PENANGANAN PASCAPANEN SAYURAN DAUN (Artichoke)

TEKNOLOGI PASCA PANEN

SAYURAN DAUN ARTICHOKE (Cynara cardunculus var. Scolymus)

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Rahmat Nugroho                    20160210168

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2017

 

  1. Kemasakan dan Ku1alitas

B.1. Informasi Umum (Pendahuluan)

Artichoke (Cynara cardunculus var. Scolymus) jenis sayuran yang termasuk dalam keluarga Asteraceae. Artichoke adalah tanaman abadi herba, secara luas dibudidayakan di daerah Mediterania (Bianco, 2005). Budidaya artichoke sangat penting untuk perekonomian Italia, karena Italia menjadi produsen utama artichoke di dunia (FAO Statistical Database, 2010).

Artichoke merupakan tanaman sub tropis yang mempunyai unsur organik di dalamnya. Artichoke tidak hanya tumbuh di daerah sub tropis,  tanaman ini juga dapat dibudidayakan di daerah tropis. Artichoke dapat tumbuh maksimal dengan intensitas sinar matahari yang cukup dan tempat tumbuh yang kering, atau tanah dengan sistem drainase yang baik. Kondisi lingkungan yang dianjurkan untuk menanam tanaman Artichoke adalah di akhir musim penghujan (di wilayah tropis). Seperti tanaman pada umumnya, Artichoke membutuhkan unsur hara makro dan mikro untuk menunjang pertumbuhannya. Artichoke sangat membutuhkan unsur Nitrogen dalam jumlah yg cukup, saat penanaman dan pemeliharaan harus selalu terkena sinar matahari agar pertumbuhan kuncup dan tunas dapat tumbuh maksimal. Meskipun demikian Tumbuhan ini sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang drastis, oleh karena itu waktu penanaman yang baik adalah di awal musim (Andika bramantoro, 2012).

Artichoke adalah salah satu sayuran yang dimakan kuncup bunganya. Dikenal sejak zaman kuno karena mempunyai khasiat obat dan manfaat kesehatan. Tanaman ini tumbuh hingga 1,5-2 m dan memiliki daun berwarna hijau keperakan dengan panjang sekitar 0,5 m (Admin, 2013). Sayuran ini berwarna hijau atau keunguan dengan kelopak yang berlapis-lapis, mempunyai bentuk yang bulat, dan berbentuk segitiga. Artichoke ada yang mempunyai duri, namun ada pula yang tidak memiliki duri (Jeffry, 2012).

Perbanyakan tanaman spesies ini biasanya dimulai dari cabang (tunas basal) (Cardarelli et al., 2005) atau ovules (tunas semi-dorman dengan sistem akar yang terbatas), yang berpotensi menjamin hasil panen tinggi dari produk yang dapat dipasarkan.


 

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6d/Artichoke_J1.jpg/1200px-Artichoke_J1.jpg

B.2. Indeks Kemasakan

Indeks kemasakan sayur artichoke berlangsung saat tanaman berumur 2-3 bulan, pada fase ini buah artichoke akan mengalami perubahan fisik, tekstur dan warna karena adanya pengaruh etilen. Kuncup buah akan mekar dan berubah warna dari hijau, merah, hingga ungu. Kuncup yang telah mekar dan berwarna merah dapat digunakan sebagai media pembibitan dari biji.

Kemasakan hortikultura didasarkan pada produk yang telah mencapai stadia perkembangan tertentu yang dapat memuaskan konsumen dalam penggunaannya. Stadia yang dimaksud adalah perkembangan yang menuju pada tercapainya kemasakan hortikultura atau kemasakan fisiologis. Berbagai indeks telah digunakan dalam usaha untuk mengestimasi kemasakan. Menurut I Made S. Utama dan Nyoman S. Antara (2013) beberapa strategi yang dapat digunakan untuk menentukan indeks kemasakan adalah menentukan perubahan di dalam komoditi sepanjang perkembangannya, melihat beberapa sifat (ukuran, warna, kepadatan, dsb.) yang berhubungan dengan stadia perkembangan komoditi, serta melakukan percobaan penyimpanan dan uji organoleptik untuk menentukan nilai indeks kemasakan yang dapat menggambarkan penerimaan kemasakan minimum.

Indeks kemasakan artichoke berlangsung saat tanaman berumur 2-3 bulan. Pada fase ini, artichoke akan mengalami perubahan fisik, tekstur, dan warna karena adanya pengaruh etilen. Kuncup bunga akan mekar dan berubah warna dari hijau, merah, hingga ungu. Kuncup yang dapat dikonsumsi yaitu yang telah berbentuk kerucut bracts, dipanen pada tahap yang belum matang dan dipilih berdasarkan ukuran dan keseragaman kuncup. Kuncup yang telah mekar sempurna memiliki struktur terbuka atau menyebar (Cantwell dan Suslow, 2002).

B.3. Indeks Kualitas

Indeks kualitas buah artichoke mengacu pada kuncup yang telah berukuran maksimal, yaitu sebelum daun di bawah kelopak kuncup mulai membuka. Tangkai batang halus dan seragam, bebas dari kerusakan serangga maupun kerusakan penanganan. Batang biasanya dipotong  2,5-3,8 cm (1-1,5 inci) di bawah pangkal. Satu batang tanaman bisa menghasilkan 3 sampai lima kuncup artichoke, rata-rata tanaman yang tumbuh optimal dapat menghasilkan hingga 30 kuncup artichoke pertahun. (Menurut Cantwell dan Suslow, 2002)

  1. Lingkungan Penyimpanan dan Sifat Komoditas

C.1. Temperatur Optimum dan Freezing Injury

Pada musim dingin yang pendek dan musim panas yang panjang, bebas dari salju, dan lembab sayur artichoke tumbuh baik. Suhu yang optimal adalah tidak kurang dari 50°F pada malam hari dan tidak lebih dari 75°F di siang hari (Albert, 2009).

Freezing injury artichoke dimulai pada suhu 29,9°F (-1,2°C). Gejala ringan yaitu kutikula menggelembung dan bronzing bracts luar. Hal ini mungkin terjadi di lapangan pada tunas artichoke saat musim dingin. Hasil yang lebih parah terjadi pada bract yang direndam air dan jantung menjadi coklat sampai kehitaman kemudian penampilan berubah menjadi lunak dari waktu ke waktu (Jose, 2012).

C.2. Kelembaban Optimum

(Semco, 2014). Kelembaban optimum artichoke sekitar 95%. Hilangnya kelembaban dan pengurangan kualitas dari artichoke di akibatkan oleh tingkat kelembaban yang lebih rendah.

C.3. Laju Respirasi

Menurut Interempress, (2017) laju respirasi artichoke akan meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Artichoke bernafas dan melepaskan panas sekitar 8 kali pada suhu 68°F daripada pada suhu 32°F. Dengan demikian pendinginan dan penyimpanan yang tepat akan secara signifikan meningkatkan umur simpan artichoke.


 

C.4. Laju Produksi Etilen

Kitinoja dan Kader (2002) menyatakan bahwa laju produksi etilen artichoke sangat rendah. Hal ini di sebabkan artichoke termasuk ke dalam jenis sayuran, sayuran cenderung memiliki produksi etilen rendah jika dibandingkan dengan komoditas buah.

C.5. Respon terhadap Etilen

Sayur artichoke memiliki sensitivitas rendah pada etilen eksogen. Oleh karena itu, penanganan etilen  tidak dianggap sebagai faktor dalam penanganan dan distribusi pascapanen artichoke (Cantwell dan Suslow, 2002).

C.6. Respon terhadap Controlled Atmposphere

Cantwell dan Suslow (2002) menyatakan bahwa kontrol atau modifikasi atmosfer secara perlahan memberikan manfaat untuk mempertahankan kualitas artichoke. Kondisi 2-3% O2 dan 3-5% CO2 akan menunda perubahan warna pada bracts dan pembusukan selama beberapa hari pada suhu sekitar 5°C (41°F). Pada kontrol atmosfer di bawah 2% O2, dapat menyebabkan pencemaran internal pada artichoke.

  1. Kerusakan Fisik dan Fisiologis

Kandungan air artichoke yaitu antara 80-95%, sehingga sangat rentan terhadap kerusakan fisik. Kerusakan fisik dapat terjadi pada berbagai tahapan, mulai dari kegiatan pra panen, pemanenan, penanganan pasca panen, grading, pengemasan, transportasi, penyimpanan, dan pemasaran. Kerusakan yang umum terjadi adalah memar, terpotong, adanya tusukan tusukan, bagian yang pecah, lecet dan abrasi.

Suhu, temperatur, kelembaban, dan produksi etilen dapat menyebabkan kerusakan Fisiologis pada komoditas biasa. Suhu adalah faktor penting yang  berpengaruh terhadap laju kemunduran komoditas pascapanen, khusunya artichoke. Setiap peningkatan 10oC, laju kerusakan meningkat dua sampai tiga kali lebih cepat. Komoditas yang dihadapkan pada suhu yang tidak sesuai dengan suhu penyimpanan optimal, menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan fisiologis. Selain itu Suhu juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi etilen, penurunan O2 dan peningkatan CO2 yang berakibat buruk terhadap kerusakan. Peningkatan etilen pada komoditas juga menjadi faktor utama kerusakan fisiologis, etilen mempercepat pembungaan dan kemasakan yang nantinya juga akan menyebabkan senesen pada buah yang akhirnya mengarah pada kerusakan fisiologis (Kitinoja, L. dan A.A. Kader.2002)

Kerusakan fisik dan fisiologis dapat terjadi pada seluruh tahapan, mulai dari kegiatan sebelum panen, pemanenan, penanganan, grading, pengemasan, transportasi, penyimpanan, dan pemasaran. Kerusakan yang umum terjadi pada artichoke adalah memar, terpotong, adanya tusukan tusukan, dan lecet. Kerusakan dapat pula ditunjukkan oleh dihasilkannya stress metabolat (seperti getah), terjadinya perubahan warna coklat dari jaringan rusak, menginduksi produksi gas etilen yang memacu proses kemunduran produk (Fauzillah, 2010).

  1. Kerusakan karena Penyakit

Busuk akar  adalah salah satu penyakit yang menyebabkan kerusakan. Penyakit ini disebabkan oleh jamur, pembusukan pada akar menyebabkan pertumbuhan terganggu bahkan kematian pada tanaman. Salah satu indikasi adanya penyakit busuk akar adalah pertumbuhan tunas tidak maksimal yang ditandai dengan tunas kecil dan keras, sehingga secara tidak langsung dapat menghambat pembungaan yang nantinya dapat mengurangi produksi buah secara keseluruhan. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan adanya drainase yang baik, memotong bagian tunas yang terinfeksi, dan menghilangkan gulma disekitar areal pertanaman.

Artichoke juga sering terserang oleh virus. Virus biasanya menyerang bagian tanaman yang masih muda, kelembaban lingkungan yang relatif tinggi dapat mengakibatkan terserangnya virus. Serangan Jumlah virus yang tinggi dapat mempengaruhi jumlah bunga yang dihasilkan, baik dalam jangka dekat maupun jangka panjang. Hal ini Dapat dikendalikan menggunakan pestisida atau dengan menghilangkan bagian tanaman yang terinfeksi (Cantwell dan Suslow. 2002)

Baru-baru ini penyebaran varietas hibrida artichoke ini terkait dengan kebutuhan tanaman dengan produktif tinggi kinerja dan kualitas terbaik dari kepala produksi (Calabrese et al., 2004). Penyakit yang menyerang artichoke yaitu busuk mahkota yang bisa menginfeksi tanaman saat musim dingin. Dalam budidaya artichoke, sebaiknya hindari penggunaan mulsa apabila suhu tanah turun sampai 40°F, begitu juga saat cuaca mulai memanas. Untuk meminimalisir terserangnya penyakit ini yaitu dengan penggunaan varietas tahan penyakit. Namun apabila tanaman sudah terinfeksi, maka sebaiknya segera mencabutnya (Albert, 2009).


 

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2013. Artichoke: Sayuran Kaya Manfaat. http://www.kumpulantentangkesehatan.co.id/2013/10/artichoke-sayuran-kaya-manfaat.html. Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Andika bramantoro, 2012. Andika Bramantoro. PT.Sido Muncul, Ungaran
Dalam rangka penelitian tanaman bernilai ekonomi tinggi yang bisa dibudidayakan dengan pertanian organik.

Albert, Steve. 2009. How to Grow Artichokes. http://www.harvesttotable.com/2009/01/how_to_grow_artichokes_1/. Diakses pada tanggal 7 Desember 2017.

Bianco, V.V. 2005. Present situation and future potential of artichoke in the Mediterranean basin. Acta Hort. 681:39_55.

Cantwell, M. and T. Suslow. 2002. Lettuce, Crisphead: Recommendations for Maintaining Postharvest Qualityhttp://ucanr.edu/sites/Postharvest_Technology_Center_/Commodity_Resources/Fact_Sheets/Datastores/Vegetables_English/?uid=19&ds=799 . Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Cardarelli M, Rouphael Y, Colla G. 2005. An innovative vegetative propagation system for large-scale production of globe artichoke transplants. Part I. Propagation system setup. HortTech. 15:812_816.

FAO Statistical Database [Internet]. 2010. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome. Available from http://faostat.fao.org/. Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Fauzillah, Zana. 2010. Kerusakan Sayur dan Buah. https://agromeka.wordpress.com/2010/10/09/kerusakan-sayur-dan-buah/. Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Interempress. 2017. Vegetable Postharvest. http://www.frutas-hortalizas.com/Vegetables/Postharvest-Artichoke.html. Diakses pada tanggal 16 Mei 2017.

I Made S. Utama dan Nyoman S. Antara. 2013. Pasca Panen Tanaman Tropika: Buah dan Sayur. Modul Kuliah. Universitas Udayana. Denpasar, Bali.

Jeffry. 2012. Kandungan dan Manfaat Artichoke. http://necturajuice.com/kandungan-dan-manfaat-artichoke/. Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Jose. 2012. Symptoms of frost, freezing and chilling injury on vegetables. http://www.westernfarmpress.com/vegetables/symptoms-frost-freezing-and-chilling-injury-vegetables. Diakses pada tanggal 6 Desember 2017.

Kitinoja, L. dan A.A. Kader. 2002. Small Scale Postharvest Handling Practices: A Manual for Horticultural Crops (4th edition). Postharvest Horticulture Series No. 8: 43-56.

  1. Calabrese, E. De Palma, V.V. Bianco, Yield and quality of new commercial seed grown artichoke hybrids, Acta Hortic. 660 (2004) 77-82.

Semco. 2014. Effective Methods for Cooling Articokes After Harvest. http://semcoice.com/cooling/effective-methods-cooling-artichokes-harvest/. Diakses 6 Desember 2017.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar