Meet Your People

– edwin mohammad

Saya masih ingat, sewaktu saya masih kecil…

Waktu saya masih kecil, lamaran kerja ibu saya diterima United Nations di Wina, Austria di bagian IAEA (International Atomic Energy Agency) sebagai inspektor dan meneliti segala hal mengenai nuklir di negara-negara Eropa, dan kami sekeluarga pun ikut pindah bersamanya ke kota yang banyak cerita sejarah tentang musik klasik itu. Sejak di sana, saya sekolah di Vienna International School dan hampir setiap hari saya bergaul dengan orang-orang dari berbagai macam negara.

Saya mulai mengetahui budaya mereka masing-masing. Banyak yang berbeda dan banyak juga yang mirip dan kita semua saling menghargai. Tidak hanya saya yang sedang merasakan culture shock waktu itu, tetapi kebanyakan dari teman saya juga sama, karena ini adalah sekolah “internasional”. Ngobrol bareng mereka saja sudah berbeda dengan ngobrol bareng teman sewaktu masih di Indonesia.

Saya masih ingat saat liburan saya pernah mengajak teman-teman saya yang berbeda ras untuk menonton DVD bareng di rumah saya dan kebetulan waktu siang itu, ibu saya sedang memasak makanan-makanan berbau tanah air. Saat filmnya selesai, kita makan siang bersama, mencicipi makanan khas Indonesia, yaitu sayur asam, indomie, ayam balado, dan sebagai dessert pisang goreng dan kolak. Setelah itu mereka pun pulang.

Tidak menyangka bahwa di kemudian hari mereka ingin bermain lagi ke rumah saya, tetapi kali ini tidak untuk menonton DVD bareng, melainkan untuk mencicipi masakan ibu saya! Wah saya kagum, betapa cepatnya mereka menghabisi makanan-makanan di meja dapur.

Semenjak ibu saya tahu bahwa teman-teman saya suka dengan masakannya, ibu jadi sering masak pagi-pagi untuk membekali saya. Kadang di kala saya sedang tidak lapar, saya kasih ke teman saya, “biar dia saja yang menghabiskannya”, dan kadang pula jika saya membawa bekal ke sekolah, mereka langsung menghampiri saya tanpa rasa malu untuk memintanya.

Saat saya pergi ke Florenzia, Itali untuk study tour, kita semua menaiki kereta api. Lagi dan lagi sesuatu yang tak terlupakan, ibu saya membuat lumpiya untuk di bagikan ke teman-teman saya. Lumpiya tersebut langsung habis sebelum kereta berjalan.

Dari semua cerita itu, saya berfikir bahwa makanan kita ini belum sepenuhnya di sebarluaskan ke negara-negara luar, jika saja kita dapat membangun banyak restoran-restoran di luar, kita akan terkenal dengan makanan khas kita, kita pun juga bisa menyejahterakan masyarakat dengan membantu expor makanan tanah air ke tanah luar. Saya percaya bahwa makanan di warung saja bisa laris sekali di lingkungan asing. Tidak hanya makanan, rokok kita pun disukai oleh orang-orang asing, tetapi sayangnya belum segitu tersebarluaskan oleh kita.

Saya ingin mempelajari mengenai diplomasi antar negara demi kepentingan apa yang ada di negeri kita tercinta. Agar semua dapat tersebarluaskan dan agar bangsa maju dan sejahtera.

Cheers!

-edwin mohammad

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Edwin


Popular Posts

Hello world!

Welcome to Blog UMY. This is your first post. Edit ...

Edwin dan "Ramses"

Siapa yang suka baca komik atau suka gambar karikatur? Yes, ...

Om Win

I have a dad. Everybody actually has a dad, ...

Tiga Tempat Asik di

The three places were the museum of Sang Guru who ...

Mencari dan Gagal, I

Semalem gue barusan buka web UNDP (United Nations Development Program) ...