keluarga panggabean

Hanya Blog UMY situs lain

SAYURAN KUBIS

Posted by Desmonth Ali Daei P Comments Off on SAYURAN KUBIS
  1. Kubis ( informasi umum)

Kubis (Brassica oleracea) adalah tanaman dua tahunan hijau atau ungu berdaun, ditanam sebagai tanaman tahunan sayuran. kubis umumnya berkisar 05 to 4 kilogram (10 to 9 lb), dan dapat berwarna hijau, ungu dan putih. Kubis hijau berkepala keras berdaun halus adalah yang paling umum, dengan kubis merah berdaun halus dan kubis savoy berdaun crinkle dari kedua warna terlihat lebih jarang. Kubis adalah sayuran yang berlapis-lapis. Dalam kondisi hari diterangi matahari panjang seperti yang ditemukan di garis lintang utara di musim panas, kubis dapat tumbuh jauh lebih besar.

  1. Kemasakan dan kualitas
  2. Kemasakan

Tanaman kubis dapat dipetik kropnya setelah besar, padat dan umur berkisar antara 3 – 4 bulan setelah penyebaran benih. Hasil yang didapat rata-rata untuk kubis telur 20 – 60 ton/ha dan kubis bunga 10 -15 ton/ha. Pemungutan hasil jangan sampai terlambat, karena kropnya akan pecah (retak), kadang-kadang akan menjadi busuk. Sedangkan untuk kubis bunga, jika terlambat bunganya akan pecah dan keluar tangkai bunga, hingga mutunya menjadi rendah

– Kubis dipanen setelah berumur 81- 105 hari

– Ciri-ciri kubis siap panen bila tepi daun krop terluar pada bagian atas krop sudah melengkung ke luar dan berwarna agak ungu, krop bagian dalam sudah padat.

– Pada saat panen diikursertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop

– Jangan sampai terjadi memar atau luka

– Amati penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora) dan Busuk Hitam (Xanthomonas camprestris)

– Daun-daun kubis yang terinfeksi harus dibuang.

 

  1. Kualitas

Untuk memperoleh krop kubis yang baik, maka kubis harus dipanen tepat waktu. Kepadatan dan kekompakan digunakan sebagai penetapan saat panen. Biasanya kubis dipanen setelah umur 81-105 hari di pertanaman dan tergantung pada varietas yang ditanam. Panen yang terhambat akan menyebabkan krop pecah. Untuk penyemprotan sebaiknya tidak dilakukan lagi 2 minggu sebelum dipanen. Kualitas sayuran berdaun terutama didasarkan pada penampilan (tampak segar, bentuk, ukuran, warna yang tepat, turgid) atau tidak layu, bebas dari cacat seperti busuk, fisik, kerusakan, kekuningan, atau layu). Indeks kuliatas kubis yang bagus adalah kubis yang masih segar.

  1. Lingkungan Penyimpanan dan sifat komoditas
  2. Temperatur optimum dan freezing injury

Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat kerusakan makanan, antara lain kerusakan fisiologis, kerusakan enzimatis maupun kerusakan mikrobiologis. Pada pengawetan dengan suhu rendah dibedakan antara pendinginan dan pembekuan. Pendinginan dan pembekuan merupakan salah satu cara pengawetan yang tertua.

Pendinginan atau refrigerasi ialah penyimpanan dengan suhu rata-rata yang digunakan masih di atas titik beku bahan. Kisaran suhu yang digunakan biasanya antara – 1oC sampai + 4oC. Pada suhu tersebut, pertumbuhan bakteri dan proses biokimia akan terhambat. Pendinginan biasanya akan mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada jenis bahan pangannya. Pendinginan yang biasa dilakukan di rumah-rumah tangga adalah dalam lemari es yang mempunyai suhu –2oC sampai + 16oC.

Pembekuan atau freezing ialah penyimpanan di bawah titik beku bahan, jadi bahan disimpan dalam keadaan beku. Pembekuan yang baik dapat dilakukan pada suhu kira-kira –17 oC atau lebih rendah lagi. Pada suhu ini pertumbuhan bakteri sama sekali berhenti. Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu antara – 12 oC sampai – 24 oC. Dengan pembekuan, bahan akan tahan sampai bebarapa bulan, bahkan kadang-kadang beberapa tahun.Perbedaan antara pendinginan dan pembekuan juga ada hubungannya dengan aktivitas mikroba.Sebagian besar organisme perusak tumbuh cepat pada suhu di atas 10 oC. Beberapa jenis organisme pembentuk racun masih dapat hidup pada suhu kira-kira 3,3oC. Organisme psikrofilik tumbuh lambat pada suhu 4,4 oC sampai – 9,4 oC..Organisme ini tidak menyebabkan keracunan atau menimbulkan penyakit pada suhu tersebut, tetapi pada suhu lebih rendah dari – 4,0 oC akan menyebabkan kerusakan pada makanan.

  1. Kelembapan optimum

Penyimpanan untuk kubis yaitu pada kelembaban relatif 98-100% (Agblor and Waterer., 2011). Namun kubis yang ditujukan untuk penyimpanan jangka panjang sangat dianjurkan untuk dilakukan penyimpanan dengan Controlled Atmosphere (CA) untuk menghasilkan kubis dengan kualitas terbaik dan dapat meningkatkan harga jual kubis. Penyimpanan kubis dengan CA dilakukan pada kelembababan relatif 95-98% dengan proporsi oksigen 3-5% dan CO2 5-7%

  1. Laju respirasi

Kader (2002),  mengklasifikasikan komoditas hortikultura berdasarkan laju respirasinya dan  kubis termasuk dalam kelas tinggi dengan laju respirasi pada 5°C atau 41°F  berkisar 20 – 40 mg CO2/kg-jam. Subekti (1998) menyatakan bahwa laju respirasi kubis pada suhu  kamar atau suhu 30°C adalah sebesar 7.3926 ml CO2/kg-jam dan 4.3767 ml O2/kg-jam, serta pada suhu 5°C sebesar 1.2922 ml CO2 /kg-jam dan  0.8081 ml O2/kg-jam.

  1. Laju produksi etilen

Karena berdasarkan laju respirasinya, kubis termasuk dalam kelas tinggi maka laju produksi etilennya pun tinggi. Hal ini disebabkan karena ethilen dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan enzim karatalase, peroksidase, dan amilase dalam buah. Selain itu juga, ethilen dapatmenghilangkan zat-zat serupa protein yang menghambat pemasakan buah. Respirasi merupakanproses pemecahan komponen organik (zat hidrat arang, lemak dan protein) menjadi produk yanglebih sederhana dan energi. Aktivitas ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi sel agar tetaphidup (Muzzarelli, 1985).

  1. Respon terhadap etilen

Penyimpanan kubis haruslah terpisah dari komoditas lain. Karena beberapa komoditas seperti buah dan sayuran akan melepaskan etilen selama proses penyimpanan. Hal tersebut memicu kubis untuk lebih cepat mengalami proses kerusakan. Selain itu, etilen juga memacu kubis untuk menghasilkan asam absisat yang membuat lapisan-lapisan  daunnya terkelupas (Uyenaka, 1990).

  1. Respon terhadap controlled Atmposphere

Penentuan komposisi gas terbaik pada penyimpanan sayuran campuran terolah minimal dilakukan dengan mengetahui pengaruh berbagai komposisi gas terhadap masing-masing parameter yang diamati. Komposisi atmosfer penyimpanan yang terpilih berdasarkan pada nilai rata-rata tertinggi pengujian selama penyimpanan. Presentase susut bobot terkecil adalah pada komposisi 1 (1-3% O2 dan 2-4% CO2) yaitu sebesar 3,82% dari berat awal bahan sebelum dilakukan penyimpanan. Susut bobot tertinggi terjadi pada komposisi atmosfer 2 (3-5% O2 dan 6-8% CO2) yaitu sebesar 5,78%. Urutan perlakuan komposisi atmosfer yang menimbulkan susut bobot dari yang terkecil ke yang terbesar setelah hari ke-12 adalah : komposisi 1 (1-3% O2 dan 2-4% CO2) sebesar 3,82%, komposisi 5 (21% O2 dan 0,03% CO2) sebesar 4,31%, komposisi 4 (7-9% O2 dan 14-16% CO2) sebesar 4,54%, komposisi 3 (5-7% O2dan 10-12 %CO2) sebesar 4,62%, dan komposisi 2 (3-5% O2 dan 6-8% CO2) sebesar 5,78% (Maryanti, 2007).

  1. Kerusakan Fisik dan fisiologis

Buah dan sayuran sedapat mungkin bisa dihindarkan dari kerusakan fisik baik saat panen maupun dalam proses penanganan pasca panen termasuk dalam proses pengangkutannya. Terjadinya kerusakan fisik dapat memicu terjadinya peningkatan laju penuaan pada buah dan sayuran segar, disamping penampakan fisik buah dan sayuran bersangkutan menjadi jelek sehingga daya jualnya akan menurun (Ariono, 2002). Kubis mempunyai kandungan air antara 80-95% sehingga sangat rentan terhadap kerusakan fisik. Kerusakan fisik dapat terjadi pada seluruh tahapan, mulai dari kegiatan sebelum panen, pemanenan, penanganan, grading, pengemasan, transportasi, penyimpanan, dan pemasaran. Kerusakan yang umum terjadi adalah terpotong, adanya tusukan tusukan, bagian yang pecah, lecet dan abrasi. Kerusakan dapat pula ditunjukkan oleh dihasilkannya stress metabolat (seperti getah), terjadinya perubahan warna coklat dari jaringan rusak, menginduksi produksi gas etilen yang memacu proses kemunduran produk. Untuk produksi etilen kubis tergolong pada golongan yang sangat rendah sehingga minim dalam ditemukannya kerusakan akibat dari etilen (pembusukan) dalam waktu yang cepat (Agblor dan Waterer,2001). Kerusakan fisik juga memacu kerusakan baik fisiologis maupun patologis (serangan mikroorganisme pembusuk).Kehilangan air dari produk secara potensial terjadi melalui bukaan-bukaan alami (stomata dan lentisel). Laju transpirasi atau kehilangan air dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (karakteristik morfologi dan anatomi, nisbah luas permukaan dan volume, pelukaan pada permukaan dan stadia kematangan), dan faktor eksternal atau factor-faktor lingkungan (suhu, kelembaban, aliran udara dan tekanan atmosfer). Pada permukaan kubis terdapat jaringan yang mengandung lilin yang dinamakan cuticle yang dapat berperan sebagai barier penguapan air berlebihan, serangan atau infeksi mikroorganisme pembusuk. Sehingga secara umum infeksi mikroorganisme pembusuk terjadi melalui bagian-bagian yang luka dari jaringan tersebut. Kubis mengandung air dan nutrisi yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Kader dan Kitinoja (2002), sayuran yang baru dipanen sebenarnya telah dihinggapi oleh berbagai macam mikroorganisme (mikroflora), baik yang dapat menyebabkan pembusukan maupun yang tidak menyebabkan pembusukan. Mikroorganisme pembusuk dapat tumbuh bila kondisinya memungkinkan seperti adanya kerusakan fisik pada sayuran atau buah, kondisi suhu, kelembapan dan faktor-faktor lain yang mendukung. Adanya mikroorganisme pembusuk pada kubis merupakan faktor pembatas utama di dalam memperpanjang masa simpan buah dan sayuran. Mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan susut pasca panen kubis secara umum disebabkan oleh jamur dan bakteri. Infeksi awal dapat terjadi selama pertumbuhan dan perkembangan produk tersebut masih dilapangan akibat adanya kerusakan mekanis selama operasi pemanenan, atau melalui kerusakan fisiologis akibat dari kondisi penyimpanan yang tidak baik. Pembusukan pada kubis umumnya sebagai akibat infeksi jamur dan lebih banyak diakibatkan oleh bakteri. Pengaruh buruk kondisi lingkungan seperti suhu adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap laju kemunduran dari kubis sebagai sayuran daun. Setiap peningkatan 10oC laju kemunduran meningkat dua sampai tiga kali. kubis yang dihadapkan pada suhu yang tidak sesuai dengan suhu penyimpanan optimal, menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan fisiologis. Suhu juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi etilen, penurunan O2 dan peningkatan CO2 yang berakibat buruk terhadap kubis. Perkecambahan spora dan laju pertumbuhan mikroorganisme lainnya sangat dipengaruhi oleh suhu. Kelembaban ruang adalah salah satu penyebab kehilangan air setelah panen pada kubis. Kehilangan air tidak dapat dihindarkan namun dapat ditoleransi. Tanda-tanda kehilangan air bervariasi pada kubis, dan tanda-tanda kerusakan baru tampak saat jumlah kehilangan air berbeda-beda pula. Umumnya tanda-tanda kerusakan jelas terlihat bila kehilangan air antara 3-8% dari beratnya.

  1. Kerusakan karena penyakit

Penyakit Akar GADA

Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia khususnya di Eropa dan Amerika Utara. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi. Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan misalnya kubis, sawi putih, dan brussels sprout sangat rentan terkena akar gada.

Penyebab penyakit akar GADA

Akar gada menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman rentan tumbuh pada tanah yang terifeksi. Hal ini disebabkan patogen yang menginfeksi tanah ini tetap menjadi saprofit pada tanah sehingga kubis-kubisan kurang cocok lagi untuk dibudidayakan di tempat tersebut (Agrios, 2005).

lasmodiophora brassicae yang menyerang kubis ini termasuk dalam kelas plasmodiophoromycetes. Fase somatiknya berupa plasmodium. Plasmodium tumbuh menjadi zoosporangium atau spora rehat. Pada saat perkecambahan, patogen ini membentuk zoozpora yang dapat berasal dari spora rehat. Zoospora tunggal dari spora rehat kemudian memenetrasi akar inang dan tumbuh menjadi plasmodium. Setelah beberapa hari, plasmodium membelah menjadi beberapa multinukleat yang dibungkus oleh membran sehingga sel-sel akar akan bertambah besar. Masing-masing bagian tumbuh menjadi zoosporangium. Setiap zoosporangium terdiri dari empat hingga delapan zoospora yang segera dilepaskan melalui pori-pori pada dinding sel tanaman inang.

 

Beberapa dari zoospora kemudian bersatu untuk memproduksi zigot diploid yang dapat menyebabkan infeksi baru dan plasmodium baru. Zigot ini terdiri dari nucleus yang dikaryotik. Selanjutnya nukleus ini mangalami fusi (karyogami) yang diikuti meiosis. Akhirnya plasmodium menjadi spora rehat yang akan disebarkan ke tanah dan dapat menginfeksi tanaman selanjutnya. Siklus dari patogen ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Penyakit Bercak Daun

Bercak daun Alternaria pada kubis yang disebabkan oleh A. brassicae. Alternaria brassicae dapat mempengaruhi spesies inang pada semua tahap pertumbuhan. Serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Gejala ini sering disebut dengan browning (Anonim, 2008)

Penyakit busuk hitam

Penyakit busuk hitam adalah salah satu penyakit yang paling merusak kubis. Penyebab penyakit busuk hitam adalah Xanthomonas campestris. Tanaman dapat terserang busuk hitam pada setiap tahap pertumbuhan. Pada pembibitan, infeksi yang pertama kali muncul dengan menghitamkan sepanjang kotiledon. Bibit terserang patogen akan berwarna kuning sampai coklat, layu, dan runtuh. Pada tanaman yang memasuki pertumbuhan vegetatif lanjut akan menunjukkan gejala kerdil dan layu. Daun muda yang terinfeksi mengalami pertumbuhan yang terhambat, warna kuning sampai coklat, layu, dan mati sebelum waktunya (Rumahlewang, 2008)

Penyakit Busuk Basah

Penyakit busuk basah disebabkan oleh Erwinia carotovora. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Warna pada permukaannya menjadi hijau pucat dan mengkerut. Pada jaringan yang terinfeksi akan berwarna buram dan kemudian akan berubah menjadi krem dan berlendir. Tanaman yang terkena busuk lunak kemudian menimbulkan bau yang khas (Agrios, 2005).

  1. Daftar Pustaka

Agblor, S. and D. Waterer. 2011. Cabbage: Post-Harvest Handing and Storage.

Department of Plant Sciences, University of Saskatchewan, Canada.

Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic Press.

Marsino, D.W. ____ . Pemanenanhttp://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/129869/a3a3d2 bac3331478a162ba9f0a623b48. Diakses 10 Desember 2017.

Santoso, B.B. ___. Kematangan Produk dan Indek Panen : Kubis. http://fp.unram.ac.id/data/DR.Bam bang%20B%20Santoso/BahanAjar-PascapanenHortikultura/BAB-4-KematanganProduk.pdf Diakses 10 Desember 2017

Subekti S. 1998. Mempelajari Karakteristik Respirasi dan Perubahan Mutu Kubis (Brassica oleraceae) pada Penyimpanan Segar. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Uyenaka, J. R. 1990. Cabbage Storage. Ministry of Agricucltur and Food. Ontario.

  1. Alamat blog umy

http://blog.umy.ac.id/daeiali/

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

Desmonth Ali Daei P


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Kesan/opini Masuk Ag

AGROTEKNOLOGI UMY Agroteknologi merupakan salah satu prodi dari fakultas pertanian. Dalam ...

Pemanfaatan Internet

PEMANFAATAN INTERNET DALAM KEGIATAN BELAJAR Internet atau interconnection-networking merupakan jaringan komputer ...

Peran Generasi Muda

Generasi Muda Dalam Pertanian Indonesia merupakan suatu negara agraris yang memiliki ...

Membangun Kemandiria

Sagu Sebagai Pengganti Nasi Sagu merupakan makanan khas indonesia. Sagu berasal ...