Antara Kau dan Aku

dalam keindahan berbagi

Politik Machiavelli

Posted by muh.fajrus.shodiq"11 2 Comments

Sebutan “Pencetus Politik Kotor” pada Machiavelli memang wajar karena pendapat-pendapatnya yang penuh dengan kontroversi dan hanya menguntungkan penguasa. Sebagai contoh pendapatnya yang paling populer yakni The end justifies the means yang artinya tujuan membenarkan atau menghalalkan segala cara dalam mempertahankan jabatan. Padahal Rasulullah bersabda:

Abu said (abdurrahman) bin samurah r.a. Berkata: rasulullah saw telah bersabda kepada saya: wahai Abdurrahman bin samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang  lebih baik itu. (HR. bukhari, muslim)

Dalam hadis lain rasul s.a.w juga pernah bersabda: “barang siapa telah menyerahkan sebuah jabatan atau amanat kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”. Kedua hadis di atas sebenarnya mengajarkan kepada kita bahwa amanat itu tidak perlu dicari dan jabatan itu tidak perlu dikejar. Karena bila kita mencari dan mengejar amanat dan jabatan itu, maka niscaya allah tidak akan memabntu kita. Akan tetapi bila kita tidak menuntut dan tidak mencari amanat itu, maka justru allah akan membantu untuk meringankan beban amanat itu sendiri.

Sungguh dari hadis diatas sangat bertentangan dengan pendapat Machiavelli yang sama sekali tidak menunjukkan etika berpolitik yang baik. Sebenarnya, hadis di atas mengajarkan tentang etika politik. Seoarang politisi tidak serta-merta bebas dari etika, sebagaimana ditunjukkan oleh para politisi kita selama ini. Melainkan seorang politisi dan kehidupan politik itu sendiri harus berdasarkan sebuah kode etik. Bila kehidupan politik tidak berasarkan etika, maka kesan yang muncul kemudian bahwa politik itu kotor. Padahal, tidak selamanya politik itu kotor, nabi muhammad s.a.w sendiri pernah menjadi seorang politisi, tapi tidak pernah bermain kotor.

Dalam hal ini, ambisi menjadi salah satu faktor uatama dalam membentuk sikap dan pandangan politik seseorang sehingga menjadi kotor. Betapa tidak, dari ambisi itu, seseorang bisa saja membunuh orang lain yang menjadi pesaing politiknya. Dan dari ambisi itu pula seseorang bisa melakukan apa aja untuk meraih jabatan politik yang diinginkannya (the end justifies the means), baik melalui korupsi, penipuan, pembunuhan, ke dukun, dsb . Oleh sebab itu, “menjaga ambsi” adalah sebuah etika politik yang diajarkan islam  kepada umatnya, terutama bagi mereka yang berkiprah di dunia politik.

Fakta yang di ungkapkan oleh Machiavelli yang menunjukkan, bahwa penguasa yang berhasil adalah mereka yang justru tidak setia, licik, dan cerdik tanpa ketulusan. Jadi, penguasa yang berhasil ialah penguasa yang sanggup menjadi penipu ulung, sungguh sangatlah tidak benar. Mengapa?? Karena sesungguhnya pemimpin dilarang menipu rakyat. Rasulullah SAW bersabda:

Abu ja’la (ma’qil) bin jasar r.a berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: tiada seorang yang diamanati oleh allah memimpin rakyat  kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga. (bukhari, muslim)

Sungguh sangat ironis sekali ketika mendengar sebutan Machiavelli, harus dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang tak mengenakkan, seperti politik kotor, kebohongan, kecurangan, dan lain sebagainya. Padahal dengan cara yang kotor tersebut, seharusnya masyarakat umum khususnya warga Italia harus berterimakasih pada Machiavelli karena jasanyalah Italia menemukan kekuatan dan kedaulatan dalam negaranya yang karena diwaktu itu banyak sekali negara kecil yang terlibat perang saudara yang nyaris merobek-robek keutuhan dari negara Italia.

Harus dikatakan bahwa pria kelahiran Florence, 3 Mei 1469 itu merupakan sosok pemikir politik yang menimbulkan multipenafsiran. Ada yang menafsirkan bahwa dia hanya sebagai pemikir yang mengajarkan amoralitas bahkan kejahatan dalam berpolitik, yang menghindari nilai keadilan, kearifan, cinta kasih dan cendrung pada kekerasan, kekejaman dan penindasan. Ada pula yang menafsirkan bahwa Machiavelli hanyalah sekedar orang yang pragmatis atau realis dalam memandang politik.

Categories: politik, tugas ku

PROFIL AKU

muh.fajrus.shodiq"11


Popular Posts

Keberadaan HAM dalam

Banyak orang yang mengatakanbahwa Islam tidak mengenal HAM. Padahal, hak asasi ...

[Blog Contest] My Wh

Long ago when I first found out UMY (Muhammadiyah University of Yogjakarta) and when it has not existed as UMY student, when asked about UMY opinion, of ...

Waspadalah Ancaman S

Menurut laporan website Inggris “New Scientist”, maksud dari badai matahari ...

[Lomba Blog] Kampus

Dahulu ketika saya pertama kali mengetahui UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) ...

Politik Machiavelli

Sebutan “Pencetus Politik Kotor” pada Machiavelli memang wajar karena pendapat-pendapatnya ...