beti ratna sari

Just another Blog UMY site

Pemberdayaan Kearifan Lokal dalam Penanganan Krisis Pangan

Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Titi Tentrem Kerta Raharja. Sebuah peribahasa yang menggambaran negeri Indonesia yang makmur, sejahtera, serta memberikan kehidupan yang teratur, selalu berkembang, hidup tenteram, bahagia, dan selamat. Peribahasa tersebut menjadi sebuah ironi karena masalah pangan selalu menjadi masalah klasik di negeri yang dikatakan subur ini. Ibarat tikus mati dilumbung padi, bangsa ini mengalami krisis pangan bukan karena tidak mempunyai bahan makanan tetapi karena tidak bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Kerawanan pangan selalu menjadi masalah serius negeri ini. Menjadi hal yang sangat kontradiktif saat melihat bahwa kelaparan justru terjadi di tengah melimpahnya ketersediaan pangan. Krisis pangan tidak hanya terjadi di daerah-daerah yang miskin, akan tetapi kota-kota besar pun mengalami masalah yang sama.

Apabila kita tarik benang merah, awal masalah krisis pangan di Indonesia terjadi karena di saat Orde baru pemerintah memaksakan kebijakan beras sebagai bahan makanan pokok bagi seluruh rakyat Indonesia. Orde Baru dengan besar kepala membanggakan mampu berswasembada beras pada tahun 1984, padahal dibalik semua itu penuh dengan manipulasi. Beras dipaksakan menjadi bahan makanan utama menggeser bahan makanan lain seperti sagu, jagung, atau singkong, karena dianggap mempunyai nilai prestise yang lebih tinggi. Penganekaragaman bahan pangan yang didengungkan pemerintah seolah hanya wacana dan kebijakan tersebut dirusak oleh pemerintah sendiri. Ketahanan pangan di Indonesia menjadi sangat rentan karena negeri ini masih mengandalkan bahan pangan hasil impor. Pada 1998, pemerintah menyerahkan kedaulatan pangan kepada pasar bebas akibat tekanan WTO (World Trade Organization). Akibatnya, petani padi, jagung, kacang kedelai, dan buah-buahan hancur semua. Negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan untuk mengatur produksi, distribusi, dan konsumsi di sektor pangan. Kondisi ini diperparah dengan program privatisasi sektor pangan, yang notabene merupakan kebutuhan pokok rakyat.

Sementara itu, subsidi domestik untuk petani terus berkurang, baik menyangkut pengolahan tanah, irigasi, pupuk, bibit, teknologi, maupun insentif harga. Dengan sistem kebijakan dan praktek tersebut, Indonesia kini bergantung pada pasar internasional. Menjadi petani saat ini tak ubahnya seperti menjadi petani di jaman penjajahan, yakni menjadi buruh di tanahnya sendiri. Petani hanya bisa mengikuti kebijakan pemerintah, mulai dari penyediaan bibit, pupuk, hingga penjualan hasil pertanian. Padahal, pemerintah seringkali tak konsisten dengan program yang dijalankan. Kelangkaan pupuk, teknologi pertanian yang tidak dikuasai dengan baik, dan harga panen yang tidak sesuai dengan biaya produksi selalu menjadi masalah bagi petani yang sulit untuk dicari jalan keluarnya. Keadaan ini membuat pekerjaan sebagai petani tidak banyak dilirik oleh generasi muda dan banyak ditinggalkan ataupun hanya sebagai sambilan.

Masyarakat lebih memilih menjadi buruh pabrik atau pekerjaan yang lain karena mereka beranggapan pekerjaan itu lebih menjanjikan dan tak beresiko merugi dibandingkan jika mereka menjadi petani. Apabila keadaan ini dibiarkan terus-menerus terjadi, maka krisis pangan akan semakin parah karena negara ini tak mampu memproduksi pangannya sendiri. Mau tak mau, pemerintah Indonesia harus mengantisipasi secara serius berbagai peringatan tersebut. Tanpa antisipasi yang serius, boleh jadi gejolak krisis pangan ini akan menjelma menjadi bola liar yang sangat membahayakan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Satu-satunya jalan keluar atas masalah diatas adalah melaksanakan kedaulatan pangan. Dasarnya adalah kemandirian yang berarti terpenuhinya hak masyarakat untuk memiliki kemampuan dalam memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri. Ketersediaan pangan maupun sisi distribusi untuk menjamin akses masyarakat terhadap pangan menjadi hal mutlak yang harus dimiliki negeri ini. Negara harus mandiri dalam menentukan kebijakan pertanian, bukan di bawah bayang-bayang badan perdagangan internasional ataupun korporasi kapitalisme global. Optimalisasi potensi ini tentu dapat dilakukan sehingga Indonesia dapat memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri, tidak bergantung pada bahan makanan ataupun hasil pertanian impor.

Sudah saatnya pemerintah kembali kepada kearifan lokal yang dimiliki untuk mengatasi masalah krisis pangan ini. Langkah pertama, penerapan manajemen hijau mutlak dilakukan kembali, agar petani bisa mandiri dalam memperoleh benih, menyediakan pupuk, maupun mengolah lahan pertaniannya. Diperlukan penyuluhan pertanian modern berbasis kearifan lokal hingga pelosok desa, sehingga petani tidak harus bergantung dengan pupuk ataupun pestisida buatan pabrik yang dikuasai oleh para pemodal besar dan cenderung sulit dijangkau oleh petani kecil. Petani diberikan bekal pengetahuan untuk membuat pupuk maupun pestisida alami yang telah tersedia di sekitar mereka.

Langkah kedua adalah penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal yang terintegrasi dan berkesinambungan. Indonesia sangat kaya varian sumber pangan, sentuhan teknologi pengolahan dan penyuluhan yang berkelanjutan akan mampu menggantikan bahan makanan impor seperti gandum dan yang lain.

Langkah ketiga adalah pembangunan iklim usaha tani yang kondusif dan produktif. Pemerintah dituntut membangun dan memperbaiki berbagai sarana infrastruktur produksi maupun distribusi, menjamin ketersediaan sarana produksi, mempermudah akses kredit berbunga lunak untuk petani kecil, serta memperkenalkan berbagai inovasi teknologi.

Langkah terakhir, pemerintah menjamin harga jual yang menguntungkan bagi produk yang dihasilkan petani. Insentif harga jual yang memadai akan berpengaruh sangat signifikan terhadap kegairahan petani dalam meningkatkan produksi. Apabila semua langkah ini dapat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka akan tercipta pondasi pangan yang kuat dan tak tergoyahkan oleh harga pasar di dunia.

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

betinanana


Popular Posts

Pentingnya Pengenala

Dalam era globalisasi saat ini banyak masyarakat yang menganak tirikan ...

Kesan atau komentar

Allahmdulillah..Itu yang dapat saya ucapakan saat pertama kali mengetahui saya ...

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Pemberdayaan Petani

Pemberdayaan Kearifan Lokal dalam Penanganan Krisis Pangan Gemah Ripah Loh Jinawi, ...

Pemanfaatan Blog unt

MENGINTEGRASIKAN FUNGSI BLOG DALAM PROSES BELAJAR MENGAJARProses belajar mengajar adalah ...