learn from nature

Just another Blog UMY site

Malu Aku Menatap Wajah Saudaraku para Petani

Posted by Fadhila Najmi Laila Hikmat 2 Comments

 

 

Malu Aku Menatap Wajah Saudaraku para Petani

buah pena Taufik Ismail

 

Ketika menatap Indonesia di abad 21 ini

Tampaklah olehku ratusan ribu desa,

Jutaan hektar sawah, ladang, perkebunan, peternakan, perikanan

Di pedalaman, di pantai dan lautan,

Terasa olehku denyut irigasi, pergantian cuaca,

Kemarau dan banjir datang dan pergi

Dan tanah airku yang digebrak krisis demi krisis, seperti tak habis habis,

Terpincang-pincang dan sempoyongan

 

Berjuta wajahmu tampak olehku,

Wahai saudaraku petani, dengan istri dan anakmu,

Garis-garis wajahmu di abad 21 ini

Masih serupa dengan garis-garis wajahmu abad yang lalu,

Garis-garis penderitaan berkepanjangan,

Dan aku malu,

Aku malu kepadamu.

 

Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani di pedesaan

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani,

Beras yang masuk ke perut kami harganya kalian subsidi

Sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian

Tak pernah kami orang kota Kenada kalian petani, ganti memberikan subsidi

 

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Selama ini kami jadikan objek

Belum lagi jadi subjek

Berpuluh-puluh tahun lamanya

Aku malu.

 

Hasil cucuran keringat kalian berbulan-bulan

Bulir-bulir indah, kuning keemasan

Dipanen dengan hati-hati penuh kesayangan

Dikumpulkan dan ke dalam karung dimasukkan

Tetapi ketika sampai pada masalah penjualan

Kami orang kota

Yang menetapkan harga

Aku malu mengatakan

Ini adalah suatu bentuk penindasan

 

Dan aku tertegun menyaksikan

Gabah yang kalian bakar itu

Bau asapnya Merebak ke seantero bangsa

 

Demikian siklus pengulangan dan pengulangan

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani

Karbohidrat yang setia kalian sediakan

Harganya tak dapat kalian sendiri menentukan

Sedangkan kami orang perkotaan

Bila kami memproduksi sesuatu

Dan bila tentang harga, ada yang mencoba campur tangan

Kami orang kota akan berteriak habis-habisan

Dan mengacungkan tinju, setinggi awan

 

Kalian seperti bandul yang diayun-ayunkan

Antara swasembada dan tidak swasembada

Antara menghentikan impor beras dengan mengimpor beras

Swasembada tidak swasembada

Menghentikan impor beras mengimpor beras

Bandul yang bingung berayun-ayun

Bandul yang bingung diayun-ayunkan

 

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Kalian selama ini kami jadikan objek

Belum jadi subjek

Berpuluh-puluh tahun Iamanya

 

Aku malu

Didalam setiap pemilihan umum dilangsungkan

Kepada kalian janji-janji diumpankan

Tapi sekaligus ke arah kepala kalian

Diacungkan pula tinju ancaman

Dulu oleh pemerintah, kini oleh partai politik

Dan kalian hadapi ini

Antara kesabaran dan kemuakan

Menonton dari kejauhan

DPR yang turun, DPR yang naik

Presiden yang turun dan presiden yang naik

Nasib yang beringsut sangat lamban

Dan tak kudengar dari mulut kalian

Sepatah katapun diucapkan

 

Saudaraku,

Ditengah krisis ini yang seperti tak habis-habis

Di tengah azab demi azab menimpa bangsa

Kami berdoa semoga yang selama ini jadi objek

Dapatlah kiranya berubah menjadi subjek

Jangka waktunya pastilah lama

Tapi semuanya kita pulangkan

Kepada Tuhan

Ya Tuhan

Tolonglah petani kami

Tolonglah bangsa kami

Amin.

 

puisi ini pernah saya baca di buku Pertanian Mandiri terbitan IPB press, bagi teman-teman yang ingin memperluas wawasan tentang pertanian buku ini bisa dijadikan referensi 🙂

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

Fadhila Najmi Laila Hikmat


Popular Posts

Generasi muda dan du

  Bidang pertanian merupakan bidang yang melekat erat dengan kehidupan kita ...

Malu Aku Menatap Waj

    Malu Aku Menatap Wajah Saudaraku para Petani buah pena Taufik Ismail   Ketika ...

Doraemon atau Intern

Helo bloggers !!! :D masih semangatkan? harus masih tetep semangat donkk, ...

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

uu yeaaaah :D

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sebelumnya saya gak pernah bayangin kuliah di ...