Muda, Berkarya, dan Kaya

because your life, is not only yours! :)

Cinematherapy

Posted by bellabeebei 4,766 Comments

Si Filmo baru saja selesai menonton film ‘I Am Sam’ di layar komputer rumahnya, dan tidak seperti biasanya ketika ia usai menikmati film bersama teman-temannya di gedung bioskop, yang mana ia langsung beranjak dari kursi ketika ‘credit title’ bergulir, kali ini Filmo terdiam, hening, pikirannya hanyut mencoba merefleksikan kembali inspirasi-inspirasi yang baru saja ia ‘lahap’ selama 90 menit seiring dengan alunan ‘closing OST.’ dari I Am Sam. Sejurus kemudian ia bergegas mengambil Blackberry nya, “Filmi, udah nonton I Am Sam belum? Bagus sekali! Ceritanya blablabla terus blablabla tapi ternyata blablabla, wah inspiratif sekali pokoknya!”, tulis Filmo dalam pesan-singkat-yang-tidak-singkat nya kepada sang teman-sejati, Filmi.

Ya, ilustrasi diatas secara implisit telah mendeskripsikan apa yang saya sebut sebagai Cinematherapy, sebuah proses, dalam menonton film, dimana para penonton mengakses hal-hal yang terjadi dalam film, seperti interaksi antar karakter, kepribadian, konflik, musik etc. dan mengubahnya menjadi dorongan positif untuk melakukan hal-hal baru. Di belahan dunia lain, Cinematherapy bahkan sudah diaplikasikan sebagai terapi modern dalam menanggulangi stress dan gejala-gejala mental-disorder lainnya. Namun demikian bukan berarti dalam menuju sebuah hasil positif diperlukan adanya penanganan serius dari ahli, tidak, itu bahkan tidak lebih sulit dari menyusun kotak rubik.

Sebelum melangkah ke bagian prosedural, akan lebih mudah jika saya berbagi sebuah pandangan tentang film yang kurang lebih berhubungan dengan pondasi dalam memanfaatkan Cinematherapy secara positif. Setujukah anda bila saya mengatakan film yang bagus adalah film yang menginspirasi? Sebuah film yang menggelitik anda untuk berpikir seusai menonton film tersebut? Sebuah film yang mendorong penontonnya untuk menjadi individu-individu yang lebih baik? Sebenarnya sungguh banyak deretan film-film yang kuat secara ‘moral values’, hanya saja seringkali anggapan bahwa film itu hanyalah sebuah nonsense, seru-seruan, jadwal-dalam-kencan, dll. mengaburkan nilai-nilai positif dalam film tersebut, dan sebenarnya lagi, sekonyol-konyolnya sebuah film bisa saja membuka pengetahuan baru bagi anda. Ambil contoh ‘Blind Dating’,

film ini mengisahkan seorang buta-namun-jenius yang menginjak fase remaja dan ingin mencoba hal-hal yang mudah dilakukan remaja ‘Barat’ pada umumnya, kehilangan keperjakaan. Namun pada akhirnya, ia jatuh cinta kepada seorang gadis India dan mengikuti semacam transplantasi retina buatan agar bisa melihat sang pujaan hati, ditengah usahanya untuk melihat dunia, si gadis India mendadak dijodohkan dengan lelaki lain oleh orangtua gadis tersebut sesuai dengan hukum adat istiadat India yang mengutamakan pernikahan sesama bangsa.

Jika anda tidak keburu ‘bersemangat’ dengan beberapa adegan panas yang disajikan dan sebaliknya, cermat dalam mengamati, anda akan melihat proses sains penanaman ‘mata’ buatan dalam tubuh manusia dan lagi sebuah budaya dari suatu negara, dan efeknya terhadap hubungan antar-manusia yang ternyata cukup menarik. Inilah sebenarnya kekuatan daripada sebuah film – untuk membuka hal-hal baru dan menawarkan rasa penasaran penonton untuk menggali lebih dalam hal-hal baru tersebut.

Menonton dan menikmati sebuah film dengan cermat dan santai, untuk memaksimalkan Cinematherapy anda, memang sebenarnya tidak ada jalan yang pasti untuk melakukannya, seperti halnya belajar, banyak faktor yang akan meningkatkan maupun mengurangi kualitasnya. Namun beberapa hal yang akan saya sebutkan berikut secara umum akan membantu anda berterapi.

Dalam persiapan menonton, duduklah senyaman-nyamannya. Biarkan perhatian anda bergerak dengan santai, tanpa tekanan, tarik dan hembuskan napas dengan tenang. Setelah anda benar-benar santai dan terfokus, mulailah menekan tombol play dan memulai film. Inspirasi paling dalam akan timbul ketika anda benar-benar terkonsentrasi pada ceritanya, suatu ketika anda mungkin akan merasakan perubahan pada frekuensi tarik dan hembusan napas anda, perhatikan bagaimana gambar-gambar, nilai-nilai, percakapan, atau karakter mempengaruhi pernapasan anda. Setelah itu refleksikan dalam hal-hal berikut

Apakah anda ingat ketika napas anda berubah-ubah sepanjang film? Apakah ini merupakah indikasi bahwa sesuatu telah mengguncang anda? Kenyataannya, mungkin saja apa yang mempengaruhi anda dalam adegan-adegan sebuah film adalah sama dengan apa-apa yang mengguncang anda dalam kehidupan nyata.

Perhatikan apa yang anda sukai dan apa yang anda tidak suka, atau bahkan benci, dalam film tersebut. Karakter atau aksi yang mana yang tampak menarik atau mengganggu bagi anda? Apakah anda kemudian menyangkutkan mereka dengan beberapa orang yang anda kenal? Kenyataannya, mungkin saja identifikasi anda terhadap sesuatu dalam film ternyata sama dengan penilaian anda terhadap nilai-nilai maupun karakter-karakter dalam kehidupan.

Adakah satu atau beberapa karakter dalam film tersebut yang anda ingin untuk tiru, mungkin sifat atau gaya karakter tersebut? Kenyataannya, mungkin saja itulah apa yang sebenarnya ingin anda kembangkan dalam potensi anda dalam keseharian.

Apakah anda mengalami sesuatu yang terhubung dengan moral-diri atau ideal-ideal bijak anda ketika menonton? Menghargai aspek-aspek ini dan membuka diri anda untuk perubahan akan meningkatkan kualitas positif dalam diri anda dan membebaskan ‘diri’ anda yang lebih jujur dan lengkap.

Film adalah alegori, sebelas dua belas dengan cerita, mimpi, dongeng, dan legenda yang mana semuanya dapat diaplikasikan dalam sebuah terapi. Efek-efek kognitif dari Cinematherapy dapat dijelaskan dengan teori ‘Belajar dan Kreativitas’, yang mendefinisikan bahwa manusia memiliki tujuh intelijensi dan menonton film akan mencakup ketujuh intelijensi tersebut: Logical(plot), Linguistic(dialog), Visual-Spatial(gambar, warna, dan simbol), Musik(suara dan lagu), Interpersonal(penuturan cerita), Kinestetik(pergerakan gambar), dan Intra-psychic(pergerakan batin tokoh). Semakin banyak intelijensi-intelijensi tersebut kita akses, akan semakin cepat pula pemahaman kita akan sesuatu, karena mereka semua menuntut metode memproses informasi yang berbeda-beda. Karena itu, menonton film akan menolong kita untuk lebih memahami diri dan orang lain, ‘mundur ke belakang’, untuk melihat lebih jelas ‘film raksasa’ yang bernama kehidupan, kita pun mengembangkan keahlian untuk melihat secara lebih obyektif.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan untuk Cinematherapy ini adalah tentang film yang bagaimanakah yang tepat untuk ditonton. Sebenarnya semua film dapat menjadi inspirator, namun demikian, secara umum, film-film drama lebih cocok untuk dijadikan terapi dibanding genre lainnya. Film animasi produksi Disney terkenal selalu memiliki pesan moral yang ingin diungkapkan pada audiensnya, seperti The Lion King, Cinderella, Beauty and The Beast, atau Ratatouille; sehingga sering masuk dalam daftar Cinematherapy berbagai Terapi Konseling di negeri Paman Sam itu.

Di Indonesia, pekembangan industri film sendiri, kaitannya dengan kualitas sebuah film untuk Cinematherapy, terbilang cukup positif. Tampaknya akhir-akhir ini penonton Indonesia mulai pintar untuk memilih film lokal yang akan mereka tonton, terlihat dari fakta bahwa film-film horor dan komedi seks semakin cepat periode tayangnya di bioskop-bioskop. Di tahun 2009 saya catat banyak film dari berbagai genre yang mulai membahas aneka ragam topik bermutu: ‘Jermal’ dan ‘Suci and the City’ tentang child-abuse dan trafficking; ‘Ruma Maida’ dan ‘Merah Putih’ tentang sejarah dan nasionalisme; ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Ketika Cinta Bertasbih’ tentang agama; ‘Cin[t]a’ yang menceritakan kehidupan etnis; ‘Garuda di Dadaku’, ‘King’, dan ‘Sang Pemimpi’ tentang anak, perjuangan, dan olahraga; ‘Bukan Wakil Rakyat’ tentang politik; ‘Merantau’ tentang seni beladiri, dll.

Penting bagi para film-makers untuk membuat film-film yang berkualitas, karena film dapat mengubah persepsi masyarakat tentang sesuatu, menginspirasi. Maka dari itu marilah kita berharap bahwa ke depannya kita akan disajikan film-film yang berkualitas dan sarat akan nilai-nilai moral.

Categories: Film, Opini dan Fakta

About bellabeebei

Setyabella Ika Putri. Mahasiswi prodi pendidikan dokter di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta :)

PROFIL AKU

bellabeebei

Setyabella Ika Putri. Mahasiswi prodi pendidikan dokter di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta :)


Popular Posts

A Beautiful Beach__L

A Beautiful Beach__LAGUNA BEACH AT SOUTH OF BENGKULU PROVINCE oleh Rienda ...

kataLog Terbaru Orif

aLOohAaa.... ^_^ Berbagai Produk SerbA disKon, daTang Menjumpai Anda di KataLog ...

Mencari Harta Karun

Niluh Novie ************************************ ... Ada seorang pria, katakanlah si A, dia sangat ...

Peduli & Berbagi

SEDEKAHPRODUKTIF Peduli Berbagi sdg gerakkan satu btk amal shadaqah dg tujuan ...

Saudara Kita di Paki

Dikutip dari tumblr. Ya, berapa banyak dari kita yang tahu tentang ...