Belakang Pintu

Just another Blog UMY site

“Nak, bangun udah siang ni, cepatan bangun, jangan malas-malasan .. …”

Ku dengar sumber suara itu, berasal di balik pintu kamar tidurku, dengan keadaan setengah mata terbuka, yang seumpamakan kuncup bunga-bunga yang baru setengah mekar yang tertimpa cahaya mentari dipagi hari, sambil jari jemari tangan aku sanggup menggapai bibir mata aku dan ku sekakan ke pelipis-pelipis mataku, dengan seketika ku saut paggilan di balik pintu itu:

“iy Ibu, saya sudah bangun” ..

Ah, ibu, sejak aku menginjak genap enam tahun, dan pertama kali, aku punya kamar sendiri dan tidur sendiri, ibu selalu saja gak pernah lupa untuk membangunkan kami?, sebagai anak-anaknya, terutama saya, sebagai anak laki-laki yang paling terakhir dari dua bersodara, dan kata ibu, akulah anak yang paling malas bangun tidur di pagi hari, untuk menunaikan kewajibannya, dan sampe sekarang pun, ketika saya sudah berumur 21 tahun, ketik saya, menyempatkan pulang kembali ke rumah, yang terletak dibilanga daerah karawang barat, walaupun aku pulng hanya beberapa hari saja, yang hanya sekedar untuk mengistirahatkn badan ini, dari rutinitas keseharian aku, rutinitas yang biasa aku jalani di kota yang mempunyai gelar, sebagai kota pendidikan, kebudayaan n pariwisata, atau memang dengan sengaja aku lari dari keramaian, kebisingan, n hiruk pikuknya keadaan sebuah kota besar, yang mampu membuat setiap orang mudah terkena depresi dan setres akut, yang konon katanya, kalau sudah terkena gejala depresi dan setres akut, sulit untuk disembuhkan kembli, aku tidak tau pasti, benar atau tidaknya!!

Ibu masih saja tetap setia, dalam menjalani kebiasaannya yang sering dia lakukan 2 tahun silam dulu, untuk tetap membangukan aku dipagi hari, sebelum aku hijrah ke kota lain untuk mengejar sebuah kata harapan, dan sebuah cita-cita, setelah beberapa tahun ini, kebiasaan itu tidak pernah dilakukannya lagi.

Waktu jauh-jauh hari, ketika aku merencanakan untuk pulang ke rumah, aku sempat berpikir, kalau kebiasaan ibu pasti sudah berubah, atau paling tidak akn berubh?

Tetapi pada kenyataannya, apa yang aku pikirkan sebelumnya, sama sekali salah total, apa yang menjadi kebiasaa ibu, yaitu membangunkan aku dipagi hari, ketika aku ada dirumah, dan tidur dirumah, sama sekali tidak berubah . ….

“Ibu-ibu, ibu tidak pernah berubah akan kebiasaan Ibu, untuk selalu membangunkan aku dipagi hari, agar aku, tidak lupa untuk menjalankan kewajiban aku sendiri?” Gumamku dalam hati .. … ….

Atau Ibu, sengaja membangunkan aku dipagi hari, hanya sekedar menyuruh aku, untuk pergi ke taman samping depan rumh, untuk merasakan sejuknya udara pagi hari, yang masih terasa basah oleh air-air kehidupan, dan ketika Aku menghirupnya, secara dalam-dalam, udara sejuk itu, langsug menyeruak masuk ke dalah hidung dan rongga-ronga dada, yang mampu membuat sekujur badan ini, dari ujung rambut sampe jari jemari kaki aku, seperti terpaku rapat ke dalam tanah, yang masih dingin dengan tetes-tetean air embun di bawahnya, seolah-olah ada “sesuatu” yag masuk dan menjulur keseluruh aliran darah .. ..

“Sesuatu yang selalu membuat aku memiliki kata harapan? Rasa sebuah kebebasan, kesegaran, dan merasakan dengan begitu nikmat, kalau segala jiwa,raga, dan segala bentuk diseluruh alam rya ini, seraya berjalan dengan penuh harmonis, dan dalam keteraturannya masing-masing. yang memang, taman disamping rumah, banyak ditanamin berbagai jenis bunga-bunga, yang selalu bermekaran di setiap pagi hari, dan pohon-pohob palm yang berbris tegak rapat, tepat di samping pagar rumah, dan ada satu pohon kelapa, diantara tengah-tengah deretan pohon palm itu, dan tepat di bawahnya, ada 4 buah pasang kursi, beserta mejanya, yang terbuat dari pohon jati , di situlah, tempat paporit saya, untuk melamun, atau memikirkan sesuatu, yang menurut saya sangat penting, atau ketika saat-saat aku dalam keadaan patah hati, pohon kelapa dan palm itulah yang selalu menemanin aku ketika aku dalam keadaan semua ituh, mereka seolah-olah selalu berbicara, dengan isyarat-isyarat lambaian gerak dedaunannya, yang tertebah angin, untuk menceritakan keprihatinannya ke pada aku, dan lalu mencoba sesekali untuk menghibur aku, dan banyak lagi tanaman lainya, mulai dari bunga, yang gak ada harganya sama sekali, sampe bunga, yang harganya cukup untuk membeli sebuah mobil Honda keluaran terbaru, itu pun tertata dengan rapi, lengkap dengn tatatan tempat potnya, yang berbentuk seperti tempat duduk di lapangan sepak bola.

***

Dengan keadaan lutut, yang masih lunglai, dan entah jiwa aku pun sudah masuk semuanya, atau belum?, ke dalam ruang jeruji nya, sebagai penjara nya?

Ku paksakan kaki, dan seluruh badan ini, untuk membuka pintu kamar tidur ku, dan secara terpaksa, aku harus mengakhiri, kenikmatan balutan selimut, yang sengaja aku gulungkan, ke sekujur tubuh aku, sedari tengah malam, untuk melindungi badan ini, dari lumatan dingingna angin malam hari.

karna jangan harap, suara pangggilan itu akan berakhir begituh saja, kala aku tidak membuktikannya, dengan mebuka pintu kamar, bahwa aku telah benar-benar bangun.

Mungkin, bagi ibu, ada kenikmata tersendiri, bila melihat anaknya, yang setengah mampus terkoyong-koyong menuju pintu kamar, serta meraba-rba kunci kamar dan pegangannya, yang entah dimana, letak posisinya menyangkut, ku lakukan itu, dengan ke adaan aku setengah sadar dan tidak? Setelah ku yakin mendapatkannya ……

Greeettttttttttt tttttttttttttt tttt, !!!!!!!!!

Lalu pintu kamar terbbuka, tepat didepan pintu kamar, dan bersejajar dengan muka aku, tersimpul sebuah senyum segar, gurataan-guratan halus yang terpaut di pelipis pipi, dan penjuru-penjuru mata ibu, secara tidakla langsung menandakan dengan cukup jelas, kalau ibu telah cukup lama, bergelut dengan sang waktu, dalam mengurusin kami sekeluarga , tapi semua itu, tidak menghalangi kesegaran senyum Ibu, apalagi menghilangkannya, sebuah senyum, yang menandakan, pancaran kasih sayang terhadap anaknya, anaknya, yang pemalas lagi bebal kepalanya, yang kosong kerontang gak ada pegetahuannya .. Pikir aku seketika!!

Tapi entah kenapa, aku langsung membantah pikiran aku sendiri,

“Jangan gituh lah Bu, kan paling tidak, aku mampu menerangin diri “aku” sendiri, dengan segala ke-Tahuan aku sendiri, dengan sedikit-dikit belajar, dari bebrbagai buku-uk yang aku baca,dan aku pahami, dari pengalaman hidup, serta, petuah-petuah yag selalu ibu lontarkan ke pada aku, ketika aku, bermanja-manja tiduran dipangkuan ibu, “lebih baik, kau nyalakan lilin satu, walaupun hanya mampu menerangin dirimu sendiri, dari pada, kamu hidup didalam kegelapan”, kurang lebih, bukannya begituh Bu, kalau kata Ahli filsafat cina Confusious” gumamku dalam hati, dan dalam membenarkan polah pikiran aku sendiri..

“cepatan cuci muka!, lalu jananga lupa sholat subuh dulu!, udah jam berapa ini?” ujar Ibu dengaan nada suara yang cukup rendah.

“y gak tau Bu, dah jam berapa ini” sahut aku seketika.

“Ini dah jam 5 pagi, lebih 15 menit, makanya cepatan, biar tidak ketinggalan waktu shalat subuhnya” timpal Ibu …

“iy” jawab aku kembali….

Lalu Ibu, pergi begituh saja, meninggalkan aku sendiri, yang secara tidak langsung, baru aku sadarin, kalau dari tadi, aku bersandar lemah di bibir tiang pintu kamar tidur.

Ku perbaiki posisi tubuh aku, lalu ku laksankan apayang telah di perintah ibu waktu tadi….

***

Semunya telah selesai, …

waktunya sarapan pagi, lalu pergi ke taman samping rumah, untuk meliahat kuncup-kuncup bunga yang mulai bermekaranm dan duduk di tempat paporit aku, rencana aku dalam pikiran …

Tapi pada akhiryna, rencana itu urung aku lakukan.

Karna aku tau, pagi hari ini, aku rasakan tidak mungkin seperti hari-hari biasanya, seperti pagi-pagi hari sekitar 2 tahu silam dulu, pagi hari yang penuh kehangatan, dan simpul senyum segar yag selalu memenuhi seisi rumah, tanpa letih ditampakannya terhadap kami sekeluarga,

Sekrang Ibu, tidak mampu lagi untuk melakukan kebiasannya itu..

Ya Tuhan!!!

Apa in jawaban dari dari pertanyaan aku, tempo hari dulu, kalau kebiasaan ibu, sudah berubah dan paling tidak aka berubah????

Tapi kenapa, kalau kebiasaan Ibu berubah, karna kondisi Ibu yang seperti ini???

Aku tidak pernah, dengan sunggunh-sungguh berharap, klau kebiasaan ibu membangunkan aku tiap pagi hari, akan berubah ya Tuhan?

Aku hanya menerka-nerka kemungkinannya saja, bagaimana jika suat hari, aku ada dirumah? Apa mungkin, kebiasan ibu ituh, akan berubah? karna waktu itu, sudah hampir dua tahun, aku tidak berada dirumah, bersama Ibu, dan selama dua tahun silam itu juga, secara tidak langsung kebiasaan ibu terhenti.

Sekarang Ibu, Hanya terbaring lemah, diatas tempat tidur rumah sakit, bahkan, untuk sekedar mengucapkan sepatah kata pun, Ibu sudah tidak sanggup,..

Sudah 1.5 thun ibu mengidap peykit jantung, dan bolak balik ke rumah sakit, dan sampe sekarang kondisi ibu semakin parah ..

Pagi itu, seperti biasanya, ketika aku, mendpatkan sebuah kesedihan, atau lain-lainya, aku pergi ke tempat duduk, yang berada diantara pohon-pohon palm, dan pohon kelapa, setelah beberapa malam aku tidur dirumah sakit, sekitar jam lima pagi, saya sempatkan pulang terlebih dahulu dari rumah sakit, dan ku tinggalkan, kaka laki-laki aku, beserta istrinya untuk menjagai Ibu.

“Kenapa dengan muka kamu? Kusut amat, macam anak yang terlantar tak terurus saja?

Ku rasakan ungkapan itu, berasal dari dedaunan pohon-pohon palm, seraya bergoyang-goyang, ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri, karna tertimpa angin …

“Iy, kenapa dengan muka kau ituh? Daun pohon kelapa pun, ikut menimpalin pertanyaan si daun poho palm..

Belum saja, aku, sempat menjawab semua pertanyaan itu!

Bunga-bunga, serta rumput-rumput, yang ada di sekitar halamam samping rumah, yang sedari tadi, menyaksikan ke murungan aku, seolah-olah ikut berkata, dan tidak memberikan, sedikit waktu, dan ruang sedikit pun, untuk aku menjawab lebih dulu..

“Ah jangan-jangan, kamu putus cinta lagi?, atau lagi kesal, karna nilai-nilai mata kuliah loe, gak pernah ada bagus-bagusnya?, atau loe, gi kehabisan duit? maka na muka loe, da badan loe, itu seperti tidak terurus, ungkap bunga-bunga, serta rumput-rumput taman halaman samping rumh, secara berbarengan..

“Tidak kkkk kkkkkkkkkkkkkk k kkk …”

Kata ku sambil berteriak,

Ku bukan lagi putus cinta, bukan karn nilai mata kuliah ku jeblog semua, dan, ku tak seperti seorang anak, yang tidak terurus …

“semua itu, bukan nnnnnn” masih ku ucpkan, sambil berteriak .. … ..

Aku. Aku. Aku, Aku hanya aa aaaaa aaa????

Hanya kecewa sama Tuhan????

Aku kecewa, aku kecewaa sama Tuhan, karna dia, sepertinya tidak berlaku adil, ke pada aku, ke pada keluarga aku.

Kenapa, keluarga aku, harus merasakan ke pedihan seperti ini, kesedihan seperti ini, kegetiran seperti ini, yang semuanya membuat kesabaran ku sampe titik nadir terakhir ..

Dulu, ayah ku, kau bikin menederita penyakit kencing Batu, yang harus melewati penderitaan, di rumah sakit, selama hampir genap dua tahun, selang dua bulan, dari masa penyembuhan Ayah aku, kau lalu, bikin menderita kaka laki-laki aku satu-satuna, dengan kau idapkan penyakit jantung, yang harus di oprasi sebanyak empat kli berturut-turut, dan harus berbaring selama satu setengah tahun, selang masa hampir selama enam bulan, masa penyembuhan kaka laki-laki aku, sekarang, apalagiyang kau ujikan, kepada kami semuanya, belum cukup kah, kau uji kami dengan semua ini? kau tak puas hati, sekaang kau bikin menderita Ibu aku, dan dia, sekarang hanya terbaring lemah, di atas tempat tidur rumah sakit … … ..

Apah? Apah? Apah? Apah hhhhhh, yang kau mau ya Tuhannnn ?

Dedaunan pohon-pohon palm, kelapa, serta bunga-bunga, dan seluruh isi taman halamam rumah, semuanya tertegung diam, seperti mati, beku tak bergerak, dan angin pagi pun, tak terasa sedikitpun, atau memang, angin pagi pun langsung berhenti?, semuanya tak mampu untuk bertanya lagi, atau bahkan untuk sekedar memberikn ke sejukannya, kesegarannya, keindahannya, atau bahkan untuk sesekali, menghibur aku, dengan goyangan-goyangan dedaunannya yang di hempas angin pun, mereka semuanya seolah-olah sudah tak mampu lagi.

Aku tidak tau lagi, kenapa merak semunya seperti itu?

Apa mereka terlalu perih, untuk mendengar semua kehidupa aku?

Apa mereka bosa, dengan semua, kesuh kelah aku selama ini?

Atau apa mereka kecewa, karna aku mengumpat tuhan?

Maka mereka diam seperti itu .. …

Rasa kecewa sama Tuhan, rasa capek dan amat lelah mulai merayapi sekujur tubuh aku.

Dan akhirnya, membuat kepala aku, tak tahan lagi, untuk tetap tegap di atas batang lehernya, kepala aku tertunduk, menempel ditas meja, dengan posisi menyamping, menghadap ke arah barat.

Lalu ku coba, untuk pejamkan mata, yang sudah terasa perih, degan debu-debu kesaksian jalan hidup ku, sambil ku liat, sinar mentari yag mulai menerpa muka aku, dan segala isi taman halaman rumah, dan seluruh jagat raya ini untuk memberikan kehidupan, bagi seluruhnya denga cahayanya, aku lihat cahaya mentari itu, di balik antara pohon-pohon palm, dan pohon kelpa.

syamsuri hr dahud 15.12.2010

Categories: Cerpen .. ....

PROFIL AKU

Syamsuri Hr Dahud


Popular Posts

Hello world!

Welcome to Blog UMY. This is your first post. Edit ...

merengek .. .

emak. shaya sudh trbiasa dlm brkubang dngn sgala ksusahan n ...

Mentari di balik poh

“Nak, bangun udah siang ni, cepatan bangun, jangan malas-malasan .. ...