Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hanya Blog UMY situs lain

A.  LATAR BELAKANG

Dalam perkembangan manusia senantiasa mengalami berbagai persoalan yang harus dihadapi dan harus diselesaikan. Persoalan yang tidak dihadapi dengan baik dan tidak dihadapi dengan rasa ikhlas, maka akan menimbulkan gangguan sehingga tidak ada rasa keseimbangan pada dirinya. Manusia dalam kehidupan sehari-hari juga dihadapkan oleh beberapa kebutuhan atau keinginan, jika kebutuhan satu bisa terpenuhi maka kebutuhan yang lain akan mengikuti, sejalan dengan terpenuhinya kebutuhan yang pertama sudah terpenuhi.

Seseorang akan merasa puas jika penyesuaian diri yang dilakukannya terpenuhi dengan baik dan berjalan sukses, maka seorang tersebut akan bertambah rasa percaya diri, rasa bangga dan harga dirinya seolah meningkat tinggi. Hal tersebut menimbulkan kesan positif sehingga mendorong individu tersebut melakukan kesuksesan lainnya. Sebaliknya, jika kegagalan menimpa individu tersebut dalam melakukan penyesuaian diri, maka individu tersebut akan merasa gagal, hilang kepercayaan dan merasa lemah dalam menghadapi hidup ini.

Berbagai kecenderungan perilaku negatif yang muncul pada zaman modern ini merupakan akibat dari berubahnya situasi dan kondisi ataupun berubahnya ruang dan waktu kehidupan. Ini menyebabkan manusia kehilangan jawaban dari apa makna hidup dan orientasi hidupnya, sehingga mereka terjebak dalam suatu pola dan gaya hidup yang modern seperti mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang barat, yaitu hidup penuh dengan senang-senang, hura-hura, boros, egois, dan agresif dll. Perilaku inilah Inilah yang menjadikan dan menimbulkan dampak yang negatif terhadap perkembangan psikologis.

Akibat kelemahan mental dari persaingan hidup yang ketat ini, menjadikan para manusia secara khususnya siswa dan siswi sekolah seringkali gila fasion, menghamburkan uangnya untuk sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan penting, mentraktir temannya demi untuk memperbanyak teman, memilah-milih dalam berteman, berhubungan dengan lawan jenis dan lain sebagainya. Semua ini merupakan contoh yang menunjukkan ketidak mampuan siswa siswi di dalam penyesuaian diri dengan perubahan sosial yang terjadi dan semakin meningkatnya persaingan hidup.

Lebih khususnya lagi yang akan kami bahas disini adalah mengenai kehidupan dan gaya hidup siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012 dari aspek kecenderungan tingkat religiusitas dan penyesuaian diri mereka terhadap teman, orang yang di sekitarnya dan lingkungan. Apakah ada korelasi antara tingkat relegiusitas dengan penyesuaian diri.

Hubungan antardua variabel di sini adalah hubungan atau korelasi antara tingkat religiusitas (variabel X) dengan penyesuaian diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angakatan 2011/2012 (variabel Y). Maksudnya apakah ada atau tidak ada hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angakatan 2011/2012.

B. RUMUSAN MASLAH

1.   Bagaimana kecenderungan tingkat religiusitas siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012?

2.   Apakah ada hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri?

C. TUJUAN PENELITIAN

1.   Untuk mengetahui kecenderungan tingkat religiusitas sisiwi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angktan 2011/2012

2.   Untuk mengetahui kecenderungan kemampuan penyesuaian diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012

3.   Untuk mengetahui hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri.

D.  METODE PENELITIAN

      1.   Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta            angkatan 2011/2012, dengan jumlah siswi sebanyak 20 anak.

2.   Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah dengan menggunakan angket. Untuk mengukurnya sampai mana tingkat relegiusitas siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012 berdasarkan dimensi idiologik, ritualistik, eksperensial dan konsekuensial.

Apabila nilainya tinggi pada skala tersebut berarti relegiusitas siswi tinggi. Dan sebaliknya, jika nilainya rendah maka relegiusitas siswi rendah.

3.   Analisis data

Analisis data diperoleh dengan mencari angka indeks korelasi “r” Produtc Moment           kita mendasarkan diri pada selisih skornya (selisih ukuran kasarnya).

Penyesuaian diri

Penyesuaian diri merupakan permasalahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia ini, penyesuaian diri tersebut bertujuan untuk mengenal sesosok individu lainnya dalam bergaul dengan individu lainnya. Menurut Schneiders (1964:51) mendefinisikan mengenai penyesuaian diri, sebagai berikut :

A process, involving both mental and behavioral responses, by which an individual strives to cope successfully with inner, needs, tensions, frustration, and conflicts, and to effect a degree of harmony between these inner demands and those imposed on him by objective world in which the lives”.

Penyesuaian diri merupakan proses yang meliputi respon mental dan perilaku yang merupakan usaha individu untuk mengatasi dan menguasai kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, frustasi, dan konflik-konflik agar terdapat keselarasan antara tuntutan dari dalam dirinya dengan tuntutan atau harapan dari lingkungan di tempat tinggalnya.

Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih  baik dan sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan cara individu bergaul dengan dirinya sendiri, bergaul dengan orang lain, dan bergaul dengan lingkungan sekitar.

Kemampuan individu dalam mengendalikan fikiran dan perilaku sesuai dengan kriteria sosial dan hati nurani, untuk bisa mengatasi hambatan atau permasalahan yang terjadi dalam proses penyesuaian diri. Sehingga dia dapat mengambil manfaat kemudian mendapatkan kepuasan dari setiap usaha dan perilaku yang dilakukannya. Sebaliknya, apabila individu mengalami hambatan atau permasalahan dalam penyesuaian diri, kemudian dia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan fikiran dan perilakunya dalam mengatasi hambatan tersebut, maka dia tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dia usahakan.

Penyesuaian diri siswi Mu’allimaat

            Penyesuaian diri merupakan proses yang berkembang dalam kehidupan manusia secara berurutan maupun bertahap berdasarkan pada unsur pembawaan dari orang tua, pengalaman dan psikologi individu tersebut.

Secara khususnya kondisi siswi Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta secara relatif, mereka itu penuh dengan adanya tantangan dan tuntutan dari berbagai pihak. Semua itu merupakan suatu runtutan atau rangkaian dari berbagai tugas perkembangan yang memang harus dijalankan oleh individu seumuran mereka, dilewati dan dipenuhi. Masa yang semacam ini yang sedang individu tersebut alami yaitu masa remaja. Dimana kebanyakan dari mereka hanya mengenal bersenang-senang tanpa adanya tanggungan lain kecuali hanya belajar.

Ada beberapa kondisi dan situasi yang sedang dihadapi oleh siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012 yang mungkin menjadi pemicu adanya gangguan atau hambatan dalam penyesuaian diri dengan dirinya sendiri, teman sebaya atau lingkungan sekitar. Hambatan penyesuaian diri ini terjadi baik di sekolah ataupun di asrama mereka tinggal, seperti anak belum bisa menyesuaikan diri terhadap dirinya sendiri dalam menggunakan waktu luang, mereka masih ikut-ikutan dengan temannya sekelompoknya walaupun itu dalam hal negatif.

Kemudian hambatan lainnya diantaranya sulitnya penyesuaian diri terhadap kurikulum yang ditetapkan madrasah yang banyak mengacu pada pelajaran pondok, sekian lama mereka tidak ada progam pelajaran di pondok kemudian ditetapkan adanya pelajaran pondok, jadi mereka merasa berat karena adanya tambahan tanggungan. Adanya hambatan penyesuaian diri dengan teman sebayanya.

Kemampuan mereka mengendalikan dirinya sendiri itu belum stabil dan masih harus ada pantauan dari berbagai pihak yang terkait. Untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang timbul, maka solusi yang baik perlu adanya pengertian-pengertian mengenai aspek-aspek yang dapat dikembangkan pada diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta  melalui pembinaan-pembinaan dan bimbingan yang tepat.

Akibat dari tuntutan pemenuhan, para siswi Mu’allimaat berperilaku yang sangat ditentukan oleh kekuatan motivasi, kekuatan hambatan dan kondusivitas psikologisnya. Ada berbagai macam respon dari mereka dalam mengekspresikan kebutuhanya, ada siswi yang kuat dan mampu untuk mengantisipasi tekanan kebutuhan walaupun situasi dan kondisinya tidak mendukung. Akan tetapi ada juga siswi yang sedikit mengurangi ketegangannya dengan cara melakukan penyesuaian diri yang semu seperti mengurung dirinya dari lingkungannya, sehingga teman-temanya kurang respon terhadapnya.

Religiusitas siswi Mu’allimaat

Pengertian religiusitas menurut Daradjat (1988), bahwasanya agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakini. Yaitu sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Relegiusitas merupakan keberagamaan yang berarti terdapat unsur-unsur internalisasi agama tersebut dalam diri seseorang.

Dalam pandangan Islam hambatan penyesuaian diri sebagai gangguan emosioanal atau kepribadian, ini dikarenakan karena keinginan kuat manusia untuk lari dari kenyataan hidup yang ada. Timbulnya stres, rasa cemas, kecewa, frustasi, semua itu terjadi karena aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt banyak yang dilanggar oleh manusia. Tidak sedikit manusia yang bersifat sombong, merasa dirinya mempunyai segalanya dan bisa melakukan apa saja sehingga tidak mampu lagi mengontrol atau mengendalikan dirinya sendiri.

Akibat perbuatan-perbuatan yang negatif, yang dilakukan oleh manusia. Mereka selalu merasa tidak nyaman, tidak tentram di mana saja dan kapan saja mereka berada. Manusia tidak bisa bangkit dengan caranya sendiri karena adnya kesalahan yang diperbuat oleh manusia itu sendiri dalam menginterprestasikan ayat-ayat Allah swt. Pengingkaran identitasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Relegiusitas siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012, tidak semuanya mempunyai relegiusitas positif, tetapi kebanyakan siswi-siswi menunjukkan kecondongan pada sikap yang positif. Karena angkatan ini masih mempunyai anggapan dan pemikiran yang masih murni dan belum banyak tercampur pada hal-hal yang negatif. Beda dengan angkatan yang lebih tinggi dari mereka, karena sudah banyak mengetahui dunia luar dan banyak pengetahuan-pengetahuan tak terkecuali hal-hal yang negatif.

Siswi angkatan ini, masih mempunyai kemauan kuat menuruti atau mentaati peraturan yang telah ditetapkan di asrama, seperti peraturan untuk shalat berjama’ah di mushalla setiap shalat magrib, isyak dan subuh. Banyak dari mereka yang datang terlebih dahulu kemudian melakukan shalat qabliyah. Siswi angkatan ini juga lebih mudah dalam hal dibangunkan waktu tidur, tertib dalam melakukan piket sehari-hari di asrama, menyetorkan hafalan tahfidz kepada pembimbingnya. Kalau dibedakan antara angkatan ini dengan angkatan lainnya, maka angkatan inilah setidaknya yang lebih baik dari pada angkatan lainnya.

Hubungan antara Religiusitas dengan Penyesuaian Diri

            Tinggi rendahnya relegiusitas seseorang mempunyai peran yang penting di dalam penyesuaian diri, maka penyesuaian diri yang baik mempunyai relegiusitas yang baik atau tinggi pula. Orang yang menggunakan agama sebagai rujukan semua perintahnya termasuk dalam menghadapi segala persoalan atau usaha dalam memenuhi dorongan dari dirinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Seorang siswi yang tingkat relegiusitasnya tinggi, mereka adalah yang mempunyai kepribadian atau tingkah laku sehari-hari yang terikat erat dengan agama. Dalam agama Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap manusia yang mengaku beriman kepada Allah swt pasti akan diuji keimananya, seberapa besar dia takut kepada penciptanya. Dengan pemahaman dan keyakinan ini manusia akan bersikap positif terhadap persoalan-persoalan yang sedang dihadapinya. Sikap positif tersebut memberikan kekuatan pada diri manusia dalam melakukan penyesuaian diri. Ini sangat mendukung proses penyesuaian diri sehingga terhindar dari gangguan perilaku yang buruk.

Seseorang yang mempunyai relegiusitas yang tinggi dapat menguatkan kemampuan penyesuaian dirinya. Seorang siswi termasuk kriteria orang yang hampir mencapai kematangan dalam keberagaman sehingga relegiusitasnya diharapkan mampu mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya, termasuk penyesuaian diri terhadap kegiatan-kegiatan akademik.

Hasil Penelitian

            Meskipun diakui bahwa relegiusitas bukanlah satu-satunya sesuatu yang dapat diharapkan dalam memperbaiki proses penyesuaian diri siswi, tetapi terdapat sejumlah faktor lain yang tidak dapat diungkap dalam penelitian ini. Dalam kehidupan seseorang, bahwa keinginan dan harapan itu tidak selalu dapat diwujudkan karena seseorang tidak dapat membentuk konsep diri yang ideal yang realistis dan konsep diri yang tidak realistis.

Konsep yang tidak realistis tumbuh dari perasaan yang tidak puas pada diri seseorang dikaitkan dengan gambaran diri dan konsepsi diri dasar yang dimiliki. Konsep ideal juga dapat tersusun atas mimpi dan khayalan sebagai bentuk pelarian dari kekecewaan seseorang. Konsep diri ideal yang demikian bersifat negatif dan menjadi penghambat dalam penyesuaian diri seseorang. Dan lebih baiknya harus segera di hilangkan dari dalam kehidupannya.

Hendaklah kita selalu menyusun konsep ideal, sehingga akan menimbulkan kesan positif dan menjadi acuan dalam penyesuaian diri seseorang, sikap ini yang harusnya diterapkan dan ada pada diri setiap individu.

Hipotesis

Tabel data statistik:

Tabel Kerja/ Tabel Perhitungan untuk Mencari Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment, dengan Memperhitungkan selisih Devisiasinya, sebagai berikut :

Ket.   X   = Tingkat religiusitas
Y   = Penyesuaian diri siswi Mu’allimaat muhammadiyah yogyakarta angakatan                                         2011/2012.

No

Nama

X

Y

X

Y

d

(x-y)

D

(x-y)²

1

Anisa Raysita

5

6

-1

-1

1

1

0

0

2

Riska Andrian

6

8

0

+1

0

1

-1

1

3

Nadya Salsabila

7

7

+1

0

1

0

+1

1

4

Naila Husna

6

8

0

+1

0

1

-1

1

5

Linda Oktavian

5

6

-1

-1

1

1

0

0

6

Syasa Maesha

6

8

0

+1

0

1

-1

1

7

Rachel Arga

6

7

0

0

0

0

0

0

8

Tiara Larasaty

5

6

-1

-1

1

1

0

0

9

Nana Salsabil

6

6

0

-1

0

1

+1

1

10

Nanda Syahdin

8

8

+2

+1

4

1

+1

1

11

Myta Muarizqi

6

7

0

0

0

0

0

0

12

Dini Ardiana

6

6

0

-1

0

1

+1

1

13

Fanada Nadya

5

6

-1

-1

1

1

0

0

14

Friska Aulia

6

7

0

0

0

0

0

0

15

Zakiya Nurna

8

6

+2

-1

4

1

+3

9

16

Tita Angraini

4

6

-2

-1

4

1

-1

1

17

Rizkya Muna

6

8

0

+1

0

1

-1

1

18

Najmah Rohmah

6

7

0

0

0

0

0

0

19

Bella Syafah

7

9

+1

+2

1

4

-1

1

20

Mariana Widy

6

8

0

+1

0

1

-1

1

  20 = N 120= ΣX 140= ΣY 0=Σx 0=Σy 18=Σx² 18=Σy² 0=Σd 20=Σd²

Ho    :  Tidak ada korelasi antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri siswi                                  Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angakatan 2011/2012.

Ha    :  Ada korelasi antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri siswi                                           Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angakatan 2011/2012.

Langkah-langkah menghitungnya :

1.   Langkah 1    =  Mencari Mx : Mx = ΣX = 120 = 6

N       20

2.   Langkah 2    = Mencari My : My = ΣY = 140 = 7

N      20

3.   Langkah 3    = Mencari diviasi x dengan rumus : x = X – Mx (kolom 4)

4.   Langkah 3    = Mencari diviasi x dengan rumus : y = Y – My (kolom 5)

5.   Langkah 5    = Menguadratkan deviasi x (kolom 6)  ; setelah itu lalu dikuadratkan ; diperoleh Σx² = 18

6.   Langkah 6    = Menguadratkan deviasi y (kolom 7) ; setelah itu lalu dikuadratkan ; diperoleh Σy² = 18 (secara kebetulan sama).

7.   Langkah 7    = Mencari d (selisih antara deviasi x dan deviasi y), dengan rumus : d = (x–y), lihat kolom 8. Jika dijumlahkan maka Σd = 0

8.   Langkah 8    = Menguadratkan d ; setelah selesai maka dijumlahkan sehingga diperoleh Σd² = 20 (kolom 9).

9.   Langkah 9   = Mencari rxy dengan rumus :

rxy             =          Σx² + Σy² – Σd²

2 (Σx²) (Σy²)

Telah diketahui        =    Σx² = 18 ; Σd² = 20

Σy² = 18 ;

 

Dengan demikian           =

rxy        =      18 + 18 – 20   =   36 – 20    =    16       =    16

2 Ѵ(18) (18)          2 Ѵ324         2X18         36

=    0, 444 (hasilnya persis sama)

Tentang Hipotesis alternatif, Hipotesis Nihil  dan cara memberikan interpretasi terhadap rxy sama dengan apa yang telah dikemukakan di atas.

Cara mencari (menghitung) angka indeks korelasi “r” Product Moment di mana N kurang dari 30, dengan mendasarkan diri pada selisih skornya (selisih ukuran besarnya).

1.   Rumus

Jika dalam mencari angka indeks korelasi “r” Produt Moment kita mendasarkan diri pada selisih skornya atau selisih dari ukuran kasarnya, maka rumus yang kita pergunakan adalah sebagai berikut :

r xy  =  N [ΣX² + ΣY² – Σ (X-Y)² ] – 2 (ΣX) (ΣY)

2Ѵ [NΣX² – (ΣX)² [NΣY² – (ΣY)²]

N         =    Number of Casses

Σ          =    Jumlah dari seluruh skor variabel X, setelah terlebih dahulu dikuadratkan

Σ          =    Jumlah dari seluruh skor variabel Y, setelah terlebih dahulu dikuadratkan

(X-Y)  =    Selisih antara skor variabel X dengan skor variabel Y

(X-Y)² =    Kuadrat dari selisih antara skor variabel X dan skor variabel Y

(ΣX)²   =    Jumlah dari seluruh variabel x, setelah itu lalu dikuadratkan

(ΣY)²   =    Jumlah dari seluruh variabel x, setelah itu lalu dikuadratkan

2          =    Bilangan konstan (tidak boleh diubah-ubah).

 

2.   Langkah yang perlu ditempuh di sini adalah :

Pada dasarnya tabel kerja atau tabel perhitungan yang kita perlukan sama dengan tabel pada kolom XY, X², dan Y², itu perlu ditambah lagi dengan 2 kolom yaitu kolom untuk mencari selisih skor X dan skor Y (yaitu : X-Y), dan kolom untuk mencari kuadrat dari (X-Y). Adapun kolom XY kita hilangkan.

3.   Perhitungan

Kita ambil kembali data yang tertera pada tabel sebelumnya, untuk kita cari Angka Indeks Korelasinya dengan menggunakan rumus terakhir ini. Melalui perhitungan pada tabel yang akan datang itu telah dapat kita peroleh :

N            =    20

ΣX          =    120

ΣY         =    140

ΣX²         =    738

ΣY²         =    998

Σ [X-Y]² =    40

Dengan demikian r xy dapat diperoleh dengan mudah :

rxy              =       N [ΣX² + ΣY² – Σ (X-Y)²] – (ΣX) (ΣY)

2 [NΣX² – (ΣX)² [NΣY² – (ΣY)²]

=       20 (738 + 998 –140) – 2 X 120 X 140

2 (20 X 738 – 120²) (20 X 998 – 140²)

=           20 X (1736 – 40) – 33600

2 (14760 – 14400) (19960 – 19600)

=            20 X 1696 – 33600

2 (360) (360)

=          33920 – 33600

2 129600

=              320

2 X 360    =   0,444 (hasilnya sama dengan perhitungan yang lalu)

r tabel        =    df  = 20  –  2  =  18
r hitung      =    0,444

r tabel 5% =    0,475

1% =    0,625

Jadi, r hitung < r tabel = r hitung lebih kecil dari r table. Maka HO diterima dan HA ditolak, sehingga tidak ada korelasi antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angakatan 2011/2012.

Kesimpulan :

Dari hasil penelitian yang telah kami paparkan di atas, mendapatkan hasil kesimpulan sebagai berikut :

1.   Tingkat relegiusitas dan kemampuan penyesuaian diri siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011/2012 tergolong rendah.

2.   Tidak terdapat korelasi yang positif antara relegiusitas dengan penyesuaian diri, semakin tinggi tingkat relegiusitas maka semakin tinggi pula penyesuaian diri siswi. Sebaliknya semakin rendah tingkat relegiusitas siswa maka rendah pula penyesuaian diri nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Drs. Anas Sudijono. “Pengantar Statistik Pendidikan” Ed. 1-18 Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 208. Halaman 215- 218.

https://docs.google.comdata.dppm.uii.ac.id, akses pada tanggal 18 Januari 2013

 

 

Categories: Pendidikan

PROFIL AKU

Ana Farida


Popular Posts

Membangun Pendidikan

         Pada abad ke-21 dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadi ...

Hadis Tentang Mengus

               Sering kita melihat diantara saudara-saudara kita apabila mereka telah ...

Strategi Pembelajara

          Mengajar merupakan pekerjaan yang tidak mudah bagi sebagian ...

Kepemimpinan Khalifa

            Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kelompok masyarakat, ...

Manajemen Pendidikan

1.   Pengamatan mengenai sejumlah karakteristik perkembangan (baca : perubahan) kurikulum ...