“GAGAL DALAM MEMBUAT RENCANA SAMA DENGAN MERENCANAKAN GAGAL”

Aku melangkahkan kaki menuju Gedung AR Fahruddin A Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mengikuti Bedah Novel Cinta Suci Zahrana bersama Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam. Panitia meminta kepada para peserta yang sudah mendaftar untuk datang tepat waktu, sehingga aku berangkat sebelum pukul delapan. Aku beriringan dengan orang-orang yang sedang berlalu-lalang menuju kampus untuk mengikuti Pengajian Akbar yang diselenggarakan oleh Majelis Tafsir AlQur’an (MTA). Subhanallah, aku mendengar kabar rupanya lebih dari 30.000 orang menghadiri pengajian ini.

Memasuki ruangan Bedah Novel ternyata sudah banyak peserta yang datang. Karena Kang Abik belum datang, akhirnya panitia berinisiatif untuk menghibur peserta dengan lantunan Nasyid yang dipentaskan oleh Grup Nasyid Al Kautsar. Beberapa lagu dilantunkan, salah satunya adalah lagu Muhasabah Cinta. Memang kang Abik ini menurutku orang spesial kalau membahas cinta. Bahkan karena Kang Abik sampai pukul sepuluh belum juga datang akhirnya Master of Ceremony (MC) nya memiliki inisiatif juga menghibur peserta dengan lagu dangdut. Yach… MC yang namanya Iqbal menghibur peserta dengan lagu Kehilangan milik bang Haji Rhoma Irama. Sebagai penggemar bang Haji tentunya aku sangat gembira mendengarnya… he he he

Kang Abik akhirnya datang sekitar pukul 10.30 bersama dengan tim dari Sinema Art karena setelah acara Bedah Novel akan dilakukan Open Casting untuk mencari pemeran Zahrana dan Hasan. Open casting ini dilaksanakan karena novel ini akan difilmkan oleh Sinema Art dan akan disutradarai oleh khairul Umam. jadi penasaran ne sama filmnya. Kang Abik juga datang bersama Dr. Mina Kosakai, dosen yang mengajar di Australia berkebangsaan Jepang ini adalah wanita karir yang kisah hidupnya mirip-mirip dengan Zahrana yang menjadi tokoh utama dalam novel Cinta Suci Zahrana. Bedanya Zahrana muslimah dan Dr. mina kosakai nonmuslim.

“Memperjuangkan karir dan menggapai sukses itu memang penting, tapi jangan sampai melupakan membuat rencana untuk menikah” kira-kira begitu pesan utama yang disampaikan oleh Kang Abik waktu menyampaikan pembahasan tentang Novelnya tersebut. Begitu juga dengan Dr. Mina Kosakai yang ternyata menikah pada usia lebih dari 34 tahun melebihi usia pernikahan Zahrana. Beliau juga memberi pesan kepada peserta untuk membuat rencana yang matang. Karena rencana itu dibuat bukan sebagai batas dalam mengarungi kehidupan, melainkan sebagai rambu dan acuan agar semangat tak pudar.

Ketika ditanya salah seorang peserta waktu sesi tanya jawab tentang latar belakang pembuatan Novel ini Kang Abik menjawab : “Setelah Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih berhasil booming, banyak dari kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya banyak memiliki Fachry, Aisyah, Azzam, atau Anna Althofun Nisa. Akhirnya mereka meminta saya untuk mencarikan Azzam atau Altofun Nisa, akhirnya saya membuat novel ini, hal ini saya pertimbangkan karena banyak sekali yang menempuh karirnya tapi melupakan rencana nikahnya”

gambar saya ambil dari blognya mas Ibnu