islamic education

Hanya Blog UMY situs lain

Tafsir Q.S As Shaffat 102

Posted by erfina dyah anggraheni 1 Comment

Q.S. AS SAFFAT 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102)

Artinya: ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

  1. PENDAHULUAN

Allah SWT memberi kabar gembira kepada Ibrahim dengan bakal lahirnya seorang lelaki yang ketika mencapai dewasa, dia menjadi anak yang sabar.

Kedewasaan anak Ibrahim itu dapat dimengerti dari disifatinya dia sebagai seorang yang halim. Karena, sifat seperti itu memang lazim pada umur dewasa, disamping jarang sekali terdapat dikalangan anak-anak kecil sikap lapang dada, kesabaran yang baik dan ketidakliaran terhadap segala hal. Dan anak ini adalah Ismail a.s. karena Ismaillah anak yang pertama-tama diberikan kepada Ibrahim sebagai kabar gembira. Dia lebih besar dari pada Ishaq, demikian menurut kesepakatan para ulama, baik dari kalangan ahli kitab, maupun kaum muslimim. Bahkan, ada sebuah nash dalam Taurat yang menyatakan bahwa Ismail dilahirkan ketika Ibrahim berumur 86 tahun. Sedangkan Ishaq lahir dikala beliau berumur 99 tahun.

 

  1. PEMBAHASAN

Firman Allah ta’ala, “maka tatkala anak itu telah sanggup berusaha bersama sama Ibrahim, “yaitu menjadi besar dan dewasa serta dapat pergi bersama ayahnya dan sanggup melaksanakan pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya, Ibrahim berkata, “hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”. Sesungguhnya Ibrahim memberitahukan kepada anaknya dengan cara seperti itu agar lebih medah diterima oleh anaknya dan dengan maksud menguji kesabaran, keteguhan, dan keistikomahan anaknya dikala masih kecil dalam menaati Allah dan menaati ayahnya. Maka dia menjawab, “Hai ayahku, engkau telah menyeru kepada anak yang mendengar, dan engkau telah meminta kepada anak yang mengabulkan dan engkat telah berhadapan dengan anak yang rela dengan cobaan dan putusan Allah. Maka, bapak tinggal melaksanakan saja yang diperintahkan, dan aku hanyalah akan patuh dan tunduk kepada perintah, dan aku serahkan kepada Allah pahalanya, karena Dialah cukup bagiku dan sebaik-baik tempat berserah diri.

Kemudian Ismail, semoga Sholawat dan Rahmad Allah tercurah kepadanya, telah melakukan janjinya itu dengan benar, sebagaimana firman-Nya, “dan ingatlah didalam kitab itu tentang Ismail. Sesungguhnya dia adalah benar dalam janjinya. Dan dia adalah seorang rosul lagi seorang nabi. Memerintahkan keluarganya untuk menegakkan sholat. Dan dia disisi Tuhannya direstui.” Selanjutnya firman Allah SWT, “tatkala keduanya telah berserah diri dan ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, tatkala keduanya telah berserah diri dan tunduk patuh, artinya Ibrahim telah melaksanakan perintah Allah dan Ismail telah menaati perintah Allah dan ayahnya. Adapun arti “membaringkan anaknya atas pelipisnya” ialah menelungkupkan wajahnya agar dia tidak melihat wajah anaknya itu ketika disembelih hingga lebih ringan bagi hatinya. Sedangkan Ismail as ketika itu memakai baju berwarna putih. Lalu dia mengatakan, “hai ayahku, sesungguhnya aku tidak mempunyai pakaian untuk mengafaniku selain baju ini, oleh karena itu lepaskanlah baju ini, sehingga dapat dijadikan untuk mengafaniku”. Maka ibrahim pun hendak melepaskannya. Maka ketika itulah terdengar suara dari belakang, “hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Ibrahim langsung menoleh kebelakang, ternyata seekor domba jantan berwarna putih, bertanduk dan bermata bagus. Ibnu abbas ra mengatakan “sesungguhnya engkau telah memperlihatkan kepada kami agar mengganti sesembelihan itu dengan domba jantan”.

Dan menurut bangsa Yahudi, sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih “anak satu-satunya”. Didalam naskah lain, dikatakan “anak bujangnya”. Mereka memasukkan unsur dusta dan mengada-ada disini, yaitu mengatakan bahwa yang akan disembelihnya itu adalah Ishaq. Ini salah karena bertentangan dengan teks kitab-kitab mereka sendiri. Yang menjadi alasan mereka memasukkan Ishaq sebagai yang akan disembelih oleh Ibrahim ialah karena Ishaq adalah nenek moyang mereka (bangsa Yahudi), sedangkan Ismail adalah nenek moyang bangsa Arab. Para ahli kitab ini iri kepada bangsa Arab sehingga mereka menambah-nambah dan mengubah kata “anakmu satu-satunya” dengan “anak yang tidak kamu miliki lagi selain dia” (Ishaq), sebab Ismail dan ibunya telah ditempatkan oleh Ibrahim di Mekkah. Ini merupakan penafsiran dan pengubahan yang bathil. Sebab Allah tidak akan mengatakan “anakmu satu-satunya” kepada Ibrahim jika masih ada anak yang lain. Disamping itu, sesungguhnya anak pertama itu akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya melebihi anak-anak yang lahir setelahnya. Maka perintah untuk menyembelihnya akan menjadi ujian dan cobaan yang sangat berat. Dan inilah kitab Allah yang menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang akan disembelih oleh Ibrahim itu adalah putranya, Ismail. Sebab kitab itu menceritakan kabar gembira berupa kelahiran seorang anak yang penyabar. Dan kitab itupun menyebutkan bahwa anak itulah yang akan disembelih. Dan Allah menceritakan rangkaian kisah penyembelihan yang akan dilakukan oleh Ibrahim ini, mulai dari datangnya mimpi, kepasrahan Ismail terhadap perintah Allah, kemudian meminta ayahnya agar meletakkannya tepat di pelipisnya, kemudian setelah itu barulah terdengar panggilan kepada Ibrahim, “Sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu…………. sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”.

  1. PENUTUP

Firman Allah SWT, “dan Kami panggil dia, ‘hai ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’”, yaitu maksud mimpimu itu telah tercapai dengan perbuatanmu yang telah menelungkupkan anakmu itu untuk disembelih. Firman Allah SWT, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. Demikianlah, Kami hindarkan dari orang-orang yang taat kepada Kami berbagai macam hal yang tidak disukai dan berat serta Kami berikan kepad amereka jalan keluar yang baik. Hal ini seperti firman-Nya “barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka dia akan memberikan kepada hamba-Nya jalan keluar dari setiap kesulitannya dan akan memberikan riski kepadanya dari arah yang tidak disangka-snagkanya”.

Allah SWT berfirman “dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang sholeh”. Ketika para malaikat memberikan kabar gembira kepada Ibrahim tentang kehadiran Ishaq mereka mengatakan kepadanya, “sesungguhnya kami akan memberikan kabar gembira kepadamu dengan kehadiran seorang anak yang pintar”. Dan Allah berfirman, “maka Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran Ishaq dan dibelakang Ishaq akan hadir pula Ya’qub”. Yaitu akan dilahirkan bagi Ibrahim dan Ishaq seorang putra dikala keduanya masih hidup, yaitu Ya’qub. Maka Ya’qub ini akan menjadi keturunan Ibrahim dan Ishaq, yaitu sebagai anak dan cucunya. Dan telah kami singgung dimuka bahwa setelah Allah memberitahukan hal ini, tentu saja Ibrahim tidak akan diperintahkan untuk menyembelih Ishaq ketika masih kecil, sebab Allah ta’ala telah menjanjikan kepada keduanya, yaitu Ibrahim (bapak) dan Ishaq (anak), bahwa keduanya akan memperoleh keturunan yang bernama Ya’qub (cucu). Maka bagaimana mungkin Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ishaq dikala dia masih kecil, padahal Allah telah menjanjikan kepadanya bahwa Ibrahim akan memperoleh cucu dari Ishaq? Sedangkan ismail, didalam ayat ini diterangkan sebagai seorang penyabar, yang tentu saja lebih munasabah dengan situasi dan kondisinya.

  1. REFERENSI
  • Muhammad Nasib Ar Rifai, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Gema Insani, Jakarta, 2000.
  • Ahmad Mushthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, CV Toha Putra, Semarang, 1993.
Categories: islamic knowladge

PROFIL AKU

erfina dyah anggraheni


Popular Posts

SISTEMATIKA BERFIKIR

Hei kawan, Ternyata Cara berfikir antara satu orang dengan orang ...

Kenali Gaya Belajarm

Mempelajari gaya belajar seseorang adalah dengan memperlihatkan cara mengenali dan ...

The words of Heart

When you feell there are something lose from your self,,, Don’t ...

THE POWER OF KEPEPET

By Mario Teguh Share ya kawan, Dari Mario Teguh Golden Ways ...

LIMA HUKUM KOMUNIKAS

(The Five Inevitable Laws of Effective Communication)   Lima Hukum Komunikasi yang ...