22 Des 2012

Perbedaan antara Manusia, Malaikat, dan Syetan

Author: bennysaputra | Filed under: Perbedaan antara Manusia Malaikat dan Syetan

BAB I PENDAHULUAN

 

            Telah kita ketahui bahwa Allah SWT menciptakan malaikat, manusia, dan setan yang tercantum dalam QS. Adz Dzaariyat:56 yang artinya “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaku”. Dari ayat tersebut telah jelas bahwa Allah menciptakan manusia, malaikat dan syetan untuk menyembah kepadaNya. Kita sebagai mahluk Allah yaitu manusia harus mengetahui kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Kita sebagai manusia yang bertakwa kepada Allah harus meyakini dan percaya bahwa Allah menciptakan makhluk-makhluk ghoib yaitu malaikat dan Syetan (syetan). Dan kita harus mengetahui kelebihan dan kekurangan makhluk-makhluk tersebut supaya kita dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dengan segala apa yang telah ia ciptakan serta mengambil hikmah dan bersyukur dengan apa yang telah Ia berikan.

Adapun hal-hal yang akan kita bahas pada makalah ini antara lain definisi malaikat, Syetan, manusia. Tujuan diciptakan malaikat, syetan, dan manusia, perbedaan malaikat, syetan, dan manusia, keutamaan-keutamaan malaikat, syetan, dan manusia, kekurangan-kekurangan malaikat, syetan, dan manusia, hikmah diciptakannya manusia, syetan, dan malaikat.

Adapun tujuan penyusunan makalah ini yaitu memaparkan keutamaan-keutamaan malaikat, syetan, dan manusia supaya para pembaca mengetahui hal-hal tersebut. Setelah mengetahui diharapkan para pembaca mengambil hikmah-hikmah dari penciptaan manusia, syetan, dan malaikat.


BAB II PEMBAHASAN

 

1. MANUSIA

Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.

 

Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia.

 

Beberapa Definisi Manusia :

  1. 1.      Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yg mulia.
  2. 2.      Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas seperti Tuhan.
  3. 3.      Manusia adalah makhluk yg sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada permukaan serba-indera dan akibat saja, tetapi mengamati apa yg ada di luar penginderaan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yg benar, luas dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi.
  4. 4.      Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satunya makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
  5. 5.      Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu –quasi-miracolous– yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
  6. 6.      Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
  7. 7.      Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi dari pada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.
  8. 8.      Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.

Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan An-Nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah.

Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi ruhaniah.

Potensi fisik manusia adalah sifat psikologis spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir diberi ilmu dan memikul amanah. Sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, qalbu, dan nafsu. Akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Qur’an akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian. Dengan demikian di dalam Al Qur’an akal bukan hanya pada rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan dengan hikmah atau bijaksana.

Musa Asyari (1992) menyebutkan arti alqalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah, yaitu hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan, dan arif.

Akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam, sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu.

Adapun nafsu adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas.

Manusia juga memiliki beberapa karakteristik yang menjadikan manusia dapat membentuk  keadaan dirinya.

Diantara karakteristik manusia adalah :

1. Aspek Kreasi
2. Aspek Ilmu
3. Aspek Kehendak
4. Pengarahan Akhlak

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

 

Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat:56 bahwasannya:” Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya”. Yakni mengabdi dalam bentuk ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an.

 

Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam beribu-ribu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang kepada Al-qur’an dan hadist didalam menjalankannya. Begitupun sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah neraka yang sangat menyeramkan, sangat disayangkan bagi mereka yang terjerumus kedalamnya. Na’uudzubillaahi min dzalik

Dalam hadist shohih diungkapkan bahwa jalan menuju surga itu sangatlah susah sedangkan menuju neraka itu sangatlah mudah. Dua itu adalah pilihan bagi setiap manusia dari zaman dahulu hingga sekarang, semua memilih dan berharap akan mendapatkan surga, namun masih banyak sekali orang-orang yang mengingkari dengan perintah Allah bahkan mereka lebih tertarik dan terbuai untuk mendekati, menjalankan larangan-larangannya. Sehingga mereka bertolak belakang dari fitrahnya sebagai manusia hamba Allah yang ditugasi untuk beribadah. Oleh karenanya, mereka tidak akan merasakan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

FUNGSI DAN PERANAN MANUSIA

Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah.
Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :

 

  1. Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54)
    belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
  2. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)
    ilmu yang diajarkan oleh khalifatullah bukan hanya ilmu yang dikarang manusia saja, tetapi juga ilmu Allah.
  3. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 )
    Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya
    . Seperti apa yang telah dicontohkan oleh NABI SAW.

 

Manusia terlahir bukan atas kehendak diri sendiri melainkan atas kehendak Tuhan. Manusia mati bukan atas kehendak dirinya sendiri Tuhan yang menentukan saatnya dan caranya. Seluruhnya berada ditangan Tuhan Hukum Tuhan adalah hukum mutlak yang tak dapat dirubah oleh siapapun hukum yang penuh dengan rahasia bagi manusia yang amat terbatas pikirannya.

 

Kuasa memberi juga kuasa mengambil betapa piciknya kalau kita hanya tertawa senang sewaktu diberi. Sebaliknya menangis duka dan penasaran Sewaktu Tuhan mengambil sesuatu dari kita. Yang terpenting adalah menjaga sepak terjang kita melandasi sepak terjang hidup kita dengan kebenaran kejujuran dan keadilan? Cukuplah yang lain tidak penting lagi.

 

Suka duka adalah permainan perasaan. Yang digerakan oleh nafsu iba diri dan mementingkan diri sendiri. Tuhanlah sutradaranya, maka manusia manusia adalah pemain sandiwaranya Yang berperan diatas panggung kehidupan sutradara yang menentukan permainannya dan ingatlah bukan perannya yang penting melainkan cara manusia yang memainkan perannya itu.

Walaupun seseorang diberi peran sebagai seorang raja besar, Kalau tidak pandai dan baik permainannya ia akan tercela. Sebaliknya biarpun sang sutradara memberi peran kecil tak berarti peran sebagai seorang pelayan atau rakyat jelata kalau pemegang peran itu memainkannya dengan sangat baik tentu ia akan sangat terpuji dimata Tuhan juga dimata manusia.

Apalah artinya seorang pembesar yang dimuliakan rakyat bila ia lalim rakus dan melakukan hal hal yang hina. Maka ia akan hanya direndahkan dimata manusia dan juga dimata Tuhan. Sebaliknya betapa mengagumkan hati manusia yang menyenangkan Tuhan bila seorang biasa yang bodoh miskin dan dianggap rendah namun mempunyai sepak terjang dalam hidup ini penuh dengan kebajikan yang melandaskan kelakuannya pada jalan kebenaran. Maka mereka itulah yang paling mulia dimata Tuhan.

Wahai orang orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, diatasnya terdapat malaikat malaikat yang bengis dan sadis yang tidak mengabaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan

Itulah firman Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalankan peranannya selama hidup di muka bumi. Peran terhadap diri sendiri dan keluarga. Bukan diawali dari peran untuk keluarga atau pun negara tapi justru peran itu ditujukan untuk diri sendiri sebelum berperan untuk orang lain. Peranan seseorang harus dibangun dari dalam diri sendiri secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ketika sebuah pribadi telah menguasai peranannya untuk diri sendiri, barulah bisa berperan untuk orang lain, terutama keluarga.

TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH

Tanggungjawab Abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki dan bersifat fluktuatif ( naik-turun ), yang dalam istilah hadist Nabi SAW dikatakan yazidu wayanqusu (terkadang bertambah atau menguat dan terkadang berkurang atau melemah).
Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggungjawab terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan quu anfusakum waahliikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu, dengan iman dari neraka).

Allah dengan ajaranNya Al-Qur’an menurut sunah rosul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah untuk berlaku adil dan ikhsan. Oleh karena itu, tanggung jawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kemungkaran yang mengancam diri dan keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan solat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran (Fakhsyaa’iwalmunkar). Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari ummah yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.

TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH

Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.

Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.

Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah :“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.

Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidak seimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajad manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya:“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

2. MALAIKAT

Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malaka (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul. Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.”

Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim

PENGERTIAN IMAN KEPADA  MALAIKAT

Iman Kepada Malaikat yaitu meyakini tanpa ragu di dalam hati dan pikiran bahwa selain menciptakan manusia Allah juga menciptakan malaikat dari cahaya, dan bahwa malaikat itu adalah makhluk yang paling taat dan tidak sekalipun berbuat maksiat.

Dalil:

“Dan barang siapa yang kafir terhadap Allah, malaikat-malaikatNya , kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhirat maka sungguh dia dalam kesesatan yang nyata”. (AnNisa’: 136)

“Barang siapa menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikatNya dan Rasul-rasulNya dan jibril dan mikail maka Sungguh Allah musuh orang-orang kafir”. ( AlBaqarah: 98)

Sifat-sifat Malaikat

1. Wujudnya halus tak nampak mata “خلق الملائكة من نور ” (HR.Muslim)
2. Tidak laki-laki dan tidak perempuan dan tidak menikah. (lihat Asshafat:149-152)
3. Memiliki ajnihah. Lihat Surat Fathir ayat 1.
4. Hamba Allah yang mulia, tidak sekalipun menentang perintah Allah .( At Tahrim: 6)

HUKUM BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Sebagai umat islam beriman kepada malaikat hukumnya fardu ‘ain. Adapun perintah untuk beriman kepada malaiakat tersurah dalam firman Allah swt. di dalam surat Al Baqarah ayat 3 dan 285, dan hadis Nabi saw.

KEJADIAN MALAIKAT

Adapun mengenai malaikat Al-Quran tidak menjelaskan asal terjadinya, tetapi dijelaskan oleh hadis Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut.

“dari Aisyrah, Rosulullah saw. Bersabda : Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kamu semua.” (HR.Muslim)

KEDUDUKAN MANUSIA DAN MALAIKAT DI SISI ALLAH

Kedudukan manusia lebih sempurna dan mulia di sisi Allah ketimbang malaikat. Firman Allah swt. dalam QS AL-Isra ayat 70 :

“dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka dari darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra 17 :70)

Oleh sebab itu Allah swt. mengangkat menusia menjadi khalifah/ wakil Allah (QS 2: 30). Keterkaitan manusia dan malaikat terletak pada kedudukan dan tugasnya yang berbeda, yaitu sebagai berikut.

Manusia adalah hamba Allah swt. Mengangkat manusia menjadi khalifah  di muka bumi yang bertugas untuk mengelola dan memakmurkan bumi dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan makhluk lainnya, khususnya manusia (QS 2: 30, QS 33: 72)

Malaikat adalah hamba Allah swt. dan utusannya yang bertugas antara lain mengawasi/ menjaga perbuatan manusia saat melaksanakan fungsinya sebagai penguasa khalifah (QS 13 : 11).

Dengan demikian, sesungguhnya malaikat dan manusia adalah sama-sama utusan Allah swt. sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Hajj 22 :75 sebagai berikut.

“Allah memilih para utusan (-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Hajj 22 : 75)

PERBEDAAN MALAIKAT DENGAN MAKHLUK GHAIB LAINNYA

1. Perbedaan malaikat dengan iblis-setan

a. Malaikat

Malaikat sebangsa jin yang di ciptakan dari cahaya, ia patuh, taat, menjalankan perintah Allah, tidak sombong (QS 2: 34, QS 38: 73).

b. Iblis-Setan

Sebangsa jin yang tercipta dari api ingkar dan sombong serta tidak taat dan patuh atas perintah Allah SWT. (QS 2 : 34, QS 38 : 73-76, QS 17 : 27), iblis selalu menimbulkan perselisihan (QS 17 : 53), iblis menyesatkan semua manusia (QS 38 : 82).

2. Perbedaan manusia dengan malaikat

a. Malaikat

  1. Gaib
  2. Tercipta dari cahaya
  3. Tidak makan, minum dan tidur
  4. Selalu taat kepada Allah swt, setiap waktu
  5. Tidak mempunyai nafsu
  6. Memiliki akal pikiran yang bersifat statis
  7. Mengawasi/menjaga manusia sebagai khalifah
  8. Tidak berjenis kelamin

b.Manusia

  1. Nyata
  2. Tercipta dari tanah
  3. Makan, minum dan tidur
  4. Ada yang taat dan ada yang durhaka
  5. Mempunyai nafsu
  6. Memiliki akal pikiran yang dinamis
  7. Mengatur, mengelola bumi sebagai khalifah
  8. Berjenis kelamin

 

3. Tabiat malaikat

Tabiat malaikat diantaranya tertuang dalam Al Quran:

  • Surah An-Nahl ayat 49-50
  • Surah Al-Anbiya ayat 26-27

Jika kita sudah membaca ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tabiat malaikat diantaranya adalah sebagai berikut.

  • tidak akan pernah menyekutukan Allah, karena hanya kepada Allah bersujud.
  • Takut kepada-Nya dan tidak akan penah menyombongkan diri.
  • Melaksanakan apa yang diperintakan Allah tanpa membantah sedikitpun.
  • Malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan dan tidak pernah mendahului Allah, sebelum ada perintah dari-Nya.

4. Tugas malaikat

Tugas-tugas yang diemban oleh para malaikat menurut Al-Qur’an antara lain :

  1. Membawa kebaikan dan menyebarkan rahmat dari Allah SWT. “Demi (malaikat-malaikat) yang dikirim membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan yang menyebarkan rahmat seluas-luasnya, lalu yang membedakan sejelas-jelasnya (antara yang haq dan yang bathil), dan yang menyampaikan peringatan.” (QS. Al Mursalat : 1-5)
  2. Menyampaikan wahyu kepada nabi dan rasul. “Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Al Qur’an dibawa turun oleh Ruhul Amin (Malaikat Jibril).” (QS. As Syu’ara : 192-193)
  3. Memperkuat para nabi dan para muslimin. “…Dan Kami berikan kepada Isa , putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Kudus.” (QS. Al Baqarah : 253). Yang dimaksud dengan Ruhul Qudus jumhur mufassirin (kesepakatan para ahli tafsir) adalah malaikat Jibril.
  4. Mendatangkan azab bagi umat yang zalim dan mengingkari ayat-ayat-Nya. “Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mematikan mereka seraya memukul muka serta punggung mereka?” (QS. Muhammad : 27)
  5. Menolong manusia dengan memintakan ampun kepada Allah SWT. “Semua langit hampir pecah dari bagian atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuahnnya serta memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.” (QS. As Syuura : 5).
  6. Membantu meningkatkan rohaniah umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. “Dan datanglah tiap-tiap diri bersamanya (malaikat) pengiring dan (malaikat) penyaksi.” (QS Qaf : 21).
  7. Mencatat segala perbuatan manusia. “Dan sesungguhnya bagi kamu ada penjaga-penjaga (malaikat-malaikat) yang mulia yang mencatat, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithaar : 10-12).

Sebagaimana manusia, para malaikat juga memiliki jadwal giliran dalam menjalankan tugas mereka. Rasulullah bersabda : “Para malaikat (yang bertugas pada) malam hari dan malaikat (yang bertugas pada) siang hari selalu bergantian mendatangi kalian. Mereka berkumpul ketika pada waktu shalat Subuh dan Ashar. Kemudian malaikat malam naik ke langit, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka – padahal sesungguhnya Allah Maha tahu : ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab : ‘Kami tinggalkan ketika mereka sedang shalat, dan kami datangi mereka juga sedang shalat’.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa setiap hari baik siang maupun malam, ada malaikat yang turun ke bumi. Mereka tidak saja mencatat segala amal perbuatan manusia melainkan juga menebarkan kebaikan.

MALAIKAT PEMBANTU ALLAH ?

Allah SWT, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Gagah, dan Maha-Maha lainnya. Allah SWT. pasti dapat mengontrol semua mahkluk-Nya tanpa bantuan malaikat, lalu mengapa Allah SWT. menciptakan malaikat? Apakah Allah SWT. memerlukan bantuan malaikat dalam mengatur alam ini? Apa fungsi dan tujuan diciptakannya malaikat oleh Allah SWT?

Sepintas pertanyaan tidak perlu dijawab, karena hanya Allah-lah yang tahu pasti akan fungsi dan tujuan malaikat diciptakan. Namun jika tidak dijawab, pasti akan selalu terbesit dalam hati mereka bahwa Allah sebenarnya Maha Lemah, tidak mampu mengatur alam ini sendirian, Ia butuh bantuan malaikat, maka Ia menciptakan mereka.

Mungkin ini maksud Allah menciptakan malaikat. Allah tidak mungkin menampakkan diri-Nya di dunia (baca kisah Pertemuan Nabi Musa dengan Allah swt. di gunung Thurusina). Sedangkan malaikat dapat berkomunikasi dengan manusia dan berubah wujud sesuai yang dikehendaki oleh Allah SWT. Mungkin salah satu hikmah diciptakannya malaikat adalah untuk kepentingan manusia dan membantu segala keperluannya (baik yang berkaitan dengan rizki, amal, ibadah, dan lainnya). Karena manusia (orang pilihan tentunya) dapat berkomunikasi langsung dengan malaikat. Dan malaikat akan menjadi perantara untuk mengkomunikasikannya kembali pada Allah SWT.

Jadi sebenarnya Allah tidak membutuhkan malaikat, bahkan manusialah yang membutuhkannya. Dan sudah seharusnya manusia berterima kasih pada Allah SWT. yang telah menciptakan malaikat. Karena malaikat diciptakan untuk kepentingan manusia. Seluruh alam ini dan isinya diperuntukkan bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini (termasuk malaikat). Wallahu a’lam

3. SYETAN

Sebelum kita berbicara mengenai syetan, mari kita perjelas tentang jin. Jin menurut bahasa berasal dari lafatz ijtinan yang berarti istitar (sembunyi) dari lafazh jannatullailajanahuu yaitu jika malam menutupinya. Mereka sembunyi dan tidak terlihat oleh mata manusia maka disebut jin. Mereka bisa melihat manusia tetapi mereka tidak bisa dilihat oleh manusia sebagaimana firman Allah : Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu den suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.(AI-‘Araaf : 27) .

Jin menurut istilah adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil – dalil dari Alquran dan hadist yang menunjukan bahwa jin diciptakan dari api. Allah befirman: Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas (AI Hijr 27)
Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.(Ar Rahman 15)
Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhahhak berkata bahwa yang dimaksud dari firman Allah: dari nyala api yaitu “Dari api murni” dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas:”Dari bara api’. (Di dalarn tafsir Ibnu katsir).

Dalil dari hadis, riwayat dari Aisyaht bahwasannya Rasulullah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) bagi kalian. Yaitu dari air mani- (HR.Muslimdidalamkitab Az Zuhd dan Ahmad di dalam Af Musnad).

HAKIKAT SYETAN

Setan adalah makhluk yang kafir dari bangsa jin atau manusia, berdasarkan dalil dalil baik dari Al-Qur’an maupun As Sunah. Tidaklah syetan disebut kecuali selalu berarti kekafiran dan keburukan. Berbeda dengan jin, sebagian mereka ada yang kafir dan sebagian yang lain ada yang mukmin.

Setan menunjukkan arti setiap yang sombong dan congkak yang diambil dari kata syathana yang berarti jauh dari kebaikan atau dan kata syaatha yasyiithu yang berarti hancur binasa atau terbakar. Maka setiap yang congkak, sombong serta tidak terkendali baik dari kalangan jin, manusia atau hewan maka disebut syetan.

Termasuk dalam golongan syetan adalah Iblis dan para pengikutnya.
Permusuhan antara manusia dengan syetan telah menjadi sejarah yang cukup lama, dimulai sejak penolakan iblis terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.
Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis : Saya lebih baik dari padanya, engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (AIA’raaf 12). Ibis mendahulukan logika dari pada perintah Allah dan menempatkan dirinya di atas kebenaran dengan menghukumi sesuatu sesuai dengan sebab akibat yang dia anggap benar sementara jelas menentang Allah. Padahal apabila telah datang dalil yang jelas maka yang jelas dibutuhkan ijtihad. Yang ada hanya mentaati dan melaksanakan perintah yang terkandung dalam dalil tersebut, iblis sangat faham bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Pencipta, Maha Pemilik, Maha Pemberi Rizki dan Maha Pengatur tiada sesuatpun yang terjadi kecuali atas izin dan ketetapan Nya, akan tetapi dia tidak mentaati Allah karena logikanya yang salah sebagaimana ucapanya yang dsebutkan di dalarn firman Allah :Menjawab iblis: Saya lebih baik dari padanya Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (AI A’raaf 12)
Maka balasan yang adil atas keberanian Iblis dalam menentang perintah Allah sebagaimana disebutkan dalarn firman Nya: Allah berfirman: Turunlah kamu dari Surgaku, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang orang yang hina. (AIA’raaf13).

Pengetahuan dan keyakinan iblis terhadap wujud dan sifat Allah tidaklah bermanfaat dan juga siapa saja yang mengedepankan logika daripada perintah Allah sehingga ia bisa dengan leluasa menerima atau menolaknya atau berhukum dengan perintah Allah tetapi menolak putusan Nya, dalam hal ini maka ilmu dan kepercayaan nya tentang Allah tidaklah bermanfaat. Jadi iblis dinyatakan kafir dengan disertai ilmu dan kepercayaan yang sangat cukup. Allah berfirman: Iblis menjawab, Beritangguhlah saya sampai waktu mereka
dibangkitkan.  Allah berfirman sesungguh nya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. Iblis menjawab karena Engku menghukum saya tersesat saya benar-benar akan (menghalang – halangi,) mereka dari jalanmu yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)
(Al-A’raaf 14 -17).

Keinginan iblis yang sangat kuat dan jahat untuk menyesatkan anak Adam menyingkap tabiat jahat iblis. Dia adalah makhluk yang benar benar jahat bukan sifat yang hanya bersifat sementara, dia makhluk pembangkang dan terkutuk yang murni jahat.
Iblis menjadi makhluk terlaknat dan terkutuk serta memiliki sifat sombong lagi jahat dan Allah memberikan kesempatan hidup yang sangat panjang. Terlaknat dan terkutuklah iblis dikarenakan maksiat sombong kepada Allah Yang menjadikan dia makluk terhina padahal sebelumnya dia termasuk makhluk yang terhormat karena penolakannya terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam mengakibatkan dia terusir dari rahmat Allah.

Karena itu iblis basumpah dan berjanji untuk menyesatkan anak Adam dari jalan Allah yang lurus dan menutup rapat jalan bagi setiap orang yang ingin melintasinya, Menutup rapat semua jalan menuju keimanan dan ketaatan yang bisa mendatangkan ridha Allah. Dia tidak akan berhenti menggoda setiap manusia dari seluruh penjuru untuk menghalangi mereka dari keimanan dan ketaatan, Allah menjawab ikrar iblis dengan firman Nya: Allah berfirman, Keluadah kamu dari Surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu benar-benar akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya. (AI A’raaf l8 )

Dalam hal ini Allah memberi kesempatan bagi iblis dan pengikutnya untuk menyesatkan dan Allah juga memberi kepada anak Adam kesempatan memilih sebagai ujian dan cobaan dan semua itu berdasarkan kehendak Allah yang ditangan-Nya seluruh keputusan di alam semesta ini, dengan kehendak Allah iblis dijadikan makhluk yang memiliki keistimewaan tertentu.

Tetapi Allah tidak membiarkan berjuang tanpa petunjuk dan pedoman serta senjata untuk melawan kejahatan iblis. Alquran dan As Sunnah yang Shahih sudah cukup sebagai petunjuk dan senjata untuk berlaga dalam pertempuran.

SYETAN SEBAGAI UJIAN?

Dengan adanya setan dan iblis, maka manusia berjuang menghadapi musuh Allah dan musuh manusia itu, dan dengan demikian ia dapat meraih kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Dengan adanya iblis dan setan, manusia memanjatkan permohonan perlindungan kepada Allah, sehingga sekian keburukan dapat ditampak dan banyak kemaslahatan dapat dipetik. Dengan adanya iblis dan setan serta sanksi yang diperolehnya, bertambah rasa takut dan pengabdian malaikat dan orang-orang beriman kepada Allah. Mereka takut jangan sampai mendapat murka, sebagaimana iblis. Dan ini pada gilirannya menambah pula pengabdian mereka. Disamping itu, peristiwa yang dialami iblis itu dapat menjadi pelajaran berharga bagi setiap hamba Allah.

Allah SWT menciptakan banyak makhluk, antara lain menciptakan makhluk yang hanya dapat taat kepada-Nya, yakni malaikat, ada juga yang tidak dapat taat atau tidak juga durhaka, seperti benda mati, tumbuhan dan binatang. Jenis ketiga adalah yang berpotensi taat atau durhaka, itulah manusia dan jin. Tidak nampak kesempurnaan kekuasaan kodrat  Ilahi jika jenis ketiga ini tidak tercipta. Sebagian dari jenis ketiga inilah yang menjadi setan. Jawaban ini, berpangkal pada pandangan tentang kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT dalam menciptakan aneka makhluk.

Adapun kehadiran iblis dan setan sebagai ujian, maka penjelasan adalah sebagai berikut : Seperti di maklumi makhluk hidup jelas lebih mulia dari pada makhluk tak bernyawa yang bertanggung jawab dari makhluk hidup seperti jin dan manusia lebih utama dari yang tidak bertanggung jawab, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Yang mampu mempertanggung jawabkan setiap tindakan lebih tinggi kedudukannya dan lebih mulia disisi Allah dari makhluk hidup yang gagal mempertanggung jawabkan tindakan-tindakannya. Nah dari sini kemudian muncul pertanyaan : Bagaimana mengetahui yang gagal dan yang berhasil ? Tentulah melalui cobaan dan ujian ! Oleh sebab itu kehidupan manusia dan jin sebagai makhluk bertanggung jawab tidak luput dari ujian dan cobaan, ini merupakan suatu keniscayaan.

“(Allah)Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kami, siapa diantara kami yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” .(QS. Al-Mulk 67:2)

Apakah kami mengira, bahwa kami akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang sabar“.(QS. Al-Imran 3:142)

Salah satu cara Allah melakukan ujian adalah dengan menciptakan penggoda yang dalam hal ini adalah setan. Disisi lain, manusia mendambakan kebajikan dan kebahagiaan. Bagaimana mungkin kita mengetahui kebaikan kalau tidak ada kejahatan ? Bagaimana kita merasakan nikmatnya kejujuran dan ketulusan, kalau tidak pernah tahu atau mengalami pengkhianatan dan keculasan? Jika demikian, harus ada yang tampil, bukan saja dalam bentuk buruk, tetapi juga mengantar orang lain menjadi buruk, dan itulah syetan. Sungguh tepat ungkapan yang menyatakan : Manusia mengenal kebaikan, sejak ia mengenal syetan. Bagi makhluk yang diuji manusia atau jin kebaikan bukan sekedar menjauhi keburukan atau ketidak mampuan melakukannya. Kebaikan dalam konteks ujian Allah adalah kemampuan melakukan yang baik dan yang buruk kemudian memilih untuk melakukan yang baik ditengah rayuan. Disanalah terletak keunggulan manusia atas malaikat, sehingga mereka diperintahkan sujud kepada Adam.

Kalau demikian, adanya syetan penggoda merupakan keniscayaan yang diakibatkan oleh kehendak Allah menguji manusia. Karena itu pula manusia tidak dapat melihat syetan atau jin paling tidak dalam bentuk aslinya. Bagaimana mungkin ia diperlihatkan kalau tujuan penciptaannya adalah ujian ? Apakah bisa menduga ada yang akan mengikuti atau memperkenankan ajakannya jika diketahui bahwa yang diikuti dan yang mengajak adalah musuh yang akan menjerumuskan ? Pasti tidak akan ada. Kalau pun ada, maka ia tidak mengalami ujian.

Selanjutnya harus ditegaskan, bahwa keberadaan setan perayu dan penggoda adalah kehendak Allah jua. Bacalah Quran surah Al-An’am 122.

 

KESIMPULAN

            Manusia, malaikat, syetan merupakan mahkluk ciptaan Allah SWT. Meskipun sama-sama mahkluk ciptaan, masing-masing darinya mempunyai perbedaan, keutamaan, serta kekurangan. Dilihat dari berbagai aspek, diantaranya :

  • Manusia adalah mahkluk ciptaan Allah yang terbuat dari tanah, malaikat adalah sebangsa jin yang terbuat dari cahaya, sedangkan syetan sebangsa jin yang terbuat dari api.
  • Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini yang mempunyai tanggung jawab serta amanat untuk menjaga kelestarian serta kesejahteraan bumi. Malaikat adalah mahkluk Allah yang senantiasa taat dan patuh, tidak membangkang apalagi ingkar, bertugas mengawasi khalifah yaitu manusia. Syetan adalah mahkluk Allah yang amat terlaknat, ingkar, kafir, serta menyesatkan cucu Adam dari jalanNya yang amat lurus, selamanya akan tetap menggiring manusia ke neraka.
  • Manusia mempunyai tabiat sebagai mahkluk bebas (berfikir dan Memilih), kesadaran serta nafsu. Malaikat mempunyai tabiat sebagai mahkluk yang taat dan patuh kepada Allah, sekalipun tidak akan pernah mendahuluiNya dan selalu melaksanakan tugas yang di kehendakiNya. Syetan mempunyai tabiat sebagai mahkluk yang angkuh, sombong, congkak, ingkar, kafir, jahat, dan menyesatkan
  • Manusia mempunyai fungsi, peranan, serta tanggungjawab yang intinya mengarah pada keseimbangan dirinya sendiri, orang sekitarnya (keluarganya), masyarakat (ummat) sesuai dengan ketentuan Allah. Malaikat bertugas mengawasi khalifah yang sedang bertanggung jawab serta menyebarkan rahmat atas kehendakNya dan bertugas sesuai yang telah di kehendakiNya. Syetan menyesatkan dan mengantarkan ke jalan yang sesat bagi cucu Adam supaya menjadi ujian bagi manusia mencari kedudukan yang tinggi di sisinya
  • Manusia adalah mahkluk yang paling mulia disisi Allah dari pada malaikat karena manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah dan malaikat mengawasi manusia yang sedang bertugas sebagai khalifah, sedangkan syetan mahkluk terkutuk yang di usir oleh Allah dari rahmatNya karena kesombongannya yang lebih mendahulukan logika daripada perintah Allah sehingga ia bisa dengan leluasa menerima atau menolaknya atau berhukum dengan perintah Allah tetapi menolak putusan Nya
  • Dan lain sebagainya.

Maka dengan itu semua telah terlihat jelas perbedaan dari semuanya, dengan mengetahui itu semua kita dapat lebih meningkatkan keimanan kita serta ketaqwaan kita kepada Allah SWT agar kita lebih mensyukuri apa yang telah di kehendakiNya dan mengambil pelajaran dari contoh yang sudah ada agar kita mawas diri serta menghindari dari godaan syetan agar kita tetap berjalan di pada jalan Allah SWT yang amat lurus. Mudah-mudahan kita menjadi mahkluk yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Amiin…

Leave a Reply