbulkan degradasi kapasitas produksi maupun kualitas lingkungan hidup.

Konsep pertama dirumuskan dalam bruntland report yang merupakan hasil kongres komisi dunia mengenai lingkungan dan pembangunan perserikatan bangsa-bangsa:“pembangunan berkelanjutan ialah pembangunan yang mewujudkan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk mewujudkan kebutuhan mereka” (wced, 1987).

Bedasarkan definisi pembangunan berkelanjutan tersebut, organisasi pangan dunia mendefinisikan pertanian berkelanjutan sebagai berikut: …… manajemen dan konservasi basis sumberdaya alam, dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan guna menjamin tercapainya dan terpuaskannya kebutuhan manusia generasi saat ini maupun mendatang. Pembangunan pertanian berkelanjutan menkonservasi lahan, air, sumberdaya genetik tanaman maupun hewan, tidak merusak lingkungan, tepat guna secara teknis, layak secara ekonomis, dan diterima secara sosial (fao, 1989).

Sejak akhir tahun 1980’an kajian dan diskusi untuk merumuskan konsep pembangunan bekelanjutan yang operasional dan diterima secara universal terus berlanjut. Pezzy (1992) mencatat, 27 definisi konsep berkelanjutan dan pembangunan bekelanjutan, dan tentunya masih ada banyak lagi yang luput dari catatan tersebut. Walau banyak variasi definisi pembangunan berkelanjutan, termasuk pertanian berkelanjutan, yang diterima secara luas ialah yang bertumpu pada tiga pilar: ekonomi, sosial, dan ekologi (munasinghe, 1993). Dengan perkataan lain, konsep pembangunan berkelanjutan berorientasi pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu: keberlanjutan usaha ekonomi (profit), keberlanjutan.

Kehidupan sosial manusia (people), keberlanjutan ekologi alam (planet), atau pilar triple-p seperti pada gambar 1. Gambar-1. Segitiga pilar pembangunan (pertanian berkelanjutan) dimensi ekonomi berkaitan dengan konsep maksimisasi aliran pendapatan yang dapat diperoleh dengan setidaknya mempertahankan asset produktif yang menjadi basis dalam memperoleh pendapatan tersebut. Indikator utama dimensi ekonomi ini ialah tingkat efisiensi, dan daya saing, besaran dan pertumbuhan nilai tambah (termasuk laba), dan stabilitas ekonomi. Dimensi ekonomi menekankan aspek pemenuhan kebutuhan ekonomi (material) manusia baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Dimensi sosial adalah orientasi kerakyatan, berkaitan dengan kebutuhan akan kesejahteraan sosial yang dicerminkan oleh kehidupan sosial yang harmonis (termasuk tercegahnya konflik sosial), preservasi keragaman budaya dan modal sosio-kebudayaan, termasuk perlindungan terhadap suku minoritas. Untuk itu, pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan berusaha dan pendapatan, partisipasi sosial politik dan stabilitas sosial-budaya merupakan indikator-indikator penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembangunan.

Dimensi Ekonomi (Profit)

  • Efisiensi
  • Daya Saing
  • Nilai Tambah Dan Laba
  • Pertumbuhan
  • Stabilitas

Dimensi Lingkungan Alam

  • Keragaman Hayati
  • Daya Luntur Ekosistem
  • Konservasi Alam
  • Kesehatan Lingkungan

Dimensi Sosial

  • Kemiskinan
  • Kemerataan
  • Partisipasi
  • Stabilitas Sosial
  • Preservasi Budaya

Dimensi lingkungan alam menekankan kebutuhan akan stabilitas ekosistem alam yang mencakup sistem kehidupan biologis dan materi alam. Termasuk dalam hal ini ialah terpeliharanya keragaman hayati dan daya lentur biologis (sumberdaya genetik), sumberdaya tanah, air dan agroklimat, serta kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Penekanan dilakukan pada preservasi daya lentur (Resilience) dan dinamika ekosistem untuk beradaptasi terhadap perubahan, bukan pada konservasi suatu kondisi ideal statis yang mustahil dapat diwujudkan.

Ketiga dimensi tersebut saling mempengaruhi sehingga ketiganya harus diperhatikan secara berimbang. Sistem sosial yang stabil dan sehat serta sumberdaya alam dan lingkungan merupakan basis untuk kegiatan ekonomi, sementara kesejahteraan ekonomi merupakan prasyarat untuk terpeliharanya stabilitas sosial-budaya maupun kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sistem sosial yang tidak stabil atau sakit (misalnya terjadinya konflik sosial dan prevalensi kemiskinan) akan cenderung menimbulkan tindakan yang merusak kelestarian sumberdaya alam dan merusak kesehatan lingkungan, sementara

Ancaman kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan (misalnya kelangkaan tanah dan air) dapat mendorong terjadinya kekacauan dan penyakit sosial. Dalam perspektif dinamis jangka panjang terdapat dua skenario ekstrim yang mungkin terjadi. Pertama, skenario malapetaka (Doom Scenario) yakni terjadinya spiral atau lingkaran resesi ekonomi – penyakit sosial – degradasi alam. Resesi ekonomi yang dicirikan oleh pertumbuhan negatif perekonomian dalam waktu yang cukup lama berdampak pada semakin meluasnya prevelensi kemiskinan dan rawan pangan. Tekanan kemiskinan dan ancaman kelaparan mendorong tumbuhnya berbagai penyakit sosial seperti pencurian dan bahkan

Kekacauan sosial, selanjutnya mendorong masyarakat melakukan eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam sehingga kapasitas produksi sumberdaya alam mengalami degradasi dan kesehatan lingkungan makin memburuk. Menurunnya kualitas sumberdaya manusia, modal sosial dan kapasitas produksi sumberdaya alam menyebabkan resesi ekonomi berlanjut makin parah, dan demikian seterusnya skenario siklus malapetaka kemelaratan skenario kedua ialah lingkaran kondisi keemasan (Golden State Scenario).

Perekonomian yang tumbuh cukup pesat, memungkinkan investasi untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia serta perluasan dan perbaikan modal sosial. Terpenuhinya kebutuhan hidup dan sosial mendorong terjadinya proses internalisasi kebutuhan akan kenyamanan lingkungan hidup dan pelestarian sumberdaya alam. Sumberdaya manusia, sosial, alam dan lingkungan yang semakin baik selanjutnya akan dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sehingga tercipta kondisi ideal yakni zaman keemasan adil dan. Skenario lingkaran kondisi keemasan visi pembangunan (pertanian) berkelanjutan ialah terwujudnya kondisi ideal skenario kondisi zaman keemasan, yang dalam bahasa konstitusi indonesia disebut adil dan makmur, dan mencegah terjadinya lingkaran malapetaka kesejahteraan, sosial, kelestarian sumber, daya alam dan kenyamanan, lingkungan pertumbuhan, ekonomi, berkelanjutan, kemiskinan, rawan, pangan, krisis, sosial degradasi, sumberdaya, alam dan lingkungan, resesi, ekonomi

Kemelaratan. Visi ideal tersebut diterima secara universal sehingga pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) menjadi prinsip dasar pembangunan pertanian secara global, termasuk di indonesia. Oleh karena itulah pengembangan sistem pertanian menuju usahatani berkelanjutan merupakan salah satu misi utama pembangunan pertanian di indonesia.

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

20140210034


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Buah Naga

Tanaman buah naga adalah tanaman yang termasuk dalam taman kaktus. Di ...

Produksi buah melon

Tanaman melon di Kulon Progo merupakan tanaman yang banyak di ...

Mengedepankan Pertan

Perjalanan awal bangsa ini dalam hal pangan sangat menjanjikan. Tumbuhan ...

Pengembangan Sistem

Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan ...