Cara Menyikapi Aliran Sesat

Sering kali umat Islam dikagetkan dengan kasus Nabi palsu, Pernah ada seorang pemuda yang tinggal di daerah Bandung (yang dikenal sebagai kota pendidikan) mengaku sebagai Rasul, ironisnya lagi menurut beberapa media dia sudah memiliki beberapa pengikut.

Meski telah diproses pihak berwenang dan mengakui kesalahan, namun tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali kasus serupa, apalagi kini era gaya hidup kebebasan yang semakin menggila. Di sisi lain umat Islam tidak pernah lupa kasus aliran sesat Ahmadiyyah beberapa tahun lalu, yang sempat menguras energi berbagai pihak untuk menyelesaikannya, walaupun hingga kini perkembangan kasusnya hilang entah kemana.

Berbagai pertanyaan menyeruak dibenak kita, mengapa bisa umat Islam lagi-lagi ditimpa fitnah? Ada apa dengan akidah umat ini? Apakah sudah sebegitu lemahnya akidah umat ini? Dan dengan berbagai macam pertanyaan  yang mempertanyakan apa penyebab utama kasus aliran sesat kian marak dan terus terjadi.

Sekularisme Biang Keladi

Kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh aturan yang diterapkan, jika aturannya baik maka masyarakat pun menjadi baik, jika aturannya korup maka masyarakat pun menjadi korup, jika aturannya sesat maka masyarakat pun mudah menjadi sesat, inilah logika sederhana yang bisa kita gunakan untuk memahami kasus aliran-aliran sesat yang kerap kali muncul.

ketika di negeri ini diterapkan demokrasi, norma kehidupan berubah menjadi sekuler, hal tersebut merupakan konsekuensi yang logis dari demokratisasi. Esensi sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan, agama dijadikan ‘mainan’ pribadi masing-masing, dan semua aturan kehidupan menjadi urusan manusia semata dan tuhan (agama) tidak berhak ikut campur sedikitpun.

Paham sekularisme tersebut menjunjung adanya kebebasan dalam besikap dan beragama (juga kebebasan murtad). Dengan alasan agama urusan pribadi masing-masing maka akibatnya setiap orang bebas melakukan apapun terhadap agamanya, termasuk penistaan dan membuat sensasi sesat mengaku-ngaku sebagai Rasul baru, disinilah letak kesalahan logika sekularisme.

jadi bisa dikatakan paham sekularisme lah penyebab munculnya aliran sesat yang sering membuat resah masyarakat, bahkan selalu menimbulkan konflik horizontal, sebagaiman yang terjadi pada Ahmadiyyah.

Selama sekularisme masih menjiwai sendi-sendi kehidupan dan masih di gunakan di negeri ini, permasalahan aliran sesat tidak akan pernah selesai, bahkan mungkin semakin menjadi-jadi. Selain itu sanksi yang diberikan kepada pelaku penistaan agama dan orang yang murtad pada hukum sekuler memang tumpul, ditambah adanya HAM yang dijadikan alasan atas pengijinan munculnya aliran sesat tersebut atas dasar perbedaan  tafsir, hal tersebut semakin menambah kerumitan pada permasalahan aliran sesat.

 

Cara Islam menangani aliran sesat

Berbeda halnya dengan demokrasi sekuler yang memang menjadi biang masalah, Islam secara normatif justru memiliki solusi jitu dalam mengatasi masalah aliran sesat:

Pertama, dalam pandangan Islam bahwa persoalan akidah adalah persoalan negara, hal ini bermakna negara wajib melindungi akidah umat Islam dari berbagai hal yang bisa menyesatkannya. Rasul saw bersabda: “Seorang imam (khalifah) laksana perisai, dimana rakyat berperang dibelakangnya dan dia akan dijadikan sebagai pelindung.” (HR. Muslim, Abu Dawud dll).

Karena itu negara wajib menyediakan pendidikan dan berbagai sarana yang mampu menjaga akidah Islam dari penyimpangan, termasuk sanksi bagi pelaku kemurtadan, Rasul saw bersabda: “Siapa saja yang mengganti agamanya maka bunuhlah.” (HR. al-Bukhari).Dalam Islam terdapat larangan seseorang Muslim untuk murtad dan memberi hukuman yang melakukannya dengan hukuman mati. Ini dilakukan setelah melalui proses peradilan dan pelakunya diberikan kesempatan waktu untuk bertobat. Sanksi ini penting sebab kalau orang-orang murtad dibiarkan, masalah akidah yang menjadi pilar penting Negara akan dianggap remeh

Sanksi tegas pun dilakukan terhadap mereka yang menghina dan menistakan Islam. Imam Asy-Syaukani mengutip pendapat para fukaha diantaranya Imam Syafii, Imam Hanbali dan Imam Malik tentang hukuman mati bagi orang yang menghina Rasulullah saw. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nail al-Authar mengemukakan hadis tentang hukuman mati bagi penghina Rasulullah saw. Antara lain diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. yang berbunyi: “Pernah ada perempuan Yahudi yang sering kali menjelek-jelekkan dan mencela Nabi saw. Lalu karena tindakannya perempuan itu dicekik sampai mati oleh seorang pria. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya.” (HR. Abu Dawud).

Dengan berbagai kebijakan ini negara dalam konteks Islam akan mampu melindungi akidah umatnya. Namun perlu dipahami negara pun tetap menjamin keamanan dan kebebasan umat beragama lain, sebatas hukum yang bersifat privat, namun jika menyangkut urusan publik maka semua rakyat mesti tunduk terhadap syariah.

Kedua, dalam Islam masyarakat tidak boleh mengabaikan persoalan gaya hidup keumatan, masyarakat harus selalu senantiasa menjunjung tinggi prinsip amar makruf nahi munkar, sehingga selain negara melindungi akidah umat, masyarakat juga dapat berperan melindungi, dengan adanya sinergitas ini tentunya akan mampu menjamin perlindungan akidah umat Islam dari berbagai ide sesat.

Ketiga, peran media massa dalam melindungi akidah umat pun cukup signifikan dalam Islam. Sehingga berbagai jenis tulisan atau publikasi, tidak boleh mengandung hal-hal yang bisa merusak akidah Islam, misal jurnal dan majalah yang mengandung ajaran sesat dan menyimpang seperti liberalisme dll. Negara dalam hal ini bisa menjatuhkan sanksi terhadap orang atau sekelompok orang, yang mengarang suatu tulisan di surat kabar, majalah atau jurnal yang bertentangan dengan Islam

Lewat ke baris perkakas