Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hanya Blog UMY situs lain

Konsep Ihsan

Posted by Ana Farida 0 Comment

         Ihsan merupakan puncak ibadah dan akhlaq yang senantiasa menjadi target seluruh hamba, sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, jika seorang hamba tidak mampu mencapai target ini maka akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi ihsan dimata Allah swt. Rasulullah saw sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah untuk mencapai ibadah yang sempurna dan akhlaq yang mulia.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlaq yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislaman. Karena Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. Dalam haditsnya yang shahih[1], hadist ini menceritakan saat Rasulullah saw menjawab pertanyaan Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang manusia, Malaikat Jibril bertanya mengenai apakah makna Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama. Dan bahkan Allah swt memerintahkan untuk berbuat ihsan, yang terdapat dalam firmannya:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya : “Dan belanjakan (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Di dalam tafsir jalalain lafadz وَأَحْسِنُوَاْ, lebih berorientasi menunjuk seseorang supaya berbuat baik dengan memberikan nafkah. Sesungguhnya Allah swt menyukai orang-orang yang berbuat baik, dan Dia akan memberikan pahala kepada mereka yang berbuat baik, berupa pahala syurga menurut tingkatan kebaikan masing-masing.[2]

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

Artinya : “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari berbuat keji, dan kemungkaran dan permusuhan ….” (QS. An-Nahl: 90)

Kebaikan bisa juga digabungkan bersamaan dengan berbuat adil, apabila kita mempunyai kelebihan suatu harta atau barang yang masih layak untuk diberikan kepada kerabat terdekat yang lemah kondisi ekonomi. Akan tetapi disamping itu kita juga harus bisa berbuat adil pada kerabat yang lainnya, membagi secara adil tidak memilih-milih sesuai yang kita sukai.

Sangat kompleks dan menyeluruh makna dari ihsan itu sendiri, karena Allah swt memerintahkan berbuat ihsan dengan berbagai macam cara, sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Walau dalam kondisi yang kita tidak suka, kita dianjurkan berbuat kebaikan pada semua makhluk ciptaan Allah. Wallahu a’lam

  1. B.     PENGERTIAN IHSAN

Kata Ihsan berasal dari kata hasana,  yuhsinu, ihsanan. Secara etimologis arti ihsan adalah berbuat baik.[3] Sedangkan pengertian ihsan secara istilah adalah engkau beribadah kepada Allah swt seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.[4]

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari pengertian tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan beribadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya. Ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna dan tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir dan batin.[5]

Allah swt berfirman dalam al Qur`an mengenai hal ini, sebagai berikut :

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ

           Artinya : “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra’: 7)

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

            Artinya : “Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77).

Setiap hamba diperintahkan supaya berbuat baik, karena bila dapat berbuat baik berarti dia berbuat baik pada dirinya sendiri, dan apabila dia berbuat baik pada orang lain maka halnya Allah swt akan berbuat baik pada dia sebagai balasan kebaikan yang dilakukannya.

Ibnu Katsir mengomentari dalam tafsirnya bahwa “kebaikan” yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut termasuk kebaikan kepada seluruh makhluk Allah swt yang ada di bumi ini.

            Ihsan termasuk salah satu dari tiga komponen yang membentuk ad-Diin, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Jika salah satu komponen tidak ada, atau tidak dipahami, maka kita belum ber-diin dengan sempurna.

  1. Islam, di dalam sebuah hadits ketika Rasulullah saw ditanya tentang Islam, beliau menjawab: “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu untuk menempuh perjalanan ke sana”. (HR. Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa diambil pelajaran dari hadits ini, bahwasanya Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hal: 14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.[6]

  1. Iman, Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda: “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati. (Ta’liq Syarah Arba’in hal: 17).[7]
  2. 3.      Ihsan, Nabi saw juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Menyembah kepada Allah swt dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya. Nabi bersabda: “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hal: 21).[8] ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

            Menggabungkan tiga istilah Ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya. Dan lebih khusus dari pada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan. Sedangkan iman itu lebih luas dari pada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus dari pada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam, sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hal: 63)[9]

C. LANDASAN DAN DASAR IHSAN

1. Al-Qur`anul Karim

            Dalam al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang “ihsan” dan penerapannya. Dari sini dapat ditarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat yang seperti ini. Sehingga ihsan mendapat posisi yang sangat istimewa di sisi Allah swt dan posisi istimewa di dalam al-Qur`an.

Al Qur’an menyebutkan lafadz-lafadz yang berhubungan dengan “ihsan”. Lafadz-lafadz ini memiliki makna yang beragam, sebagai berikut:

  1. حَسَنًا sebanyak 13 kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 82, 245, QS. Ali-Imran: 37, QS. Al-Maidah: 12, QS. Al-Anfal: 17, qs hud : 3, 88, QS. An-Nahl: 67, 75, QS. Al-Kahfi: 86, QS. Thoha: 86, QS. Al-Hajj: 58, QS. An-Naml: 11.
  2. إِحْسَانًا sebanyak 5 kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 83, QS. An-Nisa’: 36,62, QS. Al-An’am: 151, QS. Al-Isra’: 23, QS. Al-Ahqof: 15.
    1. الْإِحْسَانِ sebanyak 1 kali, yaitu dalam QS. Ar-Rahman: 60.
    2. حُسْنُ sebanyak 3 kali, yaitu dalam QS. Ali-Imran: 14, 37, 195.
    3. حسنه sebanyak 16 kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 201, QS. Ali-Imran: 120, QS. An-Nisa’: 40, 78, 79, 85, QS. Al-A’raf: 156, QS. At-Taubah: 50, QS. An-Nahl: 30, 41, 122, QS. Al-Ahzab: 21, QS. Az-Zumar: 10, QS. Asy-syura: 23, QS. Mumtahanah: 4,6.
    4. الحسنى sebanyak 13 kali, yaitu dalam QS. An-Nisa’: 95, QS. Al-A’raf: 137, 180, QS. At-Taubah: 107, QS. Yunus: 26, QS. Ar-Ra’ad: 18, QS. An-Nahl: 62, QS. Al-Isra’: 110, QS. Al-Kahfi: 88, QS. Thaha: 8, QS. Al-Anbiya’: 101, QS. Al-Hadid: 10, QS. Al-Hasyr: 24.
    5. احسن sebanyak 31 kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 138, QS. An-Nisa”: 125, QS. Al-Maidah: 50, QS. Al-An’am: 152, 154, QS. At-Taubah: 121, QS. Hud: 7, QS. Yusuf: 3, 23, 100, QS. An-Nahl: 125, QS. Al-Isra’: 34, 53, QS. Al-Kahfi: 7,30, QS. Maryam: 74, QS. Al-Mu’minun: 96, QS. An-Nur: 38, QS. Al-Qoshos: 77, QS. Al-Ankabut: 7, 46, QS. As-Sajdah: 7, QS. Shaffat: 125, QS. Az-Zumar: 23, 55, QS. Fushilat: 33, 34, QS. Al-Ahqof: 16, QS. Ath-Thalaq: 11, QS. Al-Mulk: 2, QS. At-Tin: 4.

Bererapa makna ihsan dan penjelasannya di dalam al-Qur’an:

  1. Allah swt mencintai orang-orang yang berbuat baik.

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

            Artinya : “Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

  1. Allah swt menyuruh untuk berbuat kebaikan

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

            Artinya : “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (QS. An-Nahl: 90)

Allah menyuruh untuk berkata baik

وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً

            Artinya : “… serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (QS. Al-Baqarah: 83)

  1. Allah menyuruh untuk berbuat baik kepada dua orang tua

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

            Artinya : “Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” (QS. An-Nisaa`: 36)

لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ

            Artinya: “Janganlah kamu menyembah kecuali kepada Allah swt, dan berbuat baiklah kepada ibu, bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim…” (QS. Al-Baqarah: 83)

2. As-Sunnah

Rasulullah saw memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab beliau merupakan puncak harapan dan perjuangan bagi seorang hamba, bahkan diantara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw menerangkan mengenai ihsan ketika beliau menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan, dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Ihsan dalam hal muamalah, seperti pada Perang Uhud para orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw yaitu Hamzah, Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya. Kemudian seorang sahabat meminta kepada Rasulullah saw berdoa, agar mereka orang Quraisy diadzab oleh Allah saw. Akan tetapi Rasulullah saw berkata : “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.” Suatu contoh sikap ihsannya Rasulullah saw dalam hal mu’amalah, Rasul sebagai uswah hasanah pada pengikutnya sampai akhir zaman dan harus memberi tauladan yang baik sesuai syari’at slam.

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya mengipasi sampai Umar tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba terlelap tidur. Kemudian ketika Umar bangun dari tidurnya, umar mengambil kipas dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba sahayanya terbangun, hamba sahayanya berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu, sebagaimana engkau melakukannya padaku.”

D . KONSEP IHSAN

  1. 1.      KLASIFIKASI IHSAN

Ihsan dibagi menjadi tiga kategori, ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak, yang akan dijelaskan sebagai berikut: [10]

  1. 1.      Ibadah

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Ini tidak dapat ditunaikan hamba, kecuali dalam pelaksanaan ibadah tersebut ia dipenuhi cita rasa yang kuat (menikmatinya), dengan penuh kesadaran bahwa Allah swt senantiasa memantaunya, merasa bahwa ia dilihat, diperhatikan oleh-Nya. Sehingga ia dapat menunaikan ibadah tersebut dengan baik dan sempurna seperti apa yang diharapkan.

Jelas bahwa arti ibadah sangat luas, selain jenis ibadah yang disebutkan tadi, tidak kalah pentingnya jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah dan masih banyak lainnya. Oleh karena itu Rasulullah saw menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Tingkatan Ibadah dan Derajatnya

Berdasarkan nash al-Qur`an dan as-Sunnah, ibadah mempunyai tiga tingkatan. Setiap tingkatan derajatnya tidak dapat diukur, karena itulah hendaknya kita  berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat ada tingkatan tersendiri di dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati Jannatul Firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak para penghuni surga tingkat bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak antara mereka. Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Tingkat Takwa

Taqwa merupakan tingkatan yang masuk kategori al-Muttaqun, taqwa menjadi sempurna dengan menunaikan perintah dan meninggalkan  larangan-Nya.

Namun ada satu hal yang harus kita pahami, bahwa Allah swt mengetahui keadaan hamba-Nya yang lalai dari menunaikan hak-hak taqwa. Akan tetapi Allah swt akan mengampuni hambanya yang menginginkan untuk bertaubat. Amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya.

Kedua, Tingkat al-Bir

Tingkatan ini termasuk kategori al-Abrar. Sesuai dengan amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah, serta sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt. Ini dilakukan setelah ditunaikannya yang wajib.

Tingkatan al-Bir (kebaikan) merupakan perluasan yang bersifat sunnah, semata-mata mendekatkan diri kepada Allah swt, tambahan dari batasan wajib. Ini tidak diwajibkan kepada hamba-Nya dan Allah swt menjanjikan pahala di dalamnya. Mereka dikategorikan al-Bir kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama (taqwa).

Ketiga, Tingkatan Ihsan

Tingkatan ini akan dicapai mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Yaitu orang yang telah melalui peringkat pertama dan kedua. Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka ihsan memiliki dua sisi: Pertama, dilihat dari metode, ihsan merupakan kesempurnaan, keikhlasan, jujur dalam beramal. Kedua, ihsan senantiasa memaksimalkan amalan sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

  1. 2.      Mu’amalah

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya :

            وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)

            Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran, Allah swt memerintahkan pada hamba-Nya supaya menyembah-Nya, tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun. Disamping itu Allah swt juga memerintahkan pada hamba-Nya supaya berbuat baik kepada orang-orang terdekat yang berada disekeliling kita. Allah swt memerintah Supaya kita ber mu’amalah yang baik kepada sesama pasti ada hikmah dari semua itu.

  1. 3.      Akhlaq

Ihsan dalam akhlaq merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang mencapai puncak ihsan dalam akhlaknya, apabila ia menyembah Allah swt seakan-akan Allah melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Pada akhirnya akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku yang  terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Nilai ihsan pada diri seseorang yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, kita bisa menemukan dalam muamalah kehidupannya. Yaitu dapat bermu’amalah baik dengan sesama manusia, lingkungan, pekerjaan, keluarga, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw mengatakan dalam hadits nya : “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

  1. 2.      PERBUATAN YANG TERMASUK IHSAN

Ihsan merupakan beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. pembahas ihsan dilihat dari aspek mu’amalah. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan, sebagai  berikut :[11]

Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua

Allah swt berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan .” (QS. Al isra’ : 23) dan ucapkanlah :

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

             Artinya: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 24)

Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda:

وعن عبد الله بن عمر قال : قال رسول الله ( : ( رضى الرب في رضى الوالدين وسخطه في سخط الوالدين ) . رواه الترمذي وصححه.

            Artinya: “Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Ibadah kita kepada Allah swt tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketaqwaan, keimanan, dan keislaman.

Kedua, Ihsan kepada kerabat karib

Ihsan kepada kerabat adalah dengan menjalin hubungan baik dengan mereka, bahkan Allah swt menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak di muka bumi. Allah swt berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (22)

            Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Silaturahmi merupakan kunci mendapatkan keridhaan Allah swt. Sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam hadits qudsi, Allah swt berfirman: “Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Tirmudzi)

Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin

Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw Bersabda: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”

Diriwayatkan oleh Turmudzi, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa dari Kaum Muslimin yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”

Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat

Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

Teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat.

Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya: “Siapakah yang tidak beriman, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Syaikhani)

Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani)

 Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Selain itu, cara berbuat ihsan terhadap ibnu sabil dengan memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan yang baik kepadanya.

Adapun mu’amalah terhadap pembantu atau karyawan yaitu dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya.

Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai manusia, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai satu sama lain dalam pergaulan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, menunjuki jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.

Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang

Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.

E . Penutup  

Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh kemampuan diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat konsisten dalam mengerjakan kebaikan. Wallahu a’lam


[1] Syaikh Yusuf an Nabhani, Ringkasan Riyadhush Shalihin cet ke -1 hal 29

[2] Jalaludin as-Suyuti, Jalaludin al-Mahalli, Tafsir Jalalain. Penerbit Karya Putra Semarang, hal: 28

[3] Ahmad Warson Munawwir,  Al Munawir, kamus arab indonesia, penerbit Pustaka Progresif, edisi ke-2 hal : 264

[4] Pengertian ‘Ihsan’ http://suluk.blogsome.com/2006/10/13/pengertian-ihsan/

 

[5] Ta’liq Syarah Arba’in hal: 21

[6] Ta’liq Syarah Arba’in hal: 14

[7] Ta’liq Syarah Arba’in hal: 17

[8] Ta’liq Syarah Arba’in hal:. 21

[9] At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hal: 63

[10] Sumber http : //dakwatuna.com_files//Ihsan _ dakwatuna.com.htm

[11] Sumber http : //dakwatuna.com_files//Ihsan _ dakwatuna.com.htm

Categories: Kajian Islam

PROFIL AKU

Ana Farida


Popular Posts

Membangun Pendidikan

         Pada abad ke-21 dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadi ...

Hadis Tentang Mengus

               Sering kita melihat diantara saudara-saudara kita apabila mereka telah ...

Strategi Pembelajara

          Mengajar merupakan pekerjaan yang tidak mudah bagi sebagian ...

Kepemimpinan Khalifa

            Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kelompok masyarakat, ...

Manajemen Pendidikan

1.   Pengamatan mengenai sejumlah karakteristik perkembangan (baca : perubahan) kurikulum ...