islamic education

Hanya Blog UMY situs lain

Komunikasi Pendidikan

Posted by erfina dyah anggraheni 0 Comment
  1. MANAJEMEN RUANG KELAS DALAM PERSPEKTIF

Dalam bab tersebut, permasalahan yang diangkat ialah bagaimana sebaiknya guru menangani siswa yang berperilaku menyimpang. Ketika guru menanggapi perilaku siswa yang menyimpang dengan memerintahkan siswa untuk berdiri didepan kelas, ternyata hal tersebut bukanlah solusi yang tepat, bahkan hal tersebut akan membuat situasi semakin memburuk. Maka dari itu, solusi yang ditawarkan ialah bagaimana guru membangun hubungan yang harmonis dengan siswa, dan begitu pula sebaliknya.  Hubungan harmonis tersebut dapat terwujud ketika siswa merasa butuh terhadap guru. Baik butuh akan ilmu yang diajarkan, maupun butuh saat siswa mengalami kesulitan. Adapun langkah lain yang perlu diterapkan oleh guru yaitu, dengan memperbaiki metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, karena bisa jadi siswa berperilaku menyimpang karena merasa bosan saat mengikuti pelajaran.

MEMAHAMI KEBUTUHAN DASAR PSIKOLOGIS SISWA

Dalam bab ini, dikemukakan mengenai tahap – tahap perkembangan psikososial manusia menurut erikson, yaitu: (1) Infancy awal pertumbuhan dimana anak mengembangkan perasaan percaya (trust) dan harapan (hope) atau perasaan tidak percaya (mistrust) dan putus asa (despair). (2) Masa kanak-kanak awal, di mana anak mengembangkan perasaan kemandirian (autonomy). (3) Insiatif (intiative) versus rasa bersalah (guilt). (4) Industry versus inferiority atau ikhtiar atau usaha versus inferioritas. Selama masa ini anak harus bermain dan mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu.

Permasalahan yang ada ialah bagaimana guru mewujudkan pribadi siswa sesuai dengan tahapan-tahapan tersebut. Bagaimana ketika siswa yang telah tumbuh dewasa, namun belum mempunyai rasa percaya diri yang baik sesuai dengan tahap awal diatas atau dengan kata lain minder. Hal tersebut dapat menjadi faktor tumbuhnya perilaku menyimpang siswa, sehingga perlu adanya tindakan guru yang tepat dalam menanggulangi permasalahan tersebut. Salah satunya yaitu dengan penerapan metode pembelajaran yang dapat mendorong siswa tersebut untuk sedikit demi sedikit untuk turut angkat bicara.

MENCIPTAKAN HUBUNGAN POSITIF GURU-MURID

Berdasarkan pada ulasan literature yang luas, Woolfolk dan Weintein (2006) menemukan bahwa siswa memilih dan dengan baik menanggapi guru yang mempunyai tiga keahlian: menjalin hubungan yanag penuh kepedulian dengan siswa, membantu batasan dan menciptakan lingkungna yang aman tanpa menjadi kaku, mengancam, atau menghukum dan membantu belajar menjadi menyenangkan.

Adapun Hubungan antara guru dan siswa akan baik jika mengandung: (1) keterbukaan atau transparasi, jadi masing–masing dapat berinteraksi langsung dan jujur satu sama lain; (2) kepedulian/perhatian, ketika yang satu mengetahui bahwa ia di hargai oleh yang lain; (3) saling tergantung (ini berbeda dengan ketergantungan) satu sama lain; (4) terpisah, membolehkan masing–masing tumbuh dan mengembangkan keunikan, kreativitas dan individualitas; dan (5) sama- sama menguntungkan, jadi tidak ada upaya memenuhi kebutuhan seseorang dengan mengambil hak orang lain.

Dalam realita yang dipraktekkan oleh guru agar memiliki hubungan yang positif dengan siswa yaitu, saat istirahat tiba guru tidak masuk kedalam kantor namun masuk kedalam kantin dan makan bersama-sama dengan siswa. Dengan hal tersebut, maka akan terjalin kedekatan emosional antara siswa dengan guru.

MENCIPTAKAN HUBUNGAN PERTEMANAN YANG HARMONIS

Terdapat beberapa langkah yang dapat diterapka oleh guru untuk membangun hubungan pertemanan yang harmonis antar siswa, yaitu dengan:

  1. Aktivitas pengenalan, dapat dilakukan dengan permainan tebak siapa, wawancara, maupun dengan konsep t-shirt. Yang dimaksud t-shirt disini ialah dengan mencantumkan nama pada kaos yang dikenakan oleh siswa, sehingga siswa yang lain dapat membaca dan mengetahui siapa dia dari mana yang tertera dalam kaos.
  2. Pengelompokan, dapat dilakukan dengan memberikan tugas bersama dalam kelompok, sehingga mestimulus siswa untuk berani bertanya dan berdiskusi dengan teman satu kelompoknya. Dari hal tersebut, maka siswa dapat cepat saling mengenal.
  3. Pola kesukaan, yaitu dengan membuat list apa yang siswa sukai baik dari aspek olahraga, makanan, ataupun yang lainnya. Dari pola kesukaan tersebut, maka antara siswa yang mempunyai kesukaan yang sama akan saling bertegur sapa dan saling mengungkap tentang kesukaan tersebut.
  4. Iklim sekolah, yaitu guru dapat menetralisir kelompok minoritas terhadap kelompok mayoritas agar dapat melebur dan saling bekerja sama tanpa memandang perbedaan ras, status sosial, suku, budaya, dll.
    1. E.     BEKERJA SAMA DENGAN ORANG TUA

Guru menemukan  beberapa alasan, pentingnya bekerja sama dengan orang tua atau wali murid. Pertama, sikap anak terhadap sekolah dipengaruhi oleh orang tuanya (Epstain, Coates, Salinas, Sandes, & Simon, 1997). Ketika orang tua beranggapan baik tentang lingkungan sekolah anak-anak mereka, anak mereka akan menerima dukungan tersebut dan dijadikan sebuah motivasi dia untuk sekolah. Kedua, Orang tua atau wali harus mengetahui perilaku dan prestasi akademis siswa. Ketiga, orang tua dan wali murid dapat menjadi sumber daya penting bagi guru. Mereka sukarela menyediakan waktu untuk menjadi tutor bagi siswa. Keempat, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah memberi pengaruh positif siswa terhadap sekolah, dalam hubungannya antara upaya dan prestasi sekolah, serta dalam menyelesaikan PR sekolah (Grolnick, & Slowiaczek, 1994; Hoover-Dempsey dkk., 2002). Terakhir, hadiah dan hukuman yang ada disekolah tidak cukup kuat memunculkan perilaku anak yang diharapkan.

Namun, terdapat pula permasalahan ketika anak bermasalah disekolah, manun orang tua kurang perduli akan hal tersebut, maka terdapat beberapa kebijakan sekolah yang dapat menanggulangi perilaku menyimpang siswa tanpa sekolah mengambil keputusan untuk mengeluarkannya. Dalam sistem yang tercanang dalam sekolah  yaitu danya deadline drop dengan jangka waktu 3 bulan. Apabila dalam jangka waktu 3 bulan kesempatan untuk memperbaiki perilaku belum berubah juga, maka dilakukan pentranferan siswa ke Sekolah Berkepentingan Khusus.

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN BELAJAR SISWA DENGAN MENGIMPLEMENTASIKAN METODE INSTRUKSIONAL YANG MEMENUHI KEBUTUHAN AKADEMIK SISWA.

Ketika terdapat perilaku yang aneh atau menyimpang dari siswa dalam proses belajar mengajar guru, seperti perilaku siswa membolos sekolah dll, maka yang harus segera dilakukan oleh guru yaitu dengan mengevaluasi metode pembelajaran yang diterapkan guru dalam proses KBM. Apakah faktor siswa membolos itu adalah bosan karena metode pembelajaran kurang menarik.

Adapun pembelajaran yang paling efektif dan berhasil dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas ialah dengan metode kooperatif, yaitu dengan metode berkelompok dan bekerja sama antar siswa dengan menuntut seluruh siswa untuk aktif. Dua metode tambahan untuk meningkatkan motivasi belajar  siswa (1) Belajar Bersama, Good dan Bropy, mencatat bahwa dalam belajar bersama dapat menjadi teknik yang efektif dalam membantu siswa menerima dan berfungsi secara efektif di ruang kelas. (2) Tutoring teman sebaya, Manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan tutor temen sebaya di kelas: (a) Tutoring mengembangkan konsep meminta dan menawarkan bantuan sebagai perilaku positif. (b) Kesempatan anak lain untuk memerintah anak lain dapat memberikan siswa perasaan kompeten dan keberhargaan.Membantu guru memonitor dan intruksi individualisme.

Categories: pengetahuan umum

PROFIL AKU

erfina dyah anggraheni


Popular Posts

SISTEMATIKA BERFIKIR

Hei kawan, Ternyata Cara berfikir antara satu orang dengan orang ...

Kenali Gaya Belajarm

Mempelajari gaya belajar seseorang adalah dengan memperlihatkan cara mengenali dan ...

The words of Heart

When you feell there are something lose from your self,,, Don’t ...

THE POWER OF KEPEPET

By Mario Teguh Share ya kawan, Dari Mario Teguh Golden Ways ...

LIMA HUKUM KOMUNIKAS

(The Five Inevitable Laws of Effective Communication)   Lima Hukum Komunikasi yang ...