Jelajahi Makna di Universitas Terbaik

Blog Sussy Listiarsasih

Indonesian Idol 2012 kembali akan di helat. Pada tanggal 14-15 Januari kemarin, TBM Alert FKIK UMY (Tim Bantuan Medis Asy-Sfifa Life Emergency Rescue Team) di percaya untuk menjadi tim kesehatan untuk audisi Indonesian Idol 2012 Yogyakarta. Saya ikut bagian juga di timkes tersebut, shift pertama 06.00-12.00, di hari kedua. Menggali pengalaman, ingin tahu saya suasana audisi pencarian bakat nyanyi terbesar di Indonesia ini seperti apa.

Pukul 06.30 saya dan teman-teman yang lain beserta ambulance sampai di lokasi, Jogja Expo Centre. Antrian panjang meliuk di sepanjang trotoar taman tengah JEC. Sekitar 800-1000 orang sudah mengantri, menunggu giliran untuk bisa masuk ke gerbang pertama. Padahal audisi baru benar-benar akan dimulai pukul 10.00. Saya perhatikan orang-orang yang mengantri. Berbagai gaya pakaian, dengan berbagai karakter pastinya. Ada yang cuek dengan celana jeans dan kaos, ada yang niat benar menggunakan blouse indah dipadu high heels lengkap dengan polesan make up, ada juga yang memakai pakaian nyentrik ala gatot kaca dan pakaian senam taun 80-an. Yang pasti high heels dan mengantri menjadi paduan yang sangat tidak mengenakkan menurut saya.

Sampai menjelang pukul 10.00, cahaya matahari dari arah timur menyeruak begitu terik, tapi suasana masih aman terkendali, tak ada yang pingsan atau sakit. Sepertinya orang-orang akan berpikir 2 kali untuk pingsan dan meninggalkan antrian. Sia-sia sudah akhir perjuangan bila keluar dari antrian. Dari antrian awal, para peserta akan masuk ke gerbang pertama. Disana mereka masih harus mengantri di jalur yang meliuk-liuk untuk masuk ke antrian di arena daftar ulang. Dari arena daftar ulang, peserta bisa naik ke aula, berkumpul untuk mengantri lagi ke tempat juri dan audisi. Untuk yang di aula ini, para peserta akhirnya bisa duduk manis di selimuti suhu AC yang adem.

Tenang bila sudah bisa melewati gerbang pertama. Karena di hari kedua ini, ternyata ada quota peserta, mungkin dibatasi sekitar 2000 peserta, sehingga pada pukul 10.00 tepat pintu gerbang pertama di tutup. Tak boleh lagi ada yang masuk. Otomatis orang-orang yang tak bisa masuk tak terima dengan kebijakan dari panitia.

“Buka..buka..buka..!!”

Bak demo, satpam dan peserta yangtak bisa masuk bersitegang, kami berjaga di lokasi ketegangan, takut ada korban shock dan pingsan. Tapi tak ada ternyata, mereka masih kuat berjuang. Sementara di jalur antri yang selanjutnya, orang-orang sudah mengantri untuk masuk ke arena daftar ulang, sumringah sekali wajah mereka, apalagi VJ. Daniel membuka secara simbolis audisi Yogyakarta ini dengan larian mereka menuju tempat daftar ulang. Begitu ironis jika dibandingkan dengan para peserta yang tak beruntung, tak dapat kuota untuk masuk gerbang pertama.

Sampai pukul 11.00 para peserta yang bisa masuk tetap menunggu, berharap gerbang di buka. Ternyata harap hanyalah harap, gerbang tetap tak dibuka. Mereka akhirnya merangsek ke arena daftar ulang lewat arah lain, memohon agar pintu bisa dibuka. Panitia dan beberapa polisi terlihat berdiskusi di sisi tangga. Saya dan teman-teman lain masih berkeliling, tenyata ada yang terkena ulat bulu, dan semaput. Untung tak sampai pingsan. Sampai di posko kesehatan, orang-orang yang bergerombol di sekitar arena daftar ulang berlarian menuju gerbang pertama. Katanya gerbang mau dibuka. Baguslah pikirku, sayang bila perjuangan mereka berhenti dengan cara seperti ini.

Memang sudah ketetapan atau entah apa, yang pasti itu hanya permohonan maaf, bukan karena gerbang akan dibuka. Kecewa pastinya, tapi perjuangan harus tetap di teruskan. Mereka kembali ke arena daftar ulang, jadilah mereka unjuk rasa. Unjuk rasa para peserta yang kecewa atas penolakan, sekitar oukul 12.00. Mereka bernyanyi, diawali theme song Indonesian Idol, Idola Indonesia. Kemudian di lanjutkan oleh Jangan Menyerah D’Massiv. Merinding saya mendengarnya. Layaknya suara perjuangan para pejuang yang mati-matian mengejar cita-cita, terus bernyanyi berharap panitia membuka gerbang dan mengizinkan mereka mengikuti audisi. Tak sadar, saya pun ikut teriak, menyemangati mereka yang entah berhasil masuk atau tidak. Bilamana ternyata bakat terbesar ada diantara mereka?

Yang pasti perjuangan di audisi meraih mimpi itu tak hanya berakhir disana. Bila tak bisa dengan Indonesian Idol, bisa dengan jalan lain untuk sukses. Saya yakin diantara orang-orang yang berunjuk rasa itu ada yang nantinya bisa sukses dengan suaranya. Mungkin tak ditunjukkan ketika audisi pada juri, tapi di suatu saat pada semua masyarakat. Ya, saya hanya bisa mendoakan dan ikut berteriak menyemangati. Karena ketika hidup membuat kita jatuh, kita hanya punya 2 pilihan: tetap jatuh atau bangkit.

About Sussy

Anak rantau dari Bandung, suka keliling Yogyakarta, kuliner, jelajah gunung, dan baca. Datang ke Yogya karena ingin jadi dokter...

PROFIL AKU

Sussy

Anak rantau dari Bandung, suka keliling Yogyakarta, kuliner, jelajah gunung, dan baca. Datang ke Yogya karena ingin jadi dokter...


Popular Posts

Mengapa Masih Meroko

Ya, itu pertanyaan dari saya, mengapa masih merokok? Tahukah kamu? Ada ...

Tukar Link dan Buku

Buat temen-temen yang mau tukar link, silahkan copy paste URL ...

Nyut..Nyut...Sakit K

Ada yang belum pernah merasakan sakit kepala? Sy yakin semua ...

Katarak

Katarak adalah proses kekeruhan pada lensa karena adanya gangguan metabolisme ...

Universitas Terbaik

Universitas Terbaik – Siapa yang tak mau kuliah di universitas ...