THAHARAH

  Uncategorized   December 21, 2011

thaharah

THAHAROH

  1. Pengertian Thaharoh dan Pembagian Jenis Thaharah

Thaharoh menurut bahasa berarti membersihkan diri. Sedang menurut istilah berarti bersuci dengan cara-cara yang telah ditentukan oleh syara’ guna menghilangkan segala najis dan hadats.

Dalam pelaksanaan thaharoh ajaran islam telah mengaturnya secara terperinci, sehingga setiap muslim dapat melaksanakannya secara tepat. Selain itu, semua perangkat yang digunakan untuk thaharoh baik macam maupun cara pemakaiannya juga telah diatur oleh ajaran islam. Tujuannya agar jangan sampai terjadi kekeliruan dalam penerapannya, sehingga tidak merusak amalan ibadah yang telah dilakukannya.

Adapun pembagian thaharah adalah:

  1. Thaharah Hakiki

adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. Thaharah hakiki bisa didapat dengan menghilangkan najis yang menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah.

  1. Thaharah Hukmi

adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar (kondisi janabah). Thaharah hukmi didapat dengan cara berwudhu’ atau mandi janabah.

  1. Benda-benda yang dihukum najis

Najis menurut bahasa adalah segala sesuatu yang dipandang kotor aatau menjijikkan. Sedangkan menurut istilah adalah macam-macam kotoran yang dapat menghalangi sahnya shalat, ataupun sahnya thawaf.

Adapun benda-benda yang dihukum najis oleh syara’ antara lain:

  1. Bangkai binatang darat

Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat al maidah: 3,

 

ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$# ãP¤$!$#ur ãNøtm:ur ͍ƒÌ“Yσø:$# ….

Artinya:

“Diharamkan atas kamu sekalian memakan bangkai, darah dan babi”

(QS. Al maidah:3)

Pada umumnya semua bangkai dihukum najis, kecuali bangkai ikan,bangkai belalang dan bangkai binatang yang darahnya secara inderawi tampak tidak mengalir, misalnya nyamuk dan semut.

  1. Darah

Firman Allah:

 

ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$# ãP¤$!$#ur ãNøtm:ur ͍ƒÌ“Yσø:$# ….

Artinya:

“Diharamkan atas kamu sekalian memakan bangkai, darah dan babi”

(QS. Al maidah:3)

Semua darah hukumnya najis, kecuali darah yang mengental dari asalnya, yang berupa hati dan limpa, atau darah yang tersisa pada urat yang sangat lembut yang sering dijumpai pada binatang sembelihan.

 

  1. Daging babi

Firman Allah dalam surat Al An’am: 145 yang berbunyi:

@è% Hw ߉É`r& ’Îû !$tB zÓÇrré& ¥’n<Î) $·B§ptèC 4’n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ”\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_͑ ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/

Artinya:

“Katakanlah: Tidaklah aku jumpai didalam wahyu yang dismpaikan kepadaku makanan yang diharamkan kecuali bangkai, atau darah yanh mengalir, atau daging babi, karena itu adalah najis”

  1. Potongan daging dari anggota badan binatang najis yang masih hidup

Hukum bagian badan yang terpotong adalah mengikuti hukum binatang yang dipotong anggota badannya. Sebuah hadist menyatakan:

Dari Abu Waqid al-Laist dikatakan bahwa rasulullah telah bersabda:

“Sesuatu yang dipotong dari seekor binatang sedang ia masih hidup maka(potongan tersebut) adalah bangkai juga”

  1. Semua benda cair yang keluar dari dua pintu tempat buang air  kecil dan air besar
  2. Khamar, yaitu sejenis minuman yang mengandung alkohol yang berkadar tinggi, sehingga akan mengakibatkan mabuk bagi yang meminumnya. Dalam surat Al Maidah: 90 diterangkan:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_͑ ô`ÏiB      È@yJtã

Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ

Artinya:

“ Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

 

  1. Alat-alat yang digunakan untuk thaharoh
    1. Air

Air adalah media untuk mensucikan yang berfungsi untuk menghilangkan najis, sekaligus juga berfungsi sebagai media untuk menghilangkan hadats. Air merupakan alat thaharoh yang paling utama, namun tidak semua air dapat digunakan untuk thaharah. Oleh karena itu berikut ini dijelaskan macam-macam air:

  1. Air mutlaq

Air mutlaq adalah keadaan air yang belum mengalami proses apapun. Air itu masih asli, dalam arti belum digunakan untuk bersuci, tidak tercampur benda suci atau pun benda najis. Air mutlaq ini hukumnya suci dan sah untuk digunakan bersuci, yaitu untuk berwudhu’ dan mandi janabah.  Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah :

  1. Air Hujan

Air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci. Allah berfirman dalam surat Al Anfal:11:

 

øŒÎ) ãNä3ŠÏe±tóム}¨$yè‘Z9$# ZpuZtBr& çm÷YÏiB ãAÍi”t\ãƒur Nä3ø‹n=tæ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB Nä.tÎdgsÜã‹Ïj9 ¾ÏmÎ/ |=Ïdõ‹ãƒur ö/ä3Ztã t“ô_͑ Ç`»sÜø‹¤±9$# xÝÎ/÷ŽzÏ9ur 4’n?tã öNà6Î/qè=è% |MÎm7sWãƒur ÏmÎ/ tP#y‰ø%F{$# ÇÊÊÈ

Artinya:

“Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki.”

  1. Salju

Hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya dan juga fungsinya sebagai media mensucian. Di dalam doa iftitah setiap shalat, disebutkan bahwa kita meminta kepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air, salju dan embun.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab,”Aku membaca,”Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahankesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. Ya                              Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun“.        (HR. Bukhari 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)

  1. Embun

Embun juga bagian dari air yang turun dari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras. Dalilnya sama dengan dalil di atas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hurairah ra.

  1. Air Laut

Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan.

Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah

SAW,`Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`. Rasulullah SAW menjawab,`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22)2.

  1. Air Zam-zam

Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. Tentang bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuci atau berwudhu, ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Alibin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. (HR. Ahmad).

  1. Air sumur atau Mata air

Air sumur atau mata air adalah air yang suci dan mensucikan. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalah hadits tentang sumur Budha`ah yang terletak di kota Madinah.

Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya,`Ya Rasulullah, Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh, dibuang kedalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab,`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. (HR. Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, ASn-Nasai 325, Ahmad3/31-87, Al-Imam Asy-Syafi`i 35)3.

  1. Air Sungai

Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama    karakternya dengan air sumur atau mata air. Sejak dahulu umat Islam terbiasa       mandi, wudhu` atau membersihkan najis dengan air sungai

  1. 2.      Air musta’mal

Jenis yang kedua dari pembagian air adalah air yang telah digunakan untuk bersuci yaitu air yang menetes dari sisa bekas wudhu’ di tubuh seseorang, atau sisa bekas air penampungan.  Air musta’mal berbeda dengan air bekas mencuci tangan, atau membasuh muka atau bekas digunakan untuk keperluan lain, selain untuk wudhu’ atau mandi janabah. Sehingga air bekas mandi biasa (bukan janabah), tidak disebut sebagai air musta’mal. Hal ini berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.:”Adalah Nabi SAW pernah mandi dengan (air) sisa Maimunah mandi’

  1. Air yang suci tetapi tidak mensucikan

Air yang suci tetapi tidak mensucikan adalah air yang dilihat dari zatnya sendiri adalah suci, semisal air kelapa. Air ini sekalipun suci tetapi ia tidak dapat dipergunakan untuk menghilangkan hadats.

  1. Air bernajis

Air yang bernajis ialah air yang tercampur dengan barang najis sehingga merubah salah satu diantara rasa, warna dan baunya. Air semacam ini tidak dapat dipergunakan untuk thaharah, baik untuk menghilangkan hadats maupun menghilangkan najis.

 

  1. Debu

Bagi orang yang berhalangan menggunakan air karena suatu sebab, misalnya tidak mendapat air ketika akan wudlu, maka boleh menggantinya dengan debu. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah :6

 

 

Artinya:

“Dan jika kamu sakit, atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh  perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);

  1. Benda-benda padat

Benda padat yang suci dari asalnya lagipula tidak terkena najis misalnya, batu, bata merah, tanah keras, kayu kering dan lain sebagainya dapat digunakan untuk bersuci lantaran tidak mendapatkan air.

  1. Hal-hal yang wajib disucikan
    1. Najis

Najis adalah sesuatu kotoran yang dapat menghalangi sahnya shalat. Seseorang yang akan mendirikan shalat harus menghilangkan najis yang melekat pada tubuhnya, dimana cara menghilangkan najis itu bervariasi sesuai dengan bentuk najis yang ada pada dirinya.

Macam-macam najis:

  1. Najis ringan (Najis Mukhaffafah), yaitu najis yang cara menghilangkannya cukup dengan memercikkan air pada tempat yang terkena najis itu.
  2. Najis sedang (Najis Mutawasithah), yaitu najis yang cara menghilangkannya harus dicuci dengan bersih, sehingga hilanglah bekas, bau dan rasanya.
  3. Najis berat (Najis Mughaladlah), yaitu najis yang cara menghilangkannya harus dicuci dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan debu atau tanah yang suci. Misalnya benda yang terkena jilatan anjing.
  4. Hadats

Hadats adalah keadaan tidak suci yang mengenai pribadi seorang muslim, sehingga menyebabkan terhalangnya orang itu melakukan shalat atau thawaf. Hadats terbagi menjadi dua, yaitu hadats kecil dan hadats besar.

  1. Hadats Kecil

Hal-hal yang menyebabkan seseorang berhadats kecil adalah:

  1. Mengeluarkan sesuatu dari dubur ataupun kubulnya
  2. Menyentuh kemaluan tanpa memakai alas
  3. Tidur nyenyak dengan posisi miring atau tanpa tetapnya pinggul di atas lantai
  4. Hadats Besar

Yang menyebabkan seseorang dihukumkan berhadats besar adalah:

  1. Mengeluarkan mani
  2. Berhubungan suami isteri
  3. Terhentinya haidh dan nifas

 

  1. Macam dan cara menghilangkan hadats
    1. Wudlu

Wudhu adalah thaharah yang wajib dari hadats kecil, seperti buang air kecil, buang air besar, keluar angin dari dubur ( kentut ), dan tidur nyenyak.

  1. Mandi

Mandi dalam ajaran islam adalah menyiramkan air keseluruh tubuh, sejak dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan niat ikhlas karena AllahSWT demi kesucian dirinya dari hadats besar.

  1. Tayamum

Tayammum adalah thaharah (bersuci) yang wajib dengan menggunakan

tanah ( debu ) sebagai pengganti wudhu dan mandi bagi orang yang

memang tidak memperoleh air atau sedang dalam kondisi berbahaya bila

menggunakan air. Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran tentang kebolehan             bertayammum pada kondisi tertentu bagi umat Islam.

 

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/tø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t»s3ߙ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “̍Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.”  (QS. An-Nisa : 43)

Dalam sebuah hadist disebutkan:

Dari Abi Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Telah dijadikan tanah                   seluruhnya untukku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. Dimanapun shalat menemukan seseorang dari umatku, maka dia punya masjid dan media untuk bersuci. (HR. Ahmad 5 : 248)

 

Tata cara tayammum :

  1. Niat bertayammum sebagai pengganti wudhu atau mandi.
  2. Kemudian menepukkan kedua telapak tangan pada tanah atau yang berhubungan dengannya seperti tembok, lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

 

 

 

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE