Orang yang haram di nikahi

  islam   December 4, 2011

TUGAS HUKUM PERDATA ISLAM INDONESIA TENTANG PERNIKAHAN II

ORANG-ORANG YANG HARAM DINIKAHI: KARENA HUBUNGAN NASAB, KARENA HUBUNGAN PERSUSUAN, KARENA HUBUNGAN PERKAWINAN; KARENA BEDA AGAMA; KARENA PERZINAHAN; ISTERI ORANG, DAN KARENA ‘IDDAH; KETENTUAN HUKUM POSITIF TENTANG HALANGAN PERNIKAHAN.

DOSEN PENGAMPU

UST: HOMAIDI HAMID S.Ag. M.Ag

DI SUSUN OLEH :

QORI FAJRILLA 20090730061

MUHAMMAD RIDWAN 20090730069

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

 

 

Pada pembahasan ” orang yang haram di nikahi ” ada beberapa kategori orang yang haram untuk di nikahi, antara lain kategori tersebut adalah sebagai berikut.

A. karna hubungan nasab

Berkaitan dengan hubungan nasab perempuan yang haram di nikahi sudah di jelaskan allah swt dalam surat an-nisa’ ayat 23 :

 

” di haramkan bagi kamu ibu-ibu kamu, anak perempuan kamu, saudara perempuan kamu, bibi dari pihak ayah kamu, bibi dari pihak ibu kamu, anak perempuan saudara perempuan,”

Yang di maksud dengan nasab adalah secara bahasa diartikan dengan kerabat, keturunan atau menetapkan keturanan[1].

Sedangkan menurut istilah ada beberpa definisi tentang nasab, diantaranya yaitu :

a. nasab adalah keturunan ahli waris atau keluarga yang berhak menerima harta warisan karena adanya pertalian darah atau keturunan[2]

b. Nasab adalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah sebagai salah satu akibat dari perkawinan yang sah. Dan nasab merupakan salah satu fondasi yang kokoh dalam membinan suatu kehidupan rumah tangga yang bisa mengikat pribadi berdasarkan kesatuan darah.

c. Sedangkan menurut Wahbah al-Zuhaili nasab didefinisikan sebagai suatu sandaran yang kokoh untuk meletakkan suatu hubungan kekeluargaan berdasarkan kesatuan darah atau pertibangan bahwa yang satu adalah bagian dari yang lain. Misalnya seorang anak adalah bagian dari ayahnya, dan seorang ayah adalah bagian dari kakeknya. Dengan demikian orang-orang yang serumpun nasab adalah orang-orang yang satu pertalian darah.[3]

d. Sedangkan menurut Ibn Arabi nasab didefinisikan sebaga ibarat dari hasil percampuran air antara seorang laki-laki dengan seorang wanita menurut keturunan-keturunan syar’i.[4]

 

Dari beberapa definisi tentang nasab di atas dapat diambil kesimpulan bahwa nasab adalah legalitas hubungan kekeluargaan yang berdasarkan tali darah, sebagai salah satu akibat dari pernikahan yang sah. Dan yang haram di nikahi karna hubungan nasab ibu kandung,anak perempuan kandung, saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, bibi dari piha ibu, anak perempuan saudara laki-laki, anak perempuan saudara perempuan.[5]

  • Ibu : perempuan yang melahirkan kita , termasuk dalam pengertian yaitu ibu sendiri, ibunya ibu, neneknya ibu,ibunya bapak, neneknya bapak dan seterusnya ke atas.
  • Anak perempuan : semua anak perempuan yang di lahirkan atau cucu perempuan dan terus kebawah. Termasuk dalam pengertian anak perempuan yaitu anak perempuan kandungmu dan anak-anak perempuannya.
  • Saudara perempuan : semua perempuan yang lahir dari ibu bapakmu atau dari salah satunya.
  • Bibi : semua perempuan yang jadi saudara ayahmu atau ibu, baik kandung,seayah atau seibu dan seterusnya keatas yaitu saudara kakek atau nenek,saudara kakek buyut atau nenek buyut.
  • Anak perempuan saudara laki-laki: yaitu anak perempuan saudaramu laki-laki baik sekandung maupun tiri. Termasuk juga dalam pengertian ini anak peremp uan saudara perempuan.

 

 

B. karna hubungan persusuan

Di haramkan kawin karena susuan sebagaimana haramnya karena adanya hubungan nasab : ibu, anak perempuan , saudara perempuan , bibi dari ayah, bibi dari ibu,anak perempuan dari saudara laki-laki dan anak perempuan dari saudara perempuan.

Perempuan seperti tersebut diatas di terangkan dalam firman allah swt dalam surat an-nisa’ ayat 23:

 

Artinya : diharamkan atas kamu ibumu,anak perempuanmu,saudara perempuanmu, saudara perempuan bapakmu, saudara perempuan ibukmu, anak perempuan dari saudara laki-laki, anak perempuan dari saudara perempuan, ibu yang menyusukanmu,saudara perempuan dari sesusuanmu.

Karena itu menurut ayat ini ibu-susu sama dengan ibu kandung dan di haramkan bagi laki-laki yang di susui kawin dengan ibu-susunya dan semua perempuan yang haram di nikahinya dari pihak ibu kandung. Jadi yang haram di kawininya yaitu :

  • Ibu susu , karena ia telah menyusukan maka di anggap sebagai ibu dari yang menyusu.
  • Ibu dari yang menyusui , sebab ia merupakan neneknya juga
  • Saudara perempuan dari ibu susunya, karena menjadi bibi susunya
  • Ibu dari bapak susunya , karena ia merupakan neneknya juga.
  • Saudara perempuan bapak susunya, karena menjadi bibi susunya
  • Cucu perempuan ibu susunya, karena mereka menjadi anak perempuan saudara laki-laki dan perempuan sesusuan dengannya
  • Saudara perempuan sesusuan baik yang sebapak atau seibu atau sekandung

Susuan yang mengharamkan

Secara zhahir segala macam susuan dapat menjadi sebab haramnya perkawinan. Tetapi sebenarnya ini tidak benar,kecuali karena susuan yang sempurna,yaitu dimana anak menyusu tetek dan menyedot air susunya, dan tidak berhenti kecuali atas kemauannya sendiri tanpa ada pakasaan dari yang menyusui[6].

Jika ia menyusu hanya sekali atau dua kali saja dan itu tidak mengenyangkan, maka itu tidak bisadi katakan menjadi sebabnya haramnya suatu perkawinan, karena hal itu bukanlah di sebut menyusu dan tidak pula bisa mengenyangkan. Aisyah berkata, Rasulullah s.a.w.telah bersabda :

 

“ tidak haram kawin kawin karena sekali atau dua kali susuan.”(HR.Jama’ah,kecuali Bukhori )

Maksud sekali menyusu dalam hadits ini adalah menyedot sebentar air susunya lalu masuk ke rongga perutnya namun tidak sampai menibulkan rasa kenyang. Para ulama mempunyai beberapa macam pendapat di dalam masalah ini yang ringkasnya sebagai berikut :

  1. Sedikit susuan ataupun banyak sama mengharamkan suatu perkawinan, berdasarkan ke umuman ayat surat an-nisa’ ayat 23. Juga menurut riwayat Bukhori dan muslim dari ‘Uqbah bin Harits, katanya :

 

 

“ saya pernah kawin dengan Ummu Yahya puteri abu ihab, lalu datanglah seorang budak perempuan hitam seraya menerangkan : “ kamu berdua ini dulu pernah aku susui “. Lalu saya datang kepada nabi menceritakan hal tersebut. Maka sabdanya:” bagaimana lagi, toh sudah terjadi?karena itu ceraikanlah dia.

Di sini nabi tidak menanyakan tentang berapa kali jumlah susuan itu terjadi, dan dengan beliau tidak menyebutkan ini menunjukan bahwa masalah bilangan tidak jadi persoalan, tetapi yang pokok adalah menyusunya, jadi intinya kalau sudah menyusu baik itu sedikit ataupun banyak tetap menjadi haramnya terjadi suatu perkawinan, sebab untuk besarnya tulang dan tumbuhnya daging dengan menyusu bisa terjadi karena sedikit menyusu ataupun banyak. Demikianlah menurut pendapat Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyab, Al Hasan Basri, Zuhri, Qatadah, Hammad, ‘Auzai, Tsauri,Abu hanifah, Malik dan sebuah riwayat dari Ahmad[7].

  1. Yang mengharamkan perkawinan susuan yang tidak boleh kurang dari lima kali dalam waktu yang berbeda, sebagaimana riwayat Muslim, Abu Daud, Nasaa’i dari Aisyah, katanya : ada salah satu dari riwayat al-qur’an yang berbunyi “ sepuluh kali susuan seperti biasanya dapat mengharamkan perkawinan,kemudian di hapus dengan ayat lain yang berbunyi: lima kali sebagaimana biasa. Lalu Rasulullah wafaat sedangkan lima kali tadi ada di dalam al-qur’an.

keterangan ini mengkhususkan keumuman ayat alqur’an dan sunnah nabi di atas. Keterangan yang mengkhususkan dalil yang masih umum berarti penjelasan, dan bukan membatalkan hukum yang umum atau mengecualikan.andaikan tidak ada dalil yang bertentangan dengan pendapat ini, padahal ayat alqur’an baru di anggap sah kalau riwayatnya mutawatir, dan di takdirkan keterangan aisyah itu benar, tentulah di ketahui juga oleh mereka yang tidak sependapat dengan pendapat ini, lebih-lebih oleh imam Ali dan Ibnu Abbas, andaikata pendapat ini tidak di pertentangkan dengan keterangan-keterangan lain, tentulah pendapat ini di anggap paling kuat. Tetapi karena ada keterangan-keterangan lain yang menentangnya maka imam bukhori meniggalkan riwayat ini,demikianlah pendapat Abdullah bin Mas’ud, salah satu riwayat yang diterima dari aisyah, abdullah bin zubair , Atha’, Thawus, Ahmad dalam mazhab dhahirnya, Ibnu Hazm dan kebanyakan ahli hadits.[8]

  1. susuan yang mengharamkan itu cukup dengan tiga kali menyusui atau lebih, sebagaimana sabda nabi s.a.w. bersabda:

 

“tidaklah mengharamkan karena sekali atau dua kali susuan”

Dala, hadits ini jelas sekali di jelaskan bahwa apa bila Cuma sekali atau dua kali susuan saja itu tidaklah mengharamkan sebuah perkawinan, jadi yang mengharamkan menurut hadits ini adalah ketika sudahmelebihi dari tiga kali susuan. Demikian pendapat Abu Ubaid, Abu Tsaur, Daud Adh-Dhahiri, Ibnul Mundzir dan sebuah riwayat dari Ahmad.

Air susu ibu-susu secara mutlak mengharamkan.

Minum air susu ibu-susuan mengharamkan, baik yang langsung di minum dari puting payudara sang ibu, ataupun melalui sedotan atau di lewatkan hidungnya, asalkan semua nya tadi mendatangkan rasa kenyang bagi sang bayi, sekalipun sekali susuan itu dapat menumbuhkan daging dan menguatkan tulangnya, maka susuan secara ini sudah mengharamkan.

Air susu campuran

Bilamana air susu perempuan bercampur dengan makanan lain atau minuman atau obatobatan atau susu kambing dan lain sebgainya, lalu di minumkan kepada bayinya, bilamana air susu perempuannya lebih banyak maka ia mengharamkan dan jika air susu perempuannya lebih sedikit maka ia tidak mengharamkannya, demikian pendapat golongan Hanafi, Mazni dan Abi tsaur.

Ibnul qayyim dari golongan Maliki berkata : bilamana air susu nya lebih sedikit dari air lainnya atau air yang mencampurinya, lalu di minumkan kepada bayi, maka ia tidak mengharamkan.

Dalam hal ini kaidah yang terkenal yaitu bila airnya lebih banyak dari pada air susu maka itu adalah dianggap air, dan sebaliknya apa bila air susu lebih banyak dari pada air maka itu di anggap air susu.

 

 

Sifat susuan

Perempuan menyusui yang air susunya menjadikan haramnya perkawinan yaitu semua perempuan yang biasa mengeluarkan air susunya dari tetek, baik sudah dewasa ataupun belum, sudah tidak berhaid atau masih berhaid, punya suami maupun tidak bersuami, sedang hamil atau tidak hamil[9].

Umur yang di susui

Anak susuan yang haram kawin dengan ibu susuannya bila mana umurnya sebelum dua tahun, yaitu masih merupakan masa menyusui anakanak sebagaimana di terangkan ketentuannya oleh allah dalam firmannya :

 

dan ibu-ibu yang menyusui anak-anaknya dua tahun penuh bagi siapa yang ingin menyempurnakan penyusuannya” ( Al-baqarah : 233 )

Oleh karena anak susuan dalam masa ini masih kecil dan makanannya cukup dengan susu, begitu pula pertumbuhan badannya dengan susu juga, sehingga ia merupakan bahagiaan dari pada ibu-susunya, yang karena itu dia sama-sama menjadi muhrim bagi ibu dan anak-anaknya.

Pendapat imam malik : susuanterhadapanak yang sudahbesarataulewatumurduatahun, baiksedikitataubanyaktidaklahmengharamkan, dan air susunya di anggapsamadengan air, katanya pula bilaanakkecil di pisahkansebelumumurduatahunataumemenagperlu di putuskansusuannya, makabilamanakemudian di susuilagi, semuanyatidakmengharamkan.[10]

Susuan kepada anak yang sudah besar

Menurut jumhur ulama susuan kepada anak yang sudah besar atau ( lewat umur dua tahun ) tidaklah mengharamkan,karena alas an-alasan sebagaimana tersebut di atas, akan tetapi sebagian ulama salaf dan mutakhir berpendapat tetap mengharamkan, sekalipun yang di susui sudah berusia lanjut ( bukan usia menyusui lagi ), namun di anggap sama dengan susuan kepada anak kecil.

Kesalahan bank susu modern

Sebagaimana telah di beritahukan dalam surat An-nisa’ ayat 23, pernikahan di larang antara seorang dengan saudara sepersusuannya sama dengan saudara kandungnya. Hal itu menyebabkan perkawinannya terlarang dalam islam. Namun sayangnya, pada masa sekarang ini banyak di dirikannya bank-bank susu tidak hanya di negara eropa namun juga di negara-negara muslim, yang mana apa bila bayi di lahirkan nantinya dan mengkonsumsi ASI dari bank susu tadi maka terdapat kemungkinan terjadi berbagai ikatan persaudaraan sesusuan yang mana apa bila terjadi pernikahan akan mengharamkan pernikahan tersebut, karna apa bila terjadi pernikahan dan sesungguhnya mereka tidak mengetahui satu sama lain, perkawinan itu tidak hanya di haramkan di agam islam namun juga di agama-agama lain[11]. Nabi s.a.w. bersabda :

benar , persusuan mengharamkan seperti haramnya persaudaraan darah”.[12]

Saksi dalam penyusuan

Saksi seorang perempuan dalam masalah susuan dapat di terima bilamana ia melakukannya dengan rela, sebagaimana riwayat ‘uqbah bin harits, ia pernah kawin dengan Ummu Yahya,puteri Abi Ihab, lalu dating seorang budak perempuan hitam, seraya berkata: dulu kamu berdua ini pernah saya susukan , lalu ‘Uqbah menanyakan hal ini kepada nabi, maka sabdanya “bagaimana lagi, tohdia telah yakin kalau kamu berdua telah di susuinya, lalu nabi pun melarangnya meneruskan perkawinan itu.

Melihat hadits di atas dapat di simpulkan bahwa, hanya dengan satu orang saksi perempuan saja sudah dapat di terima persaksiaannya, namun jumhur ulama berpendapat lain,seorang saksi perempuan saja dari ibu susunya tidaklah cukup Karena berarti ia menyaksikan perbuatannya sendiri.

Abu uba’id meriwayatkan dari umar ,dari mughirah bin syu’bahdari Ali bin abi tholib dan dari Ibnu Abbas, bahwa mereka ini tidak mau menceraikan suami isteri dengan keterangan seorang perempuan ibu susu saja.

Andaikan saja hanya dengan keterangan seorang saksi perempuan atau ibu susu saja dapat membatalkan sebuah perkawinan ,maka ini bisa saja di salah gunakan , misalkan memisahkan perkawinan seseorang dengan semaunya saja.

Dalam hal persaksian allah berfirman :

 

dan adakanlah olehmu dua saksi laki-laki dari golonganmu, jika tak ada dua orang laki-laki, maka hendaklah seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang kamu sukai sebagai saksi” ( Al-baqarah : 282 )

 

 

 

Hikmah haram kawin karena susuan

Adapun hikmah haram kawin karena susuan adalah, maka sebagai salah satu rahmat allah kepada kita, ialah hendak memperluas daerah tali kekeluargaan itu dengan memasukan penyusuan kedalam lingkunganya. Dan karena sebagian dari pada ibu-ibu susu telah turut membentuk tubuh anak susunya, yang demikian anak tad telah mewarisi baik tabiat maupun akhlak Dari ibu susunya seperti hal anak kandung dengan ibu kandungnya.

 

C. haram Karena perkawinan

Yang termasuk dalam haram karena perkawinan adalah sebagai berikut :

  1. I bu dari isteri, neneknya dari pihak ibu, nenek nya dari pihak ayah dan keatas, sebgai mana firman allah :

 

“ dan ibu-ibu isteri kamu “

Haramnya mereka ini tidak karena di isyaratkan adanya persetubuhan atau tidak, tetapi semata-mata karena telah terjadi perkawinan.[13]

  1. Anak tiri perempuan yang ibunya sudah di gauli.

Termasuk dalam pengertian ini anak perempuan dari anak perempuan tirinya, cucu-cucu perempuannya, dan terus kebawah, karena mereka termasuk dalam pengertian anak perempuan dari isterinya, sebagaimana firman allah :

 

“dan anak tiri perempuan kamu yang ada di tangan kamu dari isterimu yang telah kamu gauli, jika kau belum menggauli mereka maka tidaklah salah bagimu kawin dengannya”

  1. Isteri anak kandung, isteri cucunya, baik yang laki maupun perempuan dan seterusnya sebagaimana firman allah

 

“ dan isteri-isteri anak kandung kamu “

  1. Ibu tiri

Di haramkan anak mengawini ibu tirinya karena telah melangsungkan pernikahan dengan ayahnya, sekalipun ia belum pernah di gauli ayahnya, kawin dengan ibu tiri ini merupakan budaya pada zaman jahiliyah, Karen a perkawinan jenis ini banyak sekali terjadi pada zaman itu, dan masyarakat jahiliyah menamai perkawinan ini dengan “ kawin kebencian “dan anak yang mengawini ibu tirinya di namai dengan “ yang di benci “[14]dan allah swt telah melarang dan sangat membenci perkawinan ini, imam Razi berkata : macam keburukan ada tiga : keburukan menurut akal, keburukan menurut agama, keburukan menurut adat, dan kawin dengan ibu tiri ini oleh allah di terangkan keburukannya dalam semua segi tersebut, allah menyebut perbuatan tersebut dengan” perbuatan keji”( fahisyah “ yang mengisyaratkan pada perbuatan tersebut jenis keburukan menurut akal,“perbuatan yang di benci”( maqtan ) menunjukan tingkat keburukannya menurut agama,” jalan yang paling buruk” ( Sa-a sabilaa ) menunjukan tingkat keburukan menurut adat.[15]

Tatkala Abu qais bin aslat meninggal, anaknya yang sudah beristeri menikahi bekas isteri bapaknya, dan tidak mau memberikan dan tidak mau memberikan belanja kepadanya serta memberikan hak warisnya sedikit pun kepadanya. Lalu perempuan tadi dating kepada nabi, menceritakan kepada beliau kejadian tersebut, maka beliau bersabda :pulanglah barangkali allah akan menurunkan wahyunya mengenai urusanmu. Lalu turun laha yat di bawah ini( An-nisa 22 ).

 

“ danjanganlahkamukawindenganibu-ibutirikamukecuali yang sudahterjadi di masalalukarenaiamerupakanperbuatan yang kejidan di bencidanjalan yang paling buruk”.\

Golongan hanafi berpendapat ,seorang yang berzina dengan perempuan atau menyentuhnya atau menciumnya atau melihat kemaluannya dengan bernafsu, maka haramlah baginya kawin dengan ibu perempuan tersebut atau dengan anak-anaknya. Begitu juga dengan perempuan tersebut haram kawin dengan bapaknya laki-laki tadi atau anak-anaknya. Sebab di haramkan perkawinan Karena perzinahan ini di khiaskan dengan haram Karena perkawinan, dan di samakan dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan perkawinan seperti persetubuhan seperti ( pegang,cium ),dan perbuatan-perbuatan yang mendorong menuju arah kesana ( melihat dan sebgainya ).

D. Haram perkawinan karena beda agama

Semua mazhab sepakat bahwa bahwa , laki-laki dan perempuan muslim tidak boleh kawin dengan orang-orang yang tidak mempunyai kitab suci atau yang dekat dengan kitab suci ( syibh kitab ). Orang-orang yang masuk dalam kategori ini adalah para penyembah berhala, penyembah matahari, penyembah bintang, dan benda-benda lain yang mereka puja dan setiap orang zindik yang tidak percaya kepada allah.[16]

Keempat mazhab sepakat bahwa orang-orang yang memiliki kitab yang dekat dengan kitab suci ( syibh kitab ) seperti orang-orang majusi , tidak boleh di kawini . yang dimaksud syibh kitab adalah , misalnya anggapan bahwa orang-orang majusi itu mempunyai kitab suci yang kemudian mereka ubah , sehingga mereka menjadi orang-orang seperti yang ada sekarang ini, sedangkan kitab suci mereka sudah lenyap.[17]

Keemapat mazhab juga sepakat bahwa seorang laki-laki muslim boleh mengawini wanita ahli kitab, yakni wanita-wanita yahudi dan nasrani , namun tidak sebaliknya,,wanita-wanita muslim tidak boleh mengawini laki-laki yahudi dan nasrani.[18]

Sementara itu , para ulama Imamiyah, sebagaimana halnya dengan ke empat mazhab l ainnya sepakat bahwa wanita muslim tidak boleh kawin dengan laki-laki ahli kitab, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kebolehan laki-laki muslim mengawini wanita ahlikitab. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak baik dalam bentuk kawin da’im atau kawin sementara ( mut’ah ). Mereka mendasarkan pendapatnya pada firman allah yang berbunyi :

 

“ dan janganlah kamu berpegang pada tali ( perkawinan ) dengan perempuan-perempuan kafir. ( Qs.al-mumtahanah:10 )

Juga berdasar pada firman allah yang berbunyi :

“ dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman “( Qs.al-baqarah: 221)

Disini mereka mengartikan syirik dengan dengan kufur dan non islam . ahli kitab menurut istilah yang di berikan al-qur’an, bukanlah orang-orang musyrik. Al-qur’an mengatakan :

 

“ orang-orang kafir bukanlah orang-orang ahli kitab, dan orang-orang musyrik tidak akan meniggalkan agama mereka” ( Qs.al-bayyinah:1 )

 

Sementara yang lainnya mengatakan bahwa mengawini ahli kitab itu boleh hukumnya, baik dalam kawin da’im atau kawin sementara. Mereka mendasarkan pendapatnya pada ayat berikut :

“ dan di halalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatannnya di antara wanita-wanita yang beriman dan ahli kitab” ( Qs.al-ma’idah:5 )

Ayat ini tampak menunjukan kehalalan mengawini wanita-wanita ahli kitab. Sedangkan kelompk lainnya mengatakan bahwa mengawini wanita-wanita ahli kitab itu boleh dalam bentuk kawin sementara tapi tidak dalambentuk kawin da’im. Mereka mengkompromikan antara dalil yang melarang dan dalil yang membolehkan. Dalil yang menunjukan larangan menurut mereka adalah larangan untuk kawin da’im sedangkan dalil yang membolehkan adalah untuk kawin sementara.[19]

Kecuali maliki, seluruh mazhab sepakat bahwa perkawinan yang di selenggarakan oleh orang-orang non-muslim adalah sah seluruhnya , sepanjang perkawinan itu di laksanakan sesuai dengan ajaran yang mereka yakini. Kita kaum muslimin juga memberlakukan hak-hak yang di timbulkan nya tanpa membedakan apakah mereka itu ahli kitab atau bukan, bahkan mencakup pula orang-orang yang menghalalkan perkawinan sesama muhrimnya.

Maliki mengatakan bahwa perkawinan yang di selenggarakan oleh orang-orang non muslim tidak sah. Sebab menurut mazhab ini kalau perkawinan mereka itu di terapkan bagi orang-orang muslim pasti tidak sah hukumnya. Maka demikian pula terjadi pada mereka, hal seperti ini di rasa kurang bail , sebab itu akan mengakibatkan rasa tidak senang orang-orang non-,uslim terhadap orang islam yang pada gilirannya akan mengakibatkan terjadinya ke kacauan dan centang pe rentangnya sistem pergaulan. Dalam hadits nabi menurut jalur imamiyah telah di tegaskan :

 

“ barang siapa yang memeluk suatu agama suatu kaum, maka dia di kenai oleh hukum-hukum yang berlaku di kalangan kaum itu..berlakukanlah atas mereka hukum-hukum yang mereka berlakukan atas diri mereka.[20]

 

 

E. haram kawin karena perzinahan

Tidak dihalalkan kawin dengan perempuan zina, begitu pula bagi perempuan tidak halal kawin dengan laki-laki zina, kecuali sesudah mereka taubat. Alasannya adalah

  1. allah s.w.t mengisyaratkan agar laki-laki dan perempuan yang mau menikah harus benar-benar bisa menjaga kehromatannya. Firman allah dalam surat al’ma’idah ayat 5 :

pada hari itu di halalkan bagi kamu barang-barang yang baik, makanan ahli kitab halalbagi kamu dan makananmupun hal;al bagi mereka. Perempuan mukmin yang merdeka dan perempuan ahli kitab sebelum kamu yang merdeka, halal bagikamu untuk di kawini setelah kamu berikan kepada mereka mas kawinnya, bukan sebagai pelacur dan gundik ”

Maksud dari ayat di atas adalah , bahwa sebagaimana halnya allah telah menghalalkan barang-barang yangbaik, makanan orang-orang yahudi dan nasrani, maka di halalkan pula kawin dengan perempuan – perempuan mukmin dan ahli kitab yang menjaga kehormatannya, di mana mereka sebagai suami isteri sama-sama sebelumnya menjaga kehormatannya, tidak pernak berbuat zina dan tidak pernah sebagai gundik.[21]

Syafii dan maliki berpendapat seorang laki-laki boleh mengawini anak perempuannnya dari hasil zina, saudara perempuan, cucu perempuan , baik dari anaknya yang laki-laki maupun yang perempuan dan keponakan perempuannya, baik dari saudaranya yang laki-laki maupun yang perempuan, sebab wanita-wanita itu secara syar’i adalah orang yangbukan muhrim dan diantara mereka tidak bisa saling mewarisi. ( lihat Ibn Qudamah, al-Mughni, jilid IV, bab al-zawaj )[22]

Sementara itu, hanafi, imamiyah dan hambali menyatakan : anak perempuan hasil zina itu haram di kawini sebagaimana keharamaman anak perempuan yang sah. Sebab anak perempuan tersebut merupakan darah-dagingnya sendiri. Dari segi bahasa dan tradisi masyarakat ( Ur’f ) dia adalah anak nya sendiri. Tidak di akuinya ia sebagai anak oleh syar’i, dari sisi hukum waris, tidak berarti ia bukan anak kandungnya secara hakiki, namun yang di maksud adalah menafikan akibat-akibat syar’inya saja. Misalnya hukum waris dan memberi nafkah.[23]

Imamiyah berpendapat: barang siapa yang melakukan zina dengan seorang perempuan , atau mencampurinya karena subhat, sedangkan wanita tersebut bersuami atau sedang dalam keadaan iddah karena di cerai suaminya, tapi masih bisa di rujuk kembali, maka laki-laki itu haram hukumnya mengawininya selamanya, sekalipun kemudian ia menjadi ba’in ( tidak dapat di kawini lagi )oleh suami sebelumnya karena perceraian atau mati. Akan tetapi bila ia berzina dengannya dan saat itu wanita tidak bersuami atau dalam masa iddah karena di tinggal mati suaminya, atau berada dalam talak ba’in maka laki-laki itu tidak haram mengawininya.

Sementara itu bagi keempat mazhab perbuatan zina tidak membuat perempuan yang di zinai itu haram dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya, baik perbuatan itu di lakukan wanita tersebut ketika tidak bersuami atau masih bersuami.

Hanafi dan hanbali berpendapat bahwa zina itu menyebabkan keharaman musyaharah, maka kalau seorang laki-laki melakukan zina dengan seorang perempuan, maka laki-laki itu haram mengawini anak perempuan dan ibu wanita yang di zinainya itu. Sedangkan wanita itu sendiri haram pula di kawini oleh ayah dan anak laki-laki dari pria yang menzinainya. Kedua mazhab tidak membedakan antara terjadinya perzinahan sebelum dan sesudah perkawinan. Andaikata seorang laki-laki berzina dengan mertua wanitanya atau seorang anak berzina dengan istri ayahnya ( ibu tirinya ), maka istrinya menjadi haram bagi suaminya untuk selama-lamanya.[24]

F. Haram nikah karena isteri orang dan karena ‘iddah

di haramkam bagi seorang muslim menikahi isteri orang lain atau bekas isteri orang lain yang sedang iddah, karena memperhatikan hak suaminnya, sebagaimana firman allah

 

“ dan perempuan-perempuan yang bersuami ( muhshanah ) haram untuk di kawini, kecuali yang dimiliki oleh tangan kanan kamu ( budak )”.

Yang di maksud dengan perempuan muhshanah adalah perempuan yang bersuami, kecuali yang menjadi budak sebagai tawanan perang.

Sebab seorang budk perempuan dari tawanan perang halal bnagi laki-laki yang menguasainya setelah selesai iddahnya sekalipun masih punya suami. Muslim dan ibnu abi syaibah meriwayatkan dari abi sa’id bahwa rasulullah pernah mengirim tentara ke wathas, lalu mereka bertemu dengan musuh di tengah jalan sehingga terjadi pertempuran , mereka mendapat kemenangan dan memperoleh beberapa tawanan perang , diantara sahabat-sahabat rasulullah ada yang enggan mengambil tawanan perempuan karena mengetahui suami mereka musyrik, sebab dari itu turun ayat surat annisa ayat 24:

 

“dan perempuan-perempuan yang bersuami haram di kawini , kecuali yang di miliki tangan kanan mu:

Jadi perempuan tawanan perang ini halal di kumpuli sesudah iddahnya habis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara, 1973), h. 449

[2] M.Abdul Mujieb, Mabruri, Syafi’I AM, Kamus Istilah Fiqh, (Jakarta : Pustaka Firdaus,1994), h. 59

[3]Wahbah al- Zuhailiy, Al-Fiqh al- Islamiy wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), cet. Ke-2 . h.7247

[4]Ibid., h.7247

[5]Sayyid sabiq,fiqh sunnah,edisi 6 cetakan pertama,hal 86

[6]Sayyid sabiq,fiqh sunnah jilid 6 cetakan pertama hal92

[7]Ibid h.93

[8]Ibid h.94

[9]Ibid hal.95

[10] Ibid hal.97

[11]Prof.Abdur Rahman I.Doi,Ph.D, “ perkawinan dalam syari’at islam”,penerbit rineka cipta hal.61-62

[12]H.R Bukhari

[13] Di riwayatkandariIbnuabbasdanzaid bin tsabit, barangsiapakawindenganseorangperempuantetapibelummengaulinya, makaiabolehkawindenganibunya.

[14] Ibid hal.89

[15] Ibid

 

[16] Fiqh lima mazhab : ja’fari, hanafi, maliki, syafi’i, hambali/muhammad jawad mughniyah, penerjemah, Masykur A.B, afif muhammad, idrus al-kahfi,cet-7-jakarta:lentera,2001, h.336

[17] Ibid.h.336

[18] Ibid

[19] Ibid h.337

[20] Fiqh lima mazhab dalam ( al-jawahir dan al-masalik ) serta kitab-kitab fiqh imamiyah lainnya

[21] Fiqh sunnah,sayyid sabiq h.116

[22] Fiqh lima mazhab, bab zina h.330

[23] Ibid h.330

[24] Ibid h.331

Leave a Reply