Makalah Sosialisme

Kamis, November 10, 2011

BAB I

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Sosialisme

Secara etimologis, sosialisme berasal dari bahasa Latin “SOCIUS” yang berarti sahabat atau teman. Istilah ini merupakan suatu prinsip pengendalian harta dan produksi serta kekayaan oleh kelompok.¹ Sosialisme juga mendasarkan diri pada cita-cita sosial bahwa kekayaan di dunia ini milik bersama, dan pemilikan secara bersama lebih baik daripada pemilikan secara perseorangan, dan keadaan masyarakat dimana hak milik pribadi atas alat-alat produksi telah dihapuskan.²

Gerald Braunthal mendifinisikan sosialisme sebagai suatu teori ekonomi dan politik yang menekankan pentingnya peranan Komusial dan Pemerintah dalam menguasai alat-alat produksi dan distribusi barang.

Sosialisme sebagai suatu gerakan melupakan naluri fitrah bahwa hak-hak milik pribadi merupakan keniscayaan, sehingga membuat sosialisme melupakan hak dasar manusia. Karena itu, sosilisme semakin rapuh, sejak rasionalisme (modernisme) yang menghargai kepenuhan pribadi dan bebas untuk bersaing telah maju pesat di Eropa. Akhirnya sosialisme hanya tinggal kenangan.

 

  1. Latar Belakang Sosialisme

Sosialisme ini muncul karena Marx tidak setuju dengan apa yang dilakukan kaum borjuis terhadap kaum buruh yang mereka perlakukan seperti “sapi perah” yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri.

Kaum miskin (proletariat) sebagai kelompok tertindas merupakan kelas yang mengembangkan gerakan pembebasan dari ketertindasan ekonomi maupun pilitik. Sosialisme modern yang memusatkan perhatian untuk membebaskan kelas pekerja industri dari belenggu kapitalisme industri sejak revolusi perancis dan industri. Pandangan ini merupakan reaksi yang mencerminkan perubahan-perubahan dalam organisasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi yang bertepatan dengan lahirnya gerakan Buruh terorganisasi di Inggris.

Berdasarkan perkembangan dan cita-cita sosialisme, maka perjuangan sosialisme mencapai puncak prosesnya pada Marx. Karena Marx memberi landasan filosofis-idiologis terhadap gerakan pembebasan kaum tertindas dari cengkraman kaum pemilik modal. Marx maupun pengikutnya (marxisme) mempunyai suatu kesepakatan gerakan yaitu pembebasan.

 

 

 

 

 

¹ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta :Gramedia, 1996), hal. 1030-1032

²Pendidikan Kewarganegaraan, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah halaman 230

Gerald Braunthal, Socialisme and Social Democracy, (Encyclopedia Americana vol 25, 1996), hal. 146

 

 

  1. Muncul dan Berkembangnya Sosialisme

1)      Tokoh Pencetus Sosialisme

Karl Marx adalah orang yang mengenalkan adanya ideologi sosialisme ini, beliau lahir di Trier- Prusia, 5 Mei 1818.  Ayahnya bernama Heinrich Marx, seorang penganut agama Majusi, tetapi sebelum Karl Mark lahir ayahnya berganti menjadi penganut Luther semata–mata demi karirnya sebagai pengacara. Karl Marx dibesarkan oleh ibunya yang bernama Henrietta Pressburg yang berasal dari Belanda.

Karena latar belakang keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, Heinrich mengasuh pendidikan anaknya sendiri di rumah hingga usia 12 tahun. Karl Mark selanjutnya di sekolahkan di sekolah senam di Trier, selanjutnya barulah Mark meneruskan studi di Universitas Bonn Tahun 1835, saat itu usia Karl Mark mencapai 17 tahun. Karl Mark lebih menyukai studi mengenai filsafat, meski ayahnya menginginkan studi di bidang hukum yang bisa langsung dipraktekan di masyarakat. Pada perioda ini Karl Mark banyak menulis puisi dan essai yang berhubungan dengan makna hidup, dengan menyelipkan keyakinan dia tentang ateis, karena pengaruh filsafat Young Hegelians ( pengikut ajaran Hegel ), yang selama jenjang waktu itu menguat di masyarakat Berlin. Karl Mark memperoleh title Doctor pada Tahun 1841 setelah merampungkan thesis The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature.

Karl Marx menikahi Jenny von Westphalen, termasuk wanita terpelajar putri seorang ningrat dari Prussia pada tanggal 19 Juni 1843. Marx and Jenny dikarunia 7 putra tetapi karena jatuh miskin, putra Karl hanya tinggal 3 hingga dewasa. Penghasilan utama Mark dan keluarganya adalah berasal dari Friedrich Engels, karena jasa Karl sebagai penulis artikel di koran milik sahabatnya itu.

Tak lama kemudian setelah menikah ia terpaksa meninggalkan jerman untuk dapat suasana yang lebih libaral di Paris. Di Paris ia bergualat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua kumpulan gagasan baru – sosialisme Prancis dan politik Ekonomi Inggris. Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektualnya.

Pada tahun 1848, Marx menerbitkan manifesto Komunis, Manifesto digambarkan oleh marxians sebagai”Pagam Kebebasan Buruh Dunia,”dan itu adalah platform Liga Komunis. Ini menganjurkan penghapusan properti di tanah, dan aplikasi semua sewa tanah untuk kepentingan publik yang berat lulus properti atau pajak penghasilan, penghapusan semua hak warisan, penyitaan semua milik imigran dan Negara mengendalikan semua komunikasi dan transportasi, serta penghapusan buruh pabrik dan pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah umum.

Lalu pada 28 september 1864, marx dan Engels mendirikan organisasi “Asosiasi Pekerja Internasional” di St Martin’s hall di London, yang terdiri dari Inggris, Perancis, jerman, Italia, Swiss, dan polandia Sosialis, yang didedikasikan untuk menghancurkan. Sistem ekonomi yang berlaku”. Kemudian dikenal sebagai Sosialis Internasional Pertama, yang delapan tahun kemudian menyebar ke new York dan bergabung dengan Partai Sosialis. Beberapa partai Sosialis awal adalah : Partai Sosialis Demokrat Denmark (1870), Swedia Partai Sosialis (1889), Partai Buruh Norwegia(1887),Partai Sosial Demokrat Australia(1888), Partai Buruh Belgia(1885),Belanda Demokratik Sosialis-Pekerja Partai(1894),Spanyol Partai Buruh Sosial (1879),Partai Sosialis Italia (1892),dan Federasi Sosial Demokrat Britania Raya (1880)

 

 

http://filsafat.kompasiana.com

http://www.facebook.com/topic.php?uid=85822594864&topic=1215

2)      Pemikiran Karl Marx

  • Materialisme Historis

Materialisme historis  merupakan istilah yang sangat berguna untuk memberi nama pada asumsi-asumsi dasar menganai teorinya. Dari The Communist Manifesto dan Das Kapital, dimana penekanan Marx adalah pada kebutuhan materil dan perjuangan kelas sebagai akibat dari usaha-usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Menurut pandangan ini, ide-ide dan kesadaran manusia tidak lain daripada refleksi yang salah tentang kondisi-kondisi materil. Perhatian ini dipusatkan Marx sebagai uasaha Marx untuk meningkatkan revolusi sosialis sehingga kaum proletariat(kelas bawah) dapat menikmati sebagian besar kelimpahan materil yang dihasilkan oleh industrialisme.

Ø  Infrastruktur Ekonomi dan Superstruktur Sosiobudaya

Sama halnya dengan kebudayaan suatu masyarakat, termasuk standar-standar moralitasnya, kepercayaan-kepercayaan agama, sistem-sistem filsafat, ideologi politik, dan pola-pola seni serta kreativitas sastra juga mencerminkan pengalaman hidup yang riil dari orang-orang dalam hubungan-hubungan ekonomi mereka. Hubungan antara infrastruktur ekonomi dan superstruktur budaya dan struktur sosial yang dibangun atas dasar itu merupakan akibat langsung yang wajar dari kedudukan materialisme historis.

  • Ø  Kegiatan dan Alienasi

Tentang alienasi menurut Marx merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan kreatifnya. Bagi Marx alienasi akan berakhir, bila manusia mampu untuk mengungkapkan secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri, sehingga ekspolitasi dan penindasan tidak menjangkiti manusia lagi.

Ø  Kritik Terhadap Masyarakat Kapitalis

Gagasan Marx dalam hal ini selanjutnya dikenal dengan istilah “surplus Value” atau teori nilai lebih yaitu pertukaran yang tidak proporsional antara nilai pakai dan nilai tukar. Dalam hal ini keuntungan yanng lebih besar dimiliki oleh para kapitalis, dan buruh tidak berkuasa atas nilai lebih yang telah dihasilkannya sebagai tenaga kerja.

 

 

Johnson, Doyle, Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern jilid 1, edisi terjemahan, Jakarta: Gramedia, 1994.

 

3)      Perkembangan Sosialisme di Indonesia

Pendiri Sosialisme di indonesia

Salah satu tokoh pendiri sosialisme di Indonesia adalah Sutan Sjahrir, ia lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909  dan meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Ia adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947.

Pada masa perjuangan dalam perebutan Kemerdekaan RI dari penjajahan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Anggota jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI(Pendidikan Nasional Indonesia) Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.

Lalu pada November 1945 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, Syahrir ikut dalam memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Dan juga Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada bulan Februari 1948.

Sosialisme Sjahrir berpijak kepada penghormatan nilai-nilai demokrasi dan humanisme. Menghargai dan mengutamakan kemerdekaan individu-individu masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, Sjahrir berpendapat bahwa Revolusi Indonesia hendaknya melebarkan sayap jauh melampaui batas-batas kemerdekaan nasional untuk menanamkan kemajuan sosial-ekonomi yang berakar luas.

Sjahrir tegas membedakan paham sosialisme yang hendak diperjuangkannya di Indonesia dengan sosialisme yang ada di Eropa Barat maupun sosialisme yang ditawarkan komunis. Pergumulannya atas paham-paham sosialisme di Eropa Barat dan kekhawatirannya akan komunisme totaliter membawanya pada pemikirannya tentang sosialisme yang sesuai bagi Indonesia, yaitu sosialisme-kerakyatan.

Tahun 1955 PSI (Partai Sosialis indonesia) gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke.

Dalam perkembangannya, ternyata sosialis sampai sekarang masih berkembang. Dengan adanya Komunitas Sosialis Indonesia (KSI) yang didirikan oleh profesional muda yang pernah aktif dalam keorganisasian sosialisme demokrasi di Indonesia. Komunitas ini berasaskan Kemanusiaan, Kerakyatan, Kebebasan, Keadilan dan Solidaritas. Tujuan organisasi ini yaitu menciptakan masyarakat sosialis yang demokratis.

 

http://ww.wikipedia.org/wiki/Sutan_Syahrir

Irfans. Awwas, Triologi Kepemimpinan Negara Islam Indonesia, Yogyakarta, Uswh, 2008

Kahin., op. cit., hlm. 300.

Harian Kompas, Selasa 3 Maret 2009

 groups.yahoo.com/group/sosialista/

  1. D.       Kritik dan Saran

 

a)         Kritik terhadap Sosialisme

 

Sosialisme sebagai ideologi sosial yang menjunjung kebebasan kaum buruh atas kau borjuis merupakan hal yang sangat baik, karena membela kaum buruh yang tertindas. Namun, ketika dalam perjuangannya itu mereka lebih dekat untuk menjadi komunis karena pengusung gerakan tersebut adalah orang-orang komunis yang lebih radikal, yang lebih menuntut penghapusan total tentang hak milik pribadi. Mereka juga menganggap Candu sebuah Agama, karena Agama hanya dianggap sebagai sebuah dongeng yang hanya dipergunakan oleh beberapa orang dan golongan untuk mempertahankan kedudukannya, dan menyembunyikan kejahatannya.

Ketika penghapusan total tentang hak milik pribadi menurut saya sangatlah tidak begitu baik, karena segala sesuatu yang memang sudah kita dapatkan dengan kerja keras dan itu menjadi hak kita kemudian kita harus membaginya dengan orang-orang yang mereka hanya berdiam diri dan bermalas-malasan padahal mereka juga mampu untuk bekerja keras. Ketika saya membaca sebuah artikel disitu menyebutkan bahwa “semua harta yang kita (para penganut sosialis) punya adalah milik bersama terkecuali (maaf) pakaian dalam dan sikat gigi yang hanya menjadi milik pribadi.” Apakah itu menjadi suatu hal yang baik ??? Kalau menurut saya itu merupakan hal yang tidak seharusnya terjadi karena dapat merugikan kita.

Kita boleh memiliki jiwa Sosialis, tetapi jiwa sosialis yang memang benar-benar untuk saling membantu diantara kaum-kaum tertindas, tanpa harus adanya penghapusan hak milik pribadi. Kecuali memang hak milik pribadi tersebut ada yang memang sebagian juga harus dimiliki oleh kaum-kaum yang tertindas.

b)        Saran terhadap Ideologi Sosialisme

Sosialisme harusnya lebih bisa berdasarkan Agama, karena dalam sebuah Agama terutama Islam sudah mengajarkan untuk saling berbagi antar sesama Muslim. Karena memang disetiap harta yang kita miliki ini memang terdapat hak untuk orang yang lebih membutuhkan juga.

Sosialisme merupakan suatu ideologi yang sangat mengusung untuk pembebasa dari kalangan kapitalis, itu merupakan suatu gerakan yang sangat bermanfaat untuk kaum buruh, tapi tidak seharusnya juga untuk mengusung penghapusan hak milik pribadi dan menganggap candu sebuah Agama. Karena ketika ideologi sosialis ini disandingkan dengan pemahaman agama maka akan sangat besar manfaatnya dan memperoleh banyak pahala.

Sebenarnya ideologi sosialis memang sudah melekat dalam diri kita, karena ketika Islam mengajarkan kita untuk bersedekah dan juga berzakat itu sudah sebagian dari membantu kaum-kaum buruh dalam kehidupan mereka dan dapat meringankan beban hidup mereka.

Maka, sebenarnya Sosialisme ini memang sudah diajarkan Islam yaitu lewat Sedekah dan Zakat. Karena memang perintah ALLAH untuk tidak takut membelanjakan harta kekayaan guna mencapai tujuan-tujuan yang di ridhai ALLAH, tujuan-tujuan yang bermanfaat bagi sesama manusia.

 

REFERENSI

       Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta :Gramedia, 1996), hal. 1030-1032

Pendidikan Kewarganegaraan, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah halaman 230

Gerald Braunthal, Socialisme and Social Democracy, (Encyclopedia Americana vol 25, 1996), hal. 146

http://filsafat.kompasiana.com

http://www.facebook.com/topic.php?uid=85822594864&topic=1215

Johnson, Doyle, Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern jilid 1, edisi terjemahan, Jakarta: Gramedia, 1994.

http://ww.wikipedia.org/wiki/Sutan_Syahrir

Irfans. Awwas, Triologi Kepemimpinan Negara Islam Indonesia, Yogyakarta, Uswh, 2008

Kahin., op. cit., hlm. 300.

Harian Kompas, Selasa 3 Maret 2009

       groups.yahoo.com/group/sosialista/