Konglomerasi Media dan Media saat ini

  pengetahuan   5 Oktober 2012

Besarnya peluang pasar media mendorong pengusaha melebarkan sayapnya dengan memperbanyak eksistensi jenis media lainnya. Berbicara tentang media di Indonesia sangat lah beragam mulai dari statiun TV, radio, Koran, media on line, media telekomunikasi dan banyak lagi, hal ini memang sangat membantu kebutuhan masyarakat kita, sehingga para media berlomba – lomba menyajikan media tambahan lainnya. Tidak cukup satu saluran media saja yang disajikan namun kini dari beberapa saluran media, agar media tersebut semakin dikenal, diakui, dan dipercaya keeksistensiannya. Fenomena inilah yang dikatakan konglomerasi media, dimana satu pemilik media memiliki banyak saluran media ,atau bisnis lainnya seperti pemilik Grup Trans Corporation (TransCorp), Chairul Tanjung terkenal sebagai pemilik media, khususnya televisi, yakni Trans TV dan Trans7. Selain itu, Chairul Tanjung juga tercatat memiliki beberapa unit bisnis lain, seperti: bisnis financial service (Bank Mega), pembiayaan (Para Multifinance, Mega Central Finnace, Mega Oto Finance), dan bisnis asuransi (Mega Insurance). Selain itu juga ada bisnis retail, lifestyle dan hiburan. Beragam investasi modal yang ia kembangkan, inilah yang terjadi di media dan social saat ini.

Konglomerasi merupakan penampakan diri secara keseluruhan dalam kepemilikan beberapa media. Jenis integrasi media ada Integrasi Vertikal adalah merujuk pada kepemilikan satu orang pemilik media yang menguasai segala aspek satu bidang usaha, mulai dari produksi hingga distribusi sedangkan integrasi horizontal adalah merujuk pada satu orang pemilik modal member berbagai macam perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda selain media. Jadi integrasi dan promosi diri ini dimiliki oleh para konglomerasi media dalam pencitraan media yang satu terhadap media lainnya. Seperti RCTI mengiklankan harian sindo.

Dengan adanya konglomerasi seperti ini maka media khususnya memiliki fungsi ganda dari fungsi sebenarnya. Maksud dari fungsi ganda disini, media tidak lagi seutuhnya sebagai penyampai informasi dengan pesan – pesan realitas social namun media saat ini menjadi lebih progres pada kapitalisme. Misalnya saluran televisi mengiklankan berbagai macam lifestyle atau membahas program tertentu dengan tujuan promosi bisnisnya yang lain atau disebut self promotion.

Kemudian pemberitaan kini tidak memiliki etika atau pembatasan dalam pemberitaan suatu peristiwa. Kini kebebasan Pers ditandai dengan keluarnya Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan Undang Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Dua UU ini berhasil mendorong demokratisasi informasi sekaligus membuka pasar media yang luas. Kebebasan Pers saat ini, ditandai bahwasanya pemerintah sudah lepas tangan dengan hal tersebut karena pemberitaan saat ini tidak lagi terdemokratisasi, dari publik, oleh publik dan untuk publik namun pemberitaan hanyalah disesuaikan dengan keinginan media yang bersangkutan. Seperti  Contohnya media grupnya Bakrie dengan isu Lapindo atau Surya Paloh dengan isu Nasional Demokrat. Ini membuktikan bahwa rekonstruksi fakta dari konglomerasi yaitu satu berita yang berbahaya yang terkait dengan pemilik media tidak di beritakan walau berita itu telah ada kebenarannya.

Sehingga disini pemberitaan media informasi akan terpengaruh dengan pemilik saham media tersebut. Kepemilikan beberapa media di Indonesia( konglomerasi), terpusatnya kepemilikan media saat ini tidak lagi memiliki pure fungtional namun telah menjadi peluang pasar media yang membentuk kapitalisasi dalam media. Konglomerasi media di Indonesia sangat terasa saat terkabarkan bahwa Detikcom dibeli Chairul Tanjung. Ini adalah berita yang menarik. Dari sisi bisnis, pembelian detikcom oleh Grup Para menunjukkan bahwa kelompok bisnis terus berekspansi. Kali ini ekspansi bisnisnya benar-benar strategis: membeli situs berita on line nomor 1 di Indonesia. Memang fakta yang ada di Indonesia Media berita dimiliki oleh segelintir orang namun dibalik itu mereka memiliki saham lainnya berbagai media yang ada. Seperti : bisnis tiga layar milik Abu Rizal Bakri. Tiga Layar yang dimaksud adalah layar televisi, layar komputer, serta layar handphone. AB dengan kekuatan bisnisnya, seperti kita tahu sudah memiliki TV One, Anteve, Vivanews, serta Esia. Ketiga layar itu, kini menjejali benak publik.

Saat ini media perlunya pengontrolan secara kontiniu dari sistem pemerintah atau Kominfo melakukan pengawasan, pembatasan dalam kebebasan Pers karena media saat ini memproduksi suatu berita tidak sepenuhnya pada kebenaran namun ada suntikan kepentingan – kepentingan yang ada. Sehingga pengontrolan ini perlu diterapkan, terkait dengan kekuasaan politik dengan media, media ini berisi konten yang juga mempengaruhi suatu struktur pemerintah maupun kebijakan. Kekuatan media akan membentuk sudut pandang publik tentang sesuatu hal sehingga digunakan untuk kekuasaan terutama kekuasaan dalam dunia politik seperti mempromosikan diri, membentuk citra  diri, perilaku diri dalam tindakan – tindakan yang telah di dramatisir kan. Hal ini semua tidak lain karena untuk membentuk opini publik yang positif maupun yang negativ terhadap sesuatu. Dengan terbentukknya citra diri yang positif di media maka publik cenderung lebih memahami dan juga akan mempengaruhi suatu kekuasaan. Karena rata – rata pemilik saham pada media, terjun pada dunia politik. Baik buruknya anggapan publik terhadap public figure merupakan salah satu hasil produk media.

Budi Hermanto lebih jauh mengatakan, negara telah mengabaikan prinsip diversity of content (keberagaman isi) dan diversity of ownership (keberagaman kepemilikan) industri penyiaran sejak UU Penyiaran diberlakukan pada tahun 2002.
Dalam penyiaran, esensi dari isi ini perlu diprioritaskan oleh media informasi sehingga kualitas nilai – nilai dalam pemberitaan tersebut tidak hanya sekedar menyampaikan tapi juga membangun keintelektual berpikir masyarakat dalam menyerap konten penyiaran, sehingga masyarakat juga lebih percaya dan keunggulan fungsi media itu sendiri. Memang dilihat sekarang media memiliki keragaman konten program karena tuntutan kebutuhan pasar namun jika dibandingkan dengan media televisi luar bahwasanya satu media televisi menayangkan satu karakter program, ada keterfokusan dalam penyiaran ini seperti program kuliner jadi program itu hanya penayangkan program tv kuliner. Tapi Indonesia berbeda, media Indonesia satu media menayangkan berbagai macam konten karena memang dengan banyaknya konten yang beragam dibuat memenuhi kebutuhan publikyang tidak hanya mengkonsumsi satu program tapi banyak macamnya. Konglomerasi media yang kita rasakan di Indonesia membuat keragaman konten dalam penyiaran dan penyajian berita

Dengan pemahaman – pemahaman yang ada pemilik saham media kini memperbanyak jenis media yang di eksis kan baik media elektronik maupun pada media cetak, dilihat dari kacamata ekonomi hal ini membawa keuntungan karena lapangan kerja bertambah, perekonomian terus berotasi, hadirnya investor asing, pengusaha di Indonesia meningkat pendapatannya dan perekonomian pun meningkat serta dapat mendorong meningkatnya tekhnologi baru dan informasi yang terakurat. Disi lain ada beberapa dampak negatif dari kepemilikan media yang menyeluruh ini yaitu :

 

BAHAYA Konglomerasi Media

1. Terjadinya pemusatan bisnis media yang mengarah pada persaingan yang tidak sehat menyangkut konten siaran/pemberitaan pers, sekaligus mendorong pelanggaran kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan

2. Slogan “dari publik, olehpublik, untuk publik” berubah menjadi : “dari pebisnis, oleh buruh media, untuk kepentingan ekonomi”

3. Tiadanya keberagaman kepemilikan (diversity of ownership) dan keberagaman isi siaran (diversity of content) yang membuat penyeragaman opini public

4. Bahaya Pemusatan Kepemilikan Media tidak bisa dicegah melalui UU Anti Monopoli Nomor 5 tahun 1999 dan UU Perseroan Terbatas Nomor 40 tahun 2007 — melainkan harus dikendalikan oleh UU itu sendiri (UU Pers dan UU Penyiaran)

5. Penyeragaman opini dan kekuatan bisnis-politik oleh kekuatan media yang terlalu dominan yang mengancam kebebasna pers dan demokratisasi media. Sumber : pdf-konglomerasimediadiindonesia – satu dunia

 

Dari beberapa peryataan yang saya temukan bahwasanya konglomerasi juga memiliki bahayanya selain diatas media saat ini bukan lagi sebuah sumber informasi yang selamanya menyampaikan sesuai kebenaran yang ada namun kini telah menjadi ladang kapitalis karena memang media memiliki peluang pasar sangat besar. Masyarakat sekarang telah menjadi masyarakat yang informasi, setiap detik membutuhkan asupan informasi terbaru sehingga akses informasi itu akan mempengaruhi interaksi sosialnya di masyarakat.

Referensi :

 

Satu Balasan ke “Konglomerasi Media dan Media saat ini”

  1. ici mengatakan:

    Please let me know if you’re looking for a writer for your site. You have some really good posts and I feel I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d
    really like to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine.

    Please shoot me an email if interested. Regards!

Tinggalkan Balasan

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE