Afriandika Mind

KESEDERHANAAN ITU SEDERHANA

Pelajaran Dihalte Bus

Posted by N.E. Afriandika 4 Comments

Saat itu aku sedang pergi jalan-jalan dengan sepeda motorku untuk keliling kota jogja, cuaca yang panas pada saat itu tiba-tiba turun hujan. awalnya cuma gerimis dikit-dikit tapi lama-lama hujannya sangat deras, aku pun bergegas pulang.  karena hujan yang terlalu deras  akhirnya aku memutuskan untuk berteduh dihalte dekat tugu yang kondisinya sudah rusak, atapnya banyak bolong-bolongnya. aku heran  cuaca begitu cepat berubah saat ini, mungkin ini dampak dari pemanasan global.

Dihalte tersebut aku melihat dua orang yang sedang berteduh juga. Aku duduk ditengah, sebelah kiriku seorang wanita parubaya dan kananku seorang pria parubaya. Aku melihat wanita tadi memegang gelas plastik bekas tanpa memakai alas kaki.

” jam berapa sekarang mas ?  jam 3 kurang bu”, jawabku. Aku coba untuk memulai percakapan, “rumahnya dimana bu ? di magelang mas, tadi mau pulang nanya-nanya dulu soalnya agak sedikit lupa”. aku bertanya lagi “naik apa bu emangnya ? jalan kaki mas, setiap pagi ya saya kerja mas,  setelah ngurus suami sama cucu pagi-pagi saya berangkat kerja mas, sorenya saya pulng mas,. kemudian ibu cerita tentang keluarganya. “anak saya mas, kasihan ditinggalin suami yang kabur dengan cewek lain  saat masih hamil tua mas. suami anak saya ya cukup ganteng mas. dia kerja disalah satu showroom mobil, nah yang punya itu cewek mas, dia kepincut sama cewek itu mas”. kasian ibu ini pikirku. Yang membuat saya cukup kaget saat dia bilang “dulu saya gak begini mas kerjaannya, dulu saya punya mobil juga mas. kemana-mana naik mobil sendiri. tapi semuanya berubah saat suami saya sakit, sakitnya cukup parah dan biaya rumah sakitnya pun mahal. akhirnya utang sana-sini.” aku melihat perbedaan mimik muka yang terjadi saat ibu tadi bercerita. kemudian ibu tadi melanjutkan. ” saya gak bisa bayar utangnya mas, akhirnya mobilnya dan yang saya punya dijual buat bayat utang, ya akhirnya saya begini mas “. akupun hanya bisa diam dan mendengarkan saja.

hujan pun sedikit mereda. sepertinya ibu tadi akan pergi, dia berdiri kemudian memakai jas hujan dari plastik yang biasa. hatiku mulai gelisah, aku ingin membantu ibu tadi,  karena aku tau pasti pekerjaan yang dilakukan ibu tadi. dengan modal gelas plastik ditangannya. aku ingat-ingat lagi didompetku ada uang, aku ingin berikan pada ibu, tapi aku ragu nanti dikiranya malah menghina atau gimana. aku urungkan niatku.

“mari mas’,. sambil membenarkan barang bawaannya. “iyaa bu,” jawabku. akhirnya ibu tadi pergi, aku masih melihat terus sampai sudah tidak kelihatan lagi. Aku sempat berpikir, bahasa indonesia yang digunakan ibu tadi benar-benar fasih, lancar.. Jarang orang biasa bahasanya begitu lancar. hmm..

aku masi menunggu hujan sampai benar-benar berhenti, kemudian pergi pulang.

 

Pelajaran yang dapat dipetik, kekayaan sebuah titipan yang dapat diambil kapanpun oleh Allah. gunakan titipan itu sebaik mungkin.

PROFIL AKU

N.E. Afriandika


Popular Posts

Wow, Hacker Indonesi

Cyber war sudah terjadi seminggu terakhir ini , mulai dari ...

Bahasa Indonesia, Ba

bahasa indonesia merupakan bahasa yang indah sob,, bisa diliat ni ...

Hidup yang 'Bernilai

Kadang kita merasa bahwa hidup yang 'bernilai' itu  hidup yang ...

Budaya Jepang Yang P

sedikit share aja nii,, disini bukan untuk jelek-jelekin negara sendiri, ...

15 kata "Jangan" yg

  Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian ...