Dunia Pertanian

Just another Blog UMY site

I. KEMASAKAN DAN KUALITAS PAKCOY

  1. Informasi Umum Sayuran Pakcoy

Pakcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Adapun klasifikasi tanaman sawi pakcoy adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisio             : Spermatophyta

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Rhoeadales

Famili              : Brassicaceae

Genus              : Brassica

Spesies             : Brassica rapa L

(Setiawan 2014)

Menurut Thompson and Kelly (1957), Tanaman yang berasal dari Asia Timur ini memiliki ciri permukaan daun halus dan tangkai berdaging tebal pada pangkalnya. Helai daun membulat seperti sendok sehingga sering disebut sawi sendok, bentuk daun oval, berwarna hijau cerah atau hijau keputihan pada pakcoy putih. Tanaman pakcoy cukup mudah untuk dibudidayakan dan hanya memerlukan waktu yang pendek yaitu berkisar 3 sampai 4 minggu. Perawatannya juga tidak terlalu sulit dibandingkan dengan budidaya tanaman yang lainnya. Tanaman ini ditanam dengan benih langsung atau dipindah-tanam dengan kerapatan tinggi, umumnya sekitar 20-25 tanaman/m2 , dan kultivar kerdil ditanam dua kali lebih rapat (Rubatzky and Yamaguchi, 1998). Budidaya tanaman pakcoy dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan menggunakan media tanam dalam polibag. Media tanam dapat dibuat dari campuran tanah dan kompos dari sisa limbah.  Umur panen pakcoy relatif pendek yakni 40-50 hari setelah tanam dan hasilnya memberikan keuntungan yang memadai (Edi, 2010). Pakcoy banyak mengandung serat, vitamin A, vitamin B, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, kalium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein.

  1. 2.  Indeks Kemasakan

Tanaman sawi yang siap dipanen adalah yang berumur 40-50 hari, selain berdasarkan umurnya kriteria sawi yang siap dipanen adalah dengan melihat keadaan fisik tanaman seperti warna, bentuk, dan ukuran daun. Menurut Haryanto dan Tina (2002), apabila daun terbawah sudah mulai menguning maka sawi harus secepatnya dipanen karena hal ini menandakan bahwa tanaman mulai memasuk fase generatif atau akan segera berbunga. Jika tanaman dipanen belum berbunga maka sawi yang dihasilkan segar dan tidak keras atau kasar apabila dikonsumsi. Tanaman yang siap dipanen adalah tanman dengan daun berwarna hijau terang, tekstur batang tegar dan lebar daun berkisar 9-15.

3. Indeks Kualitas Kualitas produk merupakan suatu alat dalam mencapai posisi produk serta kualitas menyatakan tingkat kemampuan produk dalam melaksanakan fungsi yang diharapkan, yaitu:

  1. Tulang daun pakcoy harus kelihatan amat jelas
  2. Batang pakcoy dapat dengan mudah dipatahkan
  3. Daun pakcoy utuh secara keseluruhan dalam artian tidak cacat atau terserang hama dan penyakit
  4. Warna daun pakcoy tidak boleh kusam, tetapi harus berwarna hijau segar
  5. Penampakan pakcoy harus bersih dan fresh
  6. Pakcoy memiliki berat 30-70 g per batangnya

II. PENYIMPANAN TANAMAN PAKCOY

  1. Temperatur

Sayuran sering sangat sensitif terhadap kerusakan dingin. Kerusakan dingin menurunkan mutu produk dan memperpendek masa simpan. Gejala sering muncul hanya setelah komoditi dikeluarkan ke suhu lebih hangat, seperti ketika dipasarkan.Untuk produk yang peka suhu rendah atau chilling akan meningkatkan masa simpan dengan cara menurunkan laju respirasi, menurunkan sensitifitasnya terhadap gas etilen dan mengurangi kehilangan air. Menurunkan laju kehilangan air akan menurunkan atau memperlambat laju pelayuan yang biasa menyebabkan kehilangan pascapanen secara serius. Menurut Nazaruddin (2003), salah satu cara menjaga sayuran tetap segar dalam waktu agak lama adalah dengan menekan kegiatan enzim. Hal ini dilakukan dengan jalan mendinginkan sayuran pada suhu yang tepat. Hampir semua jenis sayuran memerlukan kelembaban yang tinggi selama penyimpanan. Sayuran yang masih segar yang baru saja dipetik tidak luput dari serangan mikroba, bakteri, atau jamur. Serangan itu berakibat rusaknya jaringan sayuran hingga menjadi hancur, berlendir, kehilangan warna, dan tidak enak dimakan. Perlakuan pada suhu dingin dengan kemasan dapat menjaga kesegaran dan ketegaran sayur sawi sehingga dapat mempanjang umur simpan sayur. Nofrianti () dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa sawi dengan perlakuan kemasan plastik dan disimpan pada suhu dingin (50C) dapat memperpanjang masa segar sayur sawi. Pada perlakuan sawi suhu dingin tanpa pengemasan mengalami kerusakan lebih tinggi dibandingkan perlakuan sawi dengan kemasan. Hal ini disebabkan pada sawi tanpa pengemasan lebih banyak terjadi kontak dengan suhu dingin yang dapat mempercepat chilling injury pada sayuran. (Winarno,1993), menyebutkan chilling injury akan terjadi apabila sayuran disimpan pada temperatur dibawah 150C. Chilling injury dapat menyebabkan sayur menjadi keriput karena kadar air pada dinding sel semakin berkurang.

2. Kelembaban Relatif

Pada umumnya, praktik penyimpanan yang baik termasuk pengontrolan suhu, pengontrolan kelembaban nisbi, perputaran udara dan pengaturan tempat antara kontainer untuk ventilasiyang memadai, dan menghindari pencampuran produk yang bertentangan. Kelembaban relatif pada penyimpanan sayuran pakcoy menurut Cahyono (2003) adalah sekitar 80-90%.

3. Laju Respirasi

Umumnya laju respirasi akan meningkat dengan bertambah tingginya suhu. Menurut Ryall dan Lipton (1983), menyatakan bahwa laju respirasi merupakan petunjuk yang baik untuk daya simpan sayuran sesudah dipanen. Laju respirasi yang tinggi biasanya disertai oleh umur simpan yang pendek. Meningkatnya kehilangan cairan dan meningkatnya laju respirasi serta produksi etilen yang berakibat pada cepatnya kemunduran produk. Laju respirasi sayuran pakcoy adalah berkisar 13-20 ml/CO2/kg.jam pada suhu 5° C.

4. Laju Produksi Etilen

Etilen adalah senyawa organik hidrokarbon paling sederhana (C2H4) berupa gas yang berpengaruh terhadap proses fisiologis tanaman. Etilen dikategorikan sebagai hormon alami untuk penuaan dan pemasakan. Laju produksi etilen pakcoy termasuk sangat rendah, yaitu <0,1 µL/kg·jam pada suhu 20°C, meskipun laju produksi etilen tertinggi yang diketahui adalah pada sayuran pakcoy.

5. Respon terhadap Etilen

Pakcoy merupakan sayuran yang sensitif pada etilen, sehingga menyebabkan sayuran mengalami peningkatan laju respirasi yang berakibat pada kerusakan dan penguningan daun. Sayuran seperti pakcoy baiknya disimpan pada kondisi dengan tingkat etilen dibawah 1 ppm. Ventilasi yang cukup selama penyimpanan sangat penting untuk mempertahankan tingkat etilen yang sangat rendah. Etilen tidak menambah penyakit bintik hitam atau “pepper spot”.

6. Respon terhadap CAP

Control atmosphere packaging  merupakan pengemasan dengan atmosfer yang terkendali sehingga dapat mengurangi kontak langsung sawi dengan udara bebas sehingga laju respirasi dapat ditekan dan produksi etilen dapat diperkecil. Beberapa keuntungan pada umur simpan dapat diperoleh dengan memodifikasi atmosfer dengan kadar O2 yang rendah (2,5% – 5%) dan kadar CO yang tinggi (2,5% – 6%) pada suhu 0-5° C. Penyimpanan menggunakan MAP akan  mempertahankan warna dan rasa pada pakcoy, memperlambat pertumbuhan akar dan batang, dan mengurangi kerusakan pada daun. Kadar O2 dibawah 1% untuk pakcoy justru akan menyebabkan fermentasi, dan jika CO2 yang tinggi (>10%) akan menyebabkan perubahan warna dari dalam komoditas.

III. KERUSAKAN FISIK DAN FISIOLOGIS

Kerusakan fisik yang sering terjadi pada sayuran pakcoy adalah bintik hitam pada tangkai daunnya. Gejala ini dapat terjadi karena suhu rendah di lapangan dan dengan pemanenan yang terlalu tua, tetapi biasanya berhubungan dengan kondisi saat pemindahan dan pada penyimpanan. Etilen tidak menambah penyebaran bintik hitam pada pakcoy. Penyimpanan dengan atmosfer CO2 yang tinggi dapat mengurangi penyebaran bintik hitam pada pakcoy. Chilling injury diakui merupakan kerusakan fisik yang parah, disebabkan karena penyimpanan pada suhu 0° C setelah 3 bulan atau lebih. Gejala yang muncul adalah kehilangan warna pada pelepah daun, terutama pada daun terluar. Perbedaan kutivar juga berpengaruh pada kerentanan penghilangan warna pada pelepah daun. Kerusakan pada pelepah sering terjadi selama pengemasan dan menyebabkan perubahan warna menjadi coklat dan lebih rentan terhadap pembusukan. Sedangkan pelepah luar yang terlalu masak saat dipanen akan mudah retak. Selain itu, kerusakan lain yang terjadi adalah pelayuan, perubahan warna, dan memar. Kelayuan sayuran disebabkan karena pemanenan pada siang hari dimana suhu tinggi dan terkena sinar matahari secara langsung. Kelembaban yang tinggi pada saat penyimpanan akan mencegah kelayuan dan kekeringan pada sayuran. Sayuran yang layu biasanya akan mengurangi kenampakan dan mengurangi kualitas produk oleh karena itu sebaiknya pemanenan dilakukan pagi hari dan segera dibawa ke packinghouse untuk dikemas. Kerusakan fisik seperti memar dan luka pada sayur dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih serius, yaitu penurunan kualitas sayur secara kimiawi maupun mikrobiologis. Sayur yang mengalami luka fisik, selain tampilannya menjadi kurang menarik, juga akan memicu terjadinya pembusukan. Dampak penanganan pasca panen pakcoy sebaiknya berdasarkan tingkat kehilangan pasca panen. Semakin tinggi susut bobot, maka produk tersebut semakin berkurang tingkat kesegarannya.

IV. KERUSAKAN KARENA PENYAKIT

Penyakit yang sering ditemukan pada pakcoy adalah jamur Phytoptora penyebab busuk daun. Gejala serangan ditandai dengan bercak basah coklat kehitaman di daun. Bentuk bercak tidak beraturan, awalnya kecil, lalu melebar dan akhirnya busuk basah. Serangan akan semakin parah jika suhu dan kelembaban udara terlalu tinggi. Umumnya kondisiini terjadi ketika hujan sehari diikuti panas atau terik pada beberapa hari berikutnya. Selain itu ada Alternaria spp. penyebab bercak daun, bakteri Erwinia, Pseudomonas, dan Xanthomonas yang merupakan bakteri  penyebab busuk lunak. Bakteri tersebut mengakibatkan gangguan berlendir dari jaringan yang terinfeksi, dan dapat diikuti oleh infeksi jamur. Pemangkasan daun terluar, pendinginan yang cepat, dan penyimpanan pada suhu rendah dapat mengurangi kemungkinan terserang penyakit busuk ini, meskipun Bortrytis dan Alternaria dapat tumbuh pada suhu penyimpanan yang rendah.

V. DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2003. Teknik dan Strategi Budidaya Sawi Hijau (Pai-Tsai). Hal 12- 62. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama.

Edi, Syafri., J. Bobihoe. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jambi.

Haryanto, E. dan T. Suhartini. 2002. Sawi dan selada. Penebar Swadaya, Jakarta

Kader, A. A. 1992. Postharvest Biology and Technology : Technology of Horticultural Crops. University  of California. Devision of Agriculture and Natural Resources

Nazaruddin., 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Nofriati, D., R. Oelviani. 2016. Kajian Teknologi Pascapanen Sawi (Brassica Juncea, L.) Dalam Upaya Mengurangi Kerusakan Dan Mengoptimalkan Hasil Pemanfaatan Pekarangan. http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/DesyN2.pdf. Diakses 16 Mei 2017

Thompson, H. C., and W. C. Kelly. 1957. Vegetable Crops. Fifth Edition. McGraw – Hill Company. New York.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia 2 Prinsip, Produksi, dan Gizi. ITB, Bandung.

Winarno, F. G. 1993. Pangan : Gizi, Teknologi, dan konsumen. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Profile photo of 20150210164

20150210164


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

TEKNOLOGI PASCA PANE

I. KEMASAKAN DAN KUALITAS PAKCOYInformasi Umum Sayuran PakcoyPakcoy (Brassica rapa ...