Peri Penyemangat Fina

1 Januari 2014

Fina adalah seorang perempuan yang berumur delapan belas tahun. Ia tinggal di daerah Jawa Tengah bersama bundanya yang bernama Maemunah, pekerjaannya sebagai pembatik. Seharusnya saat ini Fina berada di bangku kuliah untuk mewujudkan cita-citanya sebagai apoteker. Akan tetapi, ibunya memberitahukan bahwa tidak ada biaya untuk kuliah. Fina tidak kehilangan akal, sejak sekolah menengah atas ia telah membaca beberapa buku tentang tanaman obat dan menerapkannya di kesehariannya. Beberapa tanaman sudah tertanam di halaman rumahnya dan telah terkumpul ramuan herbal hasil dari tangannya sendiri. Sang bunda hanya mampu mendoakan dan memberikan semangat kepada Fina. Sujud di setiap malamnya menjadi kebiasaan sang bunda untuk mengharapkan ridho Sang Pencipta Allah swt agar cita-cita anak tercintanya dapat terwujud. Tetesan air mata yang keluar dari sudut matanya tak pernah absen ketika berdoa di sepertiga malamnya. Fina tak sengaja mendengar rintihan doa-doa yang ibunya ungkapkan, tiba-tiba saja air matanya ikut mengalir. Hanya diam dan termenung yang dapat dilakukan oleh Fina saat itu. Selesai ibunya bermunajat Fina memeluk sang bunda, ia meminta maaf atas keinginannya dan bersyukur memiliki bunda yang senantiasa berdoa untuknya.

Suatu hari Maemunah pergi ke pasar untuk mengantarkan pesanan pakain batik. Di tengah perjalanan, kendaraan yang Maemunah gunakan mengalami kecelakaan. Rem yang seharusnya mampu mengendalikan lajunya kendaraan tersebut terputus yang mengakibatkan Maemunah jatuh, sehingga salah satu kakinya tak mampu digerakkan. Beberapa menit kemudian Maemunah dibawa orang-orang yang melihat kejadian kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat. Fina  mendengar kabar tersebut dan langsung menuju ke rumah sakit. Ia kecewa dengan dirinya karena membiarkan ibunya pergi ke pasar sendirian.

Air mata Fina mengalir dengan derasnya mendengar kabar bahwa kaki kirinya sang bunda patah tulang. Kecewa, sedih, dan benci terhadap dirinya terkumpul jadi satu. Sang bunda mencoba mengingatkan Fina bahwa ini sudah menjadi kehendak Sang Pencipta, janganlah kamu sesali karena hanya akan membuat sedih dan luka dalam hati. Fina berusaha tegar dan memantapkan hati melakukan semua aktivitas yang biasanya ibunya lakukan. Mulai dari membatik, mengantarkan pesanan, memasak dan mengurusi tanaman obatnya. Hari berganti hari Fina dapat mengatur waktunya untuk bekerja, sehingga menjadi seorang perempuan yang mandiri. Kini ia memiliki tempat untuk menjual produk dari ramuan herbal yang telah lama ia produksi dan telah menjalin kerjasama dengan suatu perusahaan obat.  Sang bunda yang mampu memberikan titik terang untuk keberhasilan anaknya kini dapat tersenyum. Harapan yang Fina inginkan sedikit terwujud dan selalu berusaha untuk membanggakan sang bunda.

 

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas