BAHAN MATERIAL HABIS PAKAI DI UNIT/RUANG RUMAH SAKIT

Dalam unit/ruang baik perawatan maupun non perawatan ada penyimpanan bahan dan material habis pakai serta barang cetakan yang dikelola untuk lancarnya pelayanan. Agar pelayanan dapat berjalan dengan baik dan lancer, maka manajemen pengaturan logistik di bangsal menjadi sangat penting. Ketersediaan yang terlalu banyak selain akan menghabiskan tempat dan pemborosan, juga ketika dibutuhkan kesulitan menemukan karena harus mencari – cari. Sedangkan bila ketersediaan terlalu sedikit, bisa jada pada saat hari libur bisa kehabisan. Sehingga perlu dikelola dengan teliti dan disiplin agar evisien dalam pemakaian, sehingga barang yang rusak/hilang/expaired date dapat ditekan.
Karena ruang/unit disetiap rumah sakit jumlahnya banyak, maka perlu ada keseragaman pemahaman penanggung jawab logistik di ruangan dalam bentuk standart prosedur operasional. Tentu standart prosedur operasional saja tidak cukup, sehingga perlu kepedualian dan kesamaan pandangan dari staf di semua unit.
Hal – hal yang sering menjadi penyebab suatu unit/ruangan untuk menyediakan logistik dalam jumlah banyak atau “berlebihan” antara lain :
1. Kekhawatiran kehabisan.
Ada kekhawatiran apabila stok alat habis pake di ruangan sedikit beberapa personil ruangan khawatir kehabisan stok diruangan dan ketika mengajukan permintaan ke bagian gudang, ternyata di gudang penyimpanan juga habis. Sehingga mereka akan kesulitan dalam memberikan pelayanan. Sebenarnya kekhawatiran seperti ini tidak perl terjadi. Karena seharusnya manajemen logistik di gudang penyimpanan kelola dengan baik sehingga ketika stok sudah menipis mestinya dari gudang sudah melakukan order lagi. Kekurangan kekhawatiran seperti ini berakibat banyaknya stok diruangan.
2. Tidak dihitungnya prediksi kebutuhan bahan habis pakai
Prediksi kebutuhan harusnya dibuat sehingga persediaan diruangan diatur untuk maskimal 1 (satu) minggu. Tentu tidak sama jumlah persediaan yang harus disiapkan apabila melihat seringnya bahan habis pakai yang digunakan. Proyeksi kebutuhan ini juga bisa mempermudah bagian perencanaan dalam menyusun Rencana bisnis dan Anggaran maupun Rencana Kerja Anggaran pada tahun anggaran berikutnya. Bahan dan material habis pakai yang disediakan ini adalah yang tidak disediakan berdasarkan resep dokter. Sedangkan untuk obat emergensi disediakan di troly emergency dan dimonitor oleh bagian farmasi, sehingga ketika dibutuhkan obat – obatan life saving selalu tersedia siap pakai dan pemakai tinggal menulis pemakaiannya supaya penggantiannya bisa sesuai.
3. Tidak patuh atau tidak ada Standarat Prosedur Operasional
Prosedur kerja harusnya menjadi acuan dalam pengelolaan bahan material habis pakai diruangan. Mulai dari siapa yang bertanggung jawab, bagaimana alur permintaan, bagaimana penataan dan penyimpanan di ruangan, bagaimana pendokumentasiannya serta berapa banyak persediaan yang diijinkan oleh rumah sakit ada di ruangan sebagai buffer stok. Panduan dan standar ini yang seringkali tidak dimiliki oleh ruangan, atau mungkin juga kepatuhannya perlu ditingkatkan.
Pengaturan bahan habis pakai di ruangan akan cukup menurunkan biaya operasional rumah sakit. Hal ini mendesak diterapkan karena system penjaminan kesehatan melalui BPJS dan tahun 2019 diharapkan universal health coverage bagi seluruh warga Negara Indonesia. Dimana pembiayaan kesehatan dengan metode klaim paket INA-CBG’s sehingga biaya dibayarkan berdasarkan kode diagnosis dan tingkat keparahannya. Sehingga rumah sakit yang operasionalnya bisa efektiv dan efisien akan bisa surfive.
Namun hal ini tidak mudah, karena menyangkut perilaku seluruh karyawan yang ada. Terlebih pada rumah sakit pemerintah yang mindset karyawannya belum terbangun dengan baik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar