sang mantan

Hanya Blog UMY situs lain

Tol Cipularang

Posted by ari wibowo 0 Comment

Melalui Cipularang, (Cikampek – Purwakarta – Padalarang) jarak tempuh Jakarta – Bandung, jika dihitung dari pintu masuk tol di Cawang (Jakarta) hingga Cileunyi (Bandung), totalnya 166 km.

1. Perinciannya, tol Jakarta – Cikampek 66 km, Cikampek – Padalarang 59 km, dan Padalarang – Cileunyi 36 km. Jadilah saat ini jalur itu merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia.

2. Tol ini membentang dari Cikampek – Purwakarta sampai Padalarang. Tol ini berada di pegunungan sehingga jalannya naik-turun dan juga mempunyai banyak jembatan yang panjang dan tinggi.

3. Jalan tol yang dibangun dengan biaya hampir 1,6 trilyun rupiah ini memiliki jembatan jalan tol tertinggi di Indonesia, yaitu Jembatan Cikubang (60 meter, di Kecamatan Cikalong Wetan), dan jembatan jalan tol terpanjang di Indonesia, yaitu Jembatan Cipada (700 meter, di Kecamatan Cipatat).

4. Lokasinya yang banyak menyeberangi lembah menyebabkan jalan tol ini cenderung lebih berangin.  Dan kadang angin di lokasi-lokasi ini cukup kencang, sampai dapat membuat mobil berpindah jalur karenanya. Terutama di km 70, yang memang agak rawan karena posisi jalan dengan permukaan tanah cukup tinggi (Dekat waduk Jatiluhur) ditambah pengaruh turbulance dari angin bawah tol menuju ke atas, dan kejadian ini mirip dengan di pesawat terbang.

Karena jembatan itu piernya tinggi dan itu berarti ada ruang kosong yang cukup tinggi dibawah girder jalan, sedangkan diatas permukaan girder jalan terbuka bebas ke udara. Karena terbentuknya ruang kosong dibawah jalan dan ruang yang terbuka diatas jalan…pasti akan membentuk lorong angin (Wind Tunnel)…….Nah angin itu datang dari berbagai arah. Salah satunya dari samping atau tegak lurus suatu objek (Crosswind). Nah, Crosswind inilah yang kerap dikhawatirkan oleh banyak pilot pesawat saat akan landing atau take off.

Karena arah datangnya yang tegak lurus sehingga menyebabkan objek berpindah tempat ke arah angin itu bergerak…kalo suatu objek berpindah tempat, berarti udah nggak kerja lagi di sumbu geraknya, yaitu misalnya ke arah depan. Jadi yang dirasakan pengendara di Kilometer itu adalah ketidakstabilan gerak objek akibat perpindahan ke samping (keluar dari sumbu kerjanya) apalagi jika kendaraan melaju kencang dan berhenti mendadak atau mengurangi kecepatan mendadak akibatnya mobil bisa saja langsung terguling.

Masuk akal, jika dikaitkan dengan cerita-cerita mitos-mitos sebelumnya tentang mobil yang tiba-tiba berpindah jalur. Bayangin saja, kecepatan 60 KM/Jam di ketinggian 200 meter dpl tiba-tiba dihantam angin 15 knot aja, cukup untuk membuat mobil melayang – layang beberapa centimeter, ditambah gaya dorong kendaraan hasil kecepatan tadi. Serasa jadi layangan sesaat

Dari sini juga sekaligus menjawab mitos seputar KM 70 Cipularang yang terkenal angker itu. Mungkin bisa diberikan usulan ke pemerintah setempat untuk memasang Windshield di lokasi-lokasi tersebut untuk memecah angin yang dapat sangat membantu mengurangi bahaya terjangan angin ini.

5. Jalan tol ini sudah berkali-kali amblas.
Amblasnya jalan ini dikarenakan Cipularang dibangun ditempat yang secara geologis berada di wilayah batuan sedimen. Mulai sekitar Km 83 yang masuk kawasan Purwakarta Selatan hingga sekitar 7 km berikutnya ke arah Bandung, badan jalan harus melintasi dua wilayah batuan lempung, yaitu Batuan Lempung Subang dan Batuan Lempung Jatiluhur. Sedangkan selebihnya hingga ke Padalarang, berada di tanah batuan vulkanik.

Mendirikan suatu struktur bangunan di atas batuan sedimen yang terbentuk pada zaman tersier ini memang bukan perkara mudah. Umur batuan muda, sekitar lima juta tahun, membuat sifat pergeserannya tinggi alias gampang longsor. Longsoran-longsoran kecil bahkan sudah terjadi jauh sebelum pembangunan dilakukan.

Namun, munkgin dengan pertimbangan biaya, akhirnya diputuskan pembangunan dilakukan dengan cara menimbun wilayah yang labil tadi. Konon, Timbunan setinggi 35 m dan menghubungkan dua bukit itu merupakan yang tertinggi di Indonesia! Gimana gak mau longsor coba.

6. Ini mungkin agak sedikit rumit . 

Mengenai Km 68. Setelah saya pikir-pikir, kenapa selalu KM 68 yang ramai dibicarakan? Salah satu artikel yang saya baca menyebut, “Berhati-hati di KM 68 – 70 Cipularang”.

Jadilah penelusuran berlanjut ke angka 68. Yang pertama terpikir tentang angka & 68 adalah pelajaran saya di kuliah semester 3 dulu, Probabilitas dan Statistika. Jadilah saya tanya mbah google tentang probabilitas 68, dan hasilnya mengejutkan, : Angka 68% itu bukanlah angka ajaib. Itu adalah angka yang ada dalam statistik, khususnya dalam distribusi normal.

Mungkin ini kuncinya, distribusi normal. Pencarian berlanjut, dan saya menemukan sesuatu yang menarik :

“Distribusi Normal disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analisis statistika. Distribusi normal baku adalah distribusi normal yang memiliki rata-rata dan simpangan baku satu. Distribusi ini juga dijuluki kurva lonceng (bell curve) karena grafik fungsi kepekatan probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.”

Categories: bangunan

PROFIL AKU

ari wibowo


Popular Posts

Universitas Swasta,

universitas swasta yang bagus memiliki fasilitas dan dosen yang jauh ...

Peran Generasi Muda

Pembangunan pertanian tidak terlepas dari pengembangan kawasan pedesaan yang menempatkan ...

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Beberapa Klub Jerman

Baru-baru ini Albiol diberitakan akan pergi dari Real Madrid dan ...