TARHIB-INDZAR DAN DAKWAH

  Uncategorized   December 6, 2011


 

ANALISIS FILOSOFIS

  1. Kata Tarhib dalam berbagai konteks

-          tarhib berasal dari kata “rahhaba” yang berarti menakut nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang  berarti ancaman hukuman.

-          Sementara tarhib ialah suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat dari megerjakan hal yang negativ yang mendatangkan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah SWT. Atau lengah dalam mejalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.

-          Tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui penalti yang disebabkan oleh pelaksanaan suatu dosa, kesalahan, atau perbuatan yang dilarang Allah. Selain itu, karena melemahkan pelaksanaan kewajiban yang diperintahkan Allah.

-          Tarhib dapat diartikan sebagai ancaman dari Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya melalui tonjolan atau penonjolan salah satu kesalahan sifat keagungan ilahi dan kekuatan untuk mengingat mereka tidak melakukan kesalahan dan ketidakpatuhan

 

  1. Kata indzar dalam berbagai konteks

-          Indzar secara bahasa berasal dari kata na-dza-ra, menurut Ahmad bin Faris adalah suatu kata yang menunjukkan untuk penakutan

-          Indzar menurut istilah dakwah adalah penyampaian dakwah berupa peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akhirat dengan segala konsekuensinya.

-          Indzar Adalah penyampaian dakwah yang berisi peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akhirat dengan segala konsekwensinya. Indzar sering dibarengi dengan ancaman hukuman bagi orang yang tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

-          Menurut Munzier suparta, indzar adalah ungkapan yang mengandung unsur kepada orang yang tidak beriman atau kepada orang yang melakukan perbuatan dosa atau hanya untuk tindakan preventif agar tidak terjerumus pada perbuatan dosa dengan bentuk ancaman berupa siksaan di hari kiamat.

 

  1. Kata Dakwah

Definisi dakwah dari literature yang ditulis oleh pakar-pakar dakwah antara lain adalah]:

  1. Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6).
  2. Dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).
  3. Dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata  (M. Abul Fath al-Bayanuni).
  4. Dakwah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti (akhirat)      (A. Masykur Amin)

 

KAITAN ANTARA TARHIB-INDZAR DENGAN DAKWAH

 

Setelah mengetahui definisi dari Tarhib Indzar, maka ada kaitannya dengan dakwah. Jika bisa di katakan, tarhib dan indzar merupakan salah satu dari metode dakwah yang bisa dilakukan didalam melaksanakan kegiatan dakwah. Hal ini juga telah dicontohkan oleh rosul dengan adanya ayat-ayat al-quran ataupun hadits yang iramanya bernadakan tarhib dan indzar ( dengan ancaman dan peringatan., diantaranya:

  1. Al-Qur’an

-          Mereka yang tidak disukai Allah dalam hidupnya

 

يا ايها الذين آمنوا لاتحرموا طيبت ما احل الله لكم ولاتعتدوا ان االله لايحب المعتدين

 

 

Artinya :  Hai orang-orang ang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah  kamu malampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang melampaui batas

 

-             Mendapat hukuman langsung

 

والسا رق والسا ر قة فا قطعوا ايد يهما جزاء بما كسبا نكلا من الله والله عزيز حكيم

 

Artinya : Laki-laki dan perempuan yang melakukan pencurian ,potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.

 

  1. Hadits

 

عن أبى هريرة قال قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – «من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة رخصها الله له لم يقض عنه صيام الدهر. [5] رواه البخارى وأبو داود والترمذى

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. mengatakan, Siapa yang melanggar satu hari selama bulan Ramadhan tanpa rukhsah bahwa Allah tidak bisa berpuasa mengqada bahwa meskipun ia berpuasa selamanya.

bulan Ramadhan, semua umat beriman berkewajiban untuk berpuasa. Hanya orang-orang yang memiliki alasan tertentu diperbolehkan untuk meninggalkan, seperti: sakit, bepergian, menyusui hamil, dan orang tua. Orang yang tidak memiliki dipekenankan ada alasan untuk tidak berpuasa. Karena begitu banyak dosa bagi mereka yang melanggar ketentuan ini, maka dalam hadits ini Nabi Muhammad. mengancam orang yang meninggalkan puasa dengan ancaman berat, yaitu tidak bisa mengganti salah satu yang meninggalkan hari puasa, meskipun ia berusaha untuk membayarnya seumur hidup. Dengan demikian, Nabi Muhammad. menggunakan tarhib (ancaman) dengan maksud bahwa kaum beriman tidak melanggar perintah Allah.

 

“Umm Ayman melaporkan bahwa Rasulullah saw. Dia mengatakan: Jangan meninggalkan shalat dengan sengaja karena orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja terpisah dari naungan Allah”

Orang yang meninggalkan shalat diancam dengan ancaman bahwa mereka yang sengaja meninggalkan shalat, tanpa alasan yang benar, akan terlepas dari tempat tinggal.

Selain membujuk orang, Rosul juga menggunakan ancaman untuk membangkitkan motivasi manusia untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ancaman juga memotivasi orang untuk melakukan ibadah dan memperkuat tanggung jawab agamanya (taklif), jauh dari segala sesuatu yang tidak bermoral dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Penggunaan bujukan dan ancaman secara bersamaan pengaruh yang lebih efektif daripada menggunakan salah satu dari dua. Untuk menggunakan persuasi saja, menurut Najati akan membuat manusia untuk berharap terlalu banyak untuk meminta pengampunan dari Allah SWT. Ancaman saja akan membuat manusia menjadi pesimis, Akibatnya mereka akan meninggalkan kewajiban agama mereka, bahkan terjebak dalam tindakan-tindakan amoral. Maka perlu pula adanya penyeimbang yaitu berupa berita gembira tentang imbalan dari perbuatan baik kita.

 

Menurut Imam Ghozali ada 5 cara dalam memberi tarhib :

  1.  Penyebutan Nama Allah

Konsep ini diberikan kepada orang-orang yang ketagihan kesenangan terlarang, ia sudah terbiasa melakukan segala bentuk maksiat yang mana perbuatan maksiat itu dianggapnya sebagai sebuah kesenangan, padahal sesungguhnya kesenangan dalam bentuk kemaksiatan itu sifatnya hanya sesaat.

Sementara orang tersebut pada dasarnya masih mempunyai dasar keimanan, oleh karenanya dalam hal ini kadang bias ditakuti dengan penyebutan nama Allah Yang Maha Kuasa, demikian pula terhadap orang yang menganggap enteng kebenaran dan terpengaruh dengan kekuatan dirinya dapat menakutkannya dengan mengingatkan kemahakuasaan Allah.

 

  1. Menunjukkan keburukan

Meskipun manusia suka berbuat jahat dan buruk, kadang mereka masih berusaha menutupinya dan tidak mau ketahuan oleh orang lain . dengan adanya pengungkapan keburukan tersebut, terkadang dapat menyadarkan manusia untuk kembali kepada kebaikan sehingga mereka akan menjadi sadar bahwa sesungguhnya perbuatan yang tidak baik (maksiat)nakan merugikan dirinya sendiri dan seringkali akan merugikan kewibawaan  dan kepercayaan masyarakat manakala maksiat itu diketahui oleh masyarakat umum.  Namun dalam menunjukkan keburukan  sebagi bagian dari tarhib tetap harus berlandaskan nilai-nilai moralitas, antara lain adalah tidak boleh langsung menunjuk secara jelas nama pelaku keburukan.

Tidak aneh, kalau manusia yang selalu membiasakan dirinya melakukan perbuatan rendah nantinya akan sampai pada derajat kejahatan yang tidak ada harapan lagi untuk selamat setelah itu, seperti yang dikatakan oleh Hasan Basri

“ Sesungguhnya antara hamba dan Allah ada batas tertentu dari maksiat, apabila seorang hamba sampai pada batas itu, dia tidak akan mendapat taufik lagi kearah kebaikan setelah itu” 

 

Selain itu, ada pula ayat yang mengungkapkan tentang pengungkapan kejelekan dalam berbuat rendah, yaitu :

Q.S An-nisa : 9-10

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”

  1. Pengungkapan Bahayanya

Menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat dosa terkadang dapat dilakukan dengan mengungkapkan bahayanya dosa itu, baik terhadap keimanan sendiri maupun terhadap mental. Karena kemaksiatan adalah utusan kekafiran dan penerimanya satu kejahatan yang menandakan matinya hati.

Sebagai seorang dai hendaknya mampu menjelaskan bahaya-bahaya dari perbuatan dosa, misalkan dosa akan meyebabkan manusia jauh dari Tuhannya, dosa adalah suatu penyakit yang tidak terasa dll.

  1.  Penegasan adanya bencana segera

Penakutan dengan cara ini bisa dilakukan terhadap seseorang yang akan atau sedang berbuat maksiat,  dengan adanya dakwah yang menyampaikan tentang akan adanya bencana segera yang dapat menimpa diri sendiri bahkan kepada keluarga. Bukankah ketika Al-Quran berbicara tentang umat-umat dimasa silam, ia selalu mengaitkan antara hilangnya nikmat lalu menjadi azab diakibatkan karena dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh mereka. Allah berfirman yang artinya : “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah” (Q.S al-Mukmin: 21)

  1. Penyebutan peristiwa akhirat

Terkadang kita dapat mendorong manusia agar mengerjakan bermacam-macam kebaikan dan meninggalkan berbagai kejahatan, dengan menyebut berbagai peristiwa akhirat seperti azab neraka yang dasyat dan kehinaan tiada tara.

“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.” (Q.S al-Muzammil : 17-18)

 

 

 

KESIMPULAN

 

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantisa beramar makruf dan nahi munkar, sehingga manusia bias selamat di dunia maupun diakhirat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam melakukan dakwah, salah satunya yaitu dengan memperhatikan metode yang hendak digunakan. Dari beberapa metode yang bias dipakai dalam berdakwah. Tarhib dan indzar juga memegang peran penting dalam kegiatan dakwah.

Penyampaian dakwah dengan tarhib indzar yaitu dengan pemberian peringatan dan ancaman kepada masyarakat supaya mereka berhenti melakukan tindakan kemungkaran. Kadang, seseorang lebih takut ketika disampaikan keburukan dari tindakannya dan akibat dari tindakan tersebut, sehingga menjadi jera dan tidak mau melakukannya lagi.

Ada banyak ayat-ayat al-quran atau hadist yang mengandung kalimat indzar dan tarhib. Dan ini bias dijadikan acuan dalam memberi peringatan dan ancaman saat melakukan dakwah. Akan tetapi ada hal yang sangat pokok, yaitu perlu pula disampaikan tentang kabar gembira ketika seseorang melakukan kebaikan. Sehingga antara ancaman dan kabar gembira bias seimbang.

Menurut Musthafa Malaikah dalam hasil penelitiannya tentang Manhaj dakwah Yusuf al-Qordhawi, bahwa sebagai seorang dai hendaknya beramal seimbang antara rasa harap dan takut, antara ancaman dan kabar gembira, karena dalam agama islam terdapat konsep “tawazun dan tawasut” atau keseimbangan dan pertengahan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Syahidin. 1999. Metode Pendidikan Qur’ani Teori dan Aflikasi. Jakarta:  Misaka galiza,

Hasjmy. 1994. Destur Dakwah Menurut Al-Qur’an. Banda Aceh :  Bulan Bintang

Ahmad bin Faris bin Zakaria. 1994. Mu’zam al maqayis fi al- Lughah, Berut, fikr.

Ali Mustofa, yakub.1997. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Jakarta:  PT Pustaka Firdaus.

Musthafa Malaikah.1997. Manhaj dakwah Yusuf al-Qordhowi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar

Suparta, Munzier. Harjani Hefni. 2006. Metode Dakwah. Jakarta : Kencana

Ibid, hal 121, lihat juga Abd al Rahman al  Nahlawi , ushul al Tarbiyah al Islamiyyah

http://msibki3.blogspot.com/2010/03/pengertian-dakwah

 

Tags:

Leave a Reply