Ciri dan Sistem Pendidikan Islam di Era Klasik

  Pendidikan   18 November 2012

Diantara ciri khas pendidikan Islam periode Klasik adalah teacher oriented bukan institution oriented. Kualitas suatu pendidikan bergantung kepada guru, bukan kepada lembaga. Pelajar-pelajar bebas mengikuti suatu pelajaran yang mereka kehendaki. Mereka memilih pengajian berdasarkan guru atau ulama yang mengajarnya, bukan lembaganya. Oleh karena itu mereka tidak harus belajar di masjid-masjid saja, tetapi bisa di perpustakaan, toko buku, rumah ulama, atau tempat terbuka.

Sebelum munculnya madrasah, pelajar yang mengikuti suatu halaqah atau masjid tidak terbatas jumlahnya. Setelah muncul madrasah, pelajar yang ingin belajar dimadrasah tidak bisa sekehendak hatinya belajar di madrasah. Sedangkan selain madrasah, pelajar bebas mengikut. Pelajar-pelajar ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu pelajar tak tetap dan pelajar tetap. Pelajar tak tetap biasanya terdiri dari para pekerja. Mereka mengikuti pelajaran bukan untuk studi, tetapi untuk menunjang profesi mereka. Mereka mengikuti pelajaran tidak kontinu, tetapi pada waktu tertentu saja. Namun demikian jumlah mereka seringkali melebihi pelajar tetap.

Salah satu ciri yang paling menarik dalam pendidikan Islam di masa Klasik adalahsistem rihlah ilmiyah, yaitu pengembaraan atau perjalanan jauh untuk mencari ilmu. Dengan adanya sistem rihlah ilmiyah, pendidikan Islam dimasa Klasik tidak hanya dibatasi dengan dinding kelas (school without wall). Pendidikan Islam memberi kebebasan kepada murid-murid untuk belajar kepada guru-guru yang mereka kehendaki. Selain murid-murid, guru-guru juga melakukan perjalanan dan pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk mengajar sekaligus belajar. Dengan demikian sistem rihlah ilmiyah disebut dengan learning society (masyarakat belajar).

Karakteristik pendidikan Islam masa Klasik yang masih rendah dan sejumlah ciri-ciri yang negatif perlu digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan dan menyusun  lingkungan pendidikan Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam di masa Klasik, tampaknya antara pendidikan Islam dan wakaf mempunyai hubungan yang erat. Lembaga wakaf menjadi sumber keuangan bagi kegiatan pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Peranan wakaf sangat besar dalam menunjang pelaksanaan pendidikan. Dengan wakaf umat Islam mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Karena wakaf, pendidikan Islam tidak terlalu menuntut banyak biaya bagi pelajar-pelajar sehingga mereka baik miskin atau kaya mendapat kesempatan belajar yang sama, bahkan mereka yang miskin akan mendapat fasilitas-fasilitas yang luar biasa dan tiada putus-putusnya. Karena itulah, pelajar-pelajar dan guru-guru terdorong untuk melakukan perjalanan ilmiah. Eratnya hubungan wakaf dan pendidikan Islam, mempengaruhi kondisi pendidikan Islam, dan selanjutnya berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam.

Pendidikan sebagai suatu sistem, tidak bisa dipisahkan dari kondisi politik. Antara politik dan pendidikan Islam terjalin hubungan erat. Berubah-ubahnya kebijaksanaan politik dapat mempengaruhi pelaksanaan pendidikan Islam. Pada masa dinasti Abbasiyah/ Klasik paham-paham keagamaan turut mewarnai situasi politik di dunia Islam. Turun naiknya berbagai aliran aliran keagamaan dalam pentas politik, membuat berubah-ubahnya kebijaksanaan penguasa, akibatnya pelaksanaan pengajaran dan pendidikan Islam turut terpengaruh. Pendidikan Islam yang sedang mengalami pertumbuhan berkembang menjadi maju pesat karena berubahnya suasana dan kebijaksanaan politik Islam, bahkan secara perlahan-lahan  pendidikan Islam mengalami kemunduran yang susah untuk bangkit lagi sampai saat ini.

Pendidikan sebagai suatu sistem merupakan suatu kesatuan dari beberapa unsur dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan dan saling bergantung dalam mencapai tujuan. Sistem pendidikan Islam di masa Klasik tidak pas jika hanya dilihat dari sistem pendidikan Islam di massa sekarang. Oleh karena itu dipaparkan menggunakan kategori-kategori dalam sistem pendidikan Islam.

Sudah menjadi ciri sistem pendidikan Islam Klasik pelajar diberi kebebasan untuk belajar kepada siapa saja dan kapan saja ia menyelesaikan pelajarannya. Oleh karena itu murid-murid bebas memilih guru yang mereka sukai dan yang mereka anggap paling baik. Mereka bebas pindah dari satu guru ke guru lain jika ia merasa bahwa guru tersebut yang lebih bagus.

Dalam sistem pendidikan Islam di masa Klasik, pendidikan Islam bukan diperuntukkan bagi laki-laki saja. Wanita pun tidak dilarang pergi ke masjid untuk mengikuti pelajaran.

By : Nur Setyaningsih


Suwito.et.al. Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2005).

Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Logos, 1999),

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE