Meet Your People

– edwin mohammad

Kenapa saya sebutkan satu merapi seribu cerita?

Sejak merapi meletus, banyak yang jadi rajin ngikutin berita, especially buat mahasiswa kaya gua yang lagi di Yogyakarta. Bahkan banyak pula orang-tua mahasiswa Yogya yang jadi rajin menelpon anaknya buat dapatin kabarnya.

Seluruh media sekarang pun tentang merapi, para wartawan berlomba-lomba buat dapetin “anchor”, yaitu memberi kita berita yang tepat pada posisi yang tepat, di persawahan bagian timurnya merapi dimana background mereka pas banget di depan gunungnya.

Beberapa hari yang lalu gua naik motor kesana malam-malam bareng teman gua, yang kemudia sempat habis bensinnya di tengah jalan. Sesampainya disana, cuacanya semakin dingin ya, sudah kaya di puncak. Kita ngelewatin banyak posko yang di kelilingi oleh bendera-bendera, bukan sang saka merah putih bukan, tetapi bendera partai-partai politik yang sedang bantu para refugees. Atau karena pengen eksis di mata rakyat? Haha nggak tau deh.

Melewati banyak posko, mobil-mobil polisi, kendaraan-kendaraan SAR, dan akhirnya sampai di ujung perbatasan antara merapi dan peradaban. Kita ketemu dengan bapak Simon, ngobrol bareng sambil diceritain tentang merapi. Ternyata banyak hal-hal aneh ya saat meletusnya merapi. Tahun 2000-an di bangun Bunker buat warga untuk berlindung dari letusannya, lalu letusan 2006 lava merapi sampai melewati sungai dan akhirnya menghancurkan bunker itu. Tahun ini kata bapaknya awan panasnya membentuk tubuh perempuan dan tulisan Allah, nggak tau deh artinya apa. Dan hujan abunya mengejar ke arah selatan, ke arah Keraton karena Keraton telah meninggalkan tradisi kejawennya. Wah wah, percaya nggak percaya nih.

Abis ngobrol kita nongkrong di warung Mbah Carik. Mereka cuma jual minuman waktu itu, katanya semua makanannya sudah di kasih ke warga-warga yang berada di bawah. Padahal asik tuh makan pisang goreng sama minum kopi plus rokok di malam yang dingin itu, hahaha.

Sekitar jam 1-an kita balik. Naik motor, turun ke bawah tanpa ngegas. Gila, kalo gini berarti warga bisa ngirit bensin setiap hari kalo pergi ke arah selatan, hehehe. Tapi boros juga pas naiknya, jadi ya seimbang lah. Wah, Jogja waktu malam itu sudah kaya kota mati, sepi banget dan dingin. Semua warga pada sudah tidur, padahal gua bawa pakaian-pakaian yang sudah nggak di pake buat mereka. Sayangnya kata Pak Simon lebih baknya ngasihnya kalo pas siang-siang aja, malem mereka istirahat. Yowes lah kalo gitu, tak sabar wae…

*Sigh… sedih juga ya ngelihat keadaan dan suasananya di sana. Setiap hari nggak ada kegiatan, kangen dan khawatir sama rumah-rumahnya. Tapi senang juga ya bisa ngelihat mereka semua ketawa-ketawa. Wkatu pas baliknya aja dihajar sama hujan deras, preet! Oh ya dan katanya kalo di atas sana belum pernah hujan deras sampai sekarang, cuma gerimis-gerimis, makanya debunya masih tebab-tebal. *Sigh…

Save Merapi, -#prayforindonesia

Cheers!

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Edwin


Popular Posts

Hello world!

Welcome to Blog UMY. This is your first post. Edit ...

Edwin dan "Ramses"

Siapa yang suka baca komik atau suka gambar karikatur? Yes, ...

Om Win

I have a dad. Everybody actually has a dad, ...

Tiga Tempat Asik di

The three places were the museum of Sang Guru who ...

Mencari dan Gagal, I

Semalem gue barusan buka web UNDP (United Nations Development Program) ...