MAULID NABI

  Uncategorized   December 7, 2011

Di balik maulid nabi

Jika pertanyaan  berikut dilontarkan kepada kaum muslimin terutama pemuda dan pemudi atau bahkan diri kita sendiri : “Siapa pribadi yang paling anda idolakan saat ini?”, atau “Siapa sosok yang paling anda sukai dan yang paling dekat dengan anda saat ini?” Mungkinkah yang terucap adalah “Muhammad SAW” ?. Jika “Ya” berapa persen?.

Belum ada survey memang, tapi kita bisa yakin dan meyakinkan akan kecilnya prosentase itu, setidaknya melewati pengamatan acak atas kondisi umat saat ini. Ini merupakan tanda bahwa pribadi Nabi besar  kita Muhammad SAW – yang semestinya dijadikan teladan  dalam hidupnya (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33 : 21) – kini mulai ditinggalkan dan diacuhkan.

Fenomena ini sungguh sangat kontras dengan kondisi para sahabat Nabi SAW, yang ketika ditanya : Apa yang menjadi keinginan kamu?, mayoritas menjawab : “Uhibbuka Ya Rasulullah wa uriidu murafaqotika fi al-jannah” (Aku sangat mencintai anda Ya Rosulullah dan ingin menemani anda di surga). Dan jawaban baginda kitapun : “Anta ma’a man tuhibbu” (Kamu akan bersama orang-orang yang kamu cintai).

Fenomena menyedihkan inilah yang akan memicu kita untuk mempertanyakan kembali tentang efektifitas perayaan Maulid Nabi, yang setiap tahun diperingati oleh mayoritas umat Islam di dunia. Memang momen kelahiran seorang tokoh selalu menjadi inspirasi bahkan penggugah umatnya yang telah lemah semangat bahkan mati. Untuk itu peringatan tentang kelahiran seorang tokoh selalu dibutuhkan oleh umatnya dalam rangka mereformasi sel-sel umat yang telah mati.

Inilah yang terjadi pada mayoritas agama atau sekte-sekte yang sering disebut dengan hari raya, juga pada organisasi dan lembaga yang sering disebut dengan “Hari Jadi” atau “Milaad” atau “Haul” atau penamaan lainnya. Bahkan ini banyak dilakukan untuk memperingati salah seorang tokoh yang telah memberikan jasa tertentu bagi sebuah bangsa. Hari Kartini;salah satunya. Semua itu dimaksudkan tidak saja untuk sekedar mengenang jasa mereka- lebih dari itu dimaksudkan agar orientsi, visi, spirit serta keteladanan dapat digali kembali, walaupun maksud itu seringkali menyimpang dari cita-cita semula, yang kemudian berkembang menjadi sekedar acara rutinitas, hura-hura, atau keramaian rakyat yang sudah bercampur dengan tradisi yang tidak terarah.

Anehnya dalam sejarah Islam, peringatan seperti ini tidak terjadi pada masa al khulafa’ al Rasyidin, dan generasi setelahnya (Tabi’in dan Tabiut tabi’in). Ketika para sahabat ( pada masa kholifah Umar Ibn Khattab) ingin meletakkan tonggak perhitungan hari Islam berdasarkan peredaran bulan (Qomariyah), mereka tidak memilih momen kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai titik tolak perhitungan itu, mereka lebih memilih Hijrah sebagai moment penting itu. Diantara alasan yang dapat diungkap oleh mereka adalah bahwa hijrah secara integral merupakan simbol  dari sebuah perjuangan panjang. Adapun hari kelahiran sangat bernuansa pribadi ketokohan, dan ini dengan cepat menyeret para pengikut kepada pengkultus buta, sehingga alih-alih dapat menyerap nilai perjuangan, keteladanan yang ada dalam tokoh, mengendalikan acara itu agar tetap dalam koredor semula sungguh merupakan mission impossible.

Peringatan Maulid yang kemudian diselenggarakan oleh mayoritas kaum muslimin di berbagai tempat banyak yang telah mengalami disorientasi dan visi, bahkan di beberapa tempat dikait-kaitkan dengan tradisi tertentu yang jauh dari ajaran Islam. Terlepas dari masalah bid’ah atau bukan, sebenarnya yang terpenting dari peringatan ini adalah esensi dan kandungan acaranya, jika keduanya baik, maka peringatan ini akan baik, jika tidak maka peringatan ini akan menjadi sarana yang sangat subur untuk sebuah investasi dosa.

Dari sini masalah yang terpenting yang perlu kita soroti dalam pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini adalah masalah efektifitas peringatan tersebut, dalam arti lain bagaimana kita bisa mengefektifkannya sehingga menjadi salah satu sarana terpenting untuk kemajuan umat yang sekarang semakin terpuruk. Ditengah hiruk pikuk perkembangan dunia materi seperti sekarang ini dan dibawah bayang-bayang kedhaliman nasional dan internasional, mayoritas umat terus terobsesi untuk memikirkan dan memperjuangkan materi, masalah-masalah visi, orientasi, perjuangan, keteladanan serta idealisme tidak menarik mereka sama sekali, kondisi ini kemudian menggiring mereka untuk berpikir pragmatis, dunia-dunia glamour dan tokoh-tokohnya lebih dinikmati daripada tokoh-tokoh spiritual.

Dalam kondisi seperti ini, memunculkan keagungan pribadi, etika dan karakter Nabi kita menjadi keharusan, dan momen Maulid Nabi merupakan salah satu instrumen yang tepat untuk maksud diatas. Barangkali masalahnya hanya pada bagaimana kita dapat mengemas proyek ini dalam bingkai yang beragam, kreatif dan menarik, sehingga bisa diterima dan diminati oleh publik. Esensi peringatan yang perlu dijadikan target adalah menjadikan pribadi Rasulullah sebagai suri tauladan bagi seluruh aktifitas kehidupan umat saat ini, dan itu tidak bisa dicapai kecuali melalui upaya pengenalan yang intensif terhadap pribadi beliau yang agung yang saat ini hampir-hampir tidak dikenal lagi oleh mayoritas umatnya, dengan berbagai sarana dan munasabah. Tentu hal ini membutuhkan kerjasama yang baik dari seluruh komponen umat yang telah mengalami proses penyadaran diri. Sehingga cita-cita dibangunnya dunia ini atas benih-benih keteladanan dan kecintaan kepada kepada Muhammad SAW benar-benar terealisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags:
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE