MAKALAH KOMUNIKASI PENDIDIKAN HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN

  pendidikan   January 13, 2012

TUGAS MAKALAH KOMUNIKASI PENDIDIKAN
HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Dosen pengampu : Muh. Syamsudin,S.Ag.,MPd

Disusun oleh kelompok 3:
Mamik Cahyaningsih 20090720018
Matra Nita 20090720004
Ana Dwi Wahyuni 20090720021
Nurul Hidayah 20100720081
Novan Agfalla 20090720003
Sutarko 20090720012
Sasangka Aji Wibawa 20090720034

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2011

BAB 1
PENDAHULUAN

Sudah diketahui banyak orang bahwa komunikasi ada dimana-mana, dirumah, sekolah, kantor, dan masjid; bahkan ia sanggup menyentuh segala aspek kehidupan kita (Jalaludin Rakhmat,1985). Hal ini mengandung arti bahwa hampir seluruh kegiatan manusia, dimanapun adanya, selalu tersentuh oleh komunikasi. Bidang pendidikan misalnya, tidak bisa berjalan tanpa dukungan komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan melalui komunikasi (Jourdan, 1984). Dengan kata lain, tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh komunikasi. Semuanya membutuhkan komunikasi, komunikasi yang sesuai dengan biang daerah yang di sentuh.
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk social, di antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.
Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses social untuk mentranmisikan atau menyampaikan perasaan atau informasi baik yang berupa ide-ide atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang lain.

Dalam melaksanakan suatu program pendidikan aktivitas menyebarkan, menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud ke seluruh struktur organisasi sangat penting. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai komunikasi, pendidikan, komunikasi pendidikan dan hubungan antara komunikasi dengan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. KOMUNIKASI
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris ‘communication’ bersal dari bahasa Latin ‘communicatio’, bersumber dari ‘communis’ yang berarti “sama”. Sama disini adalah dalam pengertian “sama makna”. Komunikasi minimal harus mengandung “kesamaan makna” antara kedua belah pihak yang terlibat. Dikatakan “minimal’’ karena kegiatan komunikasi itu tidak bersifat “informatif” saja, yakni agar orang mengerti dan tahu, tetapi juga “persuasif” yaitu agar orang bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu kegiatan dan lain-lain.
Komunikasi secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melelui/tanpa media yang menimbulkan akibat tertentu. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan tersebut.
Thomas M .Scheihwadel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak siosial dengan orang disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir, dan berperilaku seperti yang kita inginkan.
Ada sejumlah komponen penting atau unsur yang merupakan prasyarat terjadinya sebuah komunikasi. Dalam “bahasa komunikasi’’ komponen-komponen tersebut meliputi:
1. Komunikator, orang yang menyampaikan pesan
2. Pesan, pernyataan yang di dukung oleh lambang
3. Komunikan, orang yang menerima pesan
4. Media, sarana atau saluran yang mendukung pesan
5. Efek, dampak sebagai pengaruh pesan
Setiap perilaku manusia mempunyai potensi komunikasi. Ada istilah yang sangat familier dalam dunia komunikasi yaitu “we cannot not communication”, “Kita tidak dapat tidak berkomunikasi”. Betapa tidak, komunikasi terjadi jika seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Jadi semua perilaku kita memiliki potensi komunikasi, baik dari segi ekspresi muka, bahasa tubuh, terlebih pengucapan baik secara verbal maupun nonverbal.
B. PENDIDIKAN
Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu ‘Paedos’ (anak) dan ‘Agoge’ yang berarti saya membimbing, memimpin anak. Sedangkan paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang (pemuda) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa) ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru). Dari sudut pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
Kihajar dewantara (bapak pendidikan nasional indonesia 1889-1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin) pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Dengan kata lain, Pendidikan dapat di artikan sebagai usaha orang dewasa dalam mendewasakan peserta didiknya agar menjadi dewasa dan menjadi manusia yang seutuhnya.

C. KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Komunikasi pendidikan merupakan komunikasi yang sudah merambah atau menyentuh dunia pendidikan dan segala aspeknya dan merupakan proses komunikasi yang dipola dan dirancang secara khusus untuk mengubah perilaku sasaran tertentu kearah yang lebih baik. Sasaran atau komunikan disini maksudnya adalah sekelompok orang, yang mana dalam proses pendidikan disini adalah murid atau siswa.
Sudah disepakati juga bahwa fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif (entertainment) (Effendy,1981). Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi memberi keterangan, memberi ata atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia. Disamping itu, komunikasi juga berfungsi mendidik masyarakat, mendidik orang, dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri. Seseorang bisa banyak tau karena banyak mendengar, banyak membaca dan banyak berkomunikasi. Komunikasi pendidikan lebih berarti sebagai proses komunikasi yang terjadi dalam lingkungan pendidikan baik secara teoritis maupun secara praktis.
Komunikasi pendidikan adalah proses perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang atau peristiwa-peristiwa pendidikan. Komunikasi ini sifatnya tidak netral lagi, tetapi sudah dipola untuk memperlancar tujuan-tujuan pendidikan. Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh guru kelas kepada muridnya, dan komunikasi yang terjadi dan dirancang oleh orang tua untuk mendidik dan memahamkan kepada anaknya, itu semua merupakan bentuk-bentuk komunikasi pendidikan. Salah satu cirinya adalah berlangsung dan dirancang denagn maksud untuk mengubah perilaku sasaran kearah yang lebih baik di masa yang akan datang.
Komunikasi pendidikan bukan hanya terjadi pada kasus dialog saja, namun masih banyak contoh lainnya seperti pada setiap orang tua, baik sebagai ayah, ibu ataupun wali, bahkan mereka yang berkedudukan sebagai “orang tua” (senior, baik dalam ilmu, status sosial, maupun dalam usia) dilingkungan masyarakatnya, mempunyai keinginan memberi wejangan kepada yang lebih muda. Bentuk wejangan ini bermacam-macam. Sebuah nasihatpun berarti wejangan. Juga wejangan dalam bentuk contoh atau teladan perbuatan termasuk perbuatan memberi semangat, dorongan, dan hal lain yang dapat menumbuhkan motivasi seseorang untuk berbuat sesuai dengan norma yang berlaku. Hal ini terlihat jelas sebagai mana disarankan dalam salah satu konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terkenal itu, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tutwuri handayani. Artinya kira-kira sebagai berikut: didepan dapat memberi contoh atau teladan yang baik, baik dalam pengetahuan, sikap maupun dalam berbuat, di tengah-tengah harus bisa membangun kehendak atau kemauan, berinisiatif, dan dibelakang harus bisa memberi dorongan atau semangat.
Bentuk komunikasi pendidikan pun sudah ada sejak zaman kenabian. Orang tua bernama Luqman memberi nasihat kepada anaknya supaya menjadi anak yang baik (QS. Luqman 18-19):
   ••  •   •  •    •           •     
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
[1182] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, atau tujuan pendidikan tidak tercapai karena penerapan komunikasi yang keliru. Tujuan pendidikan secara umum adalah mengubah kondisi awal manusia kepada atau ke arah yang sesuai dengan norma kehidupan yang lebih baik, lebih berkualitas dan lebih sejahtera, baik lahir maupun batin. Dengan demikian, komunikasi direncanakan secara sadar untuk tujuan-tujuan pendidikan, tujuan mengubah perilaku pada pihak sasaran, karena itu ia memerlukan waktu. Dalam menjalani waktu itulah terjadi proses komunikasi, proses saling berbagi informasi antara dua pihak (Schramm, 1977).
Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan, dan tentu oleh suatu tindakan komunikasi pendidikan, sesuai yang diamanatkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam GBHN, yaitu untuk mencapai predikat manusia Indonesia yang ber-Pancasila, meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat agar dapat menumbuhkan manusia-manusia yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

D. HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Di atas telah di singgung mengenai pengertian komunikasi dan pendidikan bahwa perilaku pendidikan di lahirkan oleh komunikasi. Dalam hal ini hubungan komunikasi dengan pendidikan adalah (misalnya) suasana dialogis antara seorang ayah dan seorang anaknya yang sedang terlibat dalam pembicaraan pembentukan kehidupan di masa depan. Istilah dialogis di sini menunjukan adanya unsur komunikasi antara dua orang (ayah dan anak) . ayah berkedudukan sebagai komunikator dan pemrakarsa gagasan dalam merencanakan suatu dialog tersebut. Tetapi juga ia sekaligus merupakan pihak yang mendengarkan (dalam umpan balik dialog) sehingga ia sekaligus menjadi komunikan. Komunikator dan komunikan (ayah dan anak) secara bersama-sama terlibat dalam suasana komunikasi. Contoh dari Hubungan komunikasi dengan pendidikan bukan hanya terjadi pada kasus diatas saja. Masih banyak contoh yang lainnya.
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, atau setidaknya tujuan pendidikan tidak tercapai karena penerapan komunikasi yang keliru. Jourdan (1984) pernah berkata bahwa “tidak ada perilaku-perilaku pendidikan yang tidak berkaitan dengan komunikasi”. Ini artinya bahwa hampir semua kegiatan pendidikan banyak dilakukan atau berkaitan dengan komunikasi. Karena itu, kegagalan-kegagalan dalam pendidikan dan komunikasi pun sedikit banyak sebenarnya terjadi karena kegagalan dalam komunikasi.
Bentuk komunikasi yang cocok untuk penyembuhan kegagalan tersebut adalah model terbuka (konsep jourdan). Suasana terbuka antara komunikator pendidkan dengan komunikan belajar adalah modal utama untuk saling mengisi kesalahan-kesalahan yang mungkin dialami oleh masing-masing pihak dalam komunikasi ini. Dalam model komunikasi terbuka seperti inilah terdapat celah-celah yang ada untuk mengarahkan pihak komunikan belajar kearah yang ditetapkan oleh komunikator.
Dalam hal inilah posisi guru dalam latar komunikasi merupakan faktor utama yang mempengaruhi bagaimana siswa mempersepsi dirinya. Karena guru menduduki posisi sentral dalam jaringan komunikasi di ruang kelas. Semakin banyak komunikasi, semakin tinggi status dan kekuasaan yang seharusnya diberikan kepadanya.
Di dalam proses belajar, atau lebih luasnya proses pendidkan , terkandung unsur-unsur yang mendukung. Unsur-unsur tersebut antara lain adalah orang yang belajar, pihak yang membantu menyebabkan belajar, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kedua pihak tersebut dalam melaksanakan fungsi masing-masing, termasuk pula didalamnya unsur komunikasi. Disamping faktor-faktor dari unsur yang pertama, faktor komunikasi ini bahkan sanggup menyentuh semua aspek yang terjadi dalam proses tadi. Orang yang ingin belajar, tanpa berkomunikasi tidak mungkin dapat melaksanakan keinginannya. Semua membutuhkan komunikasi. Bahkan proses belajar itu sendiri, manurut Berlo (1960), merupakan proses komunikasi. “Berbicara tentang komunikaasi dalam konteks personal artinya berbicara tentang bagaimana orang belajar”, katanya. Selanjutnya, dengan atau tanpa media, proses belajar bisa terjadi, terutama apabila terjadi umpan balik dari pihak sasaran (komunikan) kepada penyampai atau sumber pesan secara berlanjut.
Apabila proses komunikasi tersebut berakibat timbulnya perubahan perilaku pada pihak sasaran yang lebih baik, terutama perubahan dalam domain kognitif, afektif dan psikomotor, maka prosesnya sudah berada pada suasana pendidikan, suasana belajar. Dalam hal ini, belajar atau lebih luasnya pendidikan juga membutuhkan komunikasi karena sebenarnya proses belajar merupakan suatu proses komunikasi. Gambar berikut menunjukkan proses komunikasi dalam model dari Berlo.

Dalam gambar tersebut terlihat bahwa pesan yang disalurkan lewat media (M) oleh sumber (S) akan dapat dikomunikaasikan kepada sasaran penerima pesa (P), kenudian proses komunikasi itu sendiri baru terjadi setelah ada reaksi umpan balik (feedback) yang disimbolkan denagn huruf (U). Dalam hal ini penerima (P) berubah fungsinya jadi sumber (S’).
Dengan demikian, Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila sekiranya timbul saling pengertian,yaitu ketika kedua belah pihak si pengirim dan si penerima informasi dapat memahami.
Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting kedudukannya. Bahkan ia sangat besar peranannya dalam menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan. Orang sering berkata bahwa tinggi rendahnya suatu capaian mutu pendidikan dipengaruhi pula oleh faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi pendidikan.
Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi karena proses komunikasi, baik yang berlangsung secara intrapersona maupun secara antarpersona.
a. Intrapersona
Yaitu komunikasi yang terjadi di dalam individu itu sendiri.
Tampak pada kejadian berpikir, mempersepsi, mengingat dan mengindra. Hal demikian dijalani oleh setiap anggota sekolah bahkan oleh semua orang.
b. Antarpersona
Ialah bentuk komunikasi yang berproses dari adanya ide atau gagasan informasi seseorang kepada orang lain. Dosen yang memberi kuliah, berdialog, bersambung rasa, berdebat, berdiskusi, dan sebagainya adalah sebagian besar dari contoh-contohnya.
Tanpa keterlibatan komunikasi tentu segalanya tidak bisa berjalan. Komunikasi disini adalah terutama yang terjadi pada kegiatan mengajar dan belajar pada kegiatan tatap muka maupun pada kegiatan lainnya.
Hanya dimungkinkan melalui kemampuan berkomunikasi untuk mentransfer makna diantara individu. Aktifitas kelompok mustahil ada tanpa ada sarana bertukar pengalaman dan sikap. Komunikasi melibatkan semua simbol batin, sarana penyampaian simbol dan untuk menjaga simbol-simbol itu. Untuk mencapai, memahami, dan mempengaruhi orang lain, seseorang harus berkomunikasi. Pentingnya komunikasi digaris bawahi oleh kenyataan bahwa “tindakan seseoran didasari oleh apa yang diketehui atau apa yang dianggapnya diketahui”.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan komunikasi pada intinya adalah aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan tersebut.
2. Pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
3. Komunikasi pendidikan adalah proses perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang atau peristiwa-peristiwa pendidikan.
4. Hubungan komunikasi dan pendidikan sangatlah erat, dengan kata lain, komunikasi dan pendidikan sangat berkaitan erat setu sama lain.
5. Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting kedudukannya. Bahkan ia sangat besar peranannya dalam menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan. Tinggi rendahnya suatu capaian mutu pendidikan dipengaruhi pula oleh faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi pendidikan. Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi karena proses komunikasi, baik yang berlangsung secara intrapersona maupun secara antarpersona.
DAFTAR PUSTAKA

 Yusuf,Pawit M.2010.Komunikasi Instruksional.Jakarta:Bumi Aksara.
 Ilaihi, wahyu. 2010. komunikasi dakwah. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
 Mulyana,Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
 http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-pengertian-pendidikan/
 Yusup, Pawit M, 1990, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Intruksional, Remadja Rosdakarya, Bandung.
 Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya
 Miarso,yusufhadi.1986. teknologi komunikasi pendidikan. Jakarta:CV.Rajawali.
 Widjaja A.w. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta:PT BINA AKSARA,1986.
 Mulyana Deddy. Komunikasi Efektif. Bandung.PT REMAJA ROSDAKARYA,2004.
 Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Leave a Reply

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE