Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hanya Blog UMY situs lain

               Sering kita melihat diantara saudara-saudara kita apabila mereka telah selesai berdo’a, kemudian mereka mengusap muka dengan kedua telapak tangannya. Mereka yang mengerjakan demikian itu, ada yang memang sudah mengetahui hadisnya, tapi mereka tidak mengetahui bagaimana derajat atau kualitas dari hadis tersebut. Apakah benar datangnya dari Nabi saw atau tidak. Ada juga yang mengerjakan perbuatan tersebut karena hanya semata-mata ikut-ikutan (taqlid) saja.              Dari timbulnya permasalah di atas, untuk itu penulis berkeinginan melakukan penelitian terhadap hadits-hadis mengenai “mengusap muka dengan kedua tangan sesudah selesai berdo’a”. Apakah hadisnya shahih, sehingga bisa menjadi amalan bagi kaum Muslimin ataukah di dalamnya ada keganjalan-keganjalan dari urutan sanad maupun matannya. Mudah-mudahan banyak membawa manfaat bagi penulis maupun bagi pembaca yang belum mengetahui mengenai kualitas hadis tersebut. 

B.  RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana kualitas hadis Umar bin Khattab mengenai Mengusap Muka Dengan Kedua Tangan Sesudah Selesai Berdo’a?

2.  Adakah jalur lain yang dijadikan mutabi dan syahid (koroborator) untuk hadis Umar bin Khattab? Bagaimana kualitasnya?

 

C.  TAKHRIJ HADIS

Hadis yang diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzî dari Umar bin Khattâb, sebagai berikut :

حَدَثَنَا أَبُوْ مُوْسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى و إِبْرَاهِيْمَ بْن يَعْقُوْبِ وَغَيْرِ وَاحِد قَالُوْا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الجهني عَنْ حَنْظَلَة بْن أَبِي سُفْيَانَ الجمحي عَنْ سَالِمْ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عُمَرِ بْنِ الخَطَابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ (رواه الترمذى)

Artinya : Abu Musa Muhammad bin al Mutsannâ dan Ibrâhim bin Ya’qub dan lebih dari satu, mereka berkata : Hammâd bin Isâ al Juhni menceritakan kepada kami, dari Handhalah bin Abi Sufyân al Jamhi dari Sâlim bin Abdullah dari ayahnya dari Umar bin Khattâb r.a darinya ia berkata : “Adalah Rasulullah saw apabila mengangkat kedua tangannya pada waktu berdo’a, beliau tidak menurunkan keduanya sehingga beliau mengusapkan kedua tangannya ke mukanya” (HR. Tirmidzî).

Setelah dilakukan takhrij, hadis tersebut dinukil dari kitab :

  • Tirmidzî, Kutubu as-sittah Sunan at-Tirmidzî, edisi Raid ibnu Shabari ibnu Abi

‘Ulfah (Riyad: Maktabah ar-Rusydi, 1426/2005), 1: 2149 hadis no. 3386

Hadis ini mempunyai syawahid, dan hadis tersebut dinukil dari kitab :

  • Abu Dawud, Kutubu as-sittah Sunan Abu Dawud , edisi Raid ibnu Shabari ibnu Abi ‘Ulfah (Riyad: Maktabah ar-Rusydi, 1426/2005), 1: 1459 hadis no. 1492
  • Abu Dawud, Kutubu as-sittah Sunan Abu Dawud , edisi Raid ibnu Shabari ibnu Abi ‘Ulfah (Riyad: Maktabah ar-Rusydi, 1426/2005), 1: 1458 hadis no. 1485

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.  I’TIBAR

 

Tirmidzî

 

                                                                                                  

 

Ibrahim bin Ya’kub حدثنا

 

 

Hammâd bin Isâ حدثنا

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E.   BIOGRAFI PERAWI

Rangkaian perawi hadis dimulai dari perawi yang terakhir, yaitu dari Ibrahim bin Ya’kub, Hamād bin Isā, Handhalah bin Abi Sufyân, Sâlim bin Abdullah, Abdullah bin Umar bin Khattâb dan yang pertama adalah Umar bin Khattâb. Berikut biografi perawinya :

  1. 1.   IBRAHIM BIN YA’KUB
  2. Nama lengkapnya : Ibrahîm bin Ya’kub bin Ishaq as Sa’di Abu Ishaq al Jauzajanî, tinggal di Damaskus, tingkatan 11 dari pertengahan akhadzin tabi’în al Atba’, wafat pada tahun 259 H di Damaskus.
  3. b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

 

–       Gurunya : Muhammad bin Abdurrahman ath-Thafâwî, Mu’âd bin Hisyâm, al Wâlîd bin Muslim, Yahya bin Hammâd asy-Syaibanî, Abi Usâmah Hammâd bin Usâmah, Hammâd bin Îsâ al Juhnî, Muhammad bin Abdullah al Ansharî.

–       Muridnya : Bukharî, Muslim, Abu Daud, Tirmidzî, Nasa’î, Ibnu Majah, Ja’far bin Muhammad al Faryâî, Al Husain bin Ismâîl, Abu Bakar Abdullah bin Abî Daud, Abu Husain Abdullah bin Muhammad bin Yūnus as Samânî, dll

  1. Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Tsiqah dan hafidz

–       Menurut adz Dzahabî : Hafidz

 

2.   HAMMĀD BIN ISĀ

a.   Nama lengkapnya : Hammâd bin Îsâ bin Ubaidah bin ath-Thafail al-Juhnî, dikatakan juga al Bashrî, tingkatan 9 dari shighar atba’ ath Tabi’în, wafat pada tahun 208 H di Lembah al Juhfah.

b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

–       Gurunya : Ja’far bin Muhammad ash Shâdiq, Handhalah bin Abi Sufyan al Jahmî, Sufyân ats-Tsaurî, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, Mu’ammar bin Rasyid, Musâ bin Ubaidah ar Rubadzî, dll

–       Muridnya : Ibrahîm bin Ya’kub al Jaujazajânî, Abdurrahman bin Uyainah bin Mâlik bin sâriyah, Ubaidillah bin Yuusuf al Jabîrî, Muhammad bin bakâr al Aisyî, Abu Musâ Muhammad bin al Mutsanna, dll

c.   Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Dhaif

–       Menurut adz Dzahabî : Tidak disebutkan

 

3.   HANDHALAH BIN ABI SUFYAN

a.   Nama lengkapnya : Handhalah bin Abî sufyaan bin Abdurrahman bin Sufyan bin Umayyah al Quraisyî al Jamhî al Makî (Saudara Amr dan Abdurrahman bîn Abî Sufyan), tingkatan 6 masa shighâr at Tabi’în, wafat pada tahun 151 H.

b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

–       Gurunya : Salim bin Abdullah bin Umar, thâwūs bin Kisân, Abdullah bin Urwah bin az Zubair, Urwah bin Muhammad as Sa’dî, Ikrimah bin Khalid, Nâfi’ maula Ibnu umar, dll

–       Muridnya : Ishaq bin Sulaimân ar Râzî, Hamâd bin Îsâ, Sufyan ats Tsaurî, Abdullah bin Hârits, Abdullah bin al Mubârak, Abdullah bin Wahab, Abdullah bin Musâ, dll

c.   Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Tsiqah hujjah

–       Menurut adz Dzahabî : min al atsbât

 

4.   SÂLIM BIN ABDULLAH

a.   Nama lengkapnya : Sâlim bin Abdullah bin Umar bin Khathâb al Quraisy, Abu Umar, dikatakan juga Abu Abdullah, dikatakan juga Abu Ubaidillah, al Madanî al Faqîh, tingkatan 3 pertengahan tabi’in, wafat pada tahun 106 H.

b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

–       Gurunya : Zaid bin al Khattâb, Sa’id bin al Musayyab, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar as Shidiq, Abu Hurairah, Shafiyah binti Ubaid, Aisyah Ummu al Mu’minîn, dll

–       Muridnya : Handhalah bin Abi Sufyan, Shalih bin Kîsân, Ubaidillah bin Umar bin Hafz bin ‘Âshim bin Umar bin Khattâb, Ikrimah bin Ammar al Yamânî, Nâfi’ maulâ Ibnu Umar, Yazîd bi Abdurrahman bin Abu Mâlik. dll

  1. c.   Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Tsabit, ‘Âbid fâdhil, salah satu fuqahâ’ as Sab’ah

–       Menurut adz Dzahabî : Salah satu fuqahâ’ at Tâbi’în.

 

5.   ABDULLAH BIN UMAR BIN KHATTÂ

a.   Nama lengkapnya : Abdullah bin Umar bin Khattâb al Quraisy, Abu            Abdurrahman al makî al Madanî, tingkatan 1 Shahâbî, wafat pada  tahun 73 atau 74 H.

b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

–       Gurunya :  Rasulullah saw, Bilal (Mu’adzin Rasulullah saw), Zaid bin Tsâbit, Abdullah bin Mas’ūd, Utsman bin Thalhah, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thâlib, Umar bin Khattâb, Abu Bakar ash Shidîq, Hafshah Ummu al Mu’minîn, Aisyah Ummu al Mu’minîn, dll

–       Muridnya : Aslam maula Umar bin Khattâb, Salim bin Abdullah bin Umar, Sa’id bin Ubaidah, Sa’id bin Âmir, Sa’id bin al Musayyib, Thufail bin Ubaiy bin Ka’ab, Ubaidillah bin Abdullah bin Umar, Ikrimah maula Ibnu Abbâs, Abu Bakar bin Ubaidillah bin Umar, dll

c.   Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Shahâbî

–       Menurut adz Dzahabî : Shahâbî, ia berkata : ia menyaksikan al Ahzâb dan al Hudaibiyyah, Nabi saw bersabda : bahwa Abdullah adalah seorang laki-laki yang shaleh.

 

6.   UMAR BIN KHATTÂB

a.   Nama lengkapnya : Umar bin Khattâb bin Nufail bin Abdul ‘Azî bin Riyâh bin          Abdullah bin Qirath bin Razâh bin ‘Adî al Quraisy al ‘Aduwî Abu Hafz (Amîrul     Mu’minîn), tingkatan 1 Shahâbî, wafat pada tahun 23 H di Madinah.

b.   Guru dan murid di bidang periwayatan hadis :

–       Gurunya : Rasulullah saw, Abî bin ka’ab, Abu Bakar ash Shidîq

–       Muridnya : Anas bin Mâlik, Jâbir bin Abdullah, Zaid bin Tsâbit, Sa’ad bin Abî Wâqash, Sa’id bin al Musayyib, Abdullah bin Amir, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khattâb, Abdullah bin Amr bin Ash, Abdullah bin Mas’us, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abî Thâlib, dll

c.   Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya :

–       Menurut Ibnu Hajar : Shahâbî, ia berkata : bahwa Umar adalah Amîrul Mukminîn Masyhūr, Jamu al Manâqib

–       Menurut adz Dzahabî : Shahâbî, ia berkata : bahwa Umar adalah Amîrul Mu’minîn.

 

F.   KESIMPULAN

Hadits tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan sesudah berdo’a adalah dhaif, karena dalam sanadnya ada Hammâd bin Îsâ, yang menurut pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya, bahwasanya dia adalah seorang yang dhaif dan tidak disebutkan tentang dirinya.

 

Categories: Hukum Islam

PROFIL AKU

Ana Farida


Popular Posts

Membangun Pendidikan

         Pada abad ke-21 dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadi ...

Hadis Tentang Mengus

               Sering kita melihat diantara saudara-saudara kita apabila mereka telah ...

Strategi Pembelajara

          Mengajar merupakan pekerjaan yang tidak mudah bagi sebagian ...

Kepemimpinan Khalifa

            Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kelompok masyarakat, ...

Manajemen Pendidikan

1.   Pengamatan mengenai sejumlah karakteristik perkembangan (baca : perubahan) kurikulum ...