Awalludin Fajri

It is me.

APLIKASI BRIKET AZOLLA-ARANG SEKAM GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN TANAMAN JAGUNG DI LAHAN PASIR PANTAI SAMAS BANTUL

Posted by awalludin fajri Comments Off on APLIKASI BRIKET AZOLLA-ARANG SEKAM GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN TANAMAN JAGUNG DI LAHAN PASIR PANTAI SAMAS BANTUL

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber daya pertanian. Selain itu, Indonesia memiliki pengetahuan pertanian yang tersimpan dalam kearifan lokal dan kultur masyarakat. Dengan demikian komoditas pertanian sangat penting untuk diperhatikan, terutama komoditas-komoditas pertanian yang diolah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Tanaman pangan merupakan komoditas penting dan strategis, karena pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi bagi setiap rakyat Indonesia, hal ini tercantum dalam UU No.18 Tahun 2012 tentang pangan. Salah satu komoditas tanaman pangan yang penting untuk dikonsumsi masyarakat adalah jagung.

Jagung memiliki arti penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat, karena jagung merupakan salah satu sumber karbohidrat. Menurut Suarni dan Widowati (2007) kandungan gizi utama jagung adalah pati (72-73%), dengan nisbah amilosa dan amilopektin 25- 30% : 70-75%, namun pada jagung pulut (waxy maize) 0-7% : 93-100%. Kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berkisar antara 1-3%. Protein jagung (8-11%) terdiri atas lima fraksi, yaitu albumin, globulin, prolamin, glutelin, dan nitrogen nonprotein.

Kebutuhan jagung di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk. Data statistik BPS menunjukan bahwa luas panen jagung pada tahun 2013 seluas 3.821.504 hektar dengan produksi sebesar 18.511.853 ton atau memiliki rata-rata produktivitas 4,84 ton/hektar (BPS, 2014). Jumlah tersebut untuk mencukupi kebutuhan jagung domestik untuk pakan dan industri pakan sekitar 57%, sisanya sekitar 34% untuk pangan dan 9% untuk kebutuhan industri lainnya (Mejaya dkk. dalam M.Syahril, 2009). Menurut Baheramsyah (2014) mengatakan pada 2013 tiga juta ton jagung harus diimpor karena tidak tersedianya jagung lokal di waktu-waktu tertentu. Berdasarkan data tersebut maka Indonesia perlu meningkatkan produksi dalam negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri dan luar negeri.

Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi jagung Indonesia adalah perluasan areal penanaman jagung. Perluasan penanaman jagung mengalami kendala, karena tanah-tanah produktif banyak digunakan untuk areal industri dan perumahan, sehingga luas lahan untuk budidaya tanaman jagung semakin menyempit. Menurut Badan Pusat Statistik (2014), dalam 5 tahun terakhir luas tanam jagung nasional mengalami penyusutan sebesar 180.220 hektar dari 2008 sampai dengan 2013. Hal tersebut mengakibatkan penurunan produksi jagung nasional. Di sisi lain masih banyak lahan marjinal di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan budidaya jagung, salah satunya adalah lahan pasir pantai Samas, Bantul, Yogyakarta.

Lahan pasir pantai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian untuk meningkatkan produktivitas jagung nasional. Lahan pasir pantai memiliki karakterisitik tanah yang didominasi oleh fraksi pasir, porositas tinggi, kandungan liat dan bahan organiknya rendah, sehingga kemampuan tanah dalam menyimpan air menjadi rendah. Selain itu, sifat tanah berpasir yang mudah meloloskan air ke bawah akan mempengaruhi efisiensi penggunaan pupuk nitrogen. Pemupukan nitrogen pada tanah berpasir tanpa melakukan perbaikan sifat tanah akan berdampak pada jumlah ion nitrogen yang dapat diserap oleh tanaman. Menurut Gunawan Budiyanto (2009), ketidakcukupan kandungan mineral liat dan bahan organik menyebabkan tanah pasir tidak mampu mengikat air dan kapasitasnya dalam menyimpan kation menjadi rendah. Kation hara nitrogen (NH4+) yang ada menjadi lebih rentan untuk ternitrifikasikan sebelum diserap tanaman, untuk kemudian berubah menjadi ion NO3 yang di dalam larutan tanah bersifat mobil, sehingga pada saat terjadi kelebihan air, ion nitrat akan bergerak ke luar zona perakaran. Kelebihan ion nitrat yang tidak diserap tanaman dapat menyebabkan polusi lingkungan.

Berdasarkan pernyataan tersebut membuktikan bahwa lahan pasir pantai Samas, Bantul, Yogyakarta membutuhkan teknologi pengelolaan air dan hara untuk mengatasi permasalahan tanah pasir dalam menyimpan air dan menurunkan laju pelindian nitrogen, sehingga kegiatan pemupukan menjadi efisien. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan penambahan bahan organik dalam bentuk briket azolla-arang sekam kedalam tanah.

Untuk lebih jelasnya tentang penelitian ini dapat di unduh disini (MAKALAH-BRIKET)

Categories: Knowledge, Opini, Pertanian

PROFIL AKU

awalludin fajri


Popular Posts

[Lomba Blog] UMY Nas

Kota Yogyakarta bukanlah tujuan yang utama setelah saya menyelesaikan SMA, ...

Penyelamatan Lingkun

Di era globalisasi ini perkembangan tenknologi berkembang sangat cepat sehingga ...

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Magang di Balai Pene

Memasuki era globalisasi dan tantangan zaman, ditambah dengan semakin sempitnya ...

Ekosistem Pertanian

Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak akan ...