Indonesia begitu kaya akan kerajinan daerah peninggalan dari nenek moyang. Kerajinan daerah ini bermacam-macam dan bahkan berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu orang luar negeri iri dengan negara kita yang memiliki berbagai kerajinan daerah yang sangat menarik.

Salah satu kerajinan daerah di Indonesia, tepatnya di kota Ponorogo, Jawa Timur yang sangat terkenal adalah Reog. Kerajinan Reog sudah begitu terkenal di kancah nasional maupun internasional. Bahkan Reog ini berkali-kali memenangi perlombaan di luar negeri dan mampu mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Kerajinan Reog Ponorogo yang Bertahan hingga Sekarang

Di kota Ponorogo sendiri, kerajinan Reog masih sangat digemari. Bahkan di setiap even-even beswar di kota Ponorogo selalu menampilkan Reog sebagai acara pembukanya. Tak hanya Reog saja, namun tarian Kuda Lumping yang termasuk dalam bagian kesenian Reog juga menjadi salah satu langganan para event organizer untuk ikut memeriahkan acara mereka.

Bentuk Reog yang cukup besar dan tinggi menjulang menjadi salah satu ciri khasnya. Bentuk topeng utama Reog yang paling besar disebut dengan Barongan. Tinggi dari topeng Barongan mencapai 23 meter serta berat mencapai 50 kilogram. Dari semua ornamen Reog, topeng Barongan inilah yang paling besar dan berat.

Di kota Ponorogo sendiri, pengrajin Reog juga masih ada banyak. Salah satunya adalah warga Ponorogo yang bernama Yudi. Ia tinggal di Dukuh Tempel, Desa Turi, Kecamatan Jetis, Ponorogo dan hingga sekarang masih menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin Reog.

Tak tanggung-tanggung, Yudi mengatakan bahwa ia telah memutuskan untuk menjalani pekerjaan ini sejak tahun 1993. Ia mengaku bahwa ia sangat mencintai Reog, sehingga dirinya memutuskan untuk menjadi pengrajin Reog di kota kelahirannya.

Bisnis pengrajin Reog ini diakui oleh Yudi dapat mendatangkan keuntungan yang besar. Walaupun pembuatan topeng Reog atau Barongan terlihat tidak begitu sulit, namun pada kondisi sebenarnya hal tersebut sangatlah sulit. Topeng barongan harus diciptakan mendetail dan tidak boleh berbeda.

Namun begitu, Yudi mengatakan bahwa topeng yang ia jual memiliki berbagia variasi ukuran, mulai dari ukuran yang kecil hingga yang berukuran super. Bahkan ketika ia memproduksi topeng Barongan dalam ukuran kecil, harga jualnya melebihi 10 juta. Hal ini menyebabkan bisnis Yudi ini berkembang pesat dan mampu bertahan hingga sekarang.

Tak hanya memproduksi pesanan dari orang Ponorogo, Yudi mengatakan bahwa dirinya kerap kali membuatkan pesanan dari berbagai daerah lain di Indonesia. Diantaranya adalah Riau, Lampung, dan lain sebagainya.

Untuk urusan bahan baku yang digunakan untuk membuat Reog, Yudi mengatakan ia tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan bulu dadap merak yang menjadi bahan dasarnya. Tak jarang juga ia melakukan impor dari negara India untuk pesanan berkualitas super. Hal inilah yang membuat topeng Reog atau Barongan produksi Yudi begitu digemari.

Bulu-bulu yang digunakan untuk membuat Barongan biasanya diberi harga helaian. Dan tak tanggung-tanggung, bulu asli milik burung merak tersebut mencapai harga lebih dari 70.000 rupiah per helainya. Yang lebih mencengangkan lagi, dalam proses pembuatan Barongan tak kurang dari 1000 helai lebih bulu burung merak yang digunakan.

Kerajinan Reog produksi Yudi ini memang tidak selalu laku setiap hari. Namun ketika barangnya laku, penjualan tersbeut bisa membuat Yudi dan keluarganya sejahtera. Dari sinilah kita mengetahui bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang masih sadar dan tergerak hatinya untuk senantiasa melestarikan produk-produk kerajinan dari barang bekas di dalam negeri. Kita semua jangan sampai kalah, ya.