Revitalisasi Ideologi dan Identitas Gerakan Muhammadiyah

  Tak Berkategori   15 November 2012

Revitalisasi Ideologi dan Identitas Gerakan Muhammadiyah

Kamis, 20 Oktober 2005

Oleh Haedar Nashir

            Ideologi merupakan sistem paham seseorang atau sekelompok orang yang mengandung konsep, cara berpikir, dan cita-cita perjuangan mengenai kehidupan. Sedangkan identitas adalah jati diri seseorang atau sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan orang lain. Dalam suatu gerakan, ideologi dan identitas menjadi bagian dari keberadaan gerakan tersebut, bahkan dalam gerakan demokrasi sekalipun, yang melahirkan konstruksi bagaimana orang memandang dan mengindentifikasi diri[1].

Di tengah kecenderungan dan perkembangaan isu “kematian ideologi” setelah era Perang-Dingin, ternyata ideologi masih tetap diusung dan menjadi bagian dari keberadaan gerakan-gerakan dalam masyarakat, termasuk di lingkungan umat Islam, meski tidak radikal sebagaimana masa sebelumnya. Demikian pula di tengah kecenderungan pluralisme yang menandai kehadiran dunia di penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, peneguhan identitas kelompok tetap berlangsung seolah menjadi antitesis atau bentuk sikap bertahan dalam kehidupan di era globalisasi yang serba bebas. Dalam suasana yang dielektis itulah serng muncul berbagai macam radikalisme atau fundamentalisme yang ekstrem baik ke arah kiri maupun kanan, yang oleh Tariq Ali digambarkan sebagai fenomena “the clash of fundamentalism”.

Dalam Muhammadiyah belakangan ini juga muncul tuntutan untuk meneguhkan kembali ideologi dan identitas gerakan, namun tuntutan seperti itu tidaklah bersifat radikal yang menggiring Muhammadiyah menjadi gerakan ideologis dan ekslusif lebih-lebih dengan menarik ke garis ideologi-politik Islam. Tuntutan semacam itu lebih mengarah pada kepentingan memperkokoh “sense of belonging” (rasa memiliki) dan melakukan ”self-character building” (membangun karakter-diri) di kalangan warga persyarikatan ketika sejumlah hal dianggap mengalami pelonggaran yang membuat Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam kehilangan elan-vital atau semangat dasar karena berbagai faktor dan keadaan.

Dalam Muhammadiyah upaya memperkuat basis ideologi dan identitas gerakan tidak lepas dari perjalanan persyarikatan ini, yang menyertai siklus krisis[1]. Menurut H. M. Djindar Tamimy, dalam perjuangan Muhammadiyah merupakan hal yang vital sekali adanya usaha untuk memahamkan, menyadarkan, dan meyakinkan akan kebenaran ideologi perjuangan, sehingga diperlukan perhatian dan usaha khusus yang intnsif dan sistematis dalam melakukan pendidikan mental ideologis bagi anggota dan pimpinan Muhammadiyah[2].

 

Krisis Bermuhammadiyah?

Belakangan ini dirasakan adanya masalah yang berkaitan dengan sikap ideologis dan identitas di kalangan warga Muhammadiyah, termasuk di kalangan pimpinannya. Kecenderungan yang berkembang antara lain, pertama kurang kuatnya komitmen atau fanatisme dalam membela kepentingan persyarikatan, sehingga merasa tidak memiliki beban yang serius jika Muhammadiyah menghadapi masalah berat, seolah organisasi ini sekadar jadi batu loncatan saja bagi mobilitas pribadi. Kedua, kecenderungan di sebagian kalangan Muhammadiyah yang lebih membela atau malah aktif di organisasi lain yang dianggapnya lebih baik dari Muhammadiyah, padahal mereka menjadi anggota bahkan pimpinan persyarikatan yang sesungguhnya dapat berbuat menjadikan Muhammadiyah menjadi lebih baik. Ketiga, kecenderungan yang lebih jauh lagi berupa membentuk yayasan-yayasan yang berada dalam persyarikatan atau berdampingan dan berhimpitan dengan Muhammadiyah, sehingga sering menimbulkan konflik kepentingan dengan persyarkatan. Keempat, kecenderungan tidak atau kurang kuatnya komitmen mereka yang berada di amal usaha dalam mengemban misi persyarikatan dan menganggap Muhammadiyah sebagai beban daripada sebagai misi yang harus digerakkan. Amal usaha sekadar jadi tempat mencari maisah dan tangga mobilitas diri sehingga tidak atau kurang peduli untuk menjadikannya sebagai wahana dakwah dalam mencapai tujuan Muhammadiyah.

Dalam bahasa majalah Suara Muhammadiyah, terdapat tanda-tanda orang menunjukkan kecenderungan lebih suka “berumah di rumah orang lain” atau “merawat rumah orang lain” ketimbang rumah Persyarikatan. Padahal sesungguhnya rumah dan pelataran Muhammadiyah sangat leluasa untuk berkiprah secara optimal. Muhammadiyah bahkan dinilai tidak lagi menunjukkan karakter yang kuat sebagai gerakan Islam, terutama untuk wilayah keagamaan yang bersifat formal seperti dalam upaya perjuangan penegakkan syari’at Islam dan menampilkan simbol-simbol Islam yang formal.

Ironisnya, perhimpitan sikap dan keterlibatan dengan organisasi  bahkan paham lain tersebut tidak jarang mengalahkan kepentingan dan pemihakan terhadap Muhammdiyah, lebih-lebih di saat kritis dan pada saat pertaruhan untuk memilih. Ketika terjadi perbedaan Hari Raya, masih dijumpai bukan hanya warga bahkan pimpinan Muhammadiyah yang lebih memilih hari raya mengikuti organisasi dan paham lain ketimbang menaati keputusan Tarjih. Gejala lain, tidak sedikit pula warga Muhammadiyah yang mendirikan lembaga-lembaga pendidikan seperti SD Islam Terpadu (SDIT) atau rumah sakit di luar Muhammadiyah tetapi masih di area pelataran dan dengan mencari lahan konsumen warga persyarikatan ketimbang membesarkan SD Muhammadiyah dan RS Muhammadiyah.  Mengurus organisasi lain tampak mau bersusah payah, sementara mengurus Muhammadiyah terkesan gampang menyerah.

Kecenderungan yang dihadapi betapa tidak mudahnya Muhammadiyah membubarkan yayasan-yayasan dalam Muhammadiyah karena orang-orangnya merasa membesarkan yayasan tersebut dan pada akhirnya lebih baik memilih lembaga pendidikan atau sosial yayasan tersebut untuk berada di luar persyarikatan ketimbang meleburkannya dan menjadikan hak milik Muhammadiyah. Hal lain, betapa tidak mudahnya pula menuntut kesadaran pribadi untuk tidak merangkap dengan berbagai organisasi di luar tanpa harus melibatkan keputusan organisasi karena betapa banyak garapan yang memerlukan optimalisasi perhatian dan penanganan dalam Muhammadiyah. Belum dihitung masalah derajat dan intensitas mobilitas para anggota dan pimpinan Muhammadiyah yang demikian tinggi hingga perhatian dan keterlibatan untuk mengurus persyarikatan menjadi lebih terbatas dan sekadar memenuhi standar minimal.

Dalam hal paham agama bahkan mulai tumbuh kecenderungan yang menganggap paham Muhammadiyah tentang Islam kurang militan bahkan dikesankan tidak Islami. Mereka bahkan aktif di organisasi-organisasi lain yang diyakini dan dipahaminya sebagai lebih Islami ketimbang Muhammadiyah. Namun agak ironis mereka tetap berada di rumah dan halaman Muhammadiyah sehingga dari segi pemihakan keagamaan dan lain-lain hatinya berada di luar, sedangkan untuk bermaisah dan memperluas pasar umatnya tetap berada di lingkungan Muhammadiyah. Muhammadiyah akhirnya sekadar jadi ladang subur bagi tumbuh-mekarnya paham-paham lain yang memang dari nasab teologis, ideologis, bahkan politik memiliki persambungan tetapi muaranya tetap mengalir ke tampat lain.

Keadaan yang tidak menggembirakan tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama, boleh jadi di kalangan anggota Muhammadiyah mulai luntur atau mengalami pelemahan dalam hal komitmen, fanatisme, dan rasa memiliki yang muaranya ialah pelemahan atau krisis identitas dan ideologis. Kedua, terlalu tolerannya Muhammadiyah terhadap paham dan organisasi lain yang dari simbol luar dan nasabnya kelihatan sama tetapi sesungguhnya memiliki manhaj (sistem), mabda (ideologi), karakter, dan kepentingan yang berbeda, lebih-lebih di saat-saat yang krusial. Ketiga, pada batas tertentu Muhammadiyah sendiri kehilangan kekuatan ideologis dan kepribadiannya karena lemah atau kurang intensifnya sosialisasi dan kaderisasi mengenai nilai-nilai ideal dalam Muhammadiyah terutama yang menyangkut Keyakinan dan Cita-Cita Hidup serta Kepribadian Muhammadiyah. Keempat, konsep-konsep ideal dalam Muhammadiyah mungkin tidak lagi memadai untuk menjadi rujukan dan bingkai gerakan, sehingga mencari referensi lain yang dianggap lebih memberikan alternatif.

Adapun faktor-faktor eksternal memang semakin memberi peluang pada pelemahan ideologi dan identitas gerakan seperti kecenderungan liberalisme kehidupan, globalisasi, dan semakin mekarnya budaya inderawi yang menyebarkan nilai-nilai materialisme, hedonisme, dan pragmatisme yang meluas. Keadaan dunia yang semacam itu jika tak pandai-pandai membentengi diri akan melahirkan dua kecenderungan ekstrem. Kecenderungan ekstrem pertama melarikan diri ke sikap hidup dan paham keagamaan yang serba ”radikal-fundamental” sebagai bentuk perlawanan atau pelarian millenaris.

Dalam keadaan yang semacam itu, paham agama yang serba hitam-putih menjadi pilihan utama dan dijadikan jalan paling mudah untuk menghadapi kehidupan yang serba duniawi. Dalam keadaan seperti ini Muhammadiyah sering dianggap tak mampu memberi alternatif, seolah corak purifikasi keagamaannya yang selama ini telah berhasil menawarkan bentuk kesalihan yang dinamis tak mampu lagi memberikan solusi karena terjebak pada puritanisme doktrinal semata, sehingga akhirnya sejumlah orang dalam Muhammadiyah menambatkan diri dalam gerakan-gerakan keagamaan yang cenderung ke arah ortodoksi yang konservatif.

Reaksi atau respons ekstrem yang kedua ialah melarutkan diri dalam pragmatisme kehidupan. Dalam politik, ekonomi,  budaya, dan kehidupan sehari-hari berkembang kecenderungan serba permisif, yang membolehkan apapun yang dirasakan membawa serba kemudahan, kesenangan, dan kemewahan duniawi. Dalam situasi seperti itu lahirlah disorientasi kehidupan yang mengarah ke nihilisme, menapikan nilai-nilai luhur dan fundamental dalam kehidupan.  Akibatnya, nilai keikhlasan, pengkhidmatan, dan keutamaan di luar nilai-nilai inderawi dianggap sebagai barang mewah. Dalam keadaan yang tidak persis sama tetapi memiliki persentuhan tertentu, mulai muncul pelemahan komitmen dalam bermuhammadiyah karena semakin kuatnya penyebaran virus nilai-nilai inderawi. Tumbuh kecenderungan sebagian orang Muhammadiyah menjadi tidak sungkan untuk minta jabatan atau menarik diri jika tidak memperoleh jabatan. Prinsip ”jangan mengejar jabatan, tetapi manakala diberi maka ditunaikan sebagai amanat” mulau bergeser ke kebiasaan baru mengikhtiarkan diri untuk memperoleh jabatan dan merasa sukses manakala berada dalam jabatan formal organisasi. Sejumlah hal mulau tercerabut atau mengalami pelemahan dalam Muhammadiyah, yang sering disebut sebagai gejala pelunturan keikhlasan, keyakinan dan cita-cita hidup, dan kepribadian Muhammadiyah, yang secara ringkas disebut krisis bermuhammadiyah. Bermuhammadiyah menjadi semakin hiruk-pikuk tetapi seolah kehilangan sukma dan orientasi sebagai sebuah gerakan Islam yang mengemban misi dakwah dan tajdid di tengah percaturan yang sarat tantangan.

 

Ideologi Muhammadiyah

Bagaimana memahami dan mencari solusi atas persoalan-pesoalan krisis bermuhammadiyah tersebut? Tampaknya fenomena pelemahan ideologis dan identitas dalam Muhammadiyah tersebut perlu dipahami dalam konteks yang lebih menyeluruh, tidak parsial. Bahwa di tengah perkembangan persyarikatan yang semakin kompleks dengan pertumbuhan organisasi yang meluas, amal usaha yang semakin besar, anggota yang heterogen, dan perkembangan situasi di luar yang demikian pusparagam maka dengan sendirinya terjadi perkembangan keadaan yang juga beragam di tubuh Muhammadiyah. Orang-orang masuk ke dalam Muhammadiyah secara lebih mudah melalui bermacam-macam jalur, yang tidak semuanya atau mungkin banyak yang masuk bukan karena panggilan-panggilan yang bersifat ideal  tetapi lebih karena pertimbangan-pertimbangan pragmatis atau kepentingan. Sementara mereka juga memiliki latarbelakang sosial, paham keagamaan, orientasi pemikiran, dan kepentingan yang beragam pula yang kadang sudah terbentuk secara mapan. Dalam keadaan yang demikian keberadaan Muhammadiyah seperti layaknya pasar, beragam orang datang dan pergi dengan sejumlah kepentingan yang harus saling dipertukarkan.

Di tengah lalulintas masuk dan keluarnya banyak orang ke dalam Muhammadiyah, pada saat yang sama proses seleksi organisasi dengan parameter-parameter ideal seperti sepaham dalam hal misi dan tujuan, taat terhadap atauran-aturan organisasi, bersedia untuk berkhidmat, dan proses kaderisasi justeru tengah mengalami pelonggaran pula. Keadaan yang demikian maka persoalannya bukan lunturnya idealisme bermuhammadiyah, tetapi idealisme tersebut memang belum atau tidak tertanam dalam alam pikiran orang-orang yang masuk dalam Muhammadiyah tersebut. Lebih-lebih jika mereka masuk karena dorongan kepentingan, maka pada saat kepentingan itu terakomodasi dalam Muhammadiyah maka mereka akan kerasan atau betah berada di rumah persyarikatan. Tetapi manakala kepentingan tidak lagi terakomodasi maka Muhammadiyah pun dengan mudah dapat ditinggalkan. Muhammadiyah sekadar jadi jembatan untuk mobilitas sosial sekaligus kendaraan untuk berbagai macam orang yang ingin meraih pantai tujuan ke segala jurusan.  Hanya orang-orang yang lahir dalam pergumulan yang panjang dan betul-betul guyub yang masih bertahan untuk mempertaruhkan idealisme Muhammadiyah.

Pada sisi lain karena satu dan lain hal memang diakui pula terdapat kelemahan-kelamahan tertentu di tubuh persyarikatan Muhammadiyah. Puritanisasi yang selama ini berkembang semakin kehilangan elen-vital dan kekayaan susbtansial, bahkan lebih banyak simbolik dan formalistik. Puritanisasi yang demikian selain tampak kering dan parsial, juga seakan tak mampu menjawab kehausan spiritual orangt-orang yang tengah mengalami disorientasi kehidupan. Dalam keadaan yang demikian lalu muncul kesan Muhammadiyah kurang militan dan kehilangan spiritual Islami, meskipun boleh jadi organisasi lain yang terkesan lebih militan dan Islami itu sesungguhnya juga sekadar menawarkan jalan-pintas atau sekadar simbol-simbol luar dan formalitas belaka, laksana obat generik yang berfungsi memblok rasa sakit. Namun apapun kecenderungannya, puritanisme Muhammadiyah menjadi tampak tak kuasa menahan permintaan pasar orang-orang yang tengah mengalami dahaga spiritual. Jika tak pandi-pandai memahami realitas dan mencari solusi yang cerdas maka boleh jadi Muhammadiyah pun akan digiring ke sudut tertentu untuk menawarkn spiritual pemblok rasa sakit yang bernapas pendek itu. Puritanisme Muhammadiyah tidak lagi melahirkan kesalihan individual yang berbanding lurus dengan kesalihan sosial sebagaimana dikembangkan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Puritanisme Muhammadiyah masuk ke formalisasi simbolik, parsial,  dan dogmatik.

Pada saat yang sama pemikiran-pemikiran ijtihadi selain sering terjebak pada stigma liberalisasi dan sekularisasi, juga seolah belum menemukan ruang dan alternatif yang memadai, sehingga yang muncul seolah serpihan-serpihan pemikiran yang pada akhirnya selain mengundang kontroversi juga tidak tekun dalam menawarkan rekonstruksi bagi kemajuan Muhammadiyah. Etos Al-Ma’un, pendidikan Islam modern, dan pembaruan pemikiran Islam yang dulu menjadi karakter dasar dari kepeloporan Muhammadiyah di era Ahmad Dahlan, kini masih terseok-seok atau belum menunjukkan kiprah yang konkret selain sebatas pada gagasan-gagasan abstrak. Perkembangan tajdid Muhammadiyah yang demikian malah semakin mengalami lorong kecil ketika harus berhadapan  dengan pemikiran-pemikiran doktrinal dan dogmatis yang keras, sehingga ruang untuk memperbarui gerakan pun menjadi sarat beban. Kondisi yang seperti itu tidak semakin memperkuat langkah-langkah tajdid, tetapi malah memunculkan arus-balik untuk kembali ke konservativisme dengan dukungan logika ancaman liberalisme, sekularisme, dan nihilisme yang dapat menjadi racun bagi Muhammadiyah.

Tags:

Tinggalkan Balasan