Usaha Membatasi Kehilangan Hara

Petak pertanaman merupakan unit terkecil di lahan pertanian yang dikelola secara seragam. Keputusan harus diambil untuk melaksanakan pengolahan tanah, sistem pertanaman dan pergilirannya, takaran, cara aplikasi dan waktu serta sumber pupuk pada skala petak pertanaman.

Kondisi di petak pertanaman dapat dilihat pengembalian hara yang sama pada tempat tanaman tumbuh dengan daur yang utuh melalui tanah → tanaman → tanah →tanaman→ternak→tanah. Hara kemungkinan juga hilang dari proses daur ulang karena alirannya pergi dari petak pertanaman baik aliran hara tersebut dikelola maupun tidak dikembalikan lagi. Disamping itu, hara yang tidak berasal dari petak pertanaman akan masuk dalam aliran hara melalui kotoran ternak yang berasal dari pakan yang sebagian atau keseluruhan bersama pakan yang bukan sebagai daur hara dalam skala petak pertanaman, masih dapat dikatakan sebagai daur ulang pada skala usaha tani atau skala regional.

Mendaur ulang limbah organik dapat dilakukan melalui : pupuk kandang, pupuk asti / asal tinja, limbah pertanaman, limbah pengolahan hasil pertanian, langsung di lahan pertanian atau melalui suatu proses pengomposan, fermentasi biogas , dll.

Mengurangi penyiapan lahan dengan cara sistem tebas bakar terhadap pertanaman. Apabila usaha tani akan dilaksanakan secara intensif, pembakaran akan berakibat hilangnya bahan organik dalam jumlah yang cukup banyak. Menghindarkan terjadinya perlindian dengan menggunakan pupuk organik dan pupuk kimia dengan dosis rendah secara lambat, mempertahankan kandungan humus tetap tinggi, melaksanakan pertanaman campuran/ganda dengan komposisi tanaman yang mempunyai kedalaman sistem perakaran berbeda.

Membatasi kehilangan hara melalui hasil panen dengan cara menanam jenis-jenis tanaman yang relatif bernilai ekonomis tinggi terhadap kandungan hara, contoh :buah-buahan, jenis legum, dan jenis rerumputan. Menghasilkan sesuatu sampai taraf swasembada , sehingga kelebihan hasil dapat diekspor, sedang limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak dan pupuk organik. Sebetulnya , kehilangan hara dari lahan pertanian melalui hasil panen tidak dapat dihindarkan, karena petani memerlukan biaya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Demikian juga tidak mungkin dapat dihindarkan sama sekali kehilangan hara dari lahan pertanian akibat erosi dan pelindian.

Apabila terjadi kekahatan hara pada lahan pertanian intensif, penanganan nya ialah dengan membenamkan kosentrasi hara dengan cara membenamkan setempat pupuk kandang, kompos, mulsa atau pupuk hijau. Sampah organik dapat didaur ulang menjadi kompos. Proses pembentukan kompos dilakukan oleh mikroorganisme sebagai dekomposer sampah organik. Teknologi pengomposan sampah beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Teknologi pengomposan dengan aktifator akan mempercepat proses dekomposisi sampah menjadi kompos, namun produk aktifator di pasaran relatif mahal dan diperlukan dalam jumlah banyak sehingga biaya yang dikeluarkan besar, sedangkan jika tidak menggunakan aktifator maka proses pengomposan akan berjalan lambat dan memakan waktu sehingga membutuhkan alternatif lain untuk dapat mempercepat proses pengomposan dengan waktu yang relatif singkat dengan biaya yang terjangkau (Isroi, 2008).

Pengomposan dengan sampah perkotaan sebagai bahan baku mempunyai banyak keuntungan dan dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Membantu meringankan beban pengelolaan sampah perkotaan.

Komposisi sampah di Indonesia sebagian besar terdiri atas sampah organik, sekitar 50% sampai 60% dapat dikomposkan. Apabila hal ini dapat direalisasikan sudah tentu dapat membantu dalam pengelolaan sampah di perkotaan, yaitu :

  1. Meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan sampah, disebabkan jumlah sampah yang diangkut ke TPA semakin berkurang.
  2. Meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan sampah.
  3. Meningkatkan kondisi sanitasi di perkotaan.

Semakin banyak sampah yang dibuat kompos, diharapkan semakin sedikit pula masalah kesehatan lingkungan masyarakat yang timbul. Dalam proses pengomposan, panas yang dihasilkan dapat mencapai 600C, sehingga kondisi ini dapat memusnahkan mikroorganisme patogen yang terdapat dalam masa sampah.

  1. Dari segi sosial kemasyarakatan, pengomposan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah kota dan meningkatkan pendapatan keluarga.
  2. Pengomposan berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan perkotaan, karena jumlah sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai menjadi berkurang. Selain itu aplikasi kompos pada lahan pertanian berarti mencegah pencemaran karena berkurangnya kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.
  3. Membantu melestarikan sumber daya alam. Pemakaian kompos pada perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan kebun dalam menahan air, sehingga lebih menghemat kandungan air. Selain itu pemakaian humus sebagai media tanaman dapat digantikan oleh kompos, sehingga eksploitasi humus hutan dapat dicegah.
  4. Pengomposan juga berarti menghasilkan sumberdaya baru dari sampah, yaitu kompos, yang kaya akan unsur hara mikro.

Penanaman tanaman pupuk hijau juga dapat dilakukan untuk membuat hara tanaman lebih mudah tersedia. Hara yang berasal dari lapisan bawah permukaan atau dalam bentuk yang tidak terlarut dapat dibawa ke atas melalui proses sirkulasi. Mikoriza dan mikroorganisme lain dapat memobilisasi hara sehingga tersedia bagi tanaman. Mikroorganisme pada serasah daun bambu dapat digunakan sebagai biodekomposer dan aktifator untuk mempercepat pengomposan. Serasah daun bambu mengandung bakteri Lactobacillus sp, Saccharomyces cerreviseae dan jamur Aspergillus sp. Kumpulan bakteri dan jamur pada serasah daun bambu ini dapat disebut sebagai Effective Mikroorganisme Bambu (EMB). Keberadaan bakteri dan jamur tersebut dapat diketahui ketika melakukan percobaan dengan menggunakan bola nasi yang ditutupi oleh serasah daun bambu. Nasi tersebut berfungsi sebagai makanan, tempat berkembangnya bakteri dan tempat tumbuhnya miselium dari jamur (OISCA, 1998).

Indukan ini merupakan aktifator dalam mendekomposisi sampah organik. Jika akan digunakan untuk bahan organik dalam jumlah banyak, indukan ini dapat diperbanyak dengan menggunakan air dengan perbandingan 1: 20 yang artinya 1 bola nasi yang berisi mikroorganisme dapat dilarutkan dengan air sebanyak 20 liter.

Mikroorganisme pada serasah daun bambu dapat dikembangkan sebagai biodekomposer dari sampah organik. Mikroorganisme tersebut adalah Saccharomyces cerrevisiae dan Lactobacillus sp serta Aspergillus sp. Mikroorganisme tersebut dapat mengurai sampah organik menjadi pupuk organik yang dapat menyuburkan tanah. Pupuk ini hanya membutuhkan waktu seminggu dalam pembuatannya karena mikroba ini mampu memfermentasikan bahan organik dalam waktu cepat dan menghasilkan senyawa organik, seperti protein, gula, asam laktat, asam amino, alkohol, dan vitamin. (Hermawan, 2008).

Mikroorganisme tersebut mempunyai keunggulan masing – masing dalam mengurai sampah organik maupun perannya untuk menyuburkan tanah. keunggulan dari mikroorganisme ini adalah:

  1. Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus sp)
  2. Menghasilkan asam laktat dari gula
  3. Menekan pertumbuhan jamur yang merugikan, seperti Fusarium sp.
  4. Mempercepat penguraian bahan – bahan organik.
  5. Saccharomyces cerrevisiae
  6. Membentuk zat anti bakteri
  7. Meningkatkan jumlah sel akar dan perkembangan akar.
  8. Jamur Fermentasi (Aspergillus sp)
  9. Menguraikan bahan organik (selulosa, karbohidrat) dan mengubahnya menjadi alkohol, ester, dan antimikroba.
  10. Dapat menghilangkan bau.

Perkembangbiakan mikroorganisme ini relatif mudah dilakukan merupakan potensi untuk memanfaatkan organisme pada serasah daun bambu di Indonesia secara optimal. Mikroorganisme pada serasah daun bambu juga dapat dikomersilkan menjadi pupuk cair maupun kompos yang tentu dapat menyuburkan tanah dan meningkatkan produktifitas komoditas pertanian Indonesia. Kehilangan hara yang tidak diharapkan terjadi melalui:

  1. Erosi tanah
  2. Pelarutan hara
  3. Kehilangan bentuk gas terutama N dalam bentuk amoniak , volatilisasi dan kehilangan nitrogen bentuk gas N2 dan N2O melalui denitrifikasi.

Pengandalian / menjaga kandungan hara tanah,dapat dilakukan juga dengan Pengelolaan tanah yang baik, dimana akan berpengaruh pada aliran hara, melalui:

  • Daur ulang residu tanaman: beberapa jenis tanaman mengandung sejumlah biomassa dan unsur hara yang diperlukan pertumbuhan tanaman. Seperti hasil penelitian di USA (follet et al.,1987) hara yang dikandung residu tanaman yang dikembalikan ke dalam petak pertanaman, terdiri atas :N 24%, P 13% dan K 34%. Residu organik tersebut akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah, dengan meningkatkan infiltrasi dan menekan terjadinya erosi(Lindstorm and Holt,1983).
  • Residu tanaman yang kaya hara ditinggal di petak pertanaman karena seringkali residu tanaman yang kaya biomassa dan hara, misalnya jerami tidak didaur-ulang, tetapi sebagai komoditi yang dimanfaatkan untuk kepentingan lain atau dijual.
  • Pergiliran tanaman merupakan salah satu cara pengelolaan tanah yang harus dipraktekkan. Diantara keuntungan yang dapat diperoleh melalui pergiliran tanaman, pergiliran yang efektif akn meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki tanah dan memperbaiki hara akibat erosi.
  • Tanaman penutup tanah, yang biasa digunakan oleh petani karena beberapa alasan. Mempertahankan retensi hara selama musim kemarau daripada dibiarkan kondisi kekahatan, menurunkan terjadinya erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah,Menekan pertumbuhan gulma, meningkatkan kandungan N apabila memanfaatkan legum penambat nitrogen udara, dan memberikan habitat bagi perkembangan insekta tertentu (Brusko et al,1992).
  • Kerapatan pemeliharaan ternak, mempengaruhi aliran hara pada aras petak pertanaman. Makin banyak ternak yang dipelihara relatif terhadap pakan dan padang rumput yang tersedia, maka makin banyak pakan yang harus didatangkan ke petak petak pertanaman. Apabila sebagian besar hara tetap tinggal di petak pertanaman dalam bentuk kotoran, kencing dan sisa pakan maka cadangan hara tanah akan menjadi lebih besar dalam waktu relatif cepat.
  • Penggunaan analisis tanaman dan uji tanah, banyak membantu petani dalam memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat jenis, waktu, dan cara aplikasinya. Petani kecil jarang sekali memberikan pupuk dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi pertumbuhan tanaman, karena kesulitan biaya untuk membeli pupuk. Disamping itu, harga jual hasil pertanian relatif lebih rendah daripada harga input yang harus disediakan.

Pada umunya, tanah yang dikelola secara organik menunjukkan adanya peningkatan mikoriza yang bersimbiosis dengan perakaran tanaman. Baik dalam jangka pendek atau panjang memberikan pengaruh yang positif karena sistem pertanian organik dapat dikarakterisasikan berdasarkan kelimpahan dan keragaman cacing tanah dan antropoda yang berguna.

Skip to toolbar