Hari-Hari Harri

Berbagi dan Bersuka Ria

Sebuah video pendek tentang pencurian kaca spion mobil cukup sering terlihat di beberapa media televisi. Video yang berhasil direkam dan akhirnya dipublikasikan itu memperlihatkan kronologi pencurian sebuah spion mobil mewah oleh seorang laki-laki berkostum salah satu klub liga itali. Di dalam video dapat dilihat keahlian, kesiapan, dan keberanian pelaku dalam merebut barang curian. Sedangkan di sisi lain, entah bingung atau ketakutan, orang yang di dalam mobil lebih memilih untuk tetap berada di interior kendaraan saja. Terlihat mobil beberapa kali mengerem yang terlihat dari lampu belakang mobil yang berwarna merah menyala-nyala.

Fenemona seperti apakah ini? Benarkah adegan nekat yang dilakukan pelaku dengan mencuri secara terang-terangan di ruang publik itu semata-mata dikarenakan masalah moral. Atau ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana negara kita tidak bisa lagi memberikan rasa aman terhadap rakyatnya. Atau mungkin juga pencurian spion yang disebut-sebut berharga 12 juta itu lebih dikarenakan masalah keuangan pelaku. Apakah peristiwa ini adalah tentang moral, keamanan, atau ekonomi?

Pencurian spion mobil seharga belasan juta ini adalah permasalahan yang bersifat sistemik. Ia berawal dari bentuk depresi masyarakat terhadap tekanan-tekanan hidup yang tentangnya pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa. Kemiskinan. Kita sedang berbicara tentang hak seorang pria muda berkewarganegaraan Indonesia yang tidak dipenuhi oleh pemerintah. Lapangan kerja yang minim serta diperparah dengan mahalnya akses menuju pendidikan. Ketika kemiskinan dan pengetahuan yang dangkal beradu, maka semestinya tidak seorangpun yang pantas meragukan kejadian itu. Tapi kan negara kita negara hukum? Ya, di situ lah lubang buruk negara kita lainnya menganga, lebar sekali.

Seperti burger, negara kita tengah menyimpan kebobrokannya secara berlapis-lapis. Selain masalah ekonomi, masalah keamanan pun menyimpan kelemahannya tersendiri. Di mulai dari aksi teror yang marak di mana-mana. Pada mulanya, teror di negeri ini yang berkaitan dengan bom terjadi di ruang publik yang cenderung dilakukan oleh sekelompok orang dengan membuat perencanaan matang sebelumnya. Namun, akhir-akhir ini bom masuk ke dalam rumah. Menjelma ke dalam bentuk paket dan buku. Aksi teror mengancam sampai ke struktur masyarakat terkecil, keluarga. Membuat mereka bahkan tidak merasa aman walau di rumah sendiri.

Namun uang dan faktor keamanan lagi-lagi hanyalah beberapa faktor pendukung yang dapat menyebabkan pencurian sejenis ini bisa terjadi. Yang lebih diperhatikan seharusnya adalah bagaimana barang curian ini dilihat tidak hanya dari nilainya saja. Namun menggabungkan nilai jutaan rupiah itu dengan kondisi masyarakat lain beradadi dalam ruang yang sama. Ilustrasi spion belasan juta rupiah yang berada di tengah-tengah 32, 53 juta rakyat miskin Indonesia (data BPS per Maret 2009) bisa disamakan dengan wanita di sarang penyamun.  Rawan. Dan sangat terbuka terhadap terjadinya kriminalitas.

Spion mahal dan masyarakat miskin kota itu seperti tikus mati di lumbung padi. Masyarakatnya kelaparan. Anak-anak dan orang dewasa yang sehat dan yang tuna mengharapkan seribu rupiah atau setengahnya dari orang-orang yang berada di balik kaca jedela mobil mewah.

Akhirnya sangat jelas bahwa peristiwa ini tidak hanya sekedar masalah ekonomi. Jika dikatakan pemerintah tidak mumpuni mengurus ekonomi, darimana datangnya mobil-mobil mewah itu. Ini adalah tentang kesetaraan. Bagaimana kebijakan pemerintah dibuat tidak hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi semata namun juga kesejahteraan sosial sekaligus kesetaraan ekonomi bagi rakyatnya. Sehingga tidak ada lagi terlihat orang mati kelaparan di pinggir jalan raya yang dilewati berbagai kendaraan berharga miliaran. Dan tidak ada lagi yang akan mati di lumbung padi. Tidak tikus apalagi manusia. Sebab jika ayam bisa menerima kematiannya dengan pasrah meski di kelilingi ladang beras di sekitarnya. Lain halnya dengan manusia yang memiliki hasrat, daya juang dan hilaf yang memungkinkan potensi kriminal yang dapat mengusik rasa tentram manusia lain.

Categories: Uncategorized

PROFIL AKU

harri fajri


Popular Posts

Dari Mesuji untuk In

Akhirnya saya bisa sedikit bertanya-tanya ketika di lampu merah selanjutnya. Sebenarnya ...

Tikus Mati di Lumbun

Sebuah video pendek tentang pencurian kaca spion mobil cukup sering ...

UMY Blog Contest: Ca

Saya agak terkesima ketika membaca selembar poster di lobi kampus ...

UKM pun Dapat Jatah!

Satu lagi dari kampus saya yang juga menjawab pertanyaan di ...

Revolusi Bioskop

Efek domino yang diprediksi oleh beberapa pengamat hubungan internasional terkait ...