Pengalaman Pertama Ikut Bekerja

13 January 2021

    Yahhh, daripada pengalaman ini aku pendam sendiri mending aku iseng-iseng tulis diblog. Cerita ini adalah cerita hidup nyata saya yang masih teringat sampai sekarang. . Bermulai dari Ayahku yang dulu mengajakku pergi kesawah dan juga berkebun, dengan perlengkapan caping dan cangkul dibawanya oleh ayahku.  Pekerjaan ayahku memang sebagai petani yang sering menggarap di ladang.  Sebenarnya aku malas sekali pergi kesawah, bagaimana ngga males jam 1 siang disuruh ikut ke sawah mana cuacanya panas. Dengan tekad yang malas-malasan aku berangkat dengan Ayahku menuju kebun. Sesampainya disana matahari begitu menyengat akupun menepi untuk berteduh, tapi tidak dengan ayahku. ayahku begitu kuat dibawah sinar matahari, akupun melihat hal itu merasa kasihan. Tanah yang dicangkul oleh Ayahku memang cukup keras jadi perlu tenaga ekstra untuk mencangkulnya, keringat yang menetes dari tubuh ayahku itulah yang paling membuatku merasa kasihan dan akupun berinisiativ membantunya. Akupun mulai menyangkul tanahnya, ternyata tidak semudah yang kubayangkan mencangkul tanah itu, tapi aku tetap mencangkulnya dan tak terasa keringat juga mulai keluar tubuh ini.

     Ternyata cukup menguras tenaga juga mencangkul, aku dan ayahku lantas beristirahat sejenak untuk mengurangi rasa cape ini. Yah memang kegiatan ini perlu tenaga yang kuat apalagi kalau tanahnya keras dan juga lengket. Dengan segelas teh dingin yang sudah dibawa aku dan ayahku lantas meminumnya ditambah roti yang kami makan. Aku tidak banyak mengeluarkan kata-kata saat istirahat itu, yang aku pikirkan hanya rasa lelah dan juga rasa sakit di pinggang.

     Dalam hatiku bicara ”teryata begini rasanya orang tua mencari nafkah untuk keluarganya, teryata tidak semudah yang dibayangkkan”.

     Selepas istirahat kami pun melanjutkan mencangkul, setelah cukup lama disitulah  malah tenagaku mulai habis dan terasa sangat lelah sekali. Yaa maklum waktu itu aku masih duduk di bangku 6 SD. Rasa lelah itu memang tidak sebanding dengan rasa lelah ayahku, aku lalu melanjutkan mencangkul lagi dengan tenaga yang masih tersisa, melihat masih kurang lahan yang dicangkul yang rencananya akan ditanami pohon singkong.

     Waktu sudah mulai sore, kami lalu menyudahi mencangkul ladangnya dan akan dilanjutkan besok. kami bergegas pulang menuju rumah.

     Sesampainya dirumah aku berpikir ”jadi begini rasanya mencangkul ternyata melelahakan sekali, itupun belum satu hari, kalau berhari-hari ga kebayang capeknya”.

     Memang seperti itu kalo pekerjaaan di sawah, di ladang ya memang bisa dibilang melelahkan. Boleh dicoba kalau ga percaya. Akupun bersih-bersih dan mandi karena badan udah kerasa kotor banget dan juga cape. Dari situlah aku mengerti betapa capeknya bekerja di ladang, betapa lelahnya orang tua mencari nafkah untuk keluargaanya. Saat itulah aku mendapatkan pengajaran-pengajaran yang cukup buat hidupku. Hal yang tidakku lupakan saat itu sampai sekarang adalah raut wajah dan tatapan mata ayahku. Rasa lelahku memang tidak sebanding dengan rasa lelah ayahku sampai saat ini. Karena selelah-lelahnya aku masih lelah kedua orang tuaku.

     Okk itulah cerita yang dapat saya tulis di blog saya semoga bermanfaat, mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam menulis maklum baru pertama ngeblog.

Ada yang punya pengalaman seperti saya diatas?.  Kalau ada komen yaaa

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar