MENGENAL MANAJER PELAYANAN PASIEN

Menejer Pelayanan Pasien (case manajer) menjadi banyak dikenal professional kesehatan setelah Rumah Sakit rame – rame mengikuti Akreditasi versi 2012. Pada awalnya ekspektasi terhadap profesi ini sangat tinggi, dan orang memandang yang memenuhi kuwalifikasi sebagai case manager adalah orang dengan kompetensi tinggi, melihat kompleksitas pekerjaannya. Pada akhirnya setelah berproses menjalani dan sambil belajar terus menerus akhirnya sedikit demi sedikit mengetahui tupoksi sebagai case meneger. Mengingat pada waktu sekolah dulu tidak pernah menjumpai yang namanya case manajer.
Seiring tuntutan model pelayanan asuhan berfokus kepada pasien (patien center care). Yang merupakan paradigma baru pelayanan kesehatan, tentunya membutuhkan penyesuaian atar profesi yang memberikan asuhan langsung kepada pasien atau dikenal dengan Profesional Pemberi Asuhan (PPA). Pandangan beragampun tak bisa dihindari. Mulai dari yang menunggu keberadaan case manajer mengingat dipokjanya diminta sesuai dengan elemen penilaiannya, sampai yang menganggap case manajer ini tidak perlu.
Pada perkembangannya semua profesi menyadari posisinya masing – masing dan mengakui keberadaan profesi yang sebelumnya belum ada yaitu case manajer. Sebagai profesi baru yang ada pada rumah sakit di Indonesia, case manajer dapat berasal dari profesi dokter umumdengan pengalaman kerja 2 tahun, atau dapat juga dari profesi perawat dengan latar belakang pendidikan Ners dan berpengalaman sebagai kepala ruangan. Sehingga disadari bahwa dalam sekema asuhan pasien ada Profesional Pemberi Asuhan pada satu sisi yang terdiri dari dokter sebagai clinical leader, perawat, farmasi, gizi, Fisiotheraphy, psikolog dan Manajer pelayanan pasien disisi lain.
Case manajer berperan sebagai pemandu pasien selama di rumah sakit. Dengan melakukan skreening pasien yang masuk ke rumah sakit ditentukan mana pasien yang perlu mendapatkan kelolaan dari case manajer. Setelah dilakukan assesmen pasien dikelola kebutuhan kelolaan case manajeernya, direncanakan tindakannya dan dievaluasi. Selain itu perencanaan pasien pulang “ribet” juga direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar kontinuitas pelayanan dapat berlanjut sampai pasien dirumah yang akhirnya diharapkan dapat menurunkan angka readmisi.
Kebutuhan Manajer Pelayanan Pasien yang muncul dapat beragam. Sebenarnya sebelum ada MPP masalah seperti itu juga sudah pernah ada, namun dalam penyelesaiannya tidak diselesaikan dengan serius atau diselesaikan “samben”. Sebagai contoh pasien yang tidak mampu, namun tidak memiliki penjamin BPJS dan penjamin lainnya, maka diserahkan kepada pasien sendiri bagaimana mengatasi persoalan pembiayaannya. Namun dengan adanya MPP dapat dihubungkan dengan sumber- sumber yang dapat membantu masalah pembiayaan baik dari pemerintah daerah maupun dari yayasan social kemasyarakatan maupun dari lembaga zakat. Atau contoh yang lain misalkan pasien yang perlu rujukan ke rumah sakit rujukan namaun dari perawat ruangan kesulitan menghubungi bagian admisis yang dituju, maka MPP dapat membantu menyelesaikannya. Dan masih banyak kasus lain, intinya MPP membantu kesinambungan pelayanan pasien baik selama pasien dirumah saikit maupu saat transfer ke rumah sakit lain atau pulang kerumah. Sehingga PPA tetap fokus memberikan asuhan sesuai disiplin ilmunya dan masalah kemandegan pelayanan diuraikan oleh MPP. Tentu tujuan akhirnya adalah kendali mutu dan kendali biaya dapat berjalan secara efektive.
Dari perspektif rumah sakit, MPP membantu memantu pelayanan pasien biaya tinggi kemudian merembugnya denga PPA yang menangani. Dari sisi profesi yang merawat pasien dapat difasilitasi agar saling berkoordinasi untuk mencari alternative pengobatan terbaik agar perkembangan therapy dapat optimal dengan mengacu kepada Integrated Clinical Pathway, Pedoman Praktek Klinik dan Pedoman Asuhan Keperawatan. Selain itu juga memantu Long of Stay pasien.
Kelihatannya pekerjaan MPP sederhana, akan tetapi membutuhkan analisis yang tinggi dan membutuhkan kemampuan koordinasi yang tinggi pula. Sehingga perlu untuk diseriusi keberadaan MPP bukan hanya pemenuhan standart SNARS yang saat ini berlaku, namun memang diperlukan untuk mendukung tata kelola klinis yang baik.
Yogyakarta, 6 September 2018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar