kunci semuanya adalah hati

Just another Blog UMY site

Dewasa ini, banyak yang beranggapan jika karakter anak zaman dulu lebih bagus daripada sekarang. Mengapa bisa demikian? Darimana asal muasal pemikiran seperti itu? Apakah karena perilaku anak kecil yang semakin hari semakin membuat orang dewasa jadi mengelus dada? Atau karena berita tawuran, perlawanan siswa kepada gurunya?

Dulu maupun sekarang, kenakalan siswa itu selalu ada, yang membedakan adalah exposure-nya. Jika di zaman dahulu sudah ada media sosial yang mudah memviralkan sesuatu, sudah pasti ada banyak perilaku menyimpang yang masuk ke tangkapan kamera. Tapi, juga tidak bia dipungkiri jika keberadaan teknologi termasuk media sosial bisa membawa dampak buruk terhadap pekembangan karakter anak.

Kemudahan mengakses berbagai informasi di internet, minimnya pengawasan, serta mudah viralnya konten positif dan negatif, bisa mendorong terjadinya perilaku buruk akibat kecenderungan manusia untuk meniru. Meski punya sisi negatif, perkembangan teknologi ini tidak akan bisa dicegah, bahkan akan tambah merajalela.

Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas bagi orang dewasa untuk mencari celah demi mengajarkan karakter baik di zaman yang serba canggih ini. Bagaimana caranya? Contoh artikel pendidikan ini akan mencoba memberikan beberapa tips and trick sebagai berikut.

  1. Menjadikan diri sendiri sebagai teladan

Guru itu bukan hanya pengajar yang berkewajiban menyampaikan materi, tapi juga role model yang menjadi teladan siswa. Guru bisa menjadi panutan siswa ketika berperilaku. Jadi, sebelum mengharapkan siswa untuk memiliki karakter baik, mulailah dari diri sendiri untuk memberikan teladan yang baik.

  1. Biasakan mengapresiasi siswa dari usahanya, jangan hanya fokus dengan angka

Tidak semua siswa dianugerahi kecerdasan intelektual yang sama. Ada yang lebih menonjol dengan kecerdasan sosial atau emosional. Jadi, tidak adil jika guru hanya menilai siswanya berdasarkan hasil akhir (angka). Sudah seharusnya guru juga mengapresiasi usaha siswa untuk menyelesaikan tugasnya.

  1. Ajarkan kebaikan dan nilai moral di setiap pembelajaran

Buku cetak maupun LKS hanya akan menampilkan teori, tapi guru seharusnya punya nilai lebih. Caranya, mengaitkan pembelajarannya dengan nilai moral yang bermanfaat untuk siswanya.

  1. Mau mengakui kesalahan dan meminta maaf

Tiap manusia pasti bisa melakukan kesalahan, begitu juga dengan guru. Menjadi guru tidak lantas membuat kita suci tanpa dosa tanpa cela. Bukan hal yang memalukan untuk mengakui kesalahan, justru itu akan menanamkan presepsi dan karakter baik pada siswa jika gurunya bisa sportif dan meminta maaf ketika salah.

Seperti yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara tentang trilogi pendidikan, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing madya Mangun Karsa, & Tut Wiri Handayani. Begitulah seharusnya pendidikan itu dilangsungkan.

Categories: Pendidikan

PROFIL AKU

Arif Fadhlurrohman


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Membangun Karakter S

Dewasa ini, banyak yang beranggapan jika karakter anak zaman dulu ...

Jenis Kain yang Bisa

Pakaian tunik jadi satu diantara fashion item juara beberapa wanita ...

Tips Memilih dan Men

Mempunyai rumah yang kelihatan menarik tidak harus mesti sama dengan ...

Tips Penting Untuk M

Kamu senang menulis serta sudah pernah ingat untuk membuat situs? ...