islam

Hanya Blog UMY situs lain

Evaluasi Pendidikan

Posted by dwifajar 0 Comment

PRINSIP DAN ALAT EVALUASI

Disusun Oleh:

Dwi Fajar S                                   20100720011

Kholilurrohman                             20100720040

Siti Kholifah                                 201007200

Furqon Abdul Latief                     20100720056


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2012

BAB I

Pendahuluan

Alhamdulillahirobbil’alaim, dalam kesempatan yang insyaAllah diberkahi oleh Allah, sehingga kami dapat mengerjakan salah satu kewajiban sebagai pelajar, yang sering di sebut dengan tugas pembuatan makalah. Tugas tersebut mengenai prinsip dan alat evaluasi.

Evaluasi berasal dari kata evaluation dalam bahasa indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value yang berarti nilai. Dan jika diartikan secara istilah yaitu istilah evaluasi menunjuk kepada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.(Sudijono,2011:1)

Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian (value judgement). (http://wakhinuddin.wordpress.com/2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/, diakses 05 oktober 2012)

Secara umum suatu proses evaluasi dalam pendidikan dapat dikatakan terlaksana secara baik apabila memegang pada prinsip-prinsip dalam melakukan evaluasi, antara lain :

  1. Berprinsip keseluruhan

Dalam evaluasi seharusnya evaluasi tersebut dilaksanakan secara keseluruhan yaitu menyeluruh kesemua bagian. Sehingga evaluasi dapat dikatakan baik karena semua pihak yang dievaluasi dapat melaksanakannya semua.  Dengan kata lain evaluasi hasil belajar harus dapat mencangkup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik. Dengan demikian evaluasi hasilbelajar dapat mengungkap aspek proses berpikir, bersikap, dan bertindak.

Dari hasil evaluasi belajar yang dilakukan secara menyeluruh maka akan didapat hasil hasil secara menyeluruh pula. Yang dengannya menjadi bahan-bahan dan informasi yang lengkap menganai keadaan dan perkembangan subjek didik yang sedang dijadikan sasaran evaluasi.

 

  1. Berprinsip kesinambungan

Prinsip ini biasanya dikenal dengan prinsip kontinuitas, yang dimaksudkan di sini adalah sebagai suatu evaluasi dapat dikatakan menjadi baik jika evaluasi itu dilakukan secara sambung menyambung dan dilakukan dari waktu ke waktu. Dengan demikian maka akan dapat diperoleh gambaran kemajuan yang terjadi di antara para siswa yang di evaluasi. Dan gambaran kemajuan yang diperoleh dari peserta didik ini dapat dijadikan sebagai langkah untuk menentukan langkah-langkah atau kebajikan-kebajikan yang perlu diambil untuk masa-masa selanjutnya agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara baik.

  1. Berprinsip obyektivitas

Prinsip obyektivitas mengandung makna bahwa evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila terlepas dari fakto-faktor yang bersifat subyektif.

Fungsi Evaluasi

Menurut R.Soebagijo tujuan dan fungsi evaluasi adalah :

  1. untuk mengetahui apakah siswa telah menguasaiketerampilan atau pengetahuan dasar tertentu(mastery test).
  2. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan siswa dalam belajar(diagnostic test).
  3. Untuk mengetahui hasil belajar siswa(achievement test).
  4. Sebagai feed back. (http://pai-umy.blogspot.com/2011/09/prinsip-dan-alat-evaluasi.html, diakses 05 oktober 2012)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Prinsip Evaluasi

Ada satu prinsip umum danpenting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adannya triangulasi atau hubungan erat 3 komponen, yaitu antara:

  1. Tujuan pembelajaran
  2. Kegiatan pembelajaran atau KBM
  3. Evaluasi

Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut

tujuan

 

 

                                            KBM                           Evaluasi

Penjelasan dari bagan triangulasi diatas adalah:

  1. a.      Hubungan antara tujuan dengan KBM

Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai.dengan demikian,anak panah yang menunjukan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.

  1. b.      Hubungan antara tujuan dan evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai.Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ketujuan dilain sisi,jika dilihat dari langkah,dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.

  1. c.       Hubungan antara KBM dengan evaluasi

Seperti yang sudah disebutkan diatas evaluasi juga harus mengacu atas disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan. Misalnya, jika kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh guru dengan menitik beratkan pada ketrampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat ketrampilan siswa,bukannya aspek pengetahuan.(arikunto,2009:24)

 

  1. B.     Alat Evaluasi

Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata “alat” biasa disebut juga dengan istilah “instrument”. Dengan demikian maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. (Arikunto, 2012: 40)

Alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti disebutkan di atas, ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes. (Arikunto, 2012: 40)

  1. a.      Teknik nontes

Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan menyatakan  yang tergolong teknik nontes antara lain:

  1. Skala bertingkat (rating scale)
  2. Kuesioner (questioner)
  3. Daftar cocok (check list)
  4. Wawancara (interview)
  5. Pengamatan (observation)
  6. Riwayat hidup
    1. Skala bertingkat (Rating scale)

Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan: Rating gives a numerical value to some kind of judgement, maka suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.

Contoh:

Skor atau biji yang diberikan oleh guru di sekolah untuk menggambarkan tingkat prestasi belajar siswa. Siswa yang mendapat skor 8, digambarkan di tempat paling kanan dan semakin ke kiri adalah penggambaran nilai dibawah8.

 
   

 

                                                4                5                6               7                 8

  1. Kuesioner (questioner)

Kuesioner (questioner) juga biasa disebut angket. Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kuesioner ini  dapat diketahui keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap atau pendapat dan hal lainnya dari diri seseorang.

Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa macam kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi.

a)Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:

  1. Kuesioner langsung

Kuesioner ini dikatakan langsung karena dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.

  1. Kuesioner tidak langsung

Kuesioner tidak langsung adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang dimintai keterangannya.

Sebagai contoh kuesioner tidak langsung biasannya digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan, anak,saudara,tetangga,dan sebagainnya.(arikunto,2012;42)

b)            Ditinjau dari segi cara menjawab

  1. Kuesioner tertutup

Kuesioner tertutup adalah kuesioner  yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih. Contoh: dengan memberikan tanda cek ( √ ).

  1. Kuesioner terbuka

Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan bermacam-macam.: kuesioner terbuka digunakan untuk meminta pendapat atau keterangan tentang alamat pengisi. Contoh: untuk membimbing mahasiswa terbiasa membaca buku-buku asing,maka sebaiknya setiap dosen menunjuk buku asing sebagai salah satu buku wajib.

  1. Daftar cocok (check list)

Daftar cocok atau check list adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cek ( √ ). Di tempat yang sudah disediakan.

Contoh:

Berilah tanda cek ( √ ) pada kolom yang sesuai dengan pendapat saudara.

Pernyataan Pendapat
Penting Biasa Tidakpenting
Melihat pemandangan indah      
Aktifmengikutiorganisasi      
Melihat film      

 

  1. Wawancara (interview)

Wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.

Wawancara dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

a)      Interviu bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi.

b)      Interviu terpimpin, yaitu interviu yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu. Jadi dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan oleh pihak penanya. (Arikunto, 2012: 44)

Anas Sudijono dalam Pengantar Evaluasi Pendidikan menyatakan bahwa kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah, bahwa dengan melakukan wawancara, pewawancara sebagai evaluator (dalam hal ini guru, dosen, dan lain-lain) dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan dinilai, sehingga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan mendalam. Karena dengan melakukan wawancara, peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya dengan lebih bebas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknik wawancara tepat digunakan apabila seorang peneliti ingin mendapatkan data yang mendalam dari seorang atau beberapa responden.  Karena pertanyaan-pertanyaan yang belum jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi dan sebaliknya jawaban yang belum jelas dapat diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna.

  1. Pengamatan (observasi)

Pengamatan atau observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.

Terdapat 3 macam observasi:

a)      Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan sepenuhnya mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.

b)      Observasi sistematik, yaitu observasi dimana factor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Dalam observasi sistematik pengamat berada di luar kelompok.

c)      Observasi eksperimental

Observasi eksperimental terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemekian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi. (Arikunto, 2012: 45)

  1. Riwayat hidup

Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap objek yang dinilai. (Arikunto, 2012: 46)

  1. b.      Teknik tes

Menurut Drs.Amir Daien Indrakusuma dalam bukunya evaluasi pendidikan  Tes adalah ” suatu alatatau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat “.  Selanjutnya didalam bukunya teknik-teknik evaluasi Mukhtar Bukhori mengatakan: “ Tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid dan kelompok murid”.

Definisi yang selanjutnya dikutip oleh webster’s collegiate“test= any series of questions or exercises or other means of measuring the skill, knowledge, intelligence, capacities of aptitudes or an individual or group.

Dengan terjemahan bahwa Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

Dari beberapa kutipan dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan.

Ditinjau dari dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu :

  1. Tes diagnostik
  2. Tes formatif
  3. Tes sumatif

1)      Tes diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Dengan mengingat sekolah sebagai sebuah tranformasi, maka letak tes diagnostik dapat dilihat pada diagram berikut ini:

       
     
   
 

 

input                                                                                    output

Tes diagnostik ke1 dilakukan terhadap calon siswa sebagai input, untuk mengetahui apakah calon tersebut sudah menguasai pengetahuan yang merupakan dasar untuk menerima pengetahuan disekolah yang dimaksudkan. Secara umum tes ini disebut tes penjajakan masuk yang dalam istilah inggris disebut entering behaviour test. Test diagnostik ke1 dilakukan untuk dapat menerima penetahuan lanjutannya. Pengatahuan dasar inibisa disebutdengan pengatahuan bahan prasyarat(pre-requisite). Oleh karena itu tes ini disebut sebagai tes prasyarat atau prerequisite test.

Contoh:

Untuk mengajarkan perhitungan menghitung korelasi serial, guru harus yakin bahwa siswa sudah menguasai perhitungan tentang rata-rata dan simpangan baku(mean, standar deviasi). Oleh karena itu, sebelum mulai dengan menerangkan teknik korelasi serial tersebut, guru mengadakan test diagnostik untuk mengetahui penguasaan siswa atas mean dan standar deviasi tersebut.

Test diagnostik ke2 dilakukan terhadap calon siswa yang sudah akan mulai mengikuti program. Apabila cukup byak calon siswa yang diterima sehingga diperlukan lebih dari satu kelas, maka untuk pembagian kelas diperlukan suatu pertimbangan khusus. Apakah anak yang baik akan disatukan disatu kelas, ataukah semua kelas akan diisi dengan campuran anak baik,sedang, atau kurang, ini semua memerlukan adanya informasi. Informasi seperti ini dapat diperoleh dengan cara melakukan tes diagnostik. Dengan demikian tes ini berfungsi sebagai tes penempatan (placement test) .

Test diagnostik ke3 dilakukan terhadap siswa yang sedang belajar. Tidak semua siswa dapat menerima pelajaran yang diberikan oleh guru dengan lancar. Sebagai guru yang bijaksana, maka pengajar harus sekali-kali memberikan test diagnostik untuk mengetahui bagian mana dari bahan yang diberikan itu belum dikuasai oleh siswa. Selain itu ia harus dapat mengadakan deteksi apa sebab siswa tersebut belum menguasai bahan. Berdasarkan atas hasil mengadakan deteksi tersebut guru dapat memberikan bantuan yang diperlukan.

Test diagnostik ke4 diadakan pada waktu siswa akan mengakhiri pelajaran. Dengan tes ini guru akan dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap bahan yang ia berikan.

2)      Test formatif

Dari arti kata form yang merupakan dasar dari istilah formatif maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini test formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada akhir pelajaran. Evaluasi formatif atau test formatif diberikan pada akhir setiap program. Test ini merupakan post test atau test akhir proses.

                 program

Pre test                                                                                       post test

(test awal)                                                                                    (tes akhir)

Evaluasi formatif mempunyai fungsi baik bagi siswa, guru, maupun program itu sendiri.

Manfaat bagi siswa

  1. Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan proram secara menyeluruh.
  2. Merupakan penguatan bagi siswa.
  3. Usaha perbaikan
  4. Sebagai diagnosis.

Manfaat bagi guru

  1. Mengetahui sampai sejauh mana bahan yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa.
  2. Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum menjadi milik siswa.
  3. Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang akan diberikan.

 

 

 

 

Manfaat bagi program

Setelah diadakan tes formatif maka diperoleh hasil. Dan hasil tersebut dapat diketahui :

a)      Apakah program yanag telah diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan kecakapan anak .

b)      Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyrat yang belum diperhitungkan .

c)      Apakah diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan dicapai .

d)     Apakah metode, pendekatan, dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat .

3)      Tes Sumatif

Evaluasi sumatif/ tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program / sebuah program yang lebih besar.  Dalam pengalaman di sekolah, tes formatif dapat disamakan dengan ualangan harian,sedang tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulagan umum yang biasanya dilaksanakn pada akhir semester.

Manfaat Tes Sumatif.

Manfaat tes sumatif ada 3 yang terpenting,yaitu:

a)      Untuk menentukan nilai.

Apabial tes formatif terutama digunakan untuk memberikan informasi demi perbaikan penyampaian, dan tidak digunakan untuk member nilai atau tidak digunakn untuk menentukankedudukan seorang anak, maka niali dari tes sumatif ini digunakn untuk menentukan kedududkan anak.

b)      Untuk menentukan seorng anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya. Dalam kepentingan ini tes sumatif berfungsi sebagai tes prediksi.

Contohnya; ketika kenaikan kelas guru mempertimbangkan siapakah kira kira siswa yang mampu mengikuti program di kelas berikutnya.

c)      Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi; orang tua,pihak bimbingan dan penyuluhan di sekolah, dan pihak-pihak lain apabila siswa pindah sekolah/ akan melanjutkan belajar/ akan bekerja.

Contohnya; raport yang diberikan setiap akhir semester dan ijazah/ STTB bagi siswa yg lulus dalam tingkat SD/ SLTP /SMA

 

 

4)      Tes Formatif dan tes sumatif dalam praktek

Dalam pelaksanaan di sekolah tes formatif ini merupakan ulangan harian, sedangkan tes sumatif bias dikatakan sebagai ulangan umum yang diadakan pada akhir caturwulan atau di akhir semester.

Kebaikan THB bersama;

a)      Pihak atasan atau pengelola sekolah-sekolah (IPDA, Dinas P dan K atau p dan K)dapat membandingkan kemajuan sekolak sekolah yang ada di wilayahnya

b)      Karena dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang alain,maka akan timbul persaingan sehat antar sekolah.

c)      Standar pelajaran akan terpelihara dengan sebaik baiknya karena soal soal tes yang akan diberikan oleh Dinas P dan K atau Kanwil P dan K.

Keburukan THB bersama;

a)      Ada kemungkinan akan terjadi pemberian pelajaran yang hanya berorientasi pada “UJIAN” dengan cara memberikan latihan mengerjakan soal yang sebanyak-banyaknya.

b)      Tidak menghiraukan jika terjadi beberapa bentuk kecurangan karena ada sekolah-sekolah yang ingin mendapat niali baik.

Berhubungan dengan adanya bermacam-macam tes ini dengan sendirinya cara memberikan nilai dan perhitungannya sebagai informasi orestasi siswa juga berbeda-beda.

  1. C.    PERBANDINGAN ANTARA DIAGNOSTIK, FORMATIF, DAN SUMATIF
  2. Ditinjau dari segi fungsinya

Diagnostik :

  1. Menentukanapakahbahanprasyarattelahdikuasaiataubelum.
  2. Menentukantingkatpenguasaansiswaterhadapbahan yang dipelajari.
  3. Memisah-misahkan (mengelompokkan) siswaberdasarkankemampuandalammenerimapelajaran yang akandipelajari.
  4. Menentukankesulitan-kesulitanbelajar yang dialamiuntukmenentukancara yang khususuntukmengatasiataumemberikanbimbingan.

Formatif :

Sebagaiumpanbalikbagisiswa, guru, maupun program untukmenilaipelaksanaansatu unit program.

 

Sumatif :

Untukmemberikantandakepadasiswabahwatelahmengikutisuatu program, sertamenentukanposisikemampuansiswadibandingkandengankawannyadalamkelompok.

 

  1. 2.      Ditinjau dari segi waktu

Diagnostik :

  1. Pada saat penyaringan calon siswa
  2. Pada saat pembagian kelas atau saat pertama kali guru memberikan pelajaran
  3. Selama pelajaran sedang berlangsungbila guru akanmemberikanbantuankepadasiswa.

Formatif :

Selama pelajaran berlangsunguntukmengetahuikekurangan agar pelajarandapatberlangsungsebaik-baiknya.

Sumatif :

  1. Pada akhir unit catur wulan, semester akhirtahun, atau akhirpendidikan.

 

  1. 3.      Ditinjau dari titik berat penilaian

Diagnostik :

  • Tingkahlakukognitif, afektifdanpsikomotor.
  • Faktorfisik, psikologisdanlingkungan.

Formatif :

  1. Menekan kanpada tingkah laku kognitif.

Sumatif :

  1. 1.      Pada umumnya menekankan pada tingkah laku kognitif, tetapi ada kalanya pada tingkah laku psikomotor dan kadang-kadang pada afektif. Akan tetapi walaupun menekankan pada tingkah laku kognitif, yang diukur adalah tingkatan yang lebih tinggi (bukan sekadar ingatan atau hafalan saja).

 

  1. 4.      Ditinjau dari alat evaluasi

Tes diagnostic:

  1. Tes  prestasi belajar yang sudah distandarisasikan
  2. Tes diagnostik  yang sudah distandarisasikan
  3. Tes buatan guru
  4. Pengamatan dan daftar cocok (Check list)

Tes formatif

  1. Tes prestasi belajar yang tersusun secara baik

Tes sumatif

  1. Tes ujian akhir
  2. 5.      Ditinjau dari cara memilih tujuan yang di evaluasi

Tes diagnostik

  1. Memilih tiap-tiap ketrampilan prasyarat
  2. Memilih tujuan setiap program pelajaran secara berimbang
  3. Memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental , dan perasaan

Tes formatif

Mengukur semua tujuan instruksional khusus

Tes sumatif

Mengukur tujuan instruksional umum

  1. 6.      Ditinjau dari tingkat kesuliatan tes

Tes diagnostik

Untuk mengukur ketrampilan dasar, diambil soal tes yang mudah, yang tingkat kesulitannya (indeks kesukaran) 0,65 atau lebih.

Tes formatif

Belum dapat ditentukan

Tes sumatif

Rata-rata mempunyai tingkat kesulitan (indeks kesukaran) antara 0,35 sampai 0,70. Ditambah beberapa soal yang sangat mudah dan beberapa lagi yang sangat sukar.

  1. 7.      Ditinjau dari Skoring (cara memberikan skor)

Tes Diagnostik

Tes diagnostic menggunakan standar mutlak dan standar relative (criterion referenced and normreferenced).

Tes Formatif

Menggunakan standar mutlak (criterion referenced).

Tes Sumatif

Kebanyakan menggunakan standar relative (normreferenced), tetapi dapat pula dipakai standar mutlak (criterion referenced).

  1. 8.      Ditinjau dari Tingkat Pencapaian

Yang dimaksuddengantingkatpencapaianadalahskor yang harusdicapaisiswadalamsetiaptes. Tingkat pencapaianinitingkatpencapaianinitidaklahsama. Tinggirendahnyatuntutanterhadaptingkatpencapaiantergantungdarifungsidantujuanmasing-masingtes. (Suharsimi, 2005: 47)

(1)   Tes Diagnostik

Berhubung ada bermacam-macam tes diagnostik maka tingkat pencapaiannya yang dituntut juga tidak sama.Untuktes diagnostic yang sikapnyamemonitorkemajuan,tingkatpencapaianyang diperolehsiswamerupakaninformasitentangkeberhasilannya. Tindakan guru selanjutnyaadalahmenyesuaikandenganhasiltes diagnostic.

(2)   Tes Formatif

Ditinjau dari segi tujuan tes formatting digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah mencapai tujuan instruksional umum yang diuraikan menjadi tujuan instruksional khusus.

Dalam system pendidikan yang lama, tidak ada tuntutan terhadap pencapaian TIK namun dalam tahun 1975, dengan keluarnya kurikulum tahun 1975 dan modul, tingkat pencapaian untuk tes formatif adalah 75%. Siswa yang belum mencapai skor 75% dariskor yang diharapkan, diwajibkan untuk menempuh kegiatan perbaikan (remidial program)hingga siswa yang bersangkutan lulus dalam tes, yang artinyasiswatersebut telah mencapai skor 75%dariskormaksimal yang diharapkan. (Suharsimi, 2012: 62).

(3)   Tes Sumatif

Sesuidengan fungsi tes sumatif yaitu memberikan tanda kepada siswa bahwa mereka telah mengikuti suatu program dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawan dan kelompoknya.Maka tidak diperlukan suatu tuntutan harus berapa tingkat penguasaan yang dicapai.Namundemikian tidak berarti bahwates sumatif tidak penting. Perlu diingat bahwa te sumatif ini dilaksanakan pada akhir program, berarti nilainya digunakan untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan. Secara terpisah, tidak ditentukan tingkat pencapaiannya, namun secara keseluruhan akan dikenakan suatu norma tertentu, yaitu norma kenaikan kelas atau norma kelulusan.

 

9. Ditinjau dari cara Pencatatan Hasil

(a)    Tes Diagnostik

Dicatat dan dilaporkan dalam bentuk profil.

(b)   Tes Formatif

Prestasi setiap siswa dilaporkan dalam bentuk catatan, berhasil atau gagal menguasai sesuatu tugas.

(c)    Tes Sumatif

Keseluruhan skor atau sebagian skor dari tujuan-tujuan yang dicapai.

Pengelompokan

  1. PenggolonganBerdasarkanFungsinyaSebagaiAlatPengukurPerkembanganatauKemajuanBelajarPesertaDidik
  2. TesSeleksi

Tesseleksiseringdikenaldenganistilah “UjianSaringan” atau “UjianMasuk”.Tesinidilaksanakandalamrangkapenerimaancalonsiswabaru, di manahasiltesdigunakanuntukmemilihcalonpesertadidik yang tergolongbaikdarisekianbanyakcalon yang mengikutites.

  1. TesAwal

Tesawalseringdikenaldenganistilahpre-test.Tesjenisinidilaksanakandengantujuanuntukmengetahuisejauhmanakahmateriataubahanpelajaranyang akandiajarkantelahdapatdikuasaiolehparapesertadidik. Jaditesawaladalahtes yang dilaksanakansebelumbahanpelajarandiberikankepadapesertadidik.Karenaitumakabutir- butirsoalnyadibuat yang mudah-mudah.

  1. TesAkhir

Tesakhirseringdikenaldenganistilahpost-test.Tesakhirdilaksanakandengantujuanuntukmengetahuiapakahsemuamateripelajaran yang tergolongpentingsudahdapatdikuasaidengansebaik-baiknyaolehparapesertadidik.

  1. PenggolonganTesBerdasarkanAspekPsikis yang InginDiungkap
  2. TesIntelegensi

Tes yang dilaksanakandengantujuanuntukmengungkapataumengetahuitingkatkecerdasanseseorang.

  1. TesKemampuan

Tes yang dilaksanakandengantujuanuntukmengungkapkemampuandasarataubakatkhusus yang dimilikiolehtestee.

  1. TesSikap

Salah satujenistes yang dipergunakanuntukmengungkappredisposisiataukecenderunganseseoranguntukmelakukansuaturespontertentuterhadapduniasekitarnya, baikberupaindividu-individumaupunobyek-obyektertentu.

  1. teskepribadian

tes yang di lakukandengantujauanmengungkap cirri-irikhasdariseseorang yang banyaksedikitnyabersifatlahiriah, spertigayabicara, caraberpakaian, nada suara, hobiataukesenangandll.

  1. teshasilbelajaratautespecapaian

tes yang biasadigunakanuntukmengungkaptinggatpencapaianatauprestasibelajar.

  1. Dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes
    1. tes induvidual yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu orang tester saja
    2. tes kelompok yakni tes dimana  tester berhadapan dengan lebih satu orang tester
  2. Dari segi waktu yang di sediakan buat tester untuk menyelesaikan tes tersebut tidak di batasi
    1. power test yakni tes dimana waktu yang di sediakan buat teste untuk menyelesaikan tes tersebut  tidak dibatasi
    2. speed test yakni tes dimana waktu yang di sediakan buat teste untuk menyelesaikan tes tersebut   dibatasi
  3. Dari segi bentuk responnya
    1. verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan ataupun tertulis.
    2. nonverbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) dari teste bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang di hendaki muncul dari teste adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.
  4. dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara menjawabnya
  5. test tertulis yakni jenis test di mana tester dalam mengajuakan butir-butir pertnyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan teste memberikan jawabannya juga secara tertulis.
  6. test lisan yakni test dimana tester di dalam menggajukan pertnyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan dan teste memberikan jawabannya juga secara lisan.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Evaluasi dalam rangka kegiatan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Maka dari itu seorang Guru haruslah mengetahui prinsip-prinsip dalam evaluasi Sehingga dapat merumuskan suatu evaluasi yang baik dan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik.Evaluasi dilakukandengancara test dan non test.
  2. Di sekolah, evaluasidilakukan untuk mengukur siswa. Dilihat dari segi kegunaan mengukur siswa maka di bedakan menjadi 3 macam tes, Yaitu :
    1. Tes Diagnostik (Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa)
    2. Tes Formatif (Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program secara menyeluruh)
    3. Tes Sumatif (Ulangan Harian/semester)
    4. Berdasarkanpengelompokannyaevaluasidapatdibagimenjadi 6 kelompokyaitu :
      1. BerdasarkanFungsiada 2 :
        1. TesSeleksi (dalamrangkapenerimaancalonsiswabaru)
        2. Tesawal ( dilaksanakandengantujuanuntukmengetahuisejauhmanakahmateri yang akandiajarkantelahdikuasaipesertadidik)
        3. Tesakhir (dilaksanakandengantujuanuntukmengetahuiapakahmateripelajaransudahdikuasaiolehpesertadidik)
        4. Berdasarkanaspekpsikis
          1. TesIntelegensi (Untukmengungkaptingkatkecerdasanseseorang)
          2. Teskemampuan (mengungkapkemampuandasarataubakatkhusus)
          3. TesSikap
          4. TesKepribadian
          5. Teshasilbelajar
          6. Dari segibanyak orang

Tes individual dankelompok.

  1. Dari segiwaktu : power tes, speed tes.
  2. Dari segibentuk : verbal tes, non verbaltes.
  3. Dari segicara : testertulis, teslisan)

 

DaftarPustaka

 

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-dasarEvaluasiPendidikan. BumiAksara. Jakarta

Sudijono, Anas. 2011. PengantarEvaluasiPendidikan. Rajawali Press. Jakarta

http://wakhinuddin.wordpress.com/2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/, diakses 05 oktober 2012

http://pai-umy.blogspot.com/2011/09/prinsip-dan-alat-evaluasi.html, diakses 05 oktober 2012

 

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

dwifajar


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

turunnya Al-Quran da

TURUNNYA ALQURAN DENGAN TUJUH HURUF          Orang arab mempunya lahjah ( ...

HUKUM MEMAKAI PARFUM

HUKUM MEMAKAI PARFUM BAGI WANITA A.    Pendahuluan Saat ini sudah tidak asing ...

metode penelitian ek

metode penelitian eksperimen Penelitian Eksperimen     Definisi    Eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan ...

Undang-Undang No.36

Undang-Undang No.36 Tahun 1999 Maksud Dibuatnya undang-undang ini bermksud untuk mendukung kesatuan ...