islam

Hanya Blog UMY situs lain

MANTUQ DAN MAFHUM

Posted by dwifajar 0 Comment

MANTUQ DAN MAFHUM

1. Pengertian Mantuq dan Mafhum

Mantuq ialah pengertian yang ditunjukkan oleh lafal di tempat pembicaraan. Sedangkan mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh lafal tidak di tempat pembicaraan, tetapi dari pemahaman terdapat ucapan tersebut.

Artinya: “Maka jangan kamu katakana kepada ibu, bapakmu perkataan yang keji”. (QS. Al-Isra’ : 23)

Dalam ayat tersebut, terdapat pengertian mantuq dan mafhum. Mantuq yaitu ucapan lafal itu sendiri ( yang nyata / uffin) Jangan kamu katakan perkataan yang keji kepada kedua ibu, bapakmu. Sedangkan mafhum yang tidak disebutkan yaitu memukul dan menyiksanya juga dilarang.

2. Pembagian Mantuq

Nash

Nash adalah suatu perkataan yang jelas dan tidak mungkin dita’wilkan.

Artinya : “Barang siapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian maka kafaratnya adalah puasa selama 3 hari”. (QS Al-Maidah : 89)

Zhahir

Zhahir adalah suatu perkataan yang menunjukkan suatu makna, bukan yang dimaksud dan menghendaki kepada penta’wilan.

Artinya : “ Dan kekal wajah Tuhanengkau”.

Wajah dalam ayat diartikan dengan dzat, karena mustahil bagi Tuhan mempunyai wajah. (QS. Ar-Rahman : 27)

3. Pembagian Mafhum

  • Mafhum Muwafaqah

Mafhum muwafaqah adalah pengertian yang dipahami sesuatu menurut ucapan lafal yang disebutkan.

Mafhum Muwafaqah dapat dibedakan menjadi :

a) Fahwal Khitab : apabila yang dipahamkan lebih utama hukumnya daripada yang diucapkan.

b)   Lahnal Khitab : Apabila yang tidak diucapkan sama hukumnya dengan yang di ucapkan.

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya sebenarnya memakan api ke dalam perut mereka”. (QS. An-Nisa :10)

  • Mafhum Mukhalafah

Mafhum Mukhalafah adalah pengertian yang dipahami berbeda dari ucapan, baik dalam istinbat (menetapkan), maupun naïf (meniadakan).

Artinya : “Apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan salat pada hari jumat, maka bersegeralah kamu mengerjakannya dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. Jumu’ah : 9)

 

Syarat Mafhum Mukhalafah

Menurut A.Hanafie dalam Ushul Fiqh

*  Mafhum mukhalafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat, baik dalil mantuq maupun mafhum muwafaqahnya.

contoh berlawanan dengan dalil mantuq

Artinya : “ Jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan suatu alasan yang benar”. (QS. Al-Isra’ : 31)

Mafhumnya, kalau bukan karena takut kemiskinan, tetapi dalam mafhumnya mukhalafahnya berlawanan dengan dalil mantuqnya.

contoh berlawanan dengan mafhum mukhalafahnya

Artinya: “Maka jangan kamu katakana kepada ibu, bapakmu perkataan yang keji”. (QS. Al-Isra’ : 23)

Yang disebutkan hanya kata-kata yang kasar, mafhum mukhalafahnya boleh memukuli . Tapi mafhum ini berlawanan dengan dail mafhum muwaqafnya (tidak boleh memukuli).

*  Yang disebutkan (mantuq) bukan suatu hal yang biasa terjadi.

Artinya : “Dan anak-anak istrimu yang ada dalam pemeliharaanmu”. (QS. An-Nisa : 23)

“Yang ada dalam pemeliharaanmu” tidak boleh dipahamkan bahwa yang tidak ada dalam pemeliharaan boleh dikawini.

*  Yang disebutkan (mantuq) bukan dimaksud untuk menguatkan sesuatu keadaan.

Artinya : Orang islam, orang yang tidak mengganggu orang-orang islam lainnya, baik dengan lisan maupun dengan tangannya.

*  Yang disebut (mantuq) harus berdiri sendiri, tidak mengikuti kepada yang lain.

contoh :

Artinya : “Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) padahal kamu sedang beriktikaf di masjid. (QS. Al-Baqoroh : 187)

Tidak dapat dipahamkan kalau tidak beritikaf dimasjid, boleh mencampuri.

 

Macam-Macam Mafhum Mukhalafah

a. Mafhum Shifat : menghubungkan hokum sesuatu kepada syah satu sifatnya.

Artinya : “Maka hendaklah bebaskan seorang budak (hamba sahaya) yang mukmin”.

b. Mafhum ‘illat : menghubungkan hukum sesuatu menurut illatnya.

contoh : mengharamkan minuman keras karena memabukkan

c. Mafhum ‘adat : menghubungkan hokum sesuatu kepada bilangan yang tertentu.

Artinya : “Orang-orang menuduh perempuan baik berbuat curang (zina), kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka pukullah mereka 80 kali pukulan”. (QS. An-Nur : 4)

d. Mafhum ghayah : lafal yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah (batasan, hinggaan), hingga lafal ghayah ini adakalanya dengan “illa” dan dengan “hatta”.

Artinya : “Bila engkau hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai kepada siku”. (QS. Al-Maidah: 6)

Artinya : “Dan jangan kamu dekati istri-istrimu hingga mereka itu suci”.

e. Mafhum Had : menentukan hokum dengan disebutkan suatu ‘adad, di antara adat-adatnya

Artinya: “Katakanlah, tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau biatang yang disembelih dengan tidak atas nama Allah”.

  1. Mafhum Laqaab : menggantungkan hukum kepada isim alam atau isim fi’il

Artinya : “Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Usman masuk surga, dan Ali masuk surga sampai-sampai bilangan itu sepuluh”.

 

Kehujjahan

Mafhum Muwafaqah bisa menjadi “hujjah”.

Hampir semua ulama berpendirian demikian, kecuali golongan zhahiriyah.

“Semua mafhum mukhalafah bisa menjadi hujjah, kecuali mafhum Laqaab”.

Pendapat Abu Hanifah dan Ibnu Hazm dari golongan zhahiriyah mengatakan, bahwa semua mafhum mukhalafah tidak bisa menjadi hujjah.

 

 

 

 

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

dwifajar


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

turunnya Al-Quran da

TURUNNYA ALQURAN DENGAN TUJUH HURUF          Orang arab mempunya lahjah ( ...

HUKUM MEMAKAI PARFUM

HUKUM MEMAKAI PARFUM BAGI WANITA A.    Pendahuluan Saat ini sudah tidak asing ...

metode penelitian ek

metode penelitian eksperimen Penelitian Eksperimen     Definisi    Eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan ...

Undang-Undang No.36

Undang-Undang No.36 Tahun 1999 Maksud Dibuatnya undang-undang ini bermksud untuk mendukung kesatuan ...