BAGAIMAN AGAR RUMAH SAKIT EKSIS DI ERA JKN

Menjaga agar Rumah Sakit dapat eksis diera Sistem Jaminan Nasional (JKN) saat ini, wajib dilakukan oleh setiap unsur yang terkait dengan Rumah Sakit. Perubahan system penjaminan pasien dari mandiri menjadi penjamin asuransi dengan system paket INA-CBG’s membuat Rumah Sakit “terpaksa” harus melakukan perubahan terutama perubahan budaya kerja, pola pikir, sikap, kinerja menjadi bisa fleksibel menghadapi perubahan. Saya mencoba menguraikan satu persatu perubahan yang perlu dilakukan oleh Rumah Sakit khususnya terhadap Sumber Daya Manusianya sebagai berikut :
1. Perubahan Budaya Kerja
Budaya yang dibutuhkan adalah budaya disiplin, ramah, sopan dan bertanggung jawab. Disiplin mulai dari mematuhi jam kerja hingga disiplin menyelesaikan pekerjaan. Sebagai contoh menyelesaikan Resume Medis yang ditentukan oleh Standart Pelayanan Minimal (SPM) maksimal 24 jam. Keterlambatan dapat menyebabkan keterlambatan pengeklaiman ke BPJS dan ketidak lengkapan dapat menyebabkan gagal klaim. Bila ini terjadi maka dapat berakibat terganggunya cashflow.
Ramah sangat diperlukan karena kita tidak hanya membutuhkan pelayanan yang membuat pasien puas, tetapi perlu membuat pasien dan keluarganya terkesan dengan pelayanan kita. Karena bila pasien terkesan dengan pelayanan kita pasien akan bercerita kepada lingkungannya, sehingga menjadi promosi gratis buat kita.
Sikap sopan dapat berdampak terhadap sangat positif terhadap sesama teman kerja satu profesi, antar profesi serta terhadap pasien dan keluarganya. Iklim yang terbentuk akan dapat meningkatan sinergitas yang positif antar karyawan dan pasien.
Bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaannya untuk dikerjakan dengan sepenuh hati, tidak hanya berorientasi menyelesaikan pekerjaan terlebih dari itu berusaha menunjukan kinerja yang terbaik (fastabiqul khoirit). Kondisi ini bisa terjadi bila dilandasi dengan rasa ikhlas.
2. Pola Pikir.
Setiap karyawan harus memiliki pola pikir kendali mutu dan kendali biaya. Kendali mutu dengan patokan Clinical Pathway, Panduan Praktek Klinik dan untuk Keperawatan menggunakan Panduan Asuhan Keperawatan. Tantangannya adalah belum semua kasus ada clinical pathwaynya dan yang sudah ada clinical pathwaynya juga belum semuanya dipatuhi, karena beberapa factor. Sedangkan kendali biaya sanat penting untuk dipikirkan dan dilaksanakan bersama. Setiap yang terlibat pelayanan (Profesional Pemberi Asuhan) harus memberikan pelayanan dengan seefektif dan seefisien mungkin. Mulai dari pemeriksaan penunjangnya, penggunaan obat, penggunaan Bahan Habis Pakai juga hari rawatnya. Dibagian lain terkait dengan operasional listrik, air, sabun, alkohol, barang cetakan juga harus dikendalikan pemakaiannya.
3. Sikap
Diawali dari pemikiran positif akan melahirkan sikap positif. Dari sikap positif akan menghasilkan ucapan dan perbuatan yang positif. Tidak jarang sebagai pemberi asuhan mendapatkan pelakuan yang tidak menyenangkan, apabila dihadapi dengan sikap positif, akan bisa mencegah konflik yang tidak perlu. Karena konflik sekecil apapun akan menguras energy kita. Sehingga bagi karyawan rumah sakit perlu dibudayakan sikap yang positif.

4. Kinerja.
Karyawan harus didorong untuk dapat menunjukan kinerja yang optimal. Kinerja optimal harus senantiasa disosialisasikan dan dimonitor melalui indeks kinerja individu (IKI) dan masing masing unit dimonitor melalui indikator kinerja unit (IKU). Hal ini dijadikan sebagai key performan indicator masing masing individu karyawan dan unitnya.
Dalam pemikiran saya apabila hal diatas menjadi prioritas dalam program pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit, maka dapat diitegrasikan dengan program dari Kuwalifikasi dan Kompetensi Staf (KKS) dalam memenuhi 20 jam pelajaran pertahun berfokus terhadap hal tersebut. Itulah tantangan terberat menjadikan karyawan sebagai satu tim yang solid.

Yogyakarta, 4 September 2018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar