Pertanian Mendunia

Just another Blog UMY site

I. Kemasakan dan Kualitas

 A. Tanaman Pakcoy

Packcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Tanaman pakcoy dapat tumbuh baik di tempat yang bersuhu panas maupun bersuhu dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Tanaman pakcoy tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Adapun klasifikasi tanaman sawi pakcoy adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Rhoeadales

Famili : Brassicaceae

Genus : Brassica

Spesies : Brassica rapa L

Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 15–30 cm. Pakcoy mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanah di Indonesia sehingga bagus untuk dikembangkan. Tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) termasuk dalam jenis sayur sawi yang mudah diperoleh dan cukup ekonomis. Saat ini pakcoy dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai masakan. Hal ini cukup meningkatkan kebutuhan masyarakat akan tanaman pakcoy. Tanaman pakcoy cukup mudah untuk dibudidayakan. Perawatannya juga tidak terlalu sulit dibandingkan dengan budidaya tanaman yang lainnya. Budidaya tanaman pakcoy dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan menggunakan media tanam dalam polibag. Media tanam dapat dibuat dari campuran tanah dan kompos dari sisa limbah.

B. Indeks Kemasakan

Indek kematangan tanaman pakcoy merupakan standar dimana tanaman  dapat dipanen. Indek kematanagan dapat dilihat dari penampakan fisik dari tanaman pakcoy itu sendiri. Pakcoy dapat dipanen ketika daunnya telah lebar dan batangnya lebih berwarna putih. Panen dapat dilakukan dari 30-35 hari setelah tanam. Dalam melakukan pemanenan Pakcoy dengan cara memotong pangkal batang menggunakan pisau tajam. Pakcoy yang telah di panen dicuci untuk membersihkan sisa tanah dan membuang daun tua yang rusak dan pengangkutan hasil panen harus dilakukan secara hati hati dan tidak boleh terlalu ditumpuk, karena akan menyebabkan tanaman menjadi rusak.

C. Indeks Kualitas

Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 15–30 cm.

II. PENYIMPANAN

 A. Temperatur Optimum

Komoditas Pakcoy merupakan suatu komoditas yang memiliki kadar air yang tinggi. Kebanyakan dari komoditas sayur yang memiliki kadar air yang tinggi adalah sensitif terhadap temperatur lingkungannya. Hal tersebut dikarenakan dapat memicu kerusakan pada komoditas sayur tersebut. Terlebih lagi adalah pakcoy merupakan komoditas yang diambil bagian daunnya. Luas permukaan daun yang lebar dapat menyebabkan jumlah transpirasi pada komoditas tersebut menjadi tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan temperatur penyimpanan yang baik untuk mencegah terjadinya kerusakan pada produk.

Pakcoy dikenal sebagai tanaman sayuran daerah iklim sedang (sub-tropis) tetapi saat ini berkembang pesat di daerah panas (tropis). Suhu udara yang dikehendaki untuk pertumbuhan sawi adalah daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,6°C dan siang hari 21,1°C. Pertumbuhan sawi yang baik membutuhkan suhu udara yang berkisar antara 19ºC – 21ºC. Keadaan suhu suatu daerah atau wilayah berkaitan erat dengan ketinggian tempat dari permukaan laut (dpl). Daerah yang memiliki suhu berkisar antara 19ºC – 21ºC adalah daerah yang ketingiannya 1000- 1200 m di atas permukaan laut, semakin tinggi letak suatu daerah dari permukaan laut, suhu udaranya semakin rendah, sementara itu pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh suhu udara. Misalnya proses perkecambahan, pertunasan, pertumbuhan dan lain sebagainya.

Suhu yang melebihi 21ºC dapat menyebabkan tanaman sawi tidak dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dikarenakan suhu udara yang sangat mempengaruhi pertumbuhan sawi. Jika suhu tidak sesuai maka pertumbuhannya tidak akan berjalan dengan baik, karena terhambatnya proses fotosintesis yang dapat mengakibatkan terhentinya produksi pati (karbohidrat) dan respirasi meningkat lebih besar. Jika suhu sesuai dengan daerah yang dikehendaki, maka tanaman sawi dapat melakukan fotosintesis dengan baik untuk pembentukan karbohidrat dalam jumlah yang besar, sehingga sumber energi lebih tersedia untuk proses pernapasan (respirasi), pertumbuhan tanaman (pembesaran dan pembentukan selsel baru, pembentukan daun), dan produksi (kualitas daun baik).

B. Kelembaban Relatif Optimum

Kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi yang optimal menurut Cahyono (2003), berkisar antara 80% sampai dengan 90%. Kelembaban yang tinggi dan lebih dari 90% berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Tanaman tumbuh tidak sempurna, tanaman tidak subur, kualitas daun jelek, dan bila penanaman bertujuan untuk pembenihan maka kualitas biji yang dihasilkan jelek. Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap proses penyerapan unsur hara oleh tanaman yang diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan tanaman.

C. Laju Respirasi

Pada semua komoditas pertanian memiliki laju respirasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan dalam satu komoditas, tiap bagian dari tubuhnya memiliki laju respirasi yang berbeda. Selain faktor jenis dan bagian tubuh komoditas, temperatur lingkungan juga berpengaruh terhadap laju respirasi dari komoditas tersebut. Salah satunya yang terjadi pada sawi yang memiliki laju respirasi yang berbeda pada temperatur yang berbeda.

Menurut Robert K. Prange (2016), laju respirasi sawi adalah pada suhu 00C laju respirasinya adalah 6 sampai 14 mg CO2 kg-1 h-1, pada suhu 50C laju respirasinya adalah 8 sampai 16 mg CO2 kg-1 h-1, pada suhu 100C laju respirasinya adalah 15 sampai 19 mg CO2 kg-1 h-1, pada suhu 150C laju respirasinya adalah 19sampai 30 mg CO2 kg-1 h-1, pada suhu 200C laju respirasinya adalah 25 sampai 45 mg CO2 kg-1 h-1.

D. Laju Produksi Etilen

Etilen merupkan satu-satunya hormon yang memiliki bentuk berupa gas yang memiliki fungsi dalam proses pematangan. Produksi etilen yang tinggi dapat mempercepat proses pematangan suatu komoditas. Sawi menghasilkan sedikit etilen yaitu kurang dari 0,1 μL kg-1 h-1 pada suhu 200C. produksi etilen dapat ditekan dengan meminimalisir jumlah O2 menjadi 1% pada tempat penyimpanan.

 

 E. Respon Terhadap Etilen

Pakcoy merupakan sayuran yang sensitif pada etilen, sehingga menyebabkan sayuran mengalami peningkatan laju respirasi yang berakibat pada kerusakan dan penguningan daun. Sayuran seperti pakcoy baiknya disimpan pada kondisi dengan tingkat etilen dibawah 1 ppm. Ventilasi yang cukup selama penyimpanan sangat penting untuk mempertahankan tingkat etilen yang sangat rendah. Etilen tidak menambah penyakit bintik hitam atau “pepper spot”..

 

 F. Respon Terhadap Controlled Atmposphere

Respon sawi  pada kadar CO2 sejumlah 1-2% dan 2-6% dapat memperpanjang umur simpan pada sawi putih. Sedangkan kadar CO2 sejumlah 7,5% atau pada kadar CO2 sejumlah 30-40% selama 5 sampai 10 hari dapat meningkatkan pembusukan pada sawi putih.

III. Kerusakan Fisik dan Fisiologis

Sawi memungkinkan terjadinya chiling injury, yaitu suatu gangguan fisiologis berupa pencoklatan pada daun yang berkembang setelah suhu penyimpanan 00C dengan suhu kritis sebesar 1,50C sampai 30C. kerusakan fisiologis lainnya adalah berupa pembusukan yang diakibatkan jumlah CO2 pada saat penyimpanan yang dapat menyebabkan timbulnya bau yang menyengat.

IV. Kerusakan Karena Penyakit

Dalam proses pasca panen yang mencakup dalam penyimpanan terdapat beberapa hama dan penyakit yang menyerang dan menimbulkan kerusakan pada pakcoy. Penyakit yang menyerang adalah Penyakit akar pekuk yang disebabkan jamur Plasmodiofora, Bercak daun alternaria yang disebabkan oleh jamur Alternaria brassicae, Bercak Daun yang disebabkan oleh Cercospora longisima.

 

 

 V. PUSTAKA

 

Desy Nofrianti dan Renie Oelviani. 2016. KAJIAN TEKNOLOGI PASCAPANEN SAWI (Brassica juncea, L.) DALAM UPAYA MENGURANGI KERUSAKAN DAN MENGOPTIMALKAN HASIL PEMANFAATAN PEKARANGAN. http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/DesyN2.pdf. Diakses pada 14 Mei 2017.

 

IPDN. 2016. BUDIDAYA BEBERAPA TANAMAN HORTIKULTURA. http://repository.ipdn.ac.id/43/3/BAB_III_Syarat_Tumbuh_dan_Budidaya_Tan.pdf. Diakses pada tanggal 14 Mei 2017.

 

 

James A. Duke. 1983. Brassica rapa L. https://hort.purdue.edu/newcrop/duke_energy/Brassica_rapa.html. Diakses pada 14 Mei 2017.

 

Mas E.J and Ong B.L. 2003. Post-harvest physiology of Brassica chinensis var. parachinensis stored at different temperatures. http://www3.ntu.edu.sg/eee/urop/congress2003/Proceedings/abstract/NUS_FoS/Biological%20Sciences/Mas%20Elfie%20Jaar.pdf. Diakses pada 14 Mei 2017

 

Robert K. Prange. 2016. Chinese Cabbage. http://www.ba.ars.usda.gov/hb66/chineseCabbage.pdf. Diakses pada 14 Mei 2017.

 

USDA. 2016. Classification of Brassica rapa L. http://plants.usda.gov/java/ClassificationServlet?source=display&classid=BRRA. Diakses pada 14 Mei 2017.

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Foto Profil dari 20150210145

20150210145


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Manfaat Buah Mangga

Mangga merupakan salah satu buah kaya manfaat di jajaran buah-buahan ...

Mawar Cantik Mawar P

Mawar cantik itu adalah mawar putih, khususnya mawar putih jenis ...

Petani Muda Indonesi

Kekayaan SDA & SDM yang Indonesia miliki, sudah seharusnya kita ...

TEKNOLOGI PASCA PANE

I. Kemasakan dan Kualitas  A. Tanaman Pakcoy Packcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis ...